
Cerita ini aku tulis dengan alur lambat. Jadi, nikmati aja ya ceritanya. Jangan kejar aku dengan pertanyaan kapan? kapan? dan kapan? Nanti, aku kabur loh dari sini dan gak akan kembali lagi ...😁
...****************...
Riana pergi bersama Rani dengan menggunakan jaket milik Aksa di tubuhnya. Jaket itu sangat menghangatkan dan mendamaikan ketika menyelimuti badannya.
Sesekali Riana menatap ke arah Rani yang terlihat santai dan tidak mau tahu. Biasanya, seorang wanita rasa keinginan tahuannya sangat tinggi. Berbeda dengan Rani yang seolah acuh.
Tiba sudah mereka di sebuah kosan mewah. Di sana berderet tiga kosan yang cukup mewah. Didominasi warna putih.
"Ayo masuk," ajak Rani pada Riana.
Riana takjub akan desain kosan ini. Sangat nyaman bagai rumah pribadi. Sudah pasti biaya sewa bulanannya sangat mahal.
"Barang-barang kamu sudah tersusun rapih di kamar." Rani menunjukkan kamar yang akan Riana tempati.
Mata Riana melebar sempurna ketika melihat semua barangnya yang berada di kosan lama sudah tertata rapi di kamar barunya.
"Kamu juga bisa masak di sana," tunjuknya ke arah dapur.
"Aku usahakan di lemari pendingin selalu tersedia bahan makanan," terang Rani.
"Baiklah, selamat beristirahat."
"Makasih banyak, Mbak." Rani hanya menjawab dengan anggukan kecil.
Riana masuk ke dalam kamarnya. Tata letak barang-barangnya sama persis seperti di kosannya dulu. Ponselnya pun berdering, sang kakak menghubunginya.
"Sudah sampai?" tanya Echa.
"Baru saja, Kak. Makasih, tempatnya nyaman banget."
"Sama-sama, harus lulus dengan nilai terbaik, ya. Soalnya Kakak sudah minta bantuan kepada Rani untuk membantu kamu melamar bekerja di tempat dia bekerja."
"Insha Allah, Kak. Selalu doakan Ri, ya. Jaga kesehatan Kakak di sana. Sampai ketemu di acara wisuda nanti."
Mendengar suara Echa membuat hati Riana merasa tenang. Apalagi aroma tubuh Aksa yang melekat pada jaket yang sedang dia kenakan. Tangannya mulai mencari kontak Aksa. Namun, nomor Aksa tidak dapat dihubungi membuat Riana sedikit kecewa. Dia pun mengetikkan sesuatu di aplikasi pesan.
__ADS_1
"Ri, sudah sampai."
"I will always miss you."
Pesan itu hanya centang satu menandakan baru terkirim dan kemungkinan ponsel Aksa mati atau lemah sinyal. Hanya helaan napas berat yang keluar dari mulut Riana.
Dia memilih merebahkan tubuhnya di kasur yang cukup nyaman. Sentuhan bibirnya dengan bibir Aksa di pesawat membuat pipi Riana merona. Tanpa dia sadari, tangannya memegang bibirnya sendiri.
"Sungguh manis," gumamnya.
Berniat hanya untuk merebahkan tubuhnya, tetapi matanya tak bisa diajak kompromi. Riana terlelap dengan menggunakan jaket milik Aksa. Terlihat sekali kedamaian dan kenyamanan yang wajah Riana tunjukkan dalam tidurnya.
Riana mulai menggerakkan tubuhnya. Matanya membola ketika melihat angka jam didinding.
"Ya ampun, aku tidur kayak kebo banget, ya," gumamnya.
Riana merentangkan kedua tangannya. Menggerakkan kepalanya ke arah kiri dan kanan. Merelaksasikan otot-ototnya yang terasa menegang. Dia bergegas mandi. Tubuhnya terasa sangat segar dan dia mulai memeriksa ponselnya dengan handuk yang masih melilit di rambut. Wajah segarnya berubah sendu. Pesan yang Riana kirim belum berubah tanda juga.
"Ternyata kamu sungguh-sungguh dengan perkataanmu,"lirihnya.
Ketukan pintu membuat Riana bangkit dari duduknya. Mbak Rani sudah rapih dengan setelan kerjanya. Sangat keren di mata Riana.
"Makasih, Mbak," ucap Riana seraya tersenyum.
"Aku berangkat, ya."
"Hati-hati, Mbak."
Riana mengantar Mbak Rani sampai pintu depan. Suasana kosan ini terasa sepi. Tulisan di depan pintu gerbang kosan 'PENUH'. Namun, pagi ini tak terlihat tetangga kosan Riana yang keluar untuk kuliah atau bekerja. Tidak seperti di kosannya yang terdahulu.
Riana masuk kembali dan duduk di meja tamu. Sudah tersedia sarapan nasi uduk dari restoran cepat saji kesukaan Riana. Bibir Riana pun tersungging sempurna.
"Pasti Kakak yang memberitahu menu sarapanku ke Mbak Rani," gumamnya.
Setelah sarapan, Riana kembali ke kamar. Mempelajari bahan untuk sidang skripsinya besok siang. Riana belajar dengan sangat serius hingga lupa makan. Begitulah Riana, jika sudah fokus dengan pelajaran dia akan melupakan semuanya.
Ketukan pintu membuat Riana terdiam sejenak. Ketukan itu terdengar lagi.
__ADS_1
"Misi paket."
"Paket?" Riana bangun dari duduknya dan membuka pintu kosannya.
"Dengan Mbak Riana Amara Juanda?" Riana pun mengangguk.
"Ini! Silahkan di terima." Sebuah kotak yang berukuran sedang.
"Makasih."
Riana sedikit takut dengan kotak yang dia terima. Dia menimbang-nimbang agar dibuka atau tidak. Ponselnya berdenting menandakan ada pesan yang masuk.
"Itu hadiah dari Abang, Sayang. Sebagai penyemangat untuk kamu belajar. Love you."
Seketika bibir Riana tersungging sempurna. Dengan semangat empat lima, dia membuka hadiah dari Aksa.
Riana menutup mulutnya tak percaya. Sebuah boneka Teddy bear berwarna putih, diperutnya ada foto mereka berdua yang tengah tersenyum bahagia ketika di pesawat. Serta cokelat Belgia kesukaan Riana. Ada cokelat almond dan juga kacang mete. Juga ada amplop berwarna baby blue di dalamnya. Di dalamnya terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang indah. Tulisan itu adalah tulisan tangan Aksa.
...Anggaplah boneka itu, aku. Agar ketika kamu rindu, kamu bisa memeluknya juga menciumnya. Ketika kamu kesepian kamu bisa mengajaknya bicara, dan ketika kamu butuh pelukan hangat dari aku peluklah dia. Boneka itu memang benda mati, tetapi ruh ku ada di dalam boneka tersebut....
...Love you, kekasih impianku....
Senyum Riana benar-benar merekah indah. Sungguh bahagia hati Riana. Banyak kejutan yang Riana terima dalam beberapa hari dari seorang Aksara.
Riana terus memeluk boneka pemberian dari Aksa dengan eratnya. Meskipun, matanya menatap ke layar laptop seraya mempelajari bahan untuk besok sidang.
Ketukan pintu terdengar lagi. Riana pun tersenyum bahagia. Hatinya sudah berbunga.
"Abang," gumamnya dengan tak henti tersenyum lebar.
Riana bangkit dari duduknya dan berlari untuk membukakan pintu. Tangan Riana sudah menyentuh gagang pintu dengan wajah berseri.
"Ab ...."
"Maaf, Neng. Saya mau nagih iuran sampah."
...****************...
__ADS_1
Udahan dulu, ya.
Mau ngopi dulu ...😁😁