
Aska, Aksa juga Riana sedikit terkejut dengan apa yang mereka dengar dari mulut para anggota keluarganya. Mereka bertiga menatap penuh tanya ke arah Ayanda, Radit juga si triplets.
"Kalian kenal Jingga?" tanya Riana kepada ketiga keponakannya. Si triplets pun mengangguk dengan cepat.
"Ini kakak pengasuhnya si kelapa," terang Aleeya.
"Kalfa, Dek. Kalfa," ralat Aleena. Aleeya hanya berdecih kesal.
"Sama aja, Kak. Bedanya cuma ditambahin E doang," sanggah Aleeya.
"Namanya itu pake F bukan pake P," balas Aleena lagi.
"Orang Sunda itu gak bisa ngomong ef, bisanya ep. 'Kan di dalam tubuh kita mengalir darah Sunda dari Engkong." Aleeya tak mau kalah.
Malah kedua bocah ini yang argumen membuat semua orang tertawa dan menggelengkan kepala.
"Om masih ingat gak ketika kami mau mengenalkan Om kepada Kak Jing-jing," tanya Aleesa seraya menatap sang om. Aska hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut Aleesa.
"Kami tidak akan pernah bisa bersatu."
"Why?" Dahi bocah enam tahun itu mengkerut tak mengerti. Dia tidak melihat kejanggalan apapun dari penglihatannya.
"Dia sudah menikah."
"Apa?" sahut ketiga bocah tersebut dengan sangat kompak.
"Jangan bercanda, Om!" pekik Aleeya.
"Gak lucu!" seru Aleena.
Aska menatap ke arah ibunya yang sudah memandangnya dengan sangat nanar. Aska mencoba tersenyum, meskipun hatinya sangat teramat sakit.
"Semuanya benar. Om tidak berbohong." Kedua anak itu pun menangis keras dan berlari ke arah ibu dan ayah mereka. Mereka memeluk erat tubuh Radit dan juga Echa.
"Om bohong 'kan, Ba," ucap pelan Aleena.
Radit tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa mengusap lembut pipi Aleena dan menggelengkan kepala.
"Baba selalu mengajarkan kepada Kakak Na untuk menerima kenyataan yang ada dengan hati yang lapang. Sekarang, sudah waktunya Kakak Na melakukan itu."
Aleena semakin menangis mendengar ucapan sang ayah. Radit segera memeluk tubuh putrinya ini. Sama halnya dengan Aleeya. Dia terus menangis sedangkan Aleesa masih memandang wajah sang om tanpa berkedip.
__ADS_1
"She doesn't love him."
(Dia tidak mencintai Bian)
Aleesa berucap dengan sangat lantang membuat semua pandangan orang yang berada di sana melihat ke arahnya yang tengah memandang sang paman.
"She won't be happy."
(Dia tidak akan bahagia)
Kini, Iyan yang berbicara. Matanya sudah tertuju pada Askara. "Fighting!" ucapnya seraya mengepalkan tangannya ke atas.
"Enough," jawab Aska.
(Cukup)
Semua orang hanya terdiam mendengar jawaban dari Aska. Baru kali ini mereka melihat Aska yang biasanya ceria malah murung. Senyum dan tawa yang keluar dari bibirnya hanya kamuflase belaka untuk menutupi kesakitan yang ada.
"Dek, kamu masih ingat candaan Mommy ingin menjodohkan kamu dengan seorang wanita," ucap lembut Ayanda seraya mengusap pundak Aska. Sang putra pun mengangguk, menandakan dia masih akan ucapan sang ibu.
"Wanita itu adalah Jingga." Semua orang terkejut, tapi tidak dengan Aska. Dia hanya tersenyum kecut.
"Dialah yang menolong Mommy dengan tulus ketika Mommy kekurangan uang cash untuk membayar pecel lele pesanan ketiga cucu Mommy." Ayanda menjelaskan dengan menatap sendu wajah Askara.
"Sekarang ... semuanya sudah berubah, Mom. Lebih baik Adek mundur." Senyum mengembang di wajah Aska, tetapi membuat hati Ayanda perih.
"Kenapa?" Sang ibu tak habis pikir Aska yang biasanya maju terus pantang mundur, kini malah langsung mundur.
"Suaminya adalah sahabat Adek, Bian."
Ayanda dan Gio sangat terkejut mendengar ucapan dari Aska. Urat-urat kemurkaan sudah nampak di wajah Giondra. Kini, dia mendekat ke arah sang putra.
"Bian yang dulu Daddy bantu itu?" Aska mengangguk. Tangan Gio mengepal dengan sangat keras. Namun, dia tidak menunjukkannya ke hadapan semua orang. Hanya Remon yang mengerti.
"Ini?" Tangan Gio sudah menyentuh luka lebam yang ada di wajah Aska. "Apa ini perbuatannya juga?" Aska mengangguk.
"Mon!"
Nama yang akan Gio libatkan jika dia sudah murka. Remon mengangguk patuh menandakan dia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Jangan, Dad!" cegah Aska dengan menggelengkan kepala. Aska seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh ayahnya tersebut.
__ADS_1
"Kenapa? Dia bukan sahabat kamu karena sahabat tidak akan berbuat seperti ini kepada sahabatnya sendiri." Aska menunduk ketika mendengar ucapan dari Gio. Hatinya lebih sakit ketika dia mengetahui wanita yang dia sayangi sudah disetubuhi oleh orang yang dia anggap sahabat.
"Lebih baik punya satu orang sahabat yang selalu ada dan mengerti kamu ketika kamu berada di titik bawah, daripada memiliki seribu teman yang hanya ada ketika kamu berada di titik atas." Nasihat yang Gio berikan kepada sang putra bungsu.
"Itu mah sahabat yang kudu dimasukkan liang lahat," ujar Arya.
"Seberengsek-berengseknya Ayah, Ayah tidak pernah merebut kekasih sahabat Ayah," imbuh Rion. Arya mengangguk membenarkan ucapan duda taubat tersebut.
"Sahabat macam itu ya emang bukan sahabat. Musuh yang menyerupai sahabat," tukas Rion lagi.
Aska tersenyum kecut. Ucapan pria dewasa di depannya ini memang benar. Mereka telah banyak makan asam garam pengalaman kehidupan. Dari persahabatan Rion dan Arya memang dia melihat hanya keakraban, tidak ada penikungan perihal perempuan.
Gio menatap sendu ke arah sang putra. Dia pun duduk di samping Aska. Menanyakan lebih dalam lagi hubungannya dengan perempuan yang disinyalir istri orang tersebut. Aska menjelaskan semuanya dan hanya keheningan yang tercipta.
"Jadi, dia wanita yang kamu incar sedari SMA." Aska mengangguk sambil menatap ke arah sang ayah.
"Hanya incaran, dan tidak menjadi jodoh sungguhan," balasnya kecut.
Ayanda memeluk tubuh putranya dengan sangat erat. Dia sama sekali tidak menyangka jika kisah cinta Askara akan sama menyedihkannya dengan Aksara.
"Jika, Mommy mengenalkan dia dengan cepat kepada kamu ... mungkin kamu dan dia sudah dekat dan tak akan terpisah lagi." Ayanda tengah berandai-andai sedangkan Aska hanya tersenyum perih.
"Hal yang tidak bisa diulang adalah waktu. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu."
"Dia mengalami trauma yang cukup berat. Apa lu mau gua buat nanganin dia?" Aska menggeleng dengan cepat.
"Ada suaminya. Kalau suaminya beneran sayang sama dia pasti akan berjuang untuk kesembuhannya," balas Aska.
"Udah saatnya gua mundur. Udah saatnya gua mengikhlaskan dia," lanjutnya lagi.
Hati mereka semua teriris mendengar penuturan dari Askara. Wajah sendu Aska membuat mereka iba.
"Percayakan saja pada takdir." Anak remaja yang tidak bisa lepas dari gadget itu berujar. Semua orang mengalihkan pandangan mereka kepada Iyan. Meminta penjelasan lebih lagi.
"Kita itu bukan Tuhan. Kita gak akan pernah tau apa yang telah Tuhan persiapkan untuk jalan hidup kita. Ada rahasia besar yang belum Tuhan bongkar. Masih ada sakit yang Tuhan persiapkan sebelum bahagia itu datang."
Kata demi kata yang Iyan ucapkan membuat orang susah untuk mencernanya. Berbeda dengan Aleesa yang menganggukkan kepala. Anak jenius Aleena pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apalagi Aleeya yang otaknya pas-pasan. Dia hanya bisa berkata, "ngomong apa sih? Gak ngerti!"
...****************...
Komen dong ya ...
__ADS_1
Mohon maaf akunya gak bisa melek makanya up-nya ngaret. Ditambah gempa 6,7 SR yang lumayan membuat aku mual dan pusing sampai ketikan gak dilanjutin. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan YME.