
Assalamualaikum ...
Udah dua hari ya aku gak up. Banyak yang nanya kenapa? Jika, kalian mengikuti IG aku pasti tahu.
Kondisi aku baru pulih pasca vaksin hari Sabtu kemarin. Efeknya cukup membuatku kewalahan. Tangan kanan sakit dan juga kepala terasa diremas-remas. Ini pun baru mendingan dan langsung dihajar nulis.
Aku gak akan pergi dan akan terus lanjutin cerita ini kok, karena cerita ini udah dikontrak. Apalagi kalau komen kalian banyak pasti akan rajin up.
Selamat membaca ...
...****************...
Aska menarik tangan Riana dan membawanya menjauh dari Arka. Tatapan mematikan Aska tunjukkan pada Arka karena dia mendengar apa yang dikatakan oleh Arka kepada Riana.
"Kamu gak apa-apa 'kan?" Hanya senyum kepiluan yang Riana tunjukkan.
Aska menghela napas kasar dan membawa Riana menjauh dari kampus. Sedangkan Arka masih mematung di tempatnya memikirkan pria yang membawa Riana.
"Biasanya ... pria itu tidak banyak bicara," gumamnya.
Aska menghentikan mobil di sebuah kafe. Dia mengajak Riana untuk masuk ke dalam.
"Sepertinya kamu perlu cokelat panas untuk menenangkan hatimu," ucap Aska seraya tertawa.
Riana mengikuti langkah Aska, ternyata Aska membawanya ke ruang yang benar-benar private. Wajah sendu Riana nampak terlihat jelas. Aska sedikit ragu untuk memulai semuanya.
"Apa ... Ri terlalu hina di mata semua pria?" Lirih, itulah yang telinga Aska tangkap.
"Apa Ri salah mencinta Abang?" Suara itu semakin terdengar menyayat hati.
Aska berpindah tempat duduk. Kini, dia berada tepat di samping Riana.
"Luapkan semuanya!"
Riana semakin terisak dan menunduk dalam. Aska memeluk tubuh rapuh perempuan yang dulu dia sayangi. Perempuan yang menjadi cinta monyetnya.
"Ri, tidak serendah itu, Kak. Ri, tidak akan menyerahkan kehormatan Ri hanya karena cinta. Abang pun memang tak pernah melakukan apapun terhadap Ri," Suara Riana terdengar sangat berat.
"Kakak percaya sama kamu. Kakak juga tahu Abang seperti apa. Biarlah orang berbicara ini dan itu, yang mengetahui kamu dan Abang adalah keluarga. Bukan orang lain." Aska mengusap lembut rambut Riana.
Bang, kalau Abang ada di sini mungkin sudah Abang musnahkan orang itu.
Setelah meluapkan segalanya dalam pelukan Aska, Aska mengantar Riana pulang.
"Jangan bilang ke Abang, ya." Aska tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Tanpa aku bilang, Abang pasti tahu semuanya. Kamu tidak tahu saja berapa puluh orang yang berada di sekeliling kamu.
"Jangan keluar rumah kalau tidak ada keperluan yang mendesak. Kunci rumah jangan sembarangan menerima tamu." Pesan Aska ketika mobil itu berhenti tepat di depan kosan Riana.
"Iya, Kak."
Perkataan Arka masih terngiang-ngiang di telinga Riana. Sungguh sangat merendahkan dan menghinanya. Menyebar fitnah yang pastinya akan menjadi kabar menggemparkan esok hari.
Sedangkan di Aussie, tangan Aksa sudah mengepal sangat keras ketika menerima laporan dari anak buahnya tentang Riana yang direndahkan oleh Arka.
"Oke, gua ikutin mau lu apa," geramnya, dengan urat-urat yang sudah timbul di wajahnya.
Keesokan paginya, Riana diharuskan datang lagi ke kampus karena harus mengikuti gladi resik untuk membawakan sebuah lagu di acara wisuda. Ternyata, Ari si pemilik kos sudah siap mengantar Riana.
"Aku bisa pesan ojek online, Mas."
"Tidak ada penolakan. Saya disuruh sama pacar kamu yang sok ngatur itu," ucapnya seraya menggerutu.
Riana hanya tersenyum dan menuruti apa yang dikatakan oleh Ari. Semalam Aksa berpesan bahwa akan ada yang mengantarnya ke tempat kuliah. Riana kira Aska yang akan menjemputnya ternyata Ari si pemilik kos.
Tibanya di kampus, semua mahasiswa menatap tajam ke arah Riana. Apalagi banyak yang berbisik-bisik perihal ucapan Arka yang kemarin. Kecepatan gosip itu melebihi kecepatan motor Valentino Rossi. Riana hanya menghela napas kasar dan mencoba mengabaikan.
"Riana," panggil Risa dan Raisa.
Riana tersenyum ke arahnya, dan menghampiri teman kembarnya itu.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Risa.
"Tuh teman lu yang sok alim," jawabnya dengan tatapan sinis.
Risa dan Raisa menatap ke arah Riana. Hanya gelengan kepala yang Riana berikan.
"Jangan asal ngomong, ya," sentak Raisa.
"Cih, nih lu lihat!" Mahasiswi itu memberikan sebuah rekaman video ketika Riana masuk ke dalam suite room di sebuah hotel.
Risa dan Raisa tercengang, tak ada yang bisa mereka ucapkan.
"Sekarang kalian lihat sendiri 'kan gimana tingkah teman kalian itu," sarkasnya. Kemudian mahasiswi itu pergi meninggalkan Riana serta si kembar Risa dan Raisa.
"Aku kira kamu anak baik, ternyata --"
"Tidak seperti itu Ris--"
"Jangan berkilah lagi, Ri. Aku malu berteman sama kamu," tukas Raisa.
__ADS_1
Hati Riana benar-benar sakit mendengarnya. Namun, dia juga tidak ingin menjelaskan apapun kepada kedua sahabatnya itu. Dia masih ingat pesan dari sang kakak.
Tidak perlu menjelaskan siapa dan bagaimana kamu kepada orang lain. Jika, mereka memang tulus terhadap kamu. Mereka tidak akan mempermasalahkan semuanya dan akan tetap merangkul kamu.
Risa dan Raisa pun meninggalkan Riana seorang diri yang tengah menahan sakit. Berkali-kali dia menghembuskan napas kasar dan tetap melanjutkan langkahnya menunjukkan aula. Tidak Riana sangka, ternyata salah satu pengisi acara adalah Arka. Dia sudah berada di sana dengan tatapan datarnya.
"Maaf Riana, kamu gak dibutuhkan lagi untuk mengisi acara," ucap salah seorang panitia di sana.
"Tidak apa-apa, Kak," sahut Riana, dan masih menyunggingkan senyum.
"Kalau begitu, saya permisi." Riana balik kanan dan akan keluar dari sana.
"Siapa juga yang mau kerja sama dengan wanita bookingan," celetuk salah seorang mahasiswi yang menjadi pengisi acara.
Riana melanjutkan langkahnya tanpa mau mendengarkan ucapan yang selanjutnya mereka lontarkan layaknya peluru yang terus menghujam tubuhnya.
"Tampang saja alim, ternyata kelakuan melebihi perekk," pekik mahasiswi yang lain.
"Untung aja lu mau lulus. Kalau nggak udah di DO lu dari kampus ini. Mencoreng nama baik kampus aja," seru yang lainnya.
Menunduk dalam dengan air mata yang sudah menganak. Harga dirinya sudah diinjak-injak. Difitnah sedemikian rupa, apa Riana harus bersabar? Namun, menjelaskan pun tidak ada gunanya. Lebih baik pergi dan diam. Langkahnya terhenti ketika dia menabrak tubuh seseorang.
"Maaf," ucapnya. Tangannya menyeka ujung matanya yang masih dalam keadaan menunduk.
Ketika dia menegakkan kepala, dia terkejut melihat siapa yang ada di depannya sekarang.
"Daddy."
Air mata Riana menetes begitu saja ketika melihat Gio beserta Remon sudah ada di depannya.
Semua mata mahasiswi melebar begitu juga Arka yang melihat Gio memeluk tubuh Riana. Apalagi, di sana sudah ada rektor yang mendampingi Gio serta Remon.
"Ada lagi yang mau kalian katakan kepada Riana?" Perkataan Gio terdengar sangat dingin dan mengancam.
"Silahkan katakan mumpung ada saya di sini." Semua mahasiswi menunduk takut. Tak terkecuali Arka.
Suasana seketika hening, dan Riana memberanikan diri menatap Gio. Matanya memohon untuk tidak melakukan tindakan apapun. Riana tahu, Gio bukanlah orang yang mudah memaafkan dan terbilang kejam. Namun, Gio tidak terpengaruh. Dia masih menatap tajam ke arah mahasiswi di depannya.
"Cepat katakan!" Suara Gio mulai meninggi.
"Maafkan saya Pak Giondra, saya akan menghukum para mahasiswi yang telah menghina Riana," imbuh rektor tersebut.
"Apa saya boleh minta sesuatu kepada Anda Pak rektor?" tanya Gio.
"Saya tidak ingin memakai jasa penyanyi itu," tunjuknya pada Arka.
__ADS_1
...****************...
Komennya banyakin dong ...