Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Sekretaris


__ADS_3

Suara Rani membuat pria yang berada di balik layar laptop itu menegakkan kepalanya. Sontak, mata Riana melebar.


"Mas Ari."


Keterkejutan nampak terlihat jelas di wajahnya. Dia tidak menyangka bahwa pemilik kosan yang dia tempati adalah direktur utama WAG grup.


"Dunia ini ternyata sempit sekali, ya," kata Ari.


Riana hanya tersenyum, kemudian Ari menyuruh Riana duduk di sofa. Dia menyerahkan map yang berisi lembaran-lembaran kertas.


"Tanda tangan ini," pinta Ari.


"Boleh saya baca terlebih dahulu?" Ari mengangguk.


Riana membaca dengan teliti satu per satu poin yang tertulis di kertas perjanjian kontrak tersebut. Namun, matanya seketika membola.


"I-ini ... apa benar gaji saya per bulan segini?" Nominal yang tidak sedikit.


"Ya. Awalnya, kurang dari itu. Akan tetapi, direktur mengubahnya. Sepakat lah dengan nominal segitu," papar Ari.


"Jadi ... Mas Ari bukan direktur utamanya?" Tawa Ari dan Rani pun pecah.


"Bukan, saya hanya asisten pribadi dari direktur utama. Beliau mempercayakan semuanya kepada saya," terang Ari.


"Kalau boleh tau ... direktur utamanya ke mana, ya?"


"Dia masih ada tugas di luar negeri. Dia akan datang ke perusahaan ini ketika para karyawan sudah pulang karena dia belum ingin menunjukkan siapa dirinya kepada semua orang." Riana pun mengangguk.


Setelah menandatangani kontrak. Tak segan-segan Ari memberi tumpukan berkas yang harus Riana selesaikan. Baru pertama kerja sudah diberi tugas yang luar biasa. Namun, Riana tidak menolak. Dia mengerjakan tugas itu semaksimal mungkin. Dia juga tak segan bertanya kepada Ari jika ada hal yang tidak dia mengerti.


Suara ponsel Ari berdering ketika dia sedang bersantai sejenak.


"Apa kamu lupa di ruangan saya ada CCTV-nya? Mau saya turunin pangkat kamu jadi office boy?"


Dengusan kesal keluar dari mulut Ari. Dia tidak bisa membantah yang mulia. Dia juga sudah terikat janji sehidup semati dengan orang itu.


Jam makan siang sudah tiba, Riana masih fokus pada pekerjaannya.


"Ri, makan siang dulu. Baru nanti dilanjut lagi."


"Baik, Pak."


Bagaimana pun jika di kantor Riana harus memanggil Ari dengan sebutan bapak karena dia merupakan atasan dari Riana.

__ADS_1


Berhubung Riana tidak tahu tempat makan siang yang enak. Riana memutusakan untuk bertanya kepada salah satu office girl yang sedang membersihkan ruangannya.


"Mbak, maaf. Boleh numpang tanya?"


Senyum hangat office girl itu berikan kepada Riana. Gigi gingsulnya membuat wajahnya terlihat sangat manis.


"Apa Mbak tahu di mana tempat makan yang enak tapi ramah dikantong? Saya karyawan baru di sini."


"Kebetulan saya mau membelikan Ibu Rani makanan. Apa Mbak mau nitip sekalian?" tawarnya.


"Tidak usah, Mbak," tolak Riana. "Lebih baik saya ikut saja. Saya juga ingin mengenal lingkungan ini."


Office girl itu mengangguk, menyetujuinya permintaan Riana. Setelah selesai membersihkan lantai, office girl dan Riana turun ke lantai bawah. Banyak bisikan para karyawan yang membuat telinga Riana terasa panas.


"Jangan didengar, Mbak. Sudah biasa seperti itu jika ada karyawan baru."


Office girl itu berjalan menuju sebuah warung nasi yang tak jauh dari kantor di mana Riana bekerja. Warung sederhana, tetapi banyak yang antri.


Office girl itu menyebutkan satu per satu lauk yang dipesan oleh Rani. Riana pun ikut memesannya. Dia terkejut ketika mengetahui harganya.


"Di sini memang murah, Mbak, tapi rasanya gak main-main." Riana tersenyum, sedetik kemudian dia menatap office girl tersebut.


"Mbak gak pesan makanan?" Office girl itu menggeleng. "Nanti sore saja saya makan."


"Ini buat, Mbak. Kita makan sama-sama, ya."


Melihat office girl tersebut, seperti melihat Keysha. Tulus dan bersahaja.


"Mbak, saya kasih pesanan ibu Rani dulu, ya. Nanti saya ke sini lagi." Riana mengangguk dan membuka nasi bungkus yang dia pesan dan duduk di belakang kantor yang terasa sejuk karena masih ada pepohonan.


"Ini Mbak minumnya." Riana tersenyum dan mengambil air minum yang telah diberikan oleh office girl tersebut.


"Sebelumnya makasih ya, Mbak."


"Panggil saya Riana. Sepertinya kita seumuran," ucap Riana.


"Makasih, Mbak Riana. Panggil saya Jingga."


Riana menjabat tangan Jingga dan mereka tersenyum bahagia. Terlihat dua wanita ini memiliki kelembutan dan kecantikan dalam balutan kesederhanaan.


Riana melanjutkan pekerjaannya kembali. Ari memerintahkan Riana untuk menyelesaikan pekerjaannya malam ini juga. Riana tidak bisa menolak. Bagaimana pun dia dibayar mahal, pekerjaannya pun pasti cukup berat.


Para karyawan sudah ada yang pulang dan juga lembur. Riana masih betah berada di belakang komputer lipatnya. Ponselnya berdering, Aksa lah yang menghubunginya.

__ADS_1


"Udah pulang?"


"Belum, Bang. Pekerjaannya masih banyak."


Urat-urat kemarahan nampak di wajah Aksa, dengan dada yang turun naik dia mencoba mengatur emosinya. Setelah sambungan telepon terputus, dia menghubungi seseorang.


"Di mana lu?"


"Di rumah lah. Liat jam dong!"


Umpatan demi umpatan Aksa berikan kepada orang yang sudah menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Temani dia sekarang!" Aksa menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Setelah semua pekerjaannya selesai, tanpa teras waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Riana memesan ojek online terlebih dahulu, kemudian dia membereskan berkas serta laptopnya.


Lima menit menunggu, akhirnya ojek yang dia pesan tiba. Riana memakai helm dan naik ke atas motor yang akan membawanya menuju kosan.


Masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya. Rasa lapar pun tak dia hiraukan karena yang dia ingin lakukan hanyalah tidur. Besok dia harus bangun pagi buta dan bekerja lagi


Tak terasa waktu cepat sekali berputar. Riana sudah mendapat gaji pertamanya. Wajahnya sangat bahagia.


"Gak apa-apa deh lembur setiap hari," gumamnya.


Wajah Riana sudah dihiasi mata panda karena tak jarang dia membawa pekerjaannya ke rumah. Membuatnya bergadang. Namun, semuanya dia lakukan dengan senang hati.


"Jika, semua uang sudah terkumpul semua. Akan aku transfer ke rekening Kakak."


Itulah yang membuat Riana semangat menjalani pekerjaannya. Tidak pernah mengeluh sedikit pun. Apalagi, jika ayah dan kakaknya bertanya perihal pekerjaan. Riana akan bercerita dengan senang hati. Dia juga sangat merasa bahagia karena di tempatnya bekerja dia juga memiliki teman baru, yaitu Jingga.


Riana adalah orang yang tak pernah memandang kasta ketika berteman. Dia hanya mengutamakan kenyamanan.


Ini sudah bulan kedua Riana bekerja. Walaupun gosip tentang dirinya berhembus kencang. Ya, seringnya Ari berangkat atau pulang g bersama Riana membuat kabar burung cepat sekali beredar. Namun, Riana tak pernah mempedulikannya. Dia akan tetap fokus pada pekerjaannya. Prinsipnya dia digaji oleh atasannya, bukan karyawan dari atasannya. Jadi, selalu dia anggap angin lalu.


Di lain benua, seorang pria tersenyum bahagia ketika dia sedang menyaksikan siaran langsung yang Christian lakukan di dalam ruang sidang. Palu sudah diketukkan bertanda status Aksa kini sudah berubah menjadi duda. Akta cerai pun sudah siap dan akan segera Christian kirim ke Melbourne.


"Akhirnya ...."


Helaan napas lega keluar dari mulut Aksa. Bibirnya terangkat dengan sempurna.


"Tunggu Abang, Sayang."


...****************...

__ADS_1


Ayo dong komen ....


__ADS_2