
"Da-da-lah."
Gavin menunjuk ke arah bawah dress yang digunakan oleh Riana. Sontak Riana segera melihat ke arah yang ditunjuk oleh sang putra. Segera dia masuk ke kamar mandi.
"My ... Mommy ...." Gavin sudah menggedor-gedor pintu kamar mandi. Dia semakin berteriak karena sang ibu tak kunjung keluar.
"Mommy, buta pintuna."
Gavin terus berteriak dengan tangan yang sudah menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan sangat keras.
"My ... Mommy tidak apa-apa tan."
Tangan mungil itu terus saja menggedor-gedor pintu kamar mandi hingga Mbak Ina menghampiri Gavin. Takut terjadi sesuatu dengan cucu kesayangan majikannya itu.
"Den Gavin kenapa?" tanya Mbak Ina.
"Mommy beldalah ...."
Suara Gavin sudah bergetar dan matanya sudah berkaca-kaca. Mbak Ina memeluk tubuh Gavin dengan sangat erat.
"Mommy gak kenapa-kenapa, Empin." Mbak Ina mencoba menenangkan Gavin. Namun, Gavin terus mengatakan bahwa ibunya berdarah.
"Ada apa ini?"
Suara yang Gavin kenali. Dia segera menoleh dan ternyata sang ayah sudah ada di belakangnya.
"Mommy beldalah, Daddy. Beldalah."
Aksa mengangkat tubuh putranya dan menggendongnya. Mengusap air mata Gavin yang sudah berjatuhan.
"Cowok gak boleh nangis," ucap Aksa.
"Atu dak Atan nanis talo itu butan Mommy."
(Aku gak akan nangis kalau itu bukan Mommy)
Aksa tersenyum gembira karena dia tahu Gavin sangat menyayangi ibunya. "Empin sayang Mommy?" Anak itu mengangguk cepat.
"Baiklah, kalau begitu biar Mommy bersihkan darahnya dulu, ya." Dahi Gavin mengkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah.
"Mommy tidak terluka. Mommy baik-baik saja. Tadi, Mommy hanya sakit perut dan Daddy sudah bawa obatnya." Aksa memperlihatkan kantong putih berisi minuman pereda nyeri haid dan juga roti Jepang yang Riana minta.
"Benelan Mommy titak apa-apa?" Aksa mengangguk seraya tersenyum.
"Mommy, Daddy taruh plastik obatnya di depan pintu kamar mandi, ya."
"Iya." Riana menjawab dari dalam kamar mandi dan membuat Gavin sedikit lega.
Setengah jam berselang, Riana sudah berganti pakaian dan tersenyum kepada sang putra. Gavin segera berlari dan memeluk tubuh ibunya.
__ADS_1
"Mommy tatit pelut?"
"Iya, Nak. Mommy hanya sakit perut."
Gavin mengajak Riana duduk di sofa dan dia mengusap-usap perut Riana dengan tangan mungilnya.
"Mommy benelan udah tembuh?" Riana tersenyum dan mengangguk. Gavin menatap sang ibu dengan sangat teliti. Matanya sangat serius. Kemudian, dia melihat ke arah sang ayah yang tengah asyik mengecek ponselnya.
"Daddy!" Tangan mungil itu sudah merebut ponsel milik Aksa. Dahi Aksa mengkerut dan menatap bingung ke arah sang putra.
"Mommy ladi tatit malah ain ape." Mulut anak balita itu mengoceh dengan bahasanya. Bukannya marah, Aska malah tertawa dan mencium gemas pipi Gavin.
"Terus Daddy harus bagaimana?"
Gavin berpikir sejenak, tetapi belum memberikan ponselnya kepada sang ayah.
"Bawa Mommy te tempat yan bau obat."
Aksa menatap ke arah istrinya yang juga tengah menatap ke arah Aksa. Mereka sama-sama bingung dengan apa yang dikatakan Gavin.
"Tempat apa sih?" tanya Aksa lagi.
"Lumah ... ta-tit. Iya, lumah tatit."
Kedua orang tuanya malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang buah hati.
"Kapan mau lepasnya?" Kini, Aksa menatap ke arah sang istri yang sudah tersenyum.
"Kapanpun Abang pasti bisa." Riana tersenyum dan memeluk tubuh suaminya. Namun, balita yang merasa cemburu itu malah menggigit tangan Aksa hingga Aksa menjerit kesakitan.
"Empin, kenapa gigit Daddy?" Sang ibu memarahi putranya dengan sebuah pertanyaan.
"Daddy dak boyeh peyuk Mommy!" Gavin menjelma menjadi makhluk paling posesif jika sudah menyangkut ibunya.
"Mommy, tangan Daddy berdarah." Aksa sengaja memanas-manasi putranya. Sontak Riana beranjak dari duduknya dan melepaskan rangkulan Gavin.
"Sebentar ya, Nak. Tangan Daddy kalau gak diobati akan bahaya."
Gavin merengut kesal sedangkan sang ayah tertawa penuh kemenangan.
.
Hari ketiga PMS, Riana berkonsultasi kepada dokter Gwen. Namun, kali ini dia datang seorang diri. Aksa yang nyatanya akan menemani, malah ada rapat yang tidak bisa diwakilkan. Sedih sudah pasti, tetapi dia juga harus mengerti kondisi sang suami.
Cukup lama Riana menunggu. Riana memilih untuk memainkan ponsel dan tidak sadar ada seseorang yang duduk di sampingnya.
"Serius amat." Riana menoleh dan matanya melebar ketika melihat Dion teman SMA-nya sudah ada di sampingnya.
"Kamu dokter?" Riana benar-benar terkejut. Si pria itu pun mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya ampun, gak nyangka." Dion pun tertawa. Pasalnya, Dion adalah anak yang biasa saja dan terbilang nakal sering bolos sekolah. Namun, sekarang dia malah jadi dokter.
Di lain tempat, selama rapat berlangsung perasaan Aksa sudah sangat tidak menentu. Pikirannya tertuju pada Riana, istrinya. Dia ingin rapat ini segera selesai. Menyusul istrinya ke rumah sakit di mana dokter Gwen praktek.
Sesuai dengan harapan Aksara, rapat pun sudah berakhir. Dia segera meninggalakan tempat itu dan menuju rumah sakit di mana Riana berada. Perasaannya semakin tidak karuhan.
Mobilnya sudah belok ke pintu masuk rumah sakit. Dia segera mencari tempat parkiran. Sengaja Aksa tidak menghubungi Riana terlebih dahulu.
Aksa sudah sangat hafal di mana ruangan dokter Gwen berada. Matanya memicing ketika melihat istrinya tengah tersenyum lebar dengan seorang pria. Rahangnya mengeras dan tangannya sudah mengepal dengan sangat keras.
Aksa melangkahkan kakinya dengan lebar. Dia segera menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. Riana terlonjak ketika Aksa sengaja mengecup kening serta bibir Riana di hadapan pria yang tidak Aksa ketahui.
"Katanya meeting penting."
"Udah selesai."
Riana hanya menghembuskan napas kasar, dia tahu suaminya tengah marah.
"Ri, minta nomor ponsel kamu dong. Nanti kalau ada acara reuni aku hubungin kamu."
Aksa malah merampas ponsel pria itu dan mengetikkan nomor pada ponsel Dion. Dion percaya saja karena dia juga tahu jikalau Aksa adalah suami dari Riana.
"Makasih ya, Ri."
Wajah Aksa masih ditekuk hingga nama Riana dipanggil paling belakangan. Dokter Gwen tersenyum ke arah Aksa juga Riana.
"Sudah siap?" Riana mengangguk dengan posisi yang sudah berbaring di ranjang.
Aksa yang tengah marah pun tetap mendampingi Riana. Menggenggam erat tangan istrinya dan mengusap lembut rambutnya.
Dokter Gwen sudah menjelaskan semuanya. Riana yang sedang ditangani oleh dokter malah Aksa yang merasa ngilu.
"Sakit?" Riana hanya tersenyum.
Aksa malah mencium kening istrinya sangat dalam seakan dia tengah memberikan ketenangan kepada istrinya. Benda yang seperti huruf T itupun sudah di tangan dokter Gwen. Dia menjelaskan efek samping dari pelepasan IUD.
Keluar dari rumah sakit, Aksa seperti orang yang memusuhi Riana. Namun. Riana tidak akan berbicara, dia akan membiarkannya saja.
Di rumah pun Aksa masih membisu. Riana tak menghiraukannya karena dia tengah merasakan nyeri pada perutnya. Ketika makan malam pun Aksa hanya turun sendiri, putranya masih berada di rumah sang mertua.
"Riana ke mana?" Ayanda sudah mencium aroma yang tidak beres dari putranya itu.
"Di atas." Apalagi jawaban singkat dari Aksara yang membuat Ayanda semakin yakin jika tengah terjadi sesuatu dengan putra dan menantunya.
"Kalau ada masalah obrolkan. Jangan biarkan istrimu jadi cenayang," tukas sang ayah.
Setelah selesai makan malam, Aksa segera naik ke kamarnya karena istrinya tak kunjung turun. Ketika pintu kamar dia buka, Aska melihat tubuh Riana yang sudah menggigil dengan kening yang panas.
"Sayang!"
__ADS_1
...****************...