Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Menelan Ludah


__ADS_3

Inilah alasan Aksa membawa Riana ke Jakarta. Dia ingin Riana melihat sendiri apa yang dia lakukan pada Ziva. Mau dibilang kejam pun dia tak peduli, yang penting dia sudah membuktikan pada Riana bahwa dia bukan ayah kandung dari anak yang dikandung Ziva. Serta dia sudah mengurus proses perceraian melalui Christian. Pengacara kepercayaan Aksa yang tak lain adalah sahabat Aksa.


"Mau ke mana kita?" tanya Aksa yang sudah menggenggam tangan sang kekasih.


"Aku ingin mandi, Bang."


"Oh ... kamu mau mandi bareng," goda Aksa sambil menaik turunkan alisnya.


Riana menatap Aksa dengan tatapan membunuh. Aksa pun tertawa. Kemudian, menarik tangan Riana agar mendekap tubuhnya.


"Bercanda, Sayang."


"Gak lucu, Bang," sungut Riana.


"Iya, maaf."


Aksa membawa Riana ke rumah kedua orang tuanya. Kedatangan Riana disambut hangat oleh Ayanda.


"Selamat ya, Sayang."


"Makasih, Mom," jawabnya, sambil memeluk erat tubuh Ayanda.


"Mom, biarkan Riana mandi dulu."


Aksa mulai membuka suara, membuat Ayanda menatap Aksa dengan tatapan jengah.


"Posesif."


Aksa mengantar Riana ke kamar tamu untuk membersihkan tubuhnya dan juga beristirahat.

__ADS_1


"Kamu istirahat di sini dulu ya,untuk malam ini." Hanya anggukan yang menjadi jawaban,


Aksa turun ke lantai bawah dan bermanja dengan sang ibu. "Udah selesai urusan kamu?" tanya sang ibu.


"Sudah. Mom ... berapa lama proses persidangan perceraian?" tanya Aksa.


"Sekitaran dua bulan. Itu yang paling cepat."


"Lama itu, Mom," keluh Aksa.


Ayanda menjawil hidung Aksa dengan gemas. "Kamu itu maunya yang instan aja. Mie instan aja gak bisa langsung dimakan. Harus di rebus dulu baru bisa dimakan," omel sang ibu. Aksa hanya terkekeh dengan tangan yang melingkar di pinggang sang Mommy yang masih ramping.


"Cinta itu butuh perjuangan, Bang. Kamu sudah membuktikannya 'kan. Perjuangan kamu sekarang tidak sia-sia."


Belaian lembut Ayanda membuat Aksa semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang ibu.


"Perjuangan Abang masih belum selesai, Mom."


"Ayah."


Ucapan Aksa terdengar sangat sendu, sedangkan Ayanda hanya mengulum senyum.


"Ayah, susah loh untuk dibujuk. Selamat berjuang lagi ya, Nak."


Hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aksa. Perjuangannya tinggal satu langkah lagi dan dia harus berhasil.


"Bang!" teriak Riana.


Aksa segera menegakkan tubuhnya dan menatap sang ibu.

__ADS_1


"Abang ke atas dulu ya, Mom."


Aksa naik ke lantai atas, tangannya sudah membuka pintu dan matanya melebar sempurna ketika melihat seseorang di depannya.


Riana menoleh ke arah pintu. Aksa menatap Riana dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Dia hanya bisa menelan ludahnya.


"Bang. bajunya mana?"


Riana hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Aksa masih bergeming karena pemandangan indah di depan mata.


"Bang ... kenapa lihatin Ri-nya begitu?" Riana sudah menutup ke bagian sensitifnya dengan kedua


tangan.


Kenapa begitu indah? Dan kulitnya ....


"Bang!" seru Riana.


Aksa pun terbangun dari lamunannya. "Ke-kenapa, Sayang?"


"Bajunya mana?"


Aksa merutuki kebodohannya. Dia lupa tidak menyiapkan baju untuk Riana terlebih dahulu. Malah langsung kabur begitu saja.


"Sebentar, Abang tanya Mommy dulu." Aksa segera keluar dari kamar yang Riana tempati.


Ada yang sudah mendesak di bawah sana membuat Aksa mendengus kesal. Menandakan dia masih normal. Dia menuruni anak tangga sambil berteriak.


"Mommy ... Abang ingin cepat kawin!"

__ADS_1


...****************...


Tembus 80 komen langsung up lagi ....


__ADS_2