Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Nasihat


__ADS_3

Rasa kecewa, sedih dan sakit campur menjadi satu. Aska menarik napas panjang dan memasukkan kembali kotak berwarna merah hati ke dalam saku celananya. Biarlah cincin itu dia simpan dan dia berikan kepada wanita yang tepat.


Aska memilih untuk pergi dari rumah sakit. Biarlah dia yang pergi, biar dia menghayati rasa sakit ini seorang diri.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, kedatangan Aska di kafe miliknya membuat semua orang terkejut. Termasuk Juno dan juga Ken.


"Lu ke mana aja?" tanya mereka berdua. Semenjak Jingga dirawat di rumah sakit, Aska seakan menghilanh. Dia pun hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.


Menjadikan Jingga asistennya apa masih harus dia lakukan? Dia sudah ditolak. Apa dia masih harus berharap?


Waktu seakan cepat berputar. Sekarang, sudah senja dan Aska masih betah di kursi kebesarannya. Enggan sekali untuk beranjak. Namun, cahaya kemerah-merahan yang terpantul pada kaca, membuat Aska bangkit dari tempat duduknya. Bibirnya tersenyum miris melihat cahaya tersebut.


"Senja ... mengingatkan aku pada kamu," gumamnya.


Jingga adalah warna senja dan senja adalah waktu yang paling disukai Jingga. Di tempat lain, seorang perempuan pun tengah memandang cahaya senja dari balik kaca kamar perawatannya. Dia merasa kesepian karena ditinggalkan oleh orang yang sangat baik. Orang yang selalu ada untuknya.


"Maafkan aku, Bang." Kalimat penuh penyesalan yang keluar dari mulut Jingga. Tak terasa bulir beningnya menetes kembali.


Pintu kamar perawatan terbuka, dokter dan perawat yang menanganinya datang. Kemudian, memeriksanya.


"Besok kamu sudah boleh pulang," ucap dokter.


Ucapan dokter itu membuat Jingga tersenyum kecut. Dia berpikir, Askalah yang mengeluarkannya dari rumah sakit ini.


Hanya denting jarum jam yang menemani malam Jingga. Dia melihat ke arah sofa di mana Aska biasanya terlelap. Namun, kali ini tidak ada siapa-siapa di sana. Bayang-bayang wajah Aska masih mengitari kepalanya. Terlebih ketika Aska balik kanan dan pergi meninggalkannya, seperti dihantam bebatuan yang sangat besar hatinya.


Lain halnya di sebuah ruangan. Aska merebahkan tubuhnya dengan tangan yang memegang cincin yang baru saja dia beli, tetapi ditolak oleh wanita yang dia cintai.


"Gua kira lu bunuh diri." Perkataan seseorang yang tidak membuat Aska menoleh. Dia sangat tahu siapa yang datang.


Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat, Aska masih asyik dalam posisi awalnya.


"Dek!"


Sebuah panggilan yang mampu membuat Aska menoleh dan tersenyum kecut ke arah sang Abang. Dia sangat yakin sang Abang sudah mengetahuinya.


"Sakit ya, Bang," keluhnya dengan senyum yang sangat terluka. Aksa mulai duduk di samping sang adik yang juga sudah terduduk.

__ADS_1


"Apa ini karma karena gua sering nyakitin cewek? Sekarang ... malah gua yang diginiin sama cewek," tuturnya.


Aksa tersenyum, lantas dia memukul pundak sang adik. "Gua udah bilang, jaga hati lu hanya untuk satu orang. Jaga mata lu, cukup tunjukkan pandangan lu ke wanita yang lu cinta," papar Aksa. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Aska.


"Mau menyerah?" tanya sang Abang.


"Memulihkan dulu, Bang."


Sebuah jawaban yang membuat Aksa tergelak. Playboy sekelas Aska bisa patah hati juga ternyata.


"Dada gue masih sesak kayak orang bengek," lanjut Aska lagi. Dalam kondisi seperti ini Aska masih bisa bercanda. Meskipun receh, mampu membuat Aksa menyunggingkan senyum.


"Sebenarnya dia itu mencintai lu. Cinta lu terbalas, tetapi lu harus bersabar sejenak. Ada hal yang membuatnya menutup hatinya," tutur Aksa.


"Gua tahu itu. Pertahanan dia masih terlalu kokoh, belum bisa gua tembus," balas Aska.


Sejenak mereka berdua terdiam. Ada hal yang ingin Aska pertanyakan kepada Aksa. Namun, dia sedikit ragu.


"Bang."


Suara Aska membuat Aksa menoleh. Dia menatap adiknya dengan intens.


"Maybe."


Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska. Ada raut kecewa yang terpancar dari wajah adiknya itu.


"Kenapa gak langsung nanya sama Mommy?" sergah Aksa.


"Sekarang lu pulang, lu tanya sama Mommy. Sudah lama gua dan lu berbohong sama Mommy," lanjutnya lagi.


Kedatangan Aksa ke sini memang ingin menjemput adiknya. Sedari siang dia sudah mengetahui penolakan yang terlontar dari mulut Jingga.


Tibanya di rumah, sang Mommy menyambut Aska dengan sangat antusias, sedangkan Riana menyambut Aksa dengan senyum yang merekah.


"Lama ya?" tanya Aksa kepada Riana.


"Udah mulai mual," keluh Riana sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Bang, jangan tinggalin istri kamu lagi, ya. Kasihan loh, tadi hampir muntah," adu sang ibu.


"Iya, Mom. Maafkan Abang," tutur Aksa.


Aksa mengajak Riana untuk ke kamarnya membiarkan Aska beserta sang ibu.


"Mommy rindu kamu, Dek."


Di mata Ayanda, Aska maupun Aksa adalah putra kecilnya. Aska memeluk tubuh sang ibu dengan sangat erat.


"Mom, kalau misalkan Adek punya pacar bukan dari kalangan atas. Apa Mommy akan menolaknya?" Pertanyaan Aska mampu membuat Ayanda mengerutkan dahi.


Dia menatap putranya dengan tatapan bingung. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Ayanda.


"Hanya bertanya saja, Mom. Jadi, nanti Adek bisa pilih-pilih wanita," dustanya.


Ayanda tersenyum dan mengusap lembut pipi sang putra. Senyuman ibunya sangatlah teduh membuatnya terenyuh.


"Dengarkan Mommy, Nak." Ayanda menjeda ucapannya terlebih dahulu.


"Mommy dan Daddy bukanlah orang tua yang haus akan harta. Mommy serta Daddy mendidik kamu juga Abang kamu untuk mandiri, bekerja keras karena kalian adalah laki-laki. Lambat laun kalian akan menjadi imam dari seorang wanita yang telah Tuhan siapkan untuk kalian. Membawa anak orang untuk kalian jadikan istri serta ibu dari anak-anak kalian kelak. Orang yang harus kalian beri nafkah lahir batin." Ayanda masih memandang putra tercinta.


"Dengan kalian sudah mapan di usia muda, maka kalian bisa membuat istri kalian berkecukupan. Jika, kamu berjodoh dengan wanita dari kalangan biasa. Maka, kamu bisa menjadikan istri kamu itu menjadi wanita yang luar biasa dengan materi yang kamu punya. Kamu bisa memberikan apa yang dia tidak punya. Apa yang belum pernah dia coba ketika dia masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Hal kecil yang akan membuat pasangan kamu bahagia."


Aska tidak menyangka bahwa ibunya adalah wanita yang berhati lembut dan penuh dengan jiwa kemanusiaan. Dia berpikir, ibunya yang terbilang cerewet ini akan seperti ibu-ibu yang haus akan tahta dan harta. Pada nyatanya, tidak seperti itu.


"Kebahagiaan kamu itulah yang Mommy dan Daddy utamakan. Kaya dan cantik tidak menjamin menjadi istri yang baik."


Aska memeluk tubuh ibunya. Ucapan Ayanda mampu menenangkan hati Aska. Tidak dia pungkiri, sekarang hatinya masih sakit. Akan tetapi, dia yakin rasa sakit itu akan segera hilang dan akan berubah menjadi rasa sayang yang tak bisa tergambarkan.


"Mommy hanya berpesan kepada kamu satu hal. Jangan pernah RUSAK wanita manapun. Merusak berarti membeli, dan Mommy tidak ingin kamu menyesal nantinya." Nasihat yang selalu Ayanda berikan kepada kedua anak laki-lakinya.


"Siap laksanakan Mom," sahut Aska sambil mengangkat tangan kanannya seperti sedang hormat kepada sang saka merah putih.


"Lalu sekedar cium boleh gak?"


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2