
"Abang!"
Rona bahagia terlihat jelas di wajah cantik Riana. Senyum yang sangat mengembang begitu juga dengan Aksa. Tangan Riana Aksa genggam dan dia kecup sangat dalam.
"I miss you so much," katanya.
"Miss you more."
Aksa berpindah tempat, kini dia duduk di samping Riana. Tangan Riana segera melingkar di perut suaminya. Dua insan manusia yang tengah melepas rindu. Sembilan hari bagai sembilan tahun untuk mereka.
"Katanya besok baru sampai di sini," ujar Riana.
"Pekerjaan sudah selesai, tugas kuliah pun sudah beres. Sudah waktunya mengobati rindu kepada istri tercinta yang tidak akan pernah ada habisnya."
Riana tersenyum mendengar ucapan Aksara. Ada saja kalimat yang membuatnya melambung tinggi.
"Hari ini kita habiskan waktu bersama, mau?" Riana mengangguk cepat dengan senyum yang sangat manis.
Aksa membawa Riana ke sebuah mall besar. Tujuannya ingin memanjakan sang istri juga menikmati waktu berdua sebelum nantinya mereka bertiga. Aksa pun ingin merasakan pacaran layaknya anak muda pada umumnya. Wajar saja seorang Aksara hanya menghabiskan waktu di kantor dan bergelut dengan kertas berharganya.
Rasa bahagia menyelimuti hati Riana sekarang ini. Apalagi Aksa yang tak pernah menolak ketika Riana ingin ini dan itu. Tangan Aksa pun dengan eratnya menggenggam tangan sang istri.
"Kenapa senyum-senyum terus? Entar giginya kering loh," gurau Aksa. Riana malah tertawa dan bergelayut manja ke tangan Aksa.
"Ri, benar-benar bahagia. Akhirnya, kita bisa menikmati waktu berdua tanpa harus memikirkan pekerjaan Abang."
Sekarang Aksa yang tergelak. Tidak dia pungkiri, hampir sebulan pernikahannya dia tidak pernah memiliki waktu berdua bersama sang istri. Hanya di apartment atau di kamar. Itupun akan berakhir dengan adegan anu-anu. Setelah itu mereka masuk ke dalam alam mimpi.
Mereka masuk ke dalam toko baju. Dia ingin seperti anak muda yang lainnya. Memakai pakaian couple yang terlihat lucu di matanya. Penampilan Riana yang sangat simpel membawanya mengambil kaos bermerk ternama berwarna navy. Dia juga mengambilkan kaos yang berukuran berbeda untuk suaminya. Dahi Aksa mengkerut.
"Mau couple-an," pintanya.
Aksa pun tertawa dan mengecup kening Riana dengan sangat gemas. "Ambillah, Sayang."
Wajah Riana semakin cerah, tetapi dia memicingkan matanya. "Tapi ... pakai ya bajunya," ucapnya.
"Iya, Sayang."
Puas berbelanja baju yang Riana inginkan, sekaligus Aksa yang membelikan baju yang tidak ada akhlak untuk sang istri.
"Nanti Ri masuk angin, Bang," tolak Riana halus kepada lingerie yang Aksa ambilian. Aksa pun terkekeh. Dia mendekatkan wajahnya di telinga Riana.
"Setiap malam aja kamu gak pernah pakai baju kalau tidur," bisiknya. Wajah Riana merona mendengar ucapan sang suami.
"Itu 'kan karena perbuatan kamu, Bang." Ingin sekali Riana menjawab seperti itu, tetapi Riana tidak berani.
__ADS_1
Mereka keluar dari toko baju tak berakhlak itu. Aksa dan Riana memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum membeli tiket bioskop. Tidak sengaja mereka bertemu sang kembaran Aksara yang tengah bersama kedua sahabatnya.
"Katanya ngampus, malah nongkrong di sini," sergah Aksa.
Kedua sahabat Aska menatap bingung ke arah Aska dan juga Aksa. Wajah yang sangat mirip. Bedanya, yang satu itu memiliki gandengan sedangkan Aska tidak ada gandengan.
Aksa memilih meja yang agak jauh dari tempat Aska berada. Dia tidak ingin momen romantisnya diganggu oleh manusia yang terkadang menjadi manusia tak ada akhlak.
"Sa, itu kembaran lu?" tanya Ken.
"Hem." Jawaban singkat dan sangat malas. Aska masih fokus pada layar laptopnya.
"Itu pacar atau bininya?" tanya Juno.
"Mantan pacar."
Ken dan Juno saling pandang dan mereka terkekeh bersama.
"Abang lu aja udah gandengan, masa lu masih gendengan aja," ejek Ken.
"Si Alan!" pekiknya.
Riana dan Aksa malah asyik memadu kasih. Aska mendengkus kesal melihat abangnya yang selalu mengumbar kemesraan tak tahu tempat.
Tak lama berselang, ponsel Aska berbunyi. Dilihat nama yang tertera di sana.
Dia menggeser layar ke arah gagang telepon berwarna hijau.
"Apaan?" jawab Aska.
"Besok lu kudu terbang ke Jogja."
"Eh, apa-apaan ini?" sergah Aska.
"Gak mau tahu, besok jam sepuluh lu kudu ke Jogja. Gantiin Abang lu."
Panggilan pun diakhiri sepihak oleh Fahri. Aksa benar-benar geram. Dia menoleh ke arah meja sang Abang. Ternyata sang Abang dan istrinya sudah tidak ada di sana.
"Kam Pret!"
Sore hari, Aska sudah menanti kedatangan sang kakak di ruang tamu. Namun, orang yang ditunggu tak kunjung datang.
Menjelang Maghrib mereka berdua baru kembali ke rumah. Aska menghadang Aksa yang sudah menenteng banyak paper bag.
"Apaan sih?" sergah Aksa.
__ADS_1
Tanpa berbicara Aska menarik Hoodie Aksa dan membawanya menjauh dari Riana.
"Gua minjem laki lu sebentar," ucap Aska.
Ketika di halaman belakang, Aska melepaskan tangannya yang masih berada di Hoodie Aksa.
"Apa maksud lu nyuruh gua gantiin lu di WAG Grup?" tanyanya.
Dahi Aksa mengkerut, kedua alisnya menukik tajam.
"Gak ngerti gua," ucapnya.
"Jangan berlagak bodoh deh, Bang," ujarnya.
"Bukan Abang kamu yang nyuruh kamu pergi ke Jogja, tetapi Daddy."
Aska dan Aksa menoleh ke arah suara yang menggema. Langkah kaki Gio mendekat ke arah kedua putranya.
"Daddy ingin kamu belajar sedikit demi sedikit tentang WAG grup karena itu bukan milik Aksa sepenuhnya. Itu milik kamu juga," terang Gio.
Aska hanya dapat menghela napas kasar. Dia lupa akan sesuatu, di WAG grup ada wanita cantik pujaan hatinya.
"Bukannya ada Jingga di sana," bisik Aksa.
Rasa tidak mau itu berubah menjadi persetujuan yang menggebu. Tanpa banyak perdebatan, Aska menerima perintah dari sang ayah.
Keesokan paginya, Aska sudah siap dengan setelan formalnya. Ayanda tersenyum bahagia melihat putranya yang tampak gagah.
"Tampan sekali anak Mommy," pujinya.
Aska hanya tersenyum, dia melihat kakak serta iparnya belum ada di meja makan.
"Makan duluan saja, namanya juga pengantin baru sedang melepas rindu," ucap Ayanda.
Apa yang dikatakan Ayanda benar adanya. Kedua insan manusia itu masih berada di bawah selimut tebal tanpa sehelai benang pun. Keadaan tempat tidur sudah berantakan. Sepertinya mereka tengah mencoba segala gaya semalam.
Askara terbang ke Jogja menggunakan pesawat pribadi. Hatinya sudah berdegup sangat kencang karena akan bertemu seseorang.
Tibanya di depan WAG Grup, Aska membenarkan jasnya terlebih dahulu sebelum turun dari mobil. Senyumnya merekah ketika dia melihat ke arah perempuan yang juga tengah menatapnya.
Namun, seorang perempuan tiba-tiba bersujud di kaki Askara dan membuatnya tersentak. Perempuan yang menatap Aska pun memilih untuk pergi. Dia tidak mau melihat drama antara dua manusia di hadapannya. Bang As yang dia kenal sudah berubah menjadi seorang playboy cap kadal buntung.
...****************...
Komplit ya ...
__ADS_1
Puas ya ....