
Sedih deh. views turun drastis. Apa kalian sudah bosan? 🤧 Jangan berhenti di tengah jalan ya bacanya, kalau bisa promosiin di akun media sosial kalian. Biar makin banyak yang bacanya.
...****************...
Aksa membawa Riana duduk di sofa. Tangannya menghapus air mata yang masih membasahi pipi Riana.
"Jangan nangis, ya. Dua tahun sebentar kok. Kamu juga bisa mencari pekerjaan dan mewujudkan mimpi kamu sebelum Abang menikahi kamu."
Hanya tatapan sendu yang Riana berikan kepada Aksa.
"Abang bisa saja menikahi kamu sekarang juga. Akan tetapi, akta cerai belum Abang dapat. Abang tidak ingin merusak citra dan nama baik kamu, Sayang. Kita sabar dulu, ya. Abang di Ausi untuk melanjutkan study serta mengembangkan perusahaan Abang. Di sini kamu mencari kerjaan yang sesuai dengan cita-cita kamu. Kita wujudkan mimpi kita masing-masing, setelah itu barulah mewujudkan pernikahan yang kita impikan. Kemudian, membina rumah tangga yang bahagia."
Bibir Riana mulai terangkat sedikit. Kalimat yang sangat menenangkan untuknya.
"Kalau kamu mau ke Aussie bilang ke Aska. Aska akan mengantar kamu." Riana hanya mengangguk.
Aksa tersenyum dan mengecup kening Riana sangat dalam.
"Mau menghabiskan waktu berdua? Sebelum Abang berangkat." Riana mengangguk cepat.
Aksa tersenyum melihat wajah Riana yang kini sudah berubah. Mereka menuruni anak tangga dan berpamitan kepada ayah dan juga Echa.
Setelah Aksa dan Riana pergi, Echa memandang sinis ke arah ayahnya yang terlihat santai.
"Apa Ayah sudah tahu tentang study Aksa?"
Rion hanya tersenyum tipis. Mata Echa membulat dengan sempurna.
"Untuk bersanding dengan putri Ayah itu harus jadi pria sabar dan tangguh. Bukan begitu menantuku?" tanya Rion kepada Radit.
Tidak ada jawaban dari Radit, dia hanya menatap jengah sang ayah mertua, sedangkan Rion tertawa puas melihat menantunya.
"Begini ya, Dek. Riana baru lulus kuliah, ada mimpi yang ingin dia capai. Sama halnya dengan Aksa, sedang digodok oleh Kakek Genta agar dia bisa menjadi pengusaha hebat. Tidak ada salahnya mereka seperti ini dulu."
"Restu Ayah dan restu keluarga besar sudah mereka dapat. Tinggal mereka membuktikan kekuatan cinta mereka kepada kita semua."
Radit tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia teringat akan perjuangannya untuk mendapatkan Echa. Dua algojo yang harus Radit taklukkan.
Di sebuah restoran kekinian, Aksa dan Riana sudah duduk berdua saling berdampingan. Tangan mereka terus saling menggenggam.
"Janji ya, terus hubungi Ri."
__ADS_1
"Iya, Sayang." Aksa mengusap lembut rambut Riana.
Mereka hanya menghabiskan waktu untuk bergelayut manja. Mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh pengamen di atas panggung sana.
🎶
Memenangkan hatiku bukanlah
Satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
Ku tak bisa hidup tanpamu
Mata Aksa menatap penuh cinta Riana. Begitu juga Riana yang tersenyum seraya memandang wajah tampan Aksa.
🎶
Beruntungnya aku ...
Dimiliki kamu ...
Kamu adalah bukti
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
Seperti isi hati Aksa lagu dari Virgoun ini. Bibirnya melengkung dengan sempurna. Kemudian,bibir itu mendarat di kening Riana sangat dalam.
"Perpisahan kita untuk menuju penyatuan cinta yang nantinya tidak bisa dipisahkan oleh siapapun. Abang sangat-sangat sayang kamu, Ri."
__ADS_1
Hanya pelukan yang bisa Riana berikan. Tangannya sangat erat memeluk tubuh tegap Aksa.
"Cepat kembali. Ri, selalu menunggu Abang di sini."
"Tentu, Sayang."
Sekarang, waktunya Aksa terbang. Dia harus menuju ke Bandara. Riana memaksa untuk ikut mengantar, padahal Aksa sudah melarang. Terpaksa Aksa menghubungi kakak iparnya untuk menjemput Riana di bandara.
Telinga Aksa sangat sakit karena Abang iparnya terus saja mengoceh dan mengumpat kesal. Namun, Aksa tidak bisa menimpali. Dia takut jika Abang iparnya ini tidak jadi menjemput Riana.
"Jangan nakal di sana," ancam Riana.
Aksa tertawa, dia mencubit gemas pipi Riana.
"Gak akan, Sayang. Abang di sana dipantau langsung oleh Kakek. Jadwal Abang juga padat, tidak ada waktu untuk nakal," kekeh Aksa.
"Awas kalau bohong," ucap manja Riana.
Aksa terkekeh kembali dan menarik lembut tangan Riana. Memeluk hangat tubuhnya.
"Abang hanya bisa nakal ke kamu doang, Sayang."
Riana mencubit pinggang Aksa hingga dia mengaduh dan meminta ampun.
"Abang pergi, ya." Riana mengangguk lemah.
"Kalau sudah sampai kabarin." Aksa memeluk tubuh Riana lagi, memeluk tubuh Riana lebih dari dua jam rasanya tidak cukup.
"Pasti, Sayang. Kamu juga harus selalu kabarin Abang. Segala kegiatan kamu harus laporan ke Abang."
Pelukan mereka terurai. Aksa mengecup kening Riana sangat dalam.
"I love you, Sayang."
"Love you, too."
Lambaian tangan mereka berdua menjadi awal dari hubungan long distance relationship yang harus mereka tempuh. Anggap saja ini adalah ujian kesetiaan dan kesabaran cinta yang mereka miliki.
...----------------...
Hem ...
__ADS_1
Komen dong ...