
Bayi yang masih merah itu terlelap dengan damainya. Tanpa bayi itu tahu dan orang lain tahu, sedari keluar dari perut sang ibu, dia sudah dijaga ketat oleh orang-orang suruhan sang kakek buyut. Banyak yang ingin melukai bayi tak berdosa itu karena dendam yang tak berkesudahan. Padahal, jika dipikir dengan logika keluarga Wiguna tidak akan bersikap jahat kalau tidak dijahati terlebih dahulu.
Genta Wiguna sudah dapat memprediksi bahwa ini semua akan terjadi. Dari Riana hamil, penjagaan sudah dia lakukan. Hanya saja tidak terlihat dan tidak bisa ditembus oleh siapapun. Ditambah Aksa juga menjaga Riana dengan sangat baik. Musuh mereka itu sangatlah banyak. Apalagi, Aksa memiliki masa lalu dengan perempuan gila yang tak pernah taubat.
Di ruang perawatan Riana, sang pasien terkejut ketika dia membuka mata sang ayah sudah berada di sampingnya. Wajah penuh penyeselan terlihat jelas pada raut sang ayah.
"Maafkan Ayah."
Hati Riana mencelos mendengar penuturan penuh penyesalan itu. Dia mencoba untuk duduk dan dibantu oleh sang suami. Dia memeluk erat tubuh ayahnya yang sudah ringkih.
"Harusnya Ayah ada di samping kamu ketika kamu merasakan kesakitan yang tak terkira."
Tes.
Air mata Riana menetes begitu saja mendengar ucapan dari ayahnya. Jujur saja memang Riana merasa sedih karena dia harus berjuang sendiri tanpa ada sosok keluarga di sampingnya. Walaupun ada suaminya, tetapi beda rasanya. Namun, dia tetap berjuang karena ada nyawa yang harus dia selamatkan.
"Ayah tahu, pasti kamu ketakutan."
Tangan Riana semakin erat memeluk tubuh sang ayah. Hatinya pedih mendengar ucapan dari sang ayah.
Rasa takut itu pasti ada dan Riana memang mengalami hal seperti itu. Namun, dia mencoba untuk melawan rasa takut itu. Dia percaya pada dirinya sendiri bahwa dia mampu melahirkan anaknya dan akan membesarkan juga merawat anaknya setelah anaknya lahir. Keyakinan itu yang membuat Riana mampu tersenyum disela rasa sakit yang tak terkira.
Suasana berubah menjadi haru, Riana mengurai pelukannya dan wajahnya sudah dibanjiri air mata. Namun, dia masih bisa tersenyum di hadapan sang ayah yang juga tengah menangis.
"Wanita memang ditakdirkan untuk melahirkan seorang anak. Berjuang antara hidup dan mati demi sebuah kehidupan yang baru. Rasa sakit yang Ri alami sirna ketika melihat bayi merah yang sangat tampan yang lahir dari rahim, Ri. Sekarang, Ri menjadi wanita yang sempurna, Ayah. Ri, sudah menjadi seorang ibu."
Senyum itupun menular kepada Rion dan juga tiga pria yang lain. Mereka sangat salut akan perjuangan Riana. Apalagi Aksa juga tadi bercerita bahwa Riana tidak mengeluh sedikitpun ketika rasa sakit menyerangnya. Malah Aksa yang menangis menceritakan itu semua karena dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka terus berbincang hangat dengan Aksa yang tak bergerak sedikitpun di samping Riana. Begitu juga Riana yang selalu ingin dekat dengan sang suami tercinta.
"Mommy jam berapa akan tiba?" tanya Riana.
"Palingan malam, kenapa emang?" Aksa balik bertanya.
"Dada Ri sakit banget, sepertinya air susunya mau keluar," lirihnya.
Aksa segera menarik tangan Riana dan mendekapnya dengan hangat. Kecupan lembut pun dia berikan di ujung kepala Riana. "Sabar ya, Sayang." Riana hanya mengangguk pelan.
Rion dapat melihat dengan jelas bahwa Aksa benar-benar tulus mencintai Riana. Dia juga selalu memberikan yang terbaik untuk putrinya. Seperti sekarang ini, dia melihat jelas Aksa benar-benar selalu ada untuk Riana.
Sore menjelang, seorang perawat masuk ke dalam ruang perawatan dengan mendorong boks bayi. Orang-orang yang berada di sana menyambut hangat kedatangan Aksa junior.
"Bukannya harus dirawat di ruang NICU dulu?" Rion terheran-heran karena cucunya ini sudah dibawa ke tempat sang ibu. Padahal, bagi prematur itu harus mendapatkan perawatan yang intensif.
"Harusnya sih seperti itu, Pak. Namun, ini sungguh di luar nalar manusia," terang perawat tersebut. "Bayi Nyonya Riana memang terlahir prematur, belum cukup umur. Namun, bobotnya seperti bayi yang terlahir normal, yaitu tiga kilogram." Semua orang tercengang mendengarnya. "Ketika kami periksa semua organ dalam dari tubuh bayi ini, semuanya sangat sempurna."
Ucapan syukur mereka ucapkan. Lengkungan senyum pun terukir di wajah cantik Riana.
"Tolong kasih ASI ya, Bu." Riana hanya mengangguk. Perawat itu sudah memberikan bayi yang masih merah itu kepada Riana. Namun, Riana sedikit malu ketika harus menyusui di hadapan pria lain selain suaminya.
"Abang," panggilnya. Aksa mengerti ketidaknyamanan sang istri. Dia menarik tirai yang ada di sekeliling ranjang pesakitan Riana.
"Maaf ya, ibu mudanya malu katanya." Semua orang pun tertawa termasuk sang perawat.
"Sus, kalau air susunya gak keluar apa yang harus saya lakukan?" Riana tak malu untuk bertanya.
"Minta bantuan kepada suami nyonya untuk mengeluarkannya." Mata Aksa melebar mendengarnya sama halnya dengan Riana.
"Maksudnya?"
"Suami Nyonya yang harus menghisap benda kenyal itu agar ASI-nya keluar." Riana menggeleng tak percaya sedangkan Aksa sudah tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, saya permisi."
"Menang banyak ini mah," ledek Aska ketika perawat itu sudah pergi.
"Biar semakin sehat," tambah Arya.
"Pasti dong, Om," sahut Aksa. Wajah Riana sudah merah padam menahan malu.
Aksa menemani istrinya di dalam tirai, dia juga yang membantu membukakan kancing piyama yang digunakan oleh Riana.
"Ya ampun, Yang. Gede banget." Mata Aksa sudah berbinar, dia menelan air liurnya karena benar-benar membuatnya 'ingin'
"Apa sih, Bang," balas Riana. Dia mulai mengeluarkan sumber asi dari pembungkusnya dan putranya itu terlihat sangat kehausan. Aksa junior menghisap dengan sangat kencang hingga Riana meringis kesakitan.
"Ya ampun, Dek. Pelan-pelan, sakit," ucap Riana. Air matanya sudah menetes karena hisapan yang luar biasa menyakitkan yang baru pertma Riana rasakan.
"Sakitan nenenin aku apa anak kita?" Pertanyaan yang membuat Riana jengah disela rasa sakitnya.
Aksa mengusap lembut kepala sang putra. "Nak, kasihan Mommy. Pelan-pelan dong." Aksa tidak tega melihat istrinya meringis untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Bantu pakai susu formula aja, ya." Ucapan Aksa membuat Riana menatap tajam ke arah sang suami.
"Ini anak manusia, bukan anak sapi."
Aksa pun tertawa mendengar omelan istrinya. Jika, sudah menyangkut sang putra Riana akan memberikan yang terbaik untuknya.
Aksa tak henti memandangi wajah putranya yang memang sangat tampan. Dia mengusap lembut pipi merah sang putra yang asyik menyedot susu sang ibu.
"Ganteng banget ya, Yang." Riana pun tersenyum.
"Namanya siapa, Bang?" tanya Riana. Pasalnya, Riana menyerahkan urusan nama kepada sang suami.
"Yang jelas berawalan huruf G, tengahnya huruf A Dan belakanganya pakai nama keluarga." Riana mengangguk setuju. Nama apapun yang suaminya berikan pasti nama yang bermakna baik.
Setengah jam berlalu, barulah bayi yang masih merah itu tertidur dengan sangat pulas karena sudah puas menghabiskan susu ibunya. Aksa yang sudah bisa menggendong putranya mulai meletakkan tubuh sang putra di boks bayi. Ketiga pria yang ada di ruangan itupun mendekat karena mereka ingin melihat maha karya Riana juga Aksa secara langsung.
"Eh sumpah! Nih anak ganteng banget," ucap Aska.
Dia segera mengambil ponselnya dan mengambil beberapa gambar wajah sang keponakan. Dia pun mengirimkan gambar tersebut kepada kedua sahabatnya.
"Keponakan gua udah lahir nih. The real anak Sultan."
Itulah caption dari foto yang dia kirim kepada Ken dan Juno.
"Set dah, baru brojol aja udah ganteng pisan." Pesan balasan yang dikirimkan oleh Ken.
"Bingung gua mau ngado apa. Pasti semuanya udah dia punya. Jadi, gua ngasih doa aja, ya." Balasan yang dikirimkan oleh Juno.
Aska hanya tertawa membaca pesan balasan kedua sahabatnya ini. Rion pun ikut memasang status di aplikasi pesan miliknya.
"Malaikat kecil yang Tuhan titipkan kepada keluarga besarku. Tampan sekali dirimu, Nak."
Ayanda yang masih ada di dalam pesawat berteriak histeris ketika melihat wajah cucunya yang sangat tampan.
"Daddy, cucu kita ganteng banget," ucap Ayanda dengan sangat bahagia.
Gio hanya tersenyum dan dia akui cucunya itu sangat berbeda dengan kedua anaknya.
"Daddy, kapan kita landing-nya. Mommy gak sabar ingin gendong cucu Mommy."
Sama halnya dengan Ayanda, Echa yang tengah sibuk dengan pekerjaannya pun mendadak tersenyum bahagia melihat foto keponakannya.
"Ya Allah, tampan banget." Dia sudah tidak sabar ingin segera terbang ke Singapura. Jujur saja, dia sangat bahagia ketika anak Riana lahir. Itu bisa membuat rasa sedihnya sedikit berkurang. Bisa menjadi terapi akan rasa kehilangannya.
"Semuanya Tuan Genta yang lakukan, Bos. Ada orang yang ingin bermain-main dengan cucu Bos."
Wajah Gio nampak murka membaca pesan tersebut. Tangannya sudah mengepal dengan sangat keras.
"Carikan pengawal untuk cucu saya. Jangan sampai ada yang menyentuhnya barang sedikitpun."
Gio akan melakukan apapun demi cucunya. Namun, dia tidak akan mengatakan hal itu kepada putra juga keluarganya. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya menjadi seorang kakek. Menjaga dan melindungi cucu tercintanya.
Mereka berdua sudah tiba di depan ruang perawatan Riana. Gagang pintu Ayanda tekan dan dia segera menghampiri putra keduanya. Tangan Ayanda sudah menjewer telinga Aksara hingga Aksa mengerang kesakitan.
"Kebiasaan!" omel sang ibu.
"Ampun, Mommy. Ampun."
Ayanda masih menahan marah kepada sang putra karena dia tidak memberitahu jika Riana sudah mengalami kontraksi.
"Mom."
Suara Riana membuat Ayanda melepaskan jewerannya. Dia memeluk tubuh Riana dan tak hentinya meminta maaf.
"Gak apa-apa, Mom. Maafkan Ri juga," ujarnya.
Ayanda mengecup kening Riana sangat dalam membuat hati Riana menghangat. Mertuanya ini benar-benar mertua yang sangat baik.
"Makasih, sudah melahirkan cucu Mommy dengan selamat." Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Riana.
Ayanda beralih pada cucu tampannya. Dia benar-benar takjub kepada cucu keempatnya itu.
"Masya Allah. Tampan sekali kamu, Nak." Ayanda menggendong tubuh cucunya dan menciuminya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Bang, itu Mommy dan Daddy udah ada. Siapa nama anak lu?" tanya Aska.
"Iya, Bang. Siapa?" timpal Arya.
"Tunggu Kakak aja besok."
Semua orang pun mengerang kesal karena Aksa hanya memberikan harapan palsu.
__ADS_1
Riana masih mengeluh sakit di bagian sumber asinya. Aksa dengan telaten memijatnya dengan sangat lembut. Kadang juga dia menghisapnya bagai bayi.
"Pelan-pelan, Bang. Sakit!"
Orang yang mendengarnya dari balik tirai hanya saling tatap.
"Yang jomblo, yang duda minggir!" ejek Arya.
"Bajing!" seru Rion.
"Gak lucu!" sungut Aska.
Arya, Gio dan Ayanda hanya tertawa melihat Aska juga Rion merasa tersindir.
Keesokan paginya, Aksa sudah siap mengantar istrinya ke kamar mandi. Dia juga membantu istrinya untuk mandi. Membersihkan tubuh istrinya dengan sangat lembut. Benar kata orang, tubuh istri yang baru melahirkan membuat gairahnya semakin menjadi. Namun, Aksa harus bisa menahannya. Dia sudah mendapat ultimatum dari sang ibu.
"Tiga bulan!" ucap sang ibu dengan menunjukkan tiga jari tangannya. "Baru boleh tidur bareng." Aksa terkejut mendengar ucapan dari sang ibu. Dia juga tidak bisa membantah karena bola mata sang ibu sudah mau keluar dari tempatnya.
Selesai membersihkan tubuh sang istri. Aksa juga membantu Riana untuk memakaikan dalaman yang sudah diberikan pembaloet. Dia tidak merasa jijik malah dia merasa kasihan kepada istrinya.
"Makasih, Abang." Riana tersenyum dan mengecup bibir sang suami ketika dia sudah rapi.
Aksa menuntun Riana untuk duduk di sofa karena dia merasa pegal rebahan di tempat tidur. Perawat menjemput bayi Riana untuk dimandikan juga dijemur.
"Ke mana Mommy?" tanya Riana kepada sang suami yang tengah mengupas buah apel untuk istrinya.
"Ke apartment, mau buat sarapan juga makanan untuk kamu." Riana merasa sangat beruntung memiliki ibu mertua seperti Ayanda. Selalu memperlakukannya layaknya anak sendiri.
"Makan dulu, Sayang."
Riana meriah piring berisi apel yang sudah dikupas. Aksa pun menyiapkan air putih untuk istrinya minum.
"Masih sakit?" tanya Aksa seraya menunjuk ke arah gunung gede. Riana hanya mengangguk. Aksa mengecup pelipis sang istri membuat Riana menoleh.
"I love you so much."
Riana tersenyum dan membalas ucapan sang suami, "Love you too."
Setelah melahirkan, Aksa merasa bahwa Riana semakin cantik sekali. Tubuhnya yang sedikit berisi membuat Aksa semakin cinta kepada Riana.
"Setelah empat puluh hari kita baru kembali ke Jakarta," imbuh Aksa. Riana mengangguk. Dia juga banyak membaca artikel bahwa sebelum empat puluh hari, wanita yang baru saja melahirkan tidak boleh keluar rumah karena masih mengalami masa nifas. Pamali katanya.
"Apa kamu gak apa-apa hanya mengurus anak kita seorang diri?" Ada rasa cemas di wajah Aksa. Apalagi dia pernah membaca sebuah artikel bahwa seorang yang baru melahirkan rentan mengalami baby blues.
Riana menatap sang suami dengan bibir yang melengkung sempurna. "Gak apa-apa, Bang. Ri, malah senang."
Tidak ada kebohongan yang wajah istrinya pancarkan. Riana benar-benar banyak berubah sekarang ini. Tak lama berselang, sang mertua datang diikuti Rion, Arya, Aska juga Gio. Ayanda membawa makanan yang cukup banyak.
"Sarapan dulu, Ri." Ayanda sudah mengeluarkan makanan yang dia bawa untuk menantunya. "Nanti siang, Mommy akan masakin lagi untuk kamu. Biar air susu kamu semakin berlimpah dan berkualitas."
Walaupun Riana sudah tidak memiliki ibu, dia merasakan ketulusan hati seorang ibu dari mertuanya.
"Mommy juga masakin makanan kesukaan Abang."
Bukannya mengambil makanan untuk dirinya, Aksa malah mengambilkan makanan untuk istrinya. Dia juga menyuapi istrinya dengan sangat telaten.
"Ri, bisa sendiri." Riana menolak, tetapi Aksa tetap bersikukuh.
Semua orang yang berada di sana hanya tersenyum bahagia melihat kemesraan sepasang orang tua baru itu. Aska yang tak berkedip memperhatikan Riana juga Aksa hanya dapat tersenyum miris.
"Apa nanti aku akan bisa seperti mereka?"
.
Wanita gila sudah menyuruh orang untuk terbang ke Singapura. Dia menyuruh orang lain karena sang pria yang dia ajak kerja sama tidak mau dan memilih untuk tak bersekutu lagi dengannya.
Banyak bayi yang tengah dijemur oleh para perawat. Pria itu terus memperhatikan satu per satu bayi yang berada di sana. Dia sudah mengantongi foto bayi yang harus dia culik dan dia bunuh.
Di antara banyaknya bayi di sana, ada satu bayi yang ketampanannya sangat mencolok. Dia meyakini bahwa bayi itulah yang harus dia ambil. Namun, perawat yang menjaga bayi itu seakan tidak mau beranjak dari sana.
"Bayarannya sangat mahal dan aku tidak boleh gagal."
Pria itu terus memantau keadaan. Cukup lama dia berada di sana, dan akhirnya ada kesempatan juga. Perawat yang berada tak jauh dari bayi tampan itu mulai menjauh karena harus mengambil sesuatu. Perawat yang lain pun sedang sibuk dengan tangisan bayi yang lainnya. Hanya bayi itu yang tertidur pulas dan seakan merasa nyaman. Pria itu merogoh sakunya, dia menyamakan foto yang dia dapatkan dengan bayi di hadapannya.
"Benar, bayi ini."
Ketika semuanya lengah, pria itu membawa bayi tersebut. Ketika perawat menoleh, salah satu dari bayi yang tengah mereka jemur sudah tidak ada.
"Pencuri bayi!"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...