
"Kakak pakai itu juga," tunjuk Riana ke arah Arya.
Perlahan Aska mundur dengan mata yang melebar. Semua orang terkekeh, sedangkan Aska tengah panik. Apalagi sorot mata Riana sudah menunjukkan sebuah permohonan. Aska berpikir sejenak, kemudian ada ide yang cemerlang yang terlintas di kepalanya. Aska mendekat ke arah Riana. Dia sudah membungkukkan badan tubuhnya. Kepalanya dia arahkan terlebih dahulu ke arah Aksa.
"Ijin ngelus perutnya, ya." Aksa hanya tersenyum.
Tangan Aska kini mengusap lembut perut Riana yang masih rata. Wajahnya dia arahkan ke depan perut sang kakak ipar.
"Ponakan Uncle yang ganteng dan cantik, jangan kerjain Uncle dong. Nanti gak Uncle sayang loh. Kalau kalian jadi anak baik apapun yang kalian minta akan Uncle penuhi. Kalau Daddy dan Mommy kalian marahin kalian, nanti Uncle marahin mereka balik. Uncle akan menjadi pelindung kalian," tuturnya.
Semua orang tersenyum bahagia, berbeda dengan Aksa yang menatap nanar ke arah Riana serta Aska.
"Uncle lihat 'kan?" bisik Aleesa.
Ketika Riana mendekat ke arah Aska, Aleesa menggenggam tangan Aksa. Mata Aksa melebar karena dia melihat anak perempuan yang ada di dalam mimpinya. Dia tengah berada di samping Riana dengan tersenyum bahagia.
"Kakak Sa gak tahu dia siapa, tapi dia selalu ingin dekat dengan Om," bisiknya lagi.
Seketika Riana tak menginginkan Aska untuk memakai bikini. Dia kembali ke arah sang suami yang tengah bersama Aleesa. Keponakan Aksa mulai mundur dan membiarkan aunty-nya untuk bermanja dengan sang uncle. Namun, anak perempuan itu enggan untuk mendekat jika ada Aleesa.
"Jangan aneh-aneh dong," ujar Aksa seraya mengusap lembut rambut Riana.
"Bukan Ri yang mau," sahutnya. Riana sudah meletakkan kepalanya di bahu Aksa.
"Mau apa lagi? Mumpung masih ada waktu sebelum Abang berangkat ke Melbourne," tanya Aksa.
Riana menggeleng dan malah semakin mengeratkan tangannya di lengan Aksa. Jika, sudah seperti ini Aksa tidak akan tega meninggalkan Riana. Namun, dia juga tidak bisa meninggalakan pekerjaannya karena jadwal meeting sudah diatur selama dua Minggu full.
Gio dan Ayanda melihat kegelisahan di wajah putra pertama mereka. Kedua orang tua Aksa itu saling pandang. Mereka memilih mendekat ke arah Aksa.
"Mau Daddy bantu bicara dengan Kakek?" tawar Gio.
"Tidak perlu, Dad. Biar Abang saja yang berbicara sama Kakek," tolaknya. Gio menganggukkan kepalanya pelan.
Ada rasa khawatir di hati Aksa. Apalagi dia melihat anak perempuan yang selalu ada di dalam mimpinya tertawa bahagia. Riana meminta untuk masuk ke kamar, Aksa pun menuruti permintaannya.
"Mau makan apa?" tanya Aksa.
Riana menggeleng, dia masih merangkul lengan tangan Aksa dengan sangat manja.
"Jangan diet-dietan ya. Mau kamu gendut pun Abang gak peduli, yang penting kamu dan anak-anak sehat," ujar Aksa.
"Hem," jawab Riana.
Aksa memeluk erat tubuh istrinya. Jika, sudah keluar satu kata keramat menandakan bahwa istrinya tengah merajuk.
"Jangan ngambek dong, Sayang," ucap Aksa. Dia menciumi wajah Riana.
"Bang, Ri ikut ya ke Melbourne," imbuhnya dengan menunjukkan puppy eyes.
"Belum boleh, Sayang. Menurut artikel yang Abang baca, ibu hamil muda belum boleh naik pesawat. Guncangan pesawat akan membahayakan kandungan. Sebelum bepergian, harus dipastikan bahwa janin sudah kuat dan juga sehat," jelas Aksa.
"Tapi, Ri gak mau jauh dari Abang," rengeknya. "Ri, takut," lanjutnya lagi.
Aksa mengecup ujung kepala Riana dengan sangat lama. Dia pun merasakan hal yang sama. Ada ketakutan yang tengah menyelimuti hatinya. Namun, dia tidak mengungkapkan kepada Riana. Dia tidak ingin istrinya terlalu stres memikirkan hal tak penting.
"Jangan takut, Sayang. Meskipun Abang tidak ada di samping kamu, masih ada Aska serta Mommy dan Daddy yang akan menjaga kamu. Jangan sungkan untuk meminta apapun kepada mereka. Mereka juga adalah keluarga kamu," paparnya.
__ADS_1
Lama mereka berpelukan tanpa sepatah kata pun. Mereka tengah menyelami pikiran mereka masing-masing. Suara dengkuran halus terdengar. Ternyata sang istri sudah terlelap dalam pelukan Aksa.
Pelan-pelan Aksa membaringkan tubuh Riana. Dia memandangi wajah istrinya yang terlihat lebih cantik ketika hamil. Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana.
"Selamat istirahat, Sayang. Sehat terus, ya," ucapnya pelan.
Tak biasanya Aksa malah ikut membaringkan tubuhnya di samping Riana dengan tangan yang sudah memeluk tubuh Riana dengan eratnya.
"Makasih Daddy, sudah menemani aku dan Mommy selama empat hari ini. Makasih sudah selalu dekat dengan aku dan juga Mommy. Selalu menuruti semua keinginan aku. Selalu memanjakan Mommy. Aku sayang banget sama Daddy." Lambaian tangan seorang anak perempuan yang semakin dan menjauh.
Aksa terbangun dari tidurnya dengan rasa terkejut luar biasa. Jantungnya berdegup sangat cepat. Kemudian, dia melihat ke sebelahnya. Ada Riana yang tengah terlelap dengan damainya. Tangan Aksa mulai menyentuh perut sang istri.
"Ada apa dengan kalian di sana? Daddy harap kalian baik-baik saja. Jangan buat Daddy dan Mommy takut, Nak," ucap pelan Aksa.
Mimpinya itu membuat dia tidak bisa memejamkan mata. Dia malah asyik memandangi wajah Riana sedari tadi. Tangannya terus mengusap lembut rambut sang istri sehingga Riana semakin nyenyak.
Selang dua jam, Riana membuka matanya dan orang pertama yang dia lihat adalah Aksara. Dia tersenyum dan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Aksa tersenyum dan tangannya terus mengusap lembut punggung sang istri.
"Yang, makan bakso yuk," ajak Aksa.
Riana sedikit terlonjak mendengar ajakan Aksa. Riana mendongakkan kepalanya menatap sang suami tercinta.
"Tumben," sahut Riana.
"Lagi kangen sama si bulat nikmat," candanya. Riana pun tertawa mendengarnya.
Sudah pasti Riana tidak akan menolak ajakan sang suami. Namun, hari ini Riana malas sekali memakai bedak ataupun perkakas wanita lainnya. Dia hanya menggunakan lip tint saja.
"Bang, Ri gak keliatan kucel 'kan?" tanya Riana yang sudah menatap ke arah Aksa.
Riana merangkulkan lengannya dengan sangat manja. Senyum pun merekah di bibirnya.
"Mau ke mana?" tanya Aska yang juga baru keluar dari kamar.
"Mau ngebakso," jawab Riana.
"Ikut!"
Tidak perlu mendapat persetujuan dari siapapun, Aska segera menyerobot masuk ke dalam mobil yang akan dibawa Aksa.
"Pengganggu," gerutu Aksa.
Riana hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Jangan begitu, Bang. Kak Aska adalah orang yang selalu ada untuk aku dan anak-anak kita ketika Abang gak ada," terangnya sambil mengusap lembut perutnya yang rata. Aksa hanya mengangguk pelan.
"Ke tempat biasa 'kan?" tanya Aska yang sudah duduk di bangku belakang.
"Iya," jawab Riana.
"Lu gak malu, cuma pakai celana kolorr doang," sergah Aksa.
"Ngapain malu, sandal gua aja sendal sejuta umat. Sandal swallow," sahutnya santai.
Adik Aksa ini sedari dulu memang tipe laki-laki yang terlalu santai. Tidak pernah memperhatikan penampilan. Akan tetapi, setiap Aska memakai apapun pasti akan terlihat bagus dan keren. Itulah kelebihan Askara.
Tibanya di kedai bakso langganan mereka, Aska yang lebih dulu turun dari mobil.
__ADS_1
"Mas, bakso campur. Mie kuningnya sepuluh lembar, bihunnya lima belas lembar dan togenya dua pilih biji. Baksonya bakso urat malu sama bakso telor papah muda." Pengunjung yang mendengar pun tergelak mendengar pesanan dari Aska, sedangkan Aksa hanya menggelengkan kepala.
"Minumnya apa?" tanya pelayan yang lain.
"Jus sirsak kubur."
Ingin sekali Aksa membenturkan jidat Aska ke tembok. Sungguh menggelikan, berbeda dengan Riana dia malah tertawa.
"Kamu mau apa?" tanya Aksa kepada Riana.
"Bakso mercon sama bakso beranak ya, Mas." Aksa melebarkan matanya mendengar jawaban Riana. "Habis?" tanyanya.
"Bini lu sekarang mendadak jadi wanita rakus," sahut Aska yang tengah menikmati pangsit goreng.
"Kakak mau!"
Istri dan adik Aksa sungguh memalukan, seperti membawa anak kecil makan.
Semua pesanan mereka sudah datang. Aska dan Riana terlihat sangat antusias, sedangkan Aksa masih bergelut dengan ponselnya karena ada telepon dari Melbourne. Dari mana Riana tahu? Karena Aksa menggunakan bahasa Inggris dalam percakapannya.
Riana hendak mengambil garpu dan sendok yang berada di dekat Aksa. Namun, Aksa melarang. Dialah yang mengambilkan sendok dan juga garpu untuk sang istri, sebelumnya sudah dia lap dengan tisu. Walaupun mulutnya tengah berbicara, tetapi kepekaannya masih sangat luar biasa.
"Makasih," ucap Riana seraya tersenyum. Aksa mengusap lembut kepala sang istri.
Riana sudah menuangkan sambal yang cukup banyak ke dalam mangkuknya. Namun, Aksa mencegahnya. Aksa menggeleng pelan. Aksa segera menyudahi percakapannya via sambungan telepon.
"Jangan banyak-banyak ya. Kasihan anak-anak kita," ucap Aksa dengan nada yang sangat lembut. Aska hanya dapat tersenyum mendengar ucapan Aksa. Abangnya memang pria perhatian. Tak apalah bucin, itu menandakan bahwa abangnya sangat mencintai Riana.
Setelah kenyang mereka pulang ke rumah pada sore hari. Riana tidak ingin lepas dari sang suami yang sudah rapih dengan pakaiannya.
Aksa meraih pundak Riana, kemudian dia menatap Riana dengan tatapan penuh cinta. "Abang hanya dua Minggu, Sayang," imbuhnya.
Riana mengangguk dengan sorot mata sendu. Jujur, Aksa sangat tidak tega melihatnya. Akan tetapi, dia tidak bisa meninggalakan pekerjaannya.
"Ri, ingin ikut Abang ke Bandara," pinta Riana.
"Iya."
Ayanda dan Gio merasa kasihan kepada calon ayah dan ibu muda itu. Seharusnya mereka menikmati waktu berdua. Menikmati kehamilan muda yang sebagian besar orang mengalami kerepotan luar biasa. Aska yang duduk di kursi penumpang depan, menatap iba ke arah Riana yang terus bergelayut manja. Sama halnya dengan sang Abang yang selalu mencium ujung kepala Riana.
"Kalau gua nikah, gua gak mau jauh-jauhan sama bini gua," batinnya.
Tiba di Bandara, Aksa memeluk erat tubuh istrinya. Dia juga mengecup perut rata sang istri.
"Banyak istirahat ya, kalau ada apa-apa langsung kabarin Abang." Riana mengangguk pelan dengan sorot mata menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Abang pergi ya, Sayang." Kecupan hangat Aksa berikan di kening sang istri tercinta.
Aksa mengurai pelukannya dan menuju pesawat. Riana melambaikan tangannya dengan hati yang sangat sedih. Setelah pesawat terbang, Riana merasakan perutnya kram.
...****************...
Maaf kemalaman 🙏
Coerhat:
Gini ya, tangan aku kram karena bulan kemarin aku kejar kata 120.000 kata dalam satu bulan. Sedangkan pas tanggal 31 kekurangan kata aku mencapai 23.000 kata, makanya aku gaskeun dalam sehari itu. Kalau gak bisa mencapai 120.000 kata, aku gak bisa gajian. Kalau cuma ngandelin pembaca harian sampai tahun monyet pun gak akan bisa narik duit di NT. Minimal penarikan aja 1,4jt loh.
__ADS_1
sekarang NT menyuruh author untuk memperbanyak karya supaya banyak pendapatannya. Kalau karya ku Yang Terluka gak update karena itu memang akan menuju END. Jadi sedikit slow. Ditambah aku punya kerjaan di dunia nyata, di dunia halu bulan ini juga aku harus ngejar 120.000 kata lagi biar duitnya bisa ditarik. So, hargai kerja keras aku. Setidaknya aku menulis panjang lebar ada hasilnya. Meskipun, menurut kalian uang itu tidak seberapa. Bagi waktu itu susah, apalagi ketika lelah melanda terus dikejar kalian minta update. 🤧