
Riana melepas kepergian Aksa dengan hati yang sedih. Waktu empat hari bagai empat menit untuknya. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Riana. Langkah gontainya membawa dia menuju kamar.
Pakaian yang suaminya kenakan siang tadi sengaja tak Riana cuci. Dia akan memeluk baju itu di setiap malam. Seperti memeluk tubuh suaminya.
Aska tertawa terbahak-bahak ketika mendapat kabar dari Christian perihal Ziva.
"Besok gua mau bawain boneka santet buat dia. Biar lebih seru stresnya," ujar Aska di balik sambungan telepon.
Pagi harinya, keluarga Ayanda sudah berada di ruang makan. Ayanda tidak akan membangunkan Riana karena dia tahu menantunya itu tidak bisa sarapan. Namun, pagi ini Riana malah turun dan bergabung bersama sang ibu dan ayah mertua. Juga adik iparnya.
"Mau sarapan, Ri?" tanya Ayanda.
"Iya, Mom. Perut Ri lapar."
Ayanda dan Gio tersenyum mendengarnya. Ayanda dengan antusias mengambilkan makanan untuk menantu tercintanya. Baru kali ini Riana sarapan dengan lahap. Tidak biasanya Riana seperti ini.
"Mau nambah lagi?" Riana menggeleng. Dia membawa piring bekas makannya ke dapur.
Asisten rumah tangga melarangnya untuk mencuci piring. Akan tetapi, Riana tetap mencucinya.
"Mom, Dad, Ri ke kamar lagi, ya."
Kedua mertua Riana itu pun mengangguk.
"Mommy merasakan hal yang berbeda ya, Dad," ujarnya.
"Jangan menerka-nerka, Mom. Nanti kecewa lagi," timpal Aska.
Riana terus menunggu telepon dari Aksa. Namun, suaminya tak kunjung menghubunginya. Riana memilih untuk membuka media sosial. Dia melihat ada makanan yang enak. Air liurnya hampir menetes. Perutnya malah berbunyi. Dia memilih turun ke lantai bawah. Ada sang mommy di sana.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ayanda.
"Mom, Ri ingin makanan ini." Dia menunjukkan makanan yang dia inginkan.
"Ayam sambal ijo." Riana mengangguk.
"Baiklah, akan Mommy buatkan." Riana tersenyum dan memeluk tubuh mertuanya.
"Makasih, Mommy."
"Sama-sama, Sayang."
Riana menemani sang mommy memasak. Ayanda tidak memperbolehkan Riana memasak atau memegang apapun. Feeling-nya berkata lain.
Satu jam berselang, ayam sambal ijo terhidang di depan Riana. Mata Rian berbinar, dia segera mengambil piring dan juga sendok.
"Masih panas, Sayang."
Riana tidak mendengarkan ucapan sang mertua. Dia memakannya dengan sangat lahap.
"Enak banget, Mom," pujinya.
Ayanda mengusap lembut rambut Riana. Dia juga menyeka sambal yang ada di ujung bibir menantunya.
"Mau minum apa?" tanya Ayanda.
"Es jeruk peras."
Mata Ayanda melebar mendengar ucapan sang menantu.
"Sayang, itu 'kan asam," tawar Ayanda. Namun, puupy eyes yang sudah Riana tunjukkan membuat Ayanda tidak bisa menolak.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar, ya." Riana tersenyum sumringah.
Di negara yang berbeda, Aksa yang masih berada di pesawat menahan perutnya yang terasa sangat mual. Sudah dua kali dia memuntahkan isi perutnya.
Tubuhnya sudah mulai lemah. Wajahnya sudah pucat. Minyak angin dan minyak kayu putih sudah dia oleskan dan dia hirup. Akan tetapi, rasa mual itu masih selalu menghampiri.
"Aku ingin cepat sampai!" erangnya frustasi.
Berbeda dengan kakak dan kakak iparnya, pagi iniAska bukan ke kampus. Dia malah ke lapas di mana Ziva ditahan. Di sana sudah ada Christina dan juga Christian. Dalam hal ini Christina harus profesional. Tidak mementingkan perasaannya.
Aska dibawa oleh Christian ke sel di mana Ziva ditahan. Terlihat Ziva tengah menimang-nimang boneka seperti tengah menimang anaknya.
"Papah kamu sedang naik pesawat, terbang tinggi ninggalin kita. Nanti papah kamu pulang bawa boneka buat kamu." Monolognya.
"Woiy!" panggil Aska.
Ziva menoleh ke arah Aska. Dia menatap Aska dari atas sampai bawah.
"Itu Papah, Nak," ucap Ziva riang gembira.
"Amit amit. Pait, pait, pait," sahut Aska. Christian sudah tergelak.
Ziva menghampiri Aska, sorot matanya memang kosong bertanda dia sudah tidak waras.
"Anak lu mau boneka?" tanya Aska. Ziva mengangguk dan tangannya sudah menengadah.
Aska mengeluarkan boneka dari dalam tasnya. Christian melebarkan mata ketika apa yang Aska ucapkan semalam benar adanya.
"Boneka santet," ujar Christian.
Aska mengangguk dan memberikannya kepada Ziva.
"Boneka apa ini?" tanya Ziva.
"Afrika?" Aska mengangguk.
Christian menggelengkan kepala. Adik dari sahabatnya ini sama-sama gila.
"Tunggu, gua foto dulu, ya. Lu bergaya sama anak lu dan boneka mahal itu," titahnya.
Aska mengambil gambar Ziva. Dia mengirimkan kepada abangnya dan juga Abang iparnya.
"Nanti bawa boneka Afrika lagi, ya." Aska mengangguk dengan menahan tawa.
"Edan!" seru Christian.
Aska malah tertawa keras dan sangat puas.
"Lama-lama lu ikutan gila," ujar Christian.
Mereka bertiga memutuskan untuk ke kedai kopi. Berbincang santai sambil menyesap kopi panas yang asapnya masih mengepul.
"Lu dapat boneka itu dari mana?" tanya Christian.
"Punya keponakan gua," jawab Aska.
"Keponakan lu dukun santet?"
Aska menoyor kepala Christian. PIkirannya benar-benar dangkal.
"Dia Nemu boneka itu di depan gerbang rumahnya. Terus dia simpan itu boneka," terang Aska. Dia tidak menjelaskan bahwa Aleesa memiliki kemampuan yang luar biasa.
__ADS_1
Christina hanya menjadi pendengar setia saja sedari tadi. Bukannya Aska tidak tahu bahwa Christina memperhatikannya dalam diam. Namun, Aska pura-pura tidak melihat saja.
🎶
Tolong tanyakan pada Tuhanmu
Bolehkah aku yang bukan umatNya
Mencintai hambaNya
Bila memang cinta ini salah
Mengapa kita yang harus terjatuh
terlalu dalam
Lagu yang seakan menyindir perasaan Christina. Dia menundukkan kepalanya sangat dalam. Aska memilih untuk pamit. Dia tahu Christina tengah menangis.
"Gua duluan, gua mau jagain peemaisuri raja," guraunya.
Selepas Aska pergi, Christian menghela napas kasar.
"Dia tidak mencintai kamu, Tina," ucap Christian.
"Aku masih mencintainya, Tian," sahut Christina.
Di kediaman Ayanda, setengah ekor ayam sambal ijo habis tak tersisa. Begitu juga dengan segelas es jeruk peras.
"Setelah itu minum obat ya, Sayang. Mommy takut perut kamu sakit," ucap Ayanda. Riana tersenyum dan mengangguk.
Riana hendak membersihkan piring dan gelas makannya. Namun, Ayanda melarang.
"Kamu istirahat saja. Biar Mbak yang bereskan," imbuh Ayanda.
Riana tersenyum dan memilih untuk pergi ke kamarnya. Ayanda menggelengkan kepala dengan senyum yang terus mengembang.
"Semoga dugaanku benar."
Riana mengecek ponselnya, tetapi tidak ada pesan ataupun panggilan dari suaminya. Rasa khawatir dan cemas jadi satu. Namun, Riana harus berprasangka baik.
Riana memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia tidak ingin mengganggu suaminya. Dia hanya harus bersabar.
Ketika pesawat landing, Aksa segera turun dan dia muntah-muntah di landasan. Perutnya terasa mual. Namun, tidak ada yang keluar.
"Anda sakit?" tanya Peter, asisten Aksa selama di Melbourne.
Aksa menggeleng dan dia meminta jadwalnya untuk hari ini. Ada beberapa rapat penting yang harus dia hadapi. Selama rapat berlangsung pun, Aksa memilih memakai masker. Dia benar-benar tidak tahan dengan wewangian ataupun bau masakan yang dapat dia cium. Setelah rapat selesai, Peter memaksa Aksa untuk menemui dokter pribadinya. Dia tahu, Riana pasti tengah khawatir. Namun, dia juga tidak akan memperlihatkan wajah yang pucat seperti ini kepada sang istri. Itu akan membuat Riana semakin cemas.
Apa yang dikhawatirkan Aksa benar adanya. Riana sudah mondar-mandir di kamarnya karena hingga menjelang malam Aksa tak menghubunginya. Riana memilih untuk menemui sang mertua yang sedang berada di ruangan bawah.
"Dad, apa sudah ada kabar dari Abang?" Wajah Riana sudah sangat khawatir.
Gio dan Ayanda saling tatap. Mereka berdua bingung harus bagaimana sekarang. Aksa meminta merahasiakan kondisinya dari Riana.
"Sini, Nak," panggil Gio.
Gio mengarahkan ponselnya ke arah Riana. Mata Riana nanar ketika melihat suaminya tengah diperiksa oleh dokter.
"A-abang ... Abang kenapa?"
...****************...
__ADS_1
Insha Allah 3-5 bab hari ini.