Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Memanjakan Istri


__ADS_3

Aksa menuju sebuah mall yang dikunjungi oleh istri dan juga kakaknya. Sebelum Aksa berangkat ke perusahaan sang ayah dan kemudian ke kafe Aska, Riana sudah meminta ijin untuk pergi bersama Echa untuk melakukan pijat refleksi di tempat langganan sang kakak. Awalnya Aska melarang, tetapi Riana beralasan ini adalah keinginan anaknya, maka dia mengijinkan. Jika, sudah menyangkut perihal anak Aksa sudah tidak bisa berkutik.


"Di lantai tiga."


Itulah balasan dari Riana ketika Aksa menanyakan posisinya di mana. Dia mencari ke tempat refleksi tersebut. Namun, tidak ada Riana di sana. Aksa merasa cemas dan menghubungi istrinya kembali.


"Di mana? Abang udah di tempat pijat refleksi," tanyanya dengan suara sedikit khawatir.


"Di salon, Bang."


"Hah? Katanya tadi lagi refleksi," balas Aksa.


"Itu tiga jam lalu, coba Abang cek pesan yang Ri kirim ke Abang."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aksa. Sepertinya memang dia yang terlalu sibuk dan baru membaca pesan dari istri tercinta.


"Sekarang di lantai berapa?" tanya Aksa lagi.


"Di lantai dua, ada Bang Radit juga di sini."


"Ya udah, Abang ke sana sekarang," tukasnya.


"Bang, beliin minum. Ri haus."


"Iya."


Aksa sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadi suami serta ayah yang siaga untuk istri dan anaknya. Aksa memilih untuk pergi ke supermarket yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Aksa harus menjaga asupan makanan untuk istri dan anaknya.


Dia mengambil susu ibu hamil siap minum, aneka jus serta susu kotak. Tak lupa dia membeli roti yang ada di sana. Kasir wanita menatap kagum ke arah Aksa, sedangkan Aksa sedang fokus pada ponselnya.


"Totalnya seratus lima belas ribu dua ratus empat puluh lima rupiah."


Aksa yang hendak mengambil dompet, mengurungkan niatannya karena ada panggilan masuk ke dalam ponselnya.


"Iya, Sayang ...."


Hati kasir itu potek seketika mendengar ucapan Aksa. Setelah sambungan telepon terputus, Aksa mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu untuk membayarnya.


"Kembaliannya ambil aja," ucapnya dan berlalu begitu saja.


"Ya Tuhan, sisakan satu yang seperti pria itu," batin sang kasir.


Aksa masuk ke salon yang Riana maksud. Istrinya tengah melakukan treatment rambut. Aksa duduk di sampingnya dan membuat Riana terkejut. Kecupan hangat Aksa berikan di pipi sang istri. Senyuman hangat Riana berikan kepada sang suami.


"Tempat umum," sindir Radit. Aksa tak menghiraukannya. Kakak iparnya yang satu itu memang selalu saja menjadi pengganggu.


Aksa memberikan susu ibu hamil yang siap minum. Riana menerimanya dan segera meminumnya. Siang ini dia memang belum mengkonsumsi susu ibu hamil.

__ADS_1


"Jangan minum dan makan yang aneh-aneh dulu, ya." Riana mengangguk mengerti.


Aksa tersenyum dan mengusap lembut perut sang istri. "Rewel gak?" Riana menggeleng.


"Kalau Daddy-nya ijin, pasti dia ngerti," sahut Riana. Aksa tersenyum mendengarnya.


"Kapan datang?" tanya Echa yang ternyata sudah selesai melakukan perawatan.


"Baru datang, Kak," jawab Aksa. "Kakak cuma berdua sama si Bandit." Radit menatap jengah ke arah adik iparnya itu. Panggilan Aksa maupun Aska tidak ada bagus-bagusnya.


"Itu," tunjuknya ke arah samping Aksa. Ternyata ketiga keponakannya ada di sampingnya.


Aksa terperangah melihat ketiga keponakannya tengah melakukan perawatan rambut. Apalagi ketiganya merasa nyaman ketiga dipijat oleh pegawai salon. Aksa menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Mamah yang ngajarin mereka," keluh Echa.


Aksa pun tertawa, dia malah mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar ketiga keponakannya itu.


"Lebih bagus potong poni di salon, Bubu. Kalau Bubu yang potong poni Dedek pasti dikatain mirip Dora sama teman-teman Dedek," elak Aleeya.


Riana, Aksa serta Radit tertawa mendengar celotehan bocah enam tahun itu. Ada saja jawaban dari mereka yang membuat semua orang tergelak.


"Bubu jangan pelit sama anak. Kalau ingin anak cantik harus berani mengeluarkan uang lebih," tambah Aleesa.


Lagi-lagi mereka tergelak mendengar ucapan Aleesa. Echa mendengkus kesal mendengar ucapan anak-anaknya itu.


"Mana ada? Gua mah anak Soleh," kilah Radit.


"Sejak kapan Papih kamu ganti nama jadi Soleh?" canda Echa.


Mereka pun tertawa, sedangkan Radit sudah menunjukkan wajah kesalnya. Sejenak Aksa bisa melupakan segala amarah yang bersarang di hatinya. Setengah jam berselang, dahi Aksa mengkerut ketika melihat hasil dari rambut sang istri.


"Dipotong?" tanya Aksa.


Hanya cengiran kuda yang Riana berikan. Istrinya sudah bergelayut manja di lengan sang suami.


"Gak apa-apa 'kan?" tanya Riana. Aksa mendelik kesal ke arah istrinya.


"Itu rambut, Sayang. Kalau udah dipotong emang bisa disambung lagi?" Aksa sedikit geram dengan ucapan sang istri.


"Gerah," balas Riana.


Aksa hanya bisa mengembuskan napas kasar. Dia menelisik wajah Riana dengan potongan rambut barunya.


"Lain kali kalau mau apa-apa bilang dulu, ya. Apalagi kalau menyangkut diri kamu, sama halnya dengan Abang. Kalau mau melakukan sesuatu akan bilang sama kamu," terang Aksa dengan nada yang sangat lembut. Istrinya pun mengangguk.


Aksa harus bisa lebih bersabar menghadapi istrinya sekarang ini. Ibu hamil kadang menguji kesabaran suami. Mereka berdua memutuskan untuk berkeliling mall terlebih dahulu sebelum pulang.

__ADS_1


Hari ini Aksa benar-benar memanjakan istrinya. Apapun yang Riana mau pasti akan dia turuti. Aksa tersenyum ketika melihat istrinya sangat bersemangat ketika masuk ke dalam toko baju. Namun, dahi Aksa mengkerut ketika melihat istrinya membawakan baju untuknya.


"Loh?" tanya Aksa heran.


Riana mengajak suaminya ke ruang ganti untuk mencoba pakaian yang Riana pilih. Riana tersenyum ketika suaminya terlihat sangat tampan menggunakan baju yang dia pilihkan.


"So handsome," puji Riana.


Aksa tersenyum dan mengecup kening sang istri.


"Abang suka gak?" tanya Riana.


"Apapun yang istri Abang pilihkan, pasti Abang pakai." Riana memeluk tubuh suaminya. Anak di perut Riana ini benar-benar tidak ingin jauh dari ayahnya.


"Mau ke mana lagi?" tanya Aksa ketika sudah keluar dari toko baju.


Namun, ponsel Aksa berdering dan ketika dia melihat nama yang tertera di sana, dia menatap ke arah sang istri.


"Jogja sudah datang, tinggal menunggu yang dari Singapura."


"Jika, semuanya sudah tiba. Hubungi saya lagi."


Riana mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan suaminya melalui sambungan telepon.


"Kenapa?" tanya Riana.


"Masalah Aska," jawab Aksa. "Nanti malam Abang ijin keluar, ya." Riana pun mengangguk.


Jam tujuh malam, Aksa mendapat kabar dari sang anak buah bahwa kedua rubah itu sudah ada di Jakarta. Aksa bersiap untuk pergi ke sana, sedangkan istrinya sudah terlelap sedari pulang dari mall.


"Sayang, Abang berangkat, ya." Kecupan hangat Aksa bubuhkan di kening Riana sebelum dia pergi. Tak lupa dia juga berpamitan kepada calon anaknya.


***


Derap langkah lebar terdengar. Dua orang wanita yang tengah berada di dalam ruangan pun sudah terlihat cemas. Dada mereka bergemuruh cepat. Ruangan itu bagai bangunan kosong tak berpenghuni. Dingin dan sangat mencekam. Padahal ada Fahri dan juga Christian yang berada di sana.


"Selamat malam, Pak," sapa Christian juga Fahri.


Deg.


Deg.


Deg.


...****************...


Kalau bosan bikanh, ya.

__ADS_1


__ADS_2