Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Darah


__ADS_3

Gavin sudah terlebih dahulu bangun dan dia tersenyum ketika melihat ada ayah dan ibunya berada di sampingnya. Senyumnya pun melengkung dengan indah. Anak itu merasa sangat bahagia.


Balita itu mencium pipi kedua orang tuanya bergantian. Kemudian, merangkak pelan turun dari tempat tidur.


"Ya, atu halut manti tendili. Tebental ladi atu dadi tata."


(Ya, aku harus mandi sendiri. Sebentar lagi aku jadi kakak)


Anak laki-laki itu berjalan menuju pintu penghubung. Dia tahu kamar mandi di kamarnya berbeda dengan kamar mandi kedua orang tuanya. Gavin tersenyum ketika membuka kamar mandinya. Dia berusaha membuka kancing piyama yang dia kenakan.


"Tutah."


Gavin mengeluh, tetapi dia terus berusaha hingga lengkungan senyum bahagia terukir di wajahnya. Dia mulai membuka kaos dalam yang dia kenakan. Kesulitan sudah pasti. Namun, dia tak pantang menyerah hingga akhirnya dia bisa membukanya. Terlihat ada raut penuh kepuasaan pada wajah balita tersebut.


Di kamar kedua orang tua Gavin. Riana melebarkan mata ketika tidak melihat sang putra di sampingnya. Panik, sudah pasti. Dia tidak membangunkan Aksa. Dia segera turun dari tempat tidur dan mencari putranya.


Riana mencari Gavin ke kamar mandi. Namun, putranya tidak ada. Dadanya sudah berdegup sangat kencang. Ketika dia melihat ke arah pintu terhubung, ada kelegaan di hatinya. Pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Gavin terbuka sedikit. Riana segera masuk ke dalam kamar itu. Dia mencari putranya, tetapi Gavin tidak ada. Kakinya sudah mulai lemas.


Ketika langkah kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar sang putra, terdengar ada gemercik air. Ada suara orang yang tengah mandi. Dahi Riana mengkerut. Perlahan dia membuka pintu kamar mandi itu dan kelegaan menyelimuti hatinya. Gavin tersenyum ke arahnya dan berkata, "atu bita andi tendili. Atu tan udah betal." (Aku bisa mandi sendiri. Aku kan udah besar)


Riana tersenyum bangga ke arah Gavin yang tengah memakai shampo di rambutnya. Ada rasa bangga di hati Riana. Dia pun mendekat dan membantu Gavin untuk memakai shampo dan sabun. Namun, anak itu menolak.


"Mommy dititu ada." Tangan Gavin sudah melarang Riana untuk mendekat.


"Tapi-"


"Biarin Empin mandiri, Mommy." Riana menoleh ke asal suara. Sudah ada Aksa di sana. Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut Riana. "Anak kita laki-laki. Dia harus bisa serba sendiri."


Bukannya merengut, anak itu malah tersenyum bangga kepada sang ayah. "Daddy eman top." Dua jari dia berikan kepada sang ayah. Aksa hanya tertawa.


Riana hanya mengarahkan Gavin harus apa dan bagaimana karena sang putra tidak ingin dibantu sama sekali.


"Udah, My."


Gavin bersorak gembira ketika sang ibu mengatakan mandinya sudah selesai. Dia meriah bathrobe yang diberikan sang ibu. Kemudian, melangkah menuju tempat tidur di mana bajunya sudah Riana siapkan.


"Atu pate badu tendili."


(Aku pakai baju sendiri)


Riana hanya tersenyum dan mengarahkan putranya. Sebenarnya dia tidak tega. Namun, apa yang dikatakan oleh Aksa ada benarnya juga. Apalagi Gavin sudah meminta adik. Jadi, sudah waktunya untuknya belajar mandiri.


"Sini, Mommy sisirin." Gavin menggeleng. Dia ingin melakukannya sendiri. Setelah melakukan semuanya, Gavin tersenyum di depan cermin.


"Danten."


(Ganteng)


Riana tergelak mendengar celotehan anaknya. Dia mencium Gavin dengan gemas. "Mommy mandi dulu, ya."


Masuk ke kamar miliknya, dia melihat sang suami sudah rapi dengan pakaian kerjanya. "Kelamaan, ya." Aksa hanya tersenyum kemudian merentangkan tangannya agar Riana masuk ke dalam pelukannya.


"Gak apa-apa. Kamu 'kan lagi ngajarin putra kita." Aksa mengusap lembut rambut sang istri. Kemudian, mencium kening Riana.


"Ri, mandi dulu, ya." Aksa tersenyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Abang tunggu di bawah, ya."


Bukannya ke bawah, Aksa malah ke kamar Gavin. Dia melihat putranya yang tengah santai menonton film Spongebob.


"Lagi apa jagoan Daddy?" Aksa duduk di samping Gavin dan memeluk tubuhnya.


"Lapal."


Aksa pun terkekeh dan mengajak putranya untuk ke bawah. Mencium wangi cucunya, Ayanda yang tengah di dapur segera berlari menghampiri Gavin.


"Mau sarapan apa?" Gavin seperti seorang raja. Anak ini yang diutamakan oleh semua penghuni rumah besar itu.


"Omelette Tama totish."


Tanpa banyak bertanya, Ayanda segera membuatkan apa yang diinginkan oleh sang cucu.


"Riana mana?" tanya Gio.


"Masih mandi, Dad. Tadi, Empin ingin mandi sendiri. Makanya, sedikit lama."


"Cucu Daddy mandi sendiri?" Gavin tersenyum dan mengangguk dengan bangganya.


"Hebat!" Kedua ini jadi Gio teracung membuat Gavin semakin tersenyum bahagia.


Menjelang siang, Gavin merengek ingin pergi ke rumah sang engkong. Padahal di rumah itu tidak ada siapa-siapa. Hanya ada asisten rumah tangga saja.


"Atu mau ain di tana."


Rengekan Gavin membuat Riana tak kuasa menolak. Dia mengikuti kemauan bocah itu dan pergi berjalan kaki ke rumah sang ayah. Tibanya di sana, dua hantu permen bungkus terkejut melihat kehadiran Gavin.


"Pomen, pomen, pomen ...."


"P-Man, Nak. Bukan Pomen." Gavin hanya tertawa karena dia tahu ibunya tidak bisa melihat hantu bungkus permen.


Riana terkadang heran melihat sikap Gavin jika hendak memasuki tangga menuju teras rumah sang ayah. Dia seperti orang yang sedang menarik sesuatu di kedua tangannya. Kemudian, dia akan tertawa dengan sangat lepas.


"Kamu kenapa, Pin?" tanya Riana. Sang putra hanya menggeleng. Padahal dia tengah menarik ujung kain kafan bagian atas milik om poci dan Tante pocita. Lalu, dia adukan dan dia pun tertawa keras. Kedua hantu bungkus permen itu tidak pernah melawan. Pesona Gavin seakan membuat mereka menjadi hantu penurut.


Balita itu berlari ke dalam rumah sang kakek dan segera menuju ke dapur. Di mana ada bola kesukaannya juga kacang hijau di kantong plastik. Riana sudah terbiasa dengan mainan Gavin. Dia membiarkannya saja.


Gavin berlarian ke sana ke mari, Riana hanya mengawasinya saja. Padahal, aslinya Gavin tengah mengejar-ngejar makhluk kerdil.


"Ampun! Aku gak mau."


Gavin tetap saja memaksa hingga dia bisa meraih tubuh si kerdil itu. "Nih itun."


Makhluk kerdil itu merengut kesal, tetapi dia tidak bisa menolak. Apalagi ditangannya sudah ada kacang hijau. Aura Gavin tidak terbantahkan.


"Satu, dua, tiga." Makhluk kerdil itu memisahkan satu per satu kacang hijau. Setelah hitungan ketiga, kembali ke kehitungan pertama.


"Aku pusing," keluh makhluk kerdil itu. Namun, dia tidak bisa berhenti.


Setelah puas bermain bersama sang makhluk kerdil. Kini, Gavin mencari sosok Dev.


"Mata topot!" Gavin memanggil-manggil Dev. Namun, Dev sudah bersembunyi.

__ADS_1


"Om telem, antu mata topot mana?"


(Om serem, hantu mata copot mana?)


Pesona Gavin membuat Om Uwo yang ingin menyembunyikan Dev malah keceplosan. Dia menunjuk ke arah belakang pohon sirsak.


"Matatih." Gavin berlari dan dia tersenyum ketika melihat Dev tengah bersembunyi.


"Dol!!"


Dev sangat terkejut hingga matanya terpental jauh dari dirinya. Gavin tertawa terbahak-bahak dan berlari ke arah mata yang tengah menggelinding.


"Jangan!"


Kaki Gavin sudah menendang bola mata Dev dengan cukup keras sehingga Dev harus mengejarnya.


"Ayo! Ayo!"


Riana yang sedari tadi memperhatikan Gavin hanya menggelengkan kepala. Asal putranya senang pasti dia akan tenang.


Riana hanya merebahkan tubuhnya di kursi malas yang ada di halaman samping rumah. Memperhatikan Gavin yang tengah asyik bermain sendiri. Tertawa sendiri dan berbicara sendiri. Di mata Riana sudah biasa anak seperti itu memiliki teman imajinasi.


Siang menjelang, si triplets tiba di rumah begitu juga dengan Iyan. Riana memesankan makanan untuk adik dan juga keponakannya serta putranya. Setelah makanannya datang, mereka sibuk memakan apa yang mereka inginkan. Sedangkan Riana sedang menahan rasa sakit di perutnya. Setelah semuanya selesai makan, Riana membereskan sisa makanan juga tempat makanan anak, adik serta keponakannya.


"Iyan, titip Empin dulu, ya." Iyan mengangguk karena melihat sang kakak sudah berwajah pucat.


"Kak Ri istirahat aja."


Iyan ke arah dapur terlebih dahulu. Dia menyuruh Mbak Ina untuk membuatkan teh manis hangat untuk sang kakak.


"Iya, Den. Nanti Mbak buatkan."


Iyan dan si triplets mengajak main Gavin di kamar si triplets. Kamar yang menjadi tempat kesukaan Gavin karena segala mainan ada di dalam sana. Ketiga sepupunya itupun selalu memperbolehkan Gavin untuk memainkan mainan yang ada di kamar mereka.


Cukup lama Riana beristirahat, di jam tiga dia sudah membuka mata. Dia mencari putra tampannya. Tidak ada suara siapapun, rumah itu terdengar sangat hening.


Riana menanyakan keberadaan anak, adik serta ketiga keponakannya kepada Mbak Ina. Sang asisten rumah tangga itupun menjawab, "di kamar si kembar tiga, Neng."


Riana segera ke kamar si triplets dan ketika dia membuka kamar ketiga keponakannya dia tersenyum bahagia karena melihat anaknya tengah tertidur dengan damainya.


"Maafkan Mommy ya, Nak. Perut Mommy sakit. Makanya Mommy tinggalin Empin."


Sebagai seorang ibu hal seperti ini lumrah terjadi. Seaktif-aktifnya anak ketika terjaga, tidak akan menghilangkan rasa sayang ketika anak terlelap. Apalagi jika seorang ibu pernah memarahinya. Hanya ada sebuah penyesalan yang sang ibu rasakan ketika melihat putra-putrinya tertidur pulas.


Sebelum jam lima sore, Gavin terbangun dan segera mencari sosok ibunya.


"My," panggil Gavin dengan langkah pelan karena belum sepenuhnya sadar.


Gavin terus berjalan dan dia tersenyum ketika melihat ibunya ada di dapur. Namun, matanya melebar ketika melihat ke arah baju yang digunakan ibunya bagian bawah.


"Da-da-lah."


(Da-da-rah)


...****************...

__ADS_1


Maaf, telat UP-nya.


Komen atuh ...


__ADS_2