Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Nasihat Sang Bunda


__ADS_3

Jingga sedang fokus pada pekerjaannya. Pikirannya teringat akan Aska yang sedari pagi belum juga menghubunginya. Dia ingin membuka komunikasi dengan Aska, tetapi dia ragu. Takut mengganggu Aska.


"Jingga, kemarin lu ke mana?" tanya Ken memecah keheningan.


"Kenapa lu bohong?" sergah Juno.


Jingga hanya menghela napas kasar, dia menatap ke arah dua orang yang tengah menghakimi dirinya tersebut.


"Saya rindu ibu saya," jawab Jingga jujur.


Ken dan Juno mengerutkan dahi mendengarnya. Mereka berdua menatap ke arah Jingga dengan tatapan penuh tanya.


"Makanya saya ke pusara ibu saya. Sudah lebih dua tahun saya tidak ke sana," terangnya.


Ken dan Juno hanya terdiam mendengar penuturan dari Jingga. Mereka kira Jingga hanyalah anak perantauan yang mengadu nasib di Kota besar ini. Ternyata, dia lahir di Kota ini. Ibunya pun sudah meninggal. Namun, kedua orang itu tidak menanyakan lebih dalam lagi.


"Aska kalang kabut nyariin lu," ucap Ken. "Lu ketemu si Bian?" tanyanya lagi.


"Iya. Pak Bian ke rumah."


"Sampai kapan lu mainin perasaan Aska dan juga Bian?" Juno mulai bertanya perihal hati.


"Kenapa lu gak bisa tegas sama hati lu," ucap Juno lagi.


Jingga hanya terdiam. Tidak ada jawaban darinya. Ini sudah waktunya untuk Jingga mengatakan hal yang sesungguhnya dia rasakan.


Di lain tempat, Aska sudah berada di ruangan sang ayah bersama Remon. Orang kepercayaan Giondra sampai saat ini.


"Ada apa Daddy memanggil Adek ke sini?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Aska. Dia baru saja tiba di kantor sang ayah. Tatapan mata sang ayah sudah berbeda.


"Ada hal yang ingin Daddy katakan."


Aska hanya menghela napas kasar. Aska sudah tahu tujuan ayahnya berbicara seperti itu apa.


"Dek, sampai kapan kamu mau fokus pada usahamu itu?" tanya Giondra.


"Ada perusahaan yang lebih penting yang harus kamu kelola dan urus," imbuh Giondra.


Aska hanya terdiam. Sudah berkali-kali sang ayah menyuruhnya untuk terjun ke dalam perusahaan milk ayahnya. Namun, Aska selalu menolak dengan banyak alasan.


"Itu buka pas---"


"Daddy tahu, tapi apa kamu tidak ingin mencobanya?"


Sorot mata sang ayah kali ini penuh dengan permohonan yang mendalam. Aska merasakan kelelahan pada raut wajah sang ayah.


"Daddy membangun perusahaan ini dan mengembangkannya menjadi besar untuk anak-anak dan cucu-cucu Daddy kelak. Daddy tidak melarang kamu untuk buka usaha dan mandiri, tapi Daddy harap kamu mau masuk ke dalam perusahaan. Hanya itu," pintanya.


"Adek gak bisa," jawab Aska.


"Bukan tidak bisa, tetapi belum bisa. Kamampuan kamu akan terlihat ketika kamu masuk ke dalam perusahaan itu," jelasnya lagi.


"Askara," panggil Remon.


"Sudah waktunya ayah kamu itu istirahat. Cukup memantau perusahaan melalui anak-anaknya. Ayahmu sudah lelah selalu bekerja keras demi kalian. Sekarang, waktunya kalian yang bekerja keras untuk ayah kalian. Buat ayah kalian bangga dengan kinerja kalian," papar Remon.


"Kamu lihatlah Abang ipar kamu. Dia pekerja keras, punya banyak kafe di luar negeri, tapi dia masih mau memegang perusahaan ayahnya. Padahal uangnya sudah dikatakan banyak sekali. Itulah yang ayahmu inginkan pada kamu dan juga Abang kamu," terang Remon.


"Uang memang bukan segalanya, tanpa uang apa kita masih bisa hidup?" Remon menatap tajam ke arah anak kedua Giondra.

__ADS_1


Perlahan-lahan Aska menatap wajah sang ayah yang sudah tak muda. Ada gurat kelelahan yang wajahnya pancarkan. Ada sebuah permohonan khusus yang sorot mata ayahnya katakan.


"Daddy tidak akan memaksa kamu lagi, jika kamu sudah mencoba. Kalau kamu merasa nyaman dan mau meneruskan perusahaan Daddy, Daddy akan sangat bahagia, tapi kalau tidak juga, Daddy tidak apa-apa."


Aska merasa sangat bersalah mendengar penuturan sang ayah. Selama ini dialah yang sering membantah ucapan ayahnya. Selalu menjadi anak pembangkang yang tidak mau menuruti keinginan sang ayah. Berbeda dengan sang Abang yang selalu ingin memberikan kebanggaan kepada ayahnya.


"Akan Adek pikirkan."


Sebuah kalimat yang membuat Gio melengkungkan senyum. Dia hanya dapat berdoa, Aska mau mencoba masuk ke dalam perusahaan miliknya.


Di rumah megah, Ayanda tengah sibuk mempersiapkan hidangan untuk menyambut tamu yang akan datang malam ini.


"Teman Papah yang mana sih, Mah?" tanya Echa.


Dia sengaja tidak pergi ke kantor karena ingin membantu ibunya.


"Dokter yang pernah rawat Mamah di rumah sakit, ketika Mamah masih sama Ayah," jawabnya.


Echa hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak tahu karena pada waktu itu dia tidak diperbolehkan menjenguk sang ibu.


"Anaknya perempuan?"


"Katanya sih begitu," sahut Ayanda.


"Mamah berniat untuk menjodohkan anak dari sahabat papah itu dengan Aska?"


Ayanda tertawa mendengar ucapan anak pertamanya. Dia mencubit gemas pipi Echa hingga Echa meringis.


"Enggaklah, Mamah gak mau jadi orang tua yang kolot. Biarkan Adek mencari wanita pilihannya sendiri," papar Ayanda.


Echa tersenyum dan memeluk erat tubuh sang ibu. Ayanda mengukirkan senyum yang tak terkira ketika tangan Echa melingkar di pinggangnya. Sudah sangat jarang sekali dia bermanja dengan putrinya.


"Mah, nge-mall, yuk," ajak Echa. Dahi Ayanda mengkerut mendengar ucapan sang anak.


"Tamunya kasih masakan Mbak aja. Kapan lagi loh kita nge-mall berdua. Mumpung anak-anak Echa lagi di bawa Mbak Nesha," pintanya.


Ayanda tertawa dan mengusap lembut rambut sang putri pertama. Sorot mata Echa penuh permohonan.


"Mau ya? Apapun yang Mamah inginkan akan Echa berikan. Mamah boleh beli apa yang Mamah suka. Barang mahal sekalipun, Echa tidak keberatan."


Senyum Ayanda semakin merekah mendengar ucapan dari Echa. Dia bukan tergiur akan penawaran Echa, tetapi dia bahagia ketika anaknya dengan tulus mengajaknya jalan berdua.


"Baiklah, Mamah ganti baju dulu."


Masakan untuk dihidangkan ke tamu sahabat sang suami bukanlah masakan Ayanda. Melainkan masakan asisten rumah tangga yang bekerja di sana. Sebelum berangkat bersama Echa, dia memberitahukan kepada suaminya bahwa dia akan pergi berbelanja ke mall besar.


"Gak apa-apa, Sayang. Have fun, ya."


Itulah balasan yang Giondra berikan kepada Ayanda. Gio akan menyetujui apapun asal itu semua membuat istrinya bahagia.


Mereka berdua berjalan bak adik dan kakak. Tawa pun selalu hadir di wajah mereka berdua. Memilih-milih baju dari toko A ke toko B. Toko yang memang terkenal mahal dan bermerk.


"Mah, ini bagus gak?" Echa menunjukkan dress selutut berwarna lilac. Ayanda tersenyum dan mengangguk setuju dengan ucapan sang putri.


"Cantik sekali, Kak," balas Ayanda.


Echa hendak mencobanya ke kamar ganti. Tetapi seorang perempuan muda malah menyerobot mengambil baju yang hendak dicoba Echa.


"Ini punya saya," tegasnya. Tangannya merampas baju yang ada di tangan Echa.

__ADS_1


"Mbak, maaf ... ini saya yang pilih duluan," sahut Echa dengan nada yang sangat sopan.


"Sebelum Anda datang, sayang sudah datang duluan. Saya sudah mencobanya juga."


Ayanda menengahi keributan antara Echa dan juga customer tersebut. "Sudah, Kak. Kita cari lagi baju yang lebih bagus dari ini," imbuhnya.


"Menurut Anda, ini baju jelek, iya?" Wanita muda itu berbicara dengan nada tinggi.


"Jaga mulut, Anda wahai perempuan tak beretika!" Echa benar-benar geram dengan ucapan wanita di depannya itu.


"Anda boleh saja berbicara tinggi kepada saya, tetapi tidak kepada mamah saya," tekannya.


Perempuan itu berdecih kesal, dan meninggalkan Echa serta Ayanda.


"Saya mau bayar semua yang telah dipegang oleh kedua wanita itu," ujar perempuan itu dengan nada meremehkan.


Echa benar-benar geram. Ingin sekali dia menghajar mulut perempuan muda itu. Namun, Ayanda mencegah tangan Echa dan menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, Kak," pinta Ayanda.


Perempuan itu datang lagi dengan wajah penuh kesombongan. "Diri Anda saja bisa saya beli."


Emosi Echa sudah di ubun-ubun, tetapi ibunya tetap menahannya. "Biarkanlah kita diremehkan dan direndahkan oleh orang lain. Asal kita tidak merendahkan dan meremehkan orang lain," kata sang ibu.


"Sok suci!" Perempuan itu mengumpat kesal sembari meninggalakan Echa juga Ayanda.


Ayanda mengajak putrinya keluar toko itu. Dia membawanya ke sebuah restoran yang cukup nyaman. Memesan cokelat panas untuk mengembalikan mood anak pertamanya.


"Echa gak terima dia berbicara kasar kepada Mamah," terangnya. Wajah Echa masih terlihat marah.


"Mamah mengerti, Kak. Mamah sangat mengerti bagaimana perasaan kamu. Alangkah lebih baiknya, kamu jangan kepancing. Tidak ada bedanya kamu dengan dia kalau kamu membalas ucapan dia," terang sang ibu.


"Tidak perlu menjelaskan siapa diri kita kepada orang lain. Jika, kita dianggap jelek oleh orang lain. Mau kita berbuat seribu kebaikan pun akan tetap dilihat buruk oleh mereka. Intinya, jangan pedulikan ucapan siapapun. Kita adalah kita, yang tahu kita adalah diri kita sendiri dan juga keluarga." Nasihat panjang yang Ayanda berikan kepada Echa.


"Satu hal lagi, Kak. Jangan pernah membanggakan apa yang kita miliki sekarang. Semua itu hanya titipan. Ketika Tuhan ingin mengambil semuanya dari kita detik ini juga pasti akan Tuhan ambil. Seharusnya kita malu karena Tuhan sudah sangat baik kepada kita, sedangkan ibadah kita saja masih kurang. Sedekah saja kadang perhitungan," papar Ayanda.


"Tetap rendah diri dan rendah hati setinggi apapun pangkat kita di dunia. Pada hakikatnya, di akhirat derajat kita itu sama."


Tangan Echa memeluk tubuh ibunya. Setiap kata yang keluar dari ibunya seperti penyejuk hatinya. Meskipun Echa salah, Ayanda tidak akan memarahinya. Dia malah akan memberikan nasihat dan petuah yang akan selalu Echa ingat sampai kapanpun.


"Makasih sudah menjadi alarm untuk Echa. Echa ingin seperti Mamah yang memiliki hati luar biasa."


Ayanda hanya tersenyum mendengarnya. Di mata Echa Ayanda adalah ibu sekaligus guru untuknya.


"Semoga anak-anak Echa memiliki attitude yang baik ketika mereka dewasa kelak. Jangan sampai seperti perempuan tadi," ucapnya.


Ayanda tersenyum dan mengusap lembut punggung sang putri tercinta. "Kalau Echa ketemu tuh cewek lagi, Echa akan siram wajahnya." Sebuah nazar yang Echa ucapkan, sedangkan Ayanda hanya tertawa.


***


"Ayah, cantik gak?" Melati menperlihatkan tubuhnya yang dibalut dengan dress berwarna ungu muda.


"Sangat cantik sekali, Sayang."


Mata Eki memicing ketika melihat banyak sekali goody bag yang Melati bawa. "Kamu borong semuanya?" tanya heran Eki.


"Biasalah, ada orang yang main ngambil baju yang aku suka. Aku borong aja semua baju yang udah dia pegang biar dia tahu siapa aku."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


Aku mau crazy up, jangan bosan ya ...


__ADS_2