
Jing-jing, nama yang masih Aska pikirkan sudah dua bulan belakangan ini. Ucapan keponakannya membuat Aska terus memikirkan. Mereka bertiga adalah bocah yang cukup kejam dan tidak main-main dengan ucapan mereka.
Namun, Aska mencoba untuk melupakannya. Toh, hubungannya dengan Jingga pun sudah semakin dekat. Keberangkatan mereka berdua ke Bandung membuat hubungan mereka semakin dekat. Apalagi Aska yang sengaja membawa motor ke Bandung pada waktu itu. Jingga yang tak kuat udara dingin terus mendekap hangat tubuh Aska dari belakang.
"Masih dingin?" tanya Aska ketika mereka berhenti di daerah Cianjur. Jingga mengangguk dengan tangan yang mendekap erat tubuhnya.
Aska membuka jaket yang dia gunakan dan dia pakaikan ke tubuh Jingga. Senyum pun terukir di wajah tampan Aska.
"Jika, masih dingin ...." Aska menarik tangan Jingga dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya. "Peluk aku aja," lanjut Aska. "Aku akan memberikan kehangatan untuk kamu."
Perkataan Aska membuat Jingga tersenyum lebar. Tangan Jingga pun memeluk erat pinggang Aska. Bukan hanya Jingga yang mendapatkan kenyamanan, Aska pun mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira.
Jingga sudah mulai sedikit demi sedikit terbuka. Meskipun, mereka masih menjaga jarak jika di tempat kerja. Sebuah usaha yang tidak mengkhianati hasil, bukan.
Berbeda dengan Riana, kini kehamilannya sudah memasuki bulan keempat. Kamar yang dia tempati pun sudah dipindahkan ke lantai bawah. Tak tanggung-tanggung, Aksa meminta dua kamar dijadikan satu. Sungguh Sultan sekali Aksara ini. Gio pun tak mau kalah, dia mempersiapkan ruangan khusus untuk memeriksa kandungan Riana. Jika, sewaktu-waktu ada masalah pada kandungannya menantu kesayangannya.
Seperti pagi ini, rumah besar itu nampak terlihat ramai karena ketiga anak Ayanda serta cucu-cucunya juga para menantu berkumpul semua. Mereka sarapan bersama, hal yang jarang sekali mereka lakukan.
"Acara empat bulanan mau diadakan di mana, Ri?" Ayanda sudah membuka suara.
Riana menoleh ke arah suaminya yang tengah mengunyah makanan. "Bang," panggilnya.
"Abang terserah Mommy dan Daddy aja. Di sini boleh, di rumah ayah juga boleh, yang terpenting doanya."
Jawaban yang sangat luar biasa yang keluar dari mulut Aksa. Acara tersebut Aksa dan Riana serahkan kepada orang tua mereka.
"Mimo, Dedek ingin pakai baju muslim yang samaan sama Aunty," pinta Aleeya.
"Minta sama Bubu dan Baba kamu," balas Aska.
Wajah Aleeya berubah masam mendengar ucapan sang om yang selalu membuat suasana rumah penuh kebisingan.
"Acaranya 'kan masih satu Minggu lagi. Sabtu nanti, kita pergi ke butik untuk fitting baju muslim," ucap Ayanda seraya mengusap lembut rambut Aleeya.
Beginilah ibu dari Aska dan juga Aksa. Dia akan menjadi orang yang paling sibuk untuk mempersiapkan semua keperluan keluarganya jika ada acara penting. Semua orang hanya tinggal ikut saja, semua biaya Ayanda yang tanggung.
"Mom ...," panggil Aska ragu-ragu.
"Kenapa, Dek?" Sang Mommy seakan tahu keraguan Aska.
"Apa boleh ... Adek pesan baju muslim yang sama dengan keluarga kita untuk seseorang."
"Wah!"
Mereka menjawab dengan sangat kompak.
"Kamu mau bawa calon menantu untuk Mommy?" Rona bahagia terpancar jelas di wajah Ayanda, sedangkan Aska sudah berwajah pucat.
"Belum resmi, Mom. Masih otw calon mantu," ralatnya.
__ADS_1
Ayanda dan Gio pun terkekeh mendengar ucapan dari sang putra.
"Nanti, otw calon mantu Mommy ajak aja pas kita fitting baju," ucap Ayanda.
"No, Mom," jawab Aska cepat. Dahi Ayanda pun mengkerut mendengar ucapan putranya tersebut.
"Dia masih malu dan belum mau diajak masuk ke keluarga kita. Ini aja mau Adek jebak."
Tawa renyah pun terdengar kembali, putra Giondra yang satu ini memang pantang menyerah.
"Bubu ... calon mantu itu apa? tanya Aleena.
Seketika Aska menegang mendengar pertanyaan dari keponakannya yang nomor satu.
"Om mau bawa pa--"
Mulut Echa pun Aska bekap agar tak melanjutkan ucapannya. Aska menggeleng pelan dengan raut penuh permohonan.
Please.
Begitulah sorot mata yang dia pancarkan. Tangan Aska pun dipukul oleh Aleeya agar tak membekap mulut ibunya.
"Bubu gak bisa napas nanti," omelnya.
Aska si pembuat rusuh akan takluk pada tiga kurcaci yang sangat menggemaskan ini. Lebih sulit mengejar restu di triplets dibandingkan dengan restu orang tua.
"Mau oleh-oleh apa?" Aksa sudah memeluk istrinya dari belakang dengan tangan yang mengusap lembut perut Riana yang mulai terlihat sedikit membukit.
"Maunya Abang cepat pulang," jawab Riana. Masih sama seperti kehamilan mudanya, Riana tidak ingin jauh dari sang suami.
Aksa hanya tersenyum dan mengecup tengkuk leher sang istri. Tangannya pun sudah naik ke bagian atas gunung yang semakin membesar, membuat deru napas sudah tak beraturan.
"Sebentar aja ya, Sayang," bisik Aksa.
Aksa maupun Riana sama-sama lebih sensitif di urusan ranjang. Selama kehamilan sang istri, di matanya Riana terlihat semakin menggoda. Kecantikannya semakin luar biasa dan Riana menjadi wanita yang sangat agresif. Aksa sangat menyukainya.
Alunan suara nan merdu terdengar. Untung saja kamar ini memiliki peredam suara agar mereka lebih leluasa melantunkan kenikmatan yang sesungguhnya. Jeritan kecil, teriakan penuh kenikmatan keluar dari mulut mereka berdua. Menyelami lautan kenikmatan yang memabukkan. Kucuran keringat tak ayal membasahi tubuh mereka. Berganti posisi sudah mereka lakukan karena mereka tidak ingin menyakiti anak yang lima bulan lagi akan lahir ke dunia.
"Bang."
Rintihan Riana menandakan dia akan sampai pada puncak yang sama-sama mereka daki. Mata Riana sudah terpejam dengan napas yang tak beraturan.
Bukannya mempercepat, Aksa malah semakin memperlambat membuat Riana menjerit keenakan.
"Abang!" serunya.
Aksa hanya tersenyum tipis ketika melihat istrinya sangat Manis dalam keadaan seperti ini. Rancauan yang keluar dari bibir Riana membuat semangat Aksa semakin membara. Aksa mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri, dan menggigit kecil daun telinganya.
"Keluarkan saja, Sayang. Jangan ditahan. Itu jauh lebih nikmat," bisik sang suami.
__ADS_1
Erangan dan rintihan silih berganti keluar dari mulut Riana. Aska semakin mempermainkan Riana dengan memberikan kenikmatan dan kepuasan tiada Tara. Memberikan pelajaran yang belum pernah Riana terima.
"Mau pipis," lirihnya.
"Keluarin aja, Sayang."
Maju mundur cantik itu semakin Aska perlambat membuat Riana benar-benar menikmatinya. Aksa mengehentikan gerakannya ketika ada yang mengalir deras di bawah sana. Dia pun tersenyum puas karena baru kali ini Riana seperti ini. Mengeluarkan semuanya dengan lualr biasa.
"Enak?" tanya Aksa yang masih berada di atas tubuh Riana.
"Lemes," jawabnya.
Aksa pun terkekeh, sebelum melanjutkannya dia terlebih dahulu meminta ijin kepada Riana. "Lanjut ya, Sayang. Abang juga udah gak kuat." Riana hanya mengangguk.
Melihat wajah Riana yang kelelahan karena sebuah kenikmatan membuat sesuatu merangsek naik ke ujung. Tak lama dia pun melenguh panjang, menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Napas mereka berdua masih beradu. Aksa mengecup bibir sang istri dengan sangat lembut.
"Makasih, Sayang."
Perlahan mata Riana terbuka, seulas senyum dia berikan kepada suami tercintanya. Riana pun mengecup pipi sang suami dengan sangat lembut. Mereka saling menatap dengan penuh cinta. Setelah lima belas menit, Aksa beranjak dari tempat tidur dan membawa Riana ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di ruangan tengah, Ayanda sudah mondar-mandir karena sang putra belum keluar kamar juga sedari tadi. Dia mendengkus kesal karena sang suami terus menghubunginya.
"Iya, Dad. Abang belum keluar kamar. Mommy gak mungkin ganggu dong," ucapnya.
"Daddy udah telepon, tapi gak diangkat."
"Ya pasti atuh, kegiatan tanggung kalau diganggu pasti gak enak."
Gio yang berada di balik telepon, menepuk jidatnya. Kenapa sang putra pertama mirip sekali dengannya. Selalu menggunakan kesempatan yang disela pekerjaan.
"Emang benar, buah jatuh gak jauh dari pohonnya."
Ayanda berkacak pinggang ketika sang putra baru saja keluar kamar dengan rambut yang lagi-lagi basah. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Masih sempet-sempetnya," sindir Ayanda.
"Selagi ada peluang, Mom."
Ingin rasanya Ayanda memukul putranya ini. Benar-benar anak Giondra Aresta Wiguna. Kelakuan plek-ketiplek dengan ayahnya.
"Awas kalau cucu Mommy kenapa-kenapa," omel Ayanda bak ibu tiri.
"Ibunya aja menikmati, masa iya anaknya terluka."
"Aksara!"
...****************...
Komen dong...
__ADS_1