
Jingga sudah selesai membersihkan ruangan direktur utama. Akan tetapi, dia belum melihat Riana menampakkan diri.
"Ke mana Mbak Riana?" gumamnya.
"Jingga."
Panggilan dari seorang pria membuat Jingga menoleh. Dia adalah Randi.
"Riana belum datang?" tanya Randi dengan raut khawatir.
"Sepertinya belum, Mas."
"Randi, segera siapkan laporan yang saya inginkan untuk meeting nanti," titah Rani yang baru saja akan membuka pintu ruangannya.
"Baik, Bu. Namun, sebelumnya saya boleh hubungi Riana dulu ya, Bu. Tidak biasanya dia terlambat."
Dari dalam ruangan Rani, seseorang berdecih kesal. "Punya nyali berapa deketin Riana?" desisnya. Tangan orang itu pun mengepal dengan keras.
"Meeting akan diadakan jam setengah delapan." Begitulah pengumuman untuk semua para karyawan.
Riana mengumpat kesal di dalam hati ketika ojek online yang dia tumpangi berhenti di tengah jalan karena mengalami kebocoran ban.
"Ya Tuhan."
Riana meraih ponselnya, tetapi daya baterai ponselnya sudah habis membuat Riana mengerang kesal.
"Sial banget hari ini."
Berhubung keadaan jalan yang sedang macet, Riana memilih untuk berjalan kaki dengan sesekali berlari. Jaraknya hanya berkisar lima ratus meter. Untungnya dia selalu membawa sendal jepit, jadi high heels yang dia pakai bisa dia tenteng.
__ADS_1
Peluh sudah mengucur di dahinya. Namun, Riana masih terus berjalan. Napasnya terengah-engah ketika dia sampai di depan kantor.
"Tumben Mbak, datangnya telat," ucap salah seorang security.
"Iya, Pak. Saya masuk dulu, ya."
Baru saja Riana hendak masuk ke dalam lift, suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Mbak, kenapa terlambat?"
"Aku kesiangan, Mbak," jawab Riana.
"Cepat ke ruangan meeting, direktur utama sudah tiba di sini."
"Apa?" Riana benar-benar syok mendengar ucapan Jingga.
Riana bergegas ke lantai atas dan dia membenarkan riasannya di dalam lift. Mengganti sandalnya dengan high heels.
Sedangkan di ruang meeting, Randi terus saja melihat ke arah pintu. Berharap Riana cepat datang karena direktur utama WAG Grup sangatlah kejam. Mulutnya sangat berbisa seperti ular kobra.
"Saya gak mau tahu, semua laporan ini harus selesai sekarang juga. Perusahaan ini membayar kalian dengan upah yang mahal. Percuma mengerjakan laporan demi laporan saja tidak becus."
Semua para karyawan menunduk. Ternyata direktur utama yang baru ini sangatlah tegas dan teliti berbeda dengan direktur utama yang dulu, yang belum lama ini meninggal.
"Saya paling tidak suka dengan karyawan yang tidak gesit dan tidak cepat tanggap. Kalian masuk ke perusahaan ini dengan seleksi yang cukup ketat, bukan? Kenapa kinerja kalian malah payah sekali." Urat-urat kemarahan muncul di wajah direktur utama. Wajah yang awalnya mempesona kini seperti singa.
"Saya juga tidak suka dengan karyawan yang datang tidak tepat waktu."
Riana yang hendak membuka pintu membeku seketika. Kalimat yang diucapkan oleh direktur utama seperti ultimatum keras untuk dirinya.
__ADS_1
Bagaimana ini?
Jantung Riana berdegup sangat cepat. Tangannya gemetar hebat ketika memegang gagang pintu.
Klek!
Suara pintu terbuka, pandangan para manusia yang sedang berada di ruangan yang terasa menegangkan tertuju ke arah pintu. Ada seorang wanita yang sudah menunduk dalam.
"Ma-maaf, saya terlambat."
Banyak para karyawan yang berbisik-bisik mengenai Riana. Ada juga yang tersenyum licik karena mereka beranggapan bahwa Riana akan dipecat karena terlambat datang.
"Riana," gumam Randi.
Gumamnya dari Randi mampu didengar oleh direktur utama. Raut wajahnya sudah berubah semakin dingin dan datar.
"Mampoes! Dipecat pasti," gumam Denisa.
Ucapan pelan Denisa pun mampu didengar oleh direktur utama. Tangannya sudah mengepal keras.
"Tegakkan kepalamu jika sedang berbicara!"
Suara yang tidak asing di telinga Riana. Suara yang sering dia dengar. Perlahan, Riana mulai menegakkan kepalanya dan sontak matanya melebar ketika dia melihat siapa yang tengah duduk di kursi kebesaran sana.
...****************...
Segini dulu, ya ...
Silahkan bayangin sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya? 😁
__ADS_1
Jangan lupa komen ....