
Mereka menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh koki. Makanan lezat dan sangat menggugah selera.
"Kenapa kamu malah membelikan putramu rumah yang kecil? Jika, kamu tidak mampu biar aku yang membelikannya," ucap Sarah sedikit merendahkan.
"Rumah yang lebih mewah dari rumah aku pun, masih sanggup aku belikan untuk putraku. Jika, aku memberikan rumah seperti itu nantinya Aksa dan istrinya tidak akan mikir. Akan menganggap mudah semuanya karena masih ada Daddy. Didikanku bukan seperti itu," terang Gio. Menatap Sarah dengan tatapan sangat tidak bersahabat.
"Lagian buat apa sih, Dad? Palingan juga Abang sering tidur di rumah kita," cibir Aska. "Mana mungkin Abang mau tidur sama boneka manekin," lanjutnya lagi.
"Siapa yang manekin?" sergah Ziva.
Aska hanya mengedikkan bahunya dan memilih untuk melahap makanan yang ada di piringnya.
"Maaf, saya telat."
Semua orang yang sedang fokus kepada piring masing-masing menoleh ke asal suara. Mata Ziva serta Sarah hampir keluar dari tempatnya. Begitu juga dengan laki-laki berpakaian sederhana yang masih berdiri di tempatnya.
"Tidak apa-apa, Rakha. Silahkan gabung bersama kami," ucap Aska.
"Tidak, Pak. Saya tidak pantas duduk di sana," tunjuknya ke arah Ziva serta Sarah.
Rakha Andrian, pemuda tampan dan sederhana yang baru beberapa hari ini Aska kenal. Wajahnya tampan dengan kulit sedikit gelap. Laki-laki seumuran Aska serta Aksa yang sangat pekerja keras. Dia pekerja serabutan. Apapun pekerjaannya pasti akan Rakha lakukan demi membiayai adiknya yang masih kuliah.
"Duduk saja di sini," ucap Aksa yang sudah menggeser tubuhnya menjauhi Ziva.
"Duduk saja, Nak." Ucapan lembut Ayanda mampu membuat Rakha mengangguk patuh.
Ketika Rakha duduk di samping Ziva, tiba-tiba perut Ziva seperti di aduk-aduk. Dia menutup mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi. Dikeluarkan semua isi perutnya karena dia sudah tidak mampu menahan gejolak yang ada di dalam perut.
"Kenapa dengan istri kamu?" Aksa hanya mengangkat bahunya. Tidak ada niatan untuknya bangkit dari tempat duduk. Apalagi menghampiri Ziva.
Rakha menatap Aksa dari bawah sampai atas. Kemudian tersenyum tipis.
"Jauh memang," batin Rakha.
Ziva kembali bersama Sarah dengan wajah yang sudah pucat. "Aksa, bawa pulang istrimu. Dia tidak bisa mencium bau badan orang miskin ini."
"Orang miskin?" Aska menatap Sarah dengan penuh selidik.
"Emang Tante mengenal Rakha?" Aska mencoba memancing Sarah.
"Ti-ti-dak," jawabnya gugup.
Seringai tipis pun sudah Aska tunjukkan. Sedangkan Ziva tidak berani menatap ke arah Rakha.
"Aksa cepat," titah Sarah untuk mengalihkan perhatian semua orang.
"Maaf, aku gak bisa. Aku masih ingin bersantai bersama keluargaku di sini." Jawaban yang mampu membuat Rakha melebarkan mata.
"Suami macam apa ini?" Rakha membatin di dalam hati.
__ADS_1
"Sudahlah, Mih. Dudukkan Ziva di sini dulu. Pesan teh hangat untuk putri kita." Mahendra berkata sangat lugas.
Mau tidak mau Sarah menuruti perintah sang suami. Aska menatap Rakha yang terlihat gugup duduk di samping Ziva. begitu juga dengan Ziva yang bersikap lebih pendiam.
"Oh iya, Rakha ini teman baru Adek. Dia sedang butuh pekerjaan," jelas Aska.
"Siapa tahu di antara Mommy, Daddy dan juga Abang ada yang membutuhkan pegawai," imbuhnya lagi.
"Abang butuh sopir. Apa kamu bisa menyupir?" Sontak Ziva tersedak teh hangat yang baru saja dia minum. Membuat mata semua orang berpaling ke arah Ziva.
"Maaf, tehnya panas."
"Udah tahu panas, kenapa langsung diminum? Mau debus, lu?" sungut Aska.
"Rakha," panggil Aksa. Karena Rakha masih menatap Ziva dengan tatapan berbeda.
"I-iya, Pak." Rakha memutuskan pandangannya dan beralih ke arah Aksa.
"Bagaimana?"
"Bisa, Pak," jawab Rakha.
"Baiklah kalo begitu. Saya akan mempekerjakan kamu sebagai sopir saya."
"Sayang, kenapa secepat itu kamu memutuskan sesuatu? Kenapa kamu tidak bertanya terlebih dahulu kepadaku, ISTRIMU." Ziva sengaja berucap dengan menekan kata istri agar seseorang tahu.
"Benar kata istrimu ini, Aksa," tambah Sarah.
"Ta ...."
"Drama apa lagi yang akan kamu mainkan? Saya sudah muak," geram Ayanda.
Semua orang terdiam mendengar ucapan penuh amarah yang keluar dari mulut Ayanda. Selama ini Ayanda diam. Lama-kelamaan dia pun mulai geram.
"Masalah sopir saja harus diperdebatkan. Akan jadi seperti apa rumah tangga putraku jika istrinya selalu saja menyangkut pautkan ibunya dalam biduk rumah tangga yang putraku jalani?" Sungguh kemarahan yang baru saja diluapkan oleh Ayanda.
"Sudah, Mom." Gio mengusap lembut pundak Ayanda dengan sangat lembut.
"Abang akan tetap memakai sopir, Mom. Mau dia tidak setuju pun Abang akan meminta Rakha untuk menjadi sopir Abang." Tegas dan tak terbantahkan itulah sifat asli Aksa.
"Besok kamu akan kerja bersama saya." Rakha mengangguk cepat.
Pagi harinya, Rakha datang dengan setelan baju rapih. Dia hanya menunggu di luar tanpa masuk ke dalam.
"Hai, Om tampan," sapa Aleeya.
"Hai, Adik cantik." Rakha mengusap lembut rambut Aleeya dan membuat Aleeya tersenyum tulus.
"Eh, itu ...."
__ADS_1
Mata Rakha membola ketika melihat anak yang sama dengan anak yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Itu juga ...."
Aleena dengan santainya melenggang masuk ke rumah majikan Rakha dengan wajah yang datar.
"Mereka kembar tiga." Radit menepuk pundak Rakha yang terlihat masih terbengong.
"Cucu-cucu Aki," sapa Gio sangat antusias. Ketiga anak itu sudah duduk di pangkuan masing-masing pria kesayangan mereka.
"Echa mana, Dit?" Ayanda sudah mulai membuka suara.
"Lagi gak enak badan, Mah. Katanya mual-mual terus," jawab Radit yang sudah menarik kursi meja makan.
"Sama kayak si Juminten dong," balas Aska.
"Juminten? Tukang jamu?" Aska dan yang lainnya tertawa mendengar ucapan Radit.
"Itu istrinya si Abang." Radit pun tertawa. Radit tahu siapa yang dimaksud oleh Aska.
"Echa hamil kali, Dit? Udah di tes?" Radit menggeleng menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
"Berarti si Juminten juga hamil dong, Mah?" timpal Aska.
"Emang Abang kamu sudah berapa lama menikah dengan istrinya? Kehamilan bisa dilihat setelah satu bulan menikah," terang Gio.
"Kalo hamil sebelum usia pernikahan satu bulan, ada kemungkinan penanaman saham terlebih dahulu?" Gio mengangguk cepat.
Lagi-lagi Ziva merasa telinganya sangat panas. Ingin dia menimpali, tetapi ayah mertuanya bukan tandingannya.
Perut yang sudah bergejolak sangat terasa. Namun, Ziva mencoba untuk menahannya.
"Uncle, antar Eesa pergi ke sekolah, ya." Permintaan Aleesa membuat Aksa tersenyum lebar dan mengusap lembut rambut sang keponakan.
"Eesa ke sini bersama Kakak dan Dedek karena ingin diantar ke sekolah sama Uncle?" Dengan cepat mereka bertiga mengangguk.
Aksa mengambil ponselnya dan menghubungi Rakha. Tak lama, Rakha pun tiba di ruang makan.
"Ada apa, Pak?" tanya sopan Rakha.
Kedatangan Rakha semakin membuat perut Ziva bergejolak. Dia pun menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi yang berada di dapur.
"Tolong bawa tas anak-anak ini ke dalam mobil. Sebelum ke kantor kita antar mereka dulu."
"Baik, Pak," jawab Rakha. Namun, dia melanjutkan ucapannya kembali. "Maaf, Pak. Apa saya boleh ikut ke kamar mandi?" Aksa mengangguk dan menunjuk ke arah dapur.
Suara orang yang sedang mengeluarkan isi perutnya terdengar. Rakha menatap beda ke arah Ziva. Kakinya melangkah pelan ke arah Ziva berada. Tangannya mulai memijat tengkuk leher Ziva. Pijatan itu sedikit membantu mengurangi rasa mual di perutnya. Ketika dia menegakkan kepala, matanya melebar ketika dia melihat siapa yang tengah memijatnya dari pantulan cermin.
"Apa kamu hamil? Apa itu anak suami kamu? Atau ...."
__ADS_1
...****************...
Komen tembus 100, aku akan menemani malam takbiran kalian dengan up lagi cerita Aksa-Riana.