Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Akhiri


__ADS_3

"Adik Anda babak belur. Pria gila itu datang ke Jakarta."


Aksa terkejut, tetapi dia memasang wajah yang biasa karena di sampingnya tengah ada istrinya yang memeluk tubuhnya.


"Saya segera ke sana."


Mendengar ucapan sang suami membuat Riana melebarkan matanya. Dia menatap tajam ke arah suaminya yang juga menatapnya.


"Abang harus pergi."


Tangan yang melingkar di pinggang Aksa pun Riana lepaskan. Ada rasa kecewa, dia juga merasa dibohongi oleh suaminya sendiri. Baru saja suaminya mengatakan tidak akan meninggalakannya, tetapi sekarang lebih mementingkan hal lain dibanding dirinya. Aksa menghela napas kasar dan segera turun dari ranjang. Dia mengganti pakaiannya dan tak menghiraukan istrinya yang sebentar lagi akan merajuk.


"Baru juga janji akan selalu ada di samping istri dan juga anaknya. Sekarang malah pergi lagi," omel Riana.


Riana turun dari ranjang dengan. wajah yang kesal. Namun, Aksa segera berjalan menuju arah sang istri yang hendak keluar kamar dan memeluknya dari belakang mencegah kepergian istrinya.


"Lepas!" seru Riana.


"Enggak," jawab Aksa santai.


Dia membalikkan tubuh Riana menatap penuh rasa bersalah ke arah istrinya.


"Abang mau pergi 'kan, Ri juga bisa pergi," ucapnya.


Aksa segera memeluk tubuh istrinya. Dia tahu istrinya ingin selalu ada di sampingnya. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan adiknya terluka parah. Apalagi wajah istrinya yang sudah menahan tangis.


"Maafkan Abang, Sayang."


"Lepas, Bang! Lepas!" Riana benar-benar memberontak.


Aksa mengurai pelukannya, dia menangkup wajah Riana yang sudah berkaca-kaca.


"Abang pergi untuk menyelamatkan Aska."


Sejenak Riana mencerna ucapan dari suaminya. Dia mengerutkan dahi karena tidak mengerti.


"Aska dipukuli oleh orang." Mata Riana melebar ketika mendengarnya.


"Kakak di mana?" tanyanya panik.


"Dia lagi ada di kafe miliknya. Makanya, Abang mau ke sana." Akhirnya, Riana pun mengangguk cepat. Senyum terukir di wajah Aksa.


"Tapi, kamu jangan bilang kepada Mommy atau Daddy, ya. Abang tidak ingin mereka kepikiran." Riana pun mengiyakan ucapan suaminya.

__ADS_1


"Abang janji cuma sebentar," ucapnya lagi.


"Ijin dulu sama anak Abang. Biar dia gak nyariin daddy-nya."


Aksa pun tertawa, dia mencubit gemas pipi istrinya. "Anaknya apa mommy-nya yang nyariin," goda Aksa.


Riana merengut kesal dengan tatapan tajam dan Aksa mencium bibir mungil itu. "Bercanda, Sayang."


Aksa menundukkan kepalanya ke arah perut sang istri yang masih sangat rata.


"Daddy ijin keluar dulu ya, Nak. Jangan nakal di perut Mommy, ya." Sebuah kecupan mendarat di perut Riana. Hatinya bahagia bercampur perih karena hanya tinggal satu anak benih yang tumbuh di dalam perutnya. Padahal dia berharap memiliki dua anak yang lucu-lucu yang akan menemani hari-harinya ketika suaminya bekerja. Namun, Tuhan berkata lain. Dia juga masih sangat bersyukur karena masih Tuhan sisakan satu calon anaknya di rahimnya.


"Abang berangkat, ya. Kamu istirahat." Kecupan di kening Aksa bubuhkan lagi sebelum dia pergi. Untungnya keadaan rumah sedang sepi. Aksa bisa pergi tanpa interogasi.


Di depan istrinya Aksa akan bersikap manis, berbeda jika dia sudah keluar rumah. Wajah bagai monster sudah terlihat jelas di wajah Aksa.


"Lapor polisi sekarang!" ucap Aksa melalui sambungan telepon setelah masuk ke dalam mobil.


Jika, Aksa sudah bertindak jangan harap musuh akan lolos begitu saja. Jiwa Genta Wiguna ada pada Aksara.


***


"Bang As!"


"Cewek murahan!" serunya.


Sedari tadi tatapan Jingga tertuju pada Aska yang juga menatapnya. Ada sorot penuh kerinduan yang mereka tunjukkan. Fajar yang notabene adalah kekasihnya tak Jingga hiraukan. Ucapan Fajar pun tak sama sekali dia dengar.


Pria gila yang melihat Jingga tengah menatap Aska mulai geram. Tangannya sudah mengepal sangat keras. Urat-urat kemarahannya sudah terlihat jelas di wajahnya yang sudah memar karena tangan Aska. Dia menghampiri Jingga dengan dada yang turun naik karena amarah. Dia mencengkeram tangan Jingga dengan sangat keras dan hendak menarik tangan Jingga dengan kasar.


"Hentikan!" seru seseorang yang berada di sana.


Aska terkejut ketika melihat abangnya sudah ada di kafe miliknya. Begitu juga dengan Fajar yang menatap bingung ke arah Aska juga Aksa.


Seketika tubuh Fajar bergetar ketika melihat polisi sudah berada di belakang Aksa dan mengarahkan pistol ke arahnya.


"Sedikit saja Anda bergerak, timah panas ini akan mengenai kaki Anda."


Cengkeraman tangan Fajar di tangan Jingga pun terlepas. Kini, Fajar dan juga tujuh anak buahnya sudah mengangkat tangan mereka di samping kepala.


"Saya gak bersalah. Dia yang menculik pacar saya," tunjuk Fajar ke arah Aska.


Aska masih terdiam, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Fajar. Dia sendiri tidak tahu kenapa Jingga ada di kafe miliknya. Namun, Aska tidak ingin berdebat. Dia sudah lelah dengan semuanya.

__ADS_1


Aksa mendekat ke arah Aska. Dia menarik dagu Aska dengan sedikit kasar.


"Kenapa gak dilawan?" tanya Aksa. Bukannya lu jago gelut," cibirnya.


"Kalah start," jawab Aska yang tidak memalingkan wajahnya sedikit pun karena tengah menatap Jingga.


Aksa tersenyum tipis, kemudian melirik ke arah Ken dan Juno. Kedua sahabat Aska pun mendekat. Dia mengerti akan kode yang kakak dari sahabatnya itu berikan.


"Bawa Aska ke rumah sakit. Sekalian visum," titah Aksa sebagai suara datarnya. Ken dan Juno mengangguk mengerti, sedangkan Jingga menatap pilu ke arah Aska yang kini semakin menjauh.


"Jebloskan pria itu ke dalam penjara!" Aksa berucap dengan nada yang sangat lantang dan tak terbantahkan.


"Saya tidak salah!" pekik Fajar.


Aksa berdecih kesal dan mendekat ke arah Fajar. Tangannya dia masukkan ke dalam saku celana yang dia gunakan.


"Buktikan di kantor polisi," balas Aksa dengan santai. "Satu lagi, bawa pengacara terhebat agar hakim tidak menjatuhkan hukuman mati untuk kamu," pungkas Aksa dengan senyum mengejeknya.


Fajar sudah memasang wajah geram dan kini dia memandang ke arah Jingga.


"Dek, bantu Mas," pinta Fajar dengan sorot mata mengiba.


Jingga terus menatap Aksa yang kini menjauhinya. Dia melihat ada sorot ketidaksukaan yang mata Aksa pancarkan.


Kemudian, Jingga menatap ke arah Fajar yang sudah diborgol tangannya oleh polisi.


"Aku sudah lelah, Mas. Sudah saatnya kamu menikmati apa yang kamu tanam," jawab Jingga dengan mata yang menatap ke arah Fajar tanpa rasa. "Bukan hanya hatiku yang lelah, fisikku juga sudah lelah karena ulah tangan dan kakimu yang kejam," lanjutnya lagi.


Fajar tersentak dengan apa yang diucapkan oleh Jingga. Tidak biasanya pacarnya itu


menjawab ucapannya dengan perkataan yang menusuk.


"Aku sudah menganggap kamu rumah, tetapi kamu malah menganggap aku sampah," tambahnya lagi.


"Kita akhiri saja hubungan yang menyakitkan ini. Bukan hanya hatiku yang sakit dan penuh luka. Tubuhku pun merasakan hal yang sama."


Jingga memilih pergi dan meninggalkan Fajar yang masih diapit oleh dua orang polisi.


...****************...


Lanjut jangan?


Komen dong biar aku crazy up

__ADS_1


Yang bilang cerita Aska-Jingga muter-muter aja gak ada kejelasan, ya memang begini alur cerita mereka di cerita Jodoh Rahasia karena mereka akan memiliki cerita sendiri dengan judul yang berbeda. Kalau ditumplekin di sini semua yang ada kalian gak akan mau baca cerita Aska-Jingga nantinya.


__ADS_2