Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Andhira


__ADS_3

"Andhira!"


Seketika Jingga mematung mendengar suara tersebut. Jantungnya terasa berhenti berdetak ketika melihat orang yang ada di hadapannya. Orang yang sangat tidak ingin dia temui di dalam hidupnya.


Mata pria itu sudah berkaca-kaca melihat Jingga.


"A-anak ku."


Tangan pria itu hendak menyentuh Jingga. Namun, dia mundur satu langkah menjauhi pria tersebut.


"Maaf, Anda salah orang."


Pria itu tersentak mendengar ucapan dari perempuan muda yang ada di hadapannya. Jingga berlalu begitu saja tanpa pamit. Raut wajah penuh amarah terlihat jelas. Langkahnya pun sangat lebar.


"Aku ayahmu, Nak," lirih pria tersebut dengan nada yang sangat lemah.


Jingga terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Bian yang sudah menunggunya pun dia tinggalkan. Dia terus melangkahkan kaki tanpa arah tujuan. Hatinya sudah bergemuruh menahan amarah yang menggebu.


"Kenapa dia masih hidup? Dan kenapa aku harus bertemu dia?" erang Jingga dalam hati.


"Tuhan ... kenapa Engkau tak adil padaku? Kenapa Engkau merebut Bundaku terlebih dahulu? Kenapa Engkau tidak mengambil nyawa pria itu saja?" protesnya pada Tuhan, tapi hanya di dalam hati.


Luka yang ditorehkan pria tersebut masih berbekas sampai sekarang. Sakit rasanya jika harus melihat wajahnya.


"Jangan pernah memanggil aku ayah. Kamu bukanlah anak dari putraku. Kamu hanyalah anak haram!"


Jingga menghentikan langkahnya, air matanya menetes begitu saja ketika teringat akan ucapan tersebut. Pada saat itu, sang ayah ada di dalam rumah dan mendengar perkataan dari neneknya. Namun, pria itu sama sekali tidak membela Jingga. Tak selangkah pun dia mendekat ke arah Jingga. Padahal, Jingga hanya ingin merasakan pelukan hangat sang ayah karena dia sudah tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah.


Kesakitan Jingga semakin bertambah ketika ada anak perempuan seusianya menarik tangan pria tersebut. Senyum hangat terukir di wajahnya. Tanpa ada penolakan dia menuruti permintaan anak perempuan itu dengan raut penuh cinta.


Benar yang dikatakan oleh ibundanya, bahwa ayahnya sudah bahagia dengan keluarganya. Jadi, tidak perlu lagi Jingga berjuang. Bukan berjuang, tapi mengemis kasih sayang.


Pada saat itu, Jingga mengusap kasar air matanya dan berjanji pada dirinya sendiri, jika dia sudah menjadi anak yatim piatu mulai saat itu juga. Dia hanya hidup sendiri dan harus bisa mandiri. Sudah tidak ada air mata lagi yang Jingga keluarkan untuk ayahnya. Tidak pantas pria seperti itu ditangisi. Pantasnya untuk dibenci.


Buru-buru Jingga menyeka air matanya. Dia melanjutkan langkahnya kembali dengan rasa perih yang tak terkira, seperti jahitan luka yang sudah kering dirobek paksa kembali. Terlalu sakit.


Jingga memilih untuk tidak kembali ke kafe. Dia sudah meminta ijin kepada Ken dan juga Juno dengan alasan tak enak badan. Pada nyatanya, kini Jingga berada di samping pusara sang ibu. Dia sudah duduk bersila di sana. Tak dia hiraukan panas teriknya matahari.

__ADS_1


"Bunda ... kenapa aku harus bertemu dengannya?" Sulit bagi Jingga untuk mengatakan ayah.


"Dia Bun, yang katanya ayah aku," lanjut Jingga.


Hampir tujuh belas tahun, dia hidup hanya bersama sang ibu. Suka duka sudah mereka berdua lalui. Tanpa seorang laki-laki dalam hidup mereka, tidak membuat mereka lemah. Apalagi ibunya, beliau bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Jingga.


"Ayahku sudah mati, Bunda."


Jingga menunduk dalam. Bulir bening kini membasahi wajahnya kembali. Dia terisak, punggungnya bergetar hebat. Pria itu sudah sangat melukai perasaan seorang anak yang hanya menginginkan kasih sayang seorang ayah.


"Aku hanya punya Bunda. Aku anak Bunda."


Semua rasa sakit yang sudah Jingga tutup dengan rapat, perlahan mulai terbuka. Rasanya lebih sakit berkali-kali lipat.


Terputar kembali memori pahit ketika Jingga pertama kali melihat ayahnya di salah satu rumah sakit. Dia yang sedang menunggu temannya mengantarkan makanan kepada ibunya yang tengah sakit. Jingga berlari dengan rasa bahagia yang tak terkira. Tangannya memeluk tubuh pria yang tengah memakai jas putih, jas kebesarannya.


"Ayah."


Pria itu terkejut ketika tangan Jingga sudah melingkar di perutnya.


"Apa dokter punya anak dua?" tanya salah seorang perawat yang tengah berjalan bersamanya.


Pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut melepas paksa tangan Jingga. Sedikit mendorong tubuh Jingga hingga mundur menjauhi dirinya.


"Anak ini psikisnya terganggu. Selalu memanggil pria yang ada di hadapannya dengan sebutan ayah."


Jingga bukan anak bodoh. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh pria tersebut. Bibirnya pun teramat sedikit. Tersenyum pahit.


"Iya, maaf. Jiwa saya tengah terganggu," ucapnya. Jingga berlalu dengan rasa kecewa yang mendalam.


Itulah pertama kalinya Jingga merasakan kecewa. Dianggap psikisnya terganggu oleh ayahnya sendiri. Bukankah itu terlalu menyakitkan untuk anak masih di bawah lima belas tahun. Anak yang penasaran dengan ayahnya. Anak yang bangga ketika mengetahui ayahnya adalah seorang dokter ternama. Namun, semuanya harus sirna. Ketika mulut pria yang akan dia banggakan ternyata tak berperasaan.


"Aku tidak akan mencari Ayah lagi, Bun. Ayah aku bukan orang baik. Maafkan aku yang tidak mendengarkan ucapan Bunda," batin Jingga.


Kejadian itu tidak pernah Jingga ceritakan kepada ibundanya. Cukup dia pendam sendirian karena memang itu kesalahannya. Bundanya sudah memeringati, tetapi Jingga masih keras kepala. Rasa ingin tahunya sangat besar, sehingga dia nekat. Namun, dia malah mendengar kalimat yang menyakitkan dan tidak mudah untuk dilupakan.


Tidak ada yang meminta untuk dilahirkan. Tidak ada anak haram yang dilahirkan oleh seorang wanita. Semua anak lahir dalam keadaan suci. Hanya saja, orang tuanya yang salah. Melakukan dosa besar yang dilarang oleh agama.

__ADS_1


Tidak ada orang tua yang durhaka terhadap anaknya, tapi banyak orang tua yang dzolim kepada


anaknya. Itulah kisah Jingga dengan sang ayah.


Jingga masih betah berada di samping pusara sang ibu yang hanya ada sebuah nisan kayu yang sudah lapuk. Tidak ada biaya untuk mempercantik makam itu.


"Bun, boleh gak aku tidak mengakuinya sebagai ayahku? Sebagaimana dia tidak mengakui ku sebagai anakanya."


Dari kalimat yang Jingga ucapkan terasa kesakitan yang mendalam yang masih Jingga pendam. Ada sebuah dendam yang sudah dia kubur dalam-dalam, kini ingin dibalaskan.


Jingga menghela napas kasar. Dia memeluk nisan kayu sang ibu.


"Kenapa dia tidak mati duluan? Kenapa Bunda yang harus meninggalakan aku sendirian?" Suara Jingga bergetar kembali.


Rasa sedih itu masih ada sampai saat ini. Ditinggalkan orang yang dicintai pasti sangat membuatnya terluka. Tidak mudah bagi Jingga untuk melewati ini semua. Apalagi dia harus bertahan hidup sendiri di Kota yang terkenal kejam ini. Di usianya yang masih enam belas tahun.


"Kenapa baru sekarang dia memanggil namaku? Kenapa dulu malah tidak mengakui ku? Kenapa, Bunda?"


Terlalu banyak pertanyaan yang memutari kepala perihal sang ayah. Dia tak habis pikir, kenapa pria tersebut muncul ketika dia sudah terbiasa hidup sendiri. Kenapa ketika dia memerlukan dukungan dan kasih sayang, pria itu tidak ada. Malah asyik dengan keluarga barunya. Wajar, jika Jingga menaruh dendam yang sangat besar.


"Andhira, dia memanggil nama belakangku, Bun," ucap Jingga dengan nada yang sendu.


"Aku harap, dia segera hilang ingatan. Melupakan apa yang sudah dia ucapkan tadi karena sungguh aku membencinya, Bun," tutur Jingga.


"Dia bukan pria sejati, dia hanya pecundang yang lepas tanggung jawab begitu saja."


Jingga meluapkan segala kesedihan serta kemarahannya di samping pusara sang ibu. Tidak ada tempat untuknya mengadu lagi, selain datang ke makam sang ibu yang tak terurus. Bercerita panjang lebar sendirian seperti orang tak waras.


"Aku bukan anaknya. Dokter Eki Mandala bukan ayahku," tegasnya


Rasa sakit dan sedih yang dia pendam seorang diri mengakibatkan Jingga seperti ini. Pria yang dulu Jingga kejar untuk meminta kasih sayang malah menjauh dan mengatakan hal yang menyakitkan. Namun, ketika Jingga sudah mengubur semuanya dan berdamai dengan kenyataan. Pria itu datang lagi dan menyebut dirinya sebagai ayah. Bukankah itu sangat lucu?


Pria yang menabrak tubuh Jingga masih betah berada di restoran cepat saji tersebut. Dia ingin memeluk putrinya. Dia rindu terhadap anak yang sudah dia terlantarkan. Anak yang sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang darinya.


"Maafkan Ayah, Andhira. Ijinkan Ayah untuk menebus kesalahan Ayah."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2