Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
VTS


__ADS_3

Aksa sudah masuk ke dalam mobil, sedangkan Ayanda berada di kursi penumpang depan. Tubuh Riana tak Aksa turunkan sama sekali dari gendongannya. Riana tidak bisa berkata lagi. Apalagi ketika suaminya kini datang, dia malah dalam kondisi seperti ini.


"Ri, ta-kut," lirih Riana dengan suara pelan.


Sepekan apapun suaranya, masih terdengar di telinga sang mertua juga adik iparnya. Hati mereka bagai dicabik-cabik.


Aksa tidak menjawab apapun. Dia mengecup kelopak mata Riana bergantian. Membenamkan wajah Riana ke dalam dadanya.


Abang lebih takut, Sayang.


Aksa harus kuat menghadapi ini semua. Dia tidak bisa rapuh di depan Riana. Namun, Aska yang sesekali menatap dari kaca depan merasa ulu hatinya sangat sakit. Wajah abangnya tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. Aska mampu merasakan itu karena Aksa tidak bisa berbohong kepadanya.


Tibanya di rumah sakit, Aksa masih menggendong tubuh Riana menuju ruang IGD. Semua dokter yang bertugas memeriksanya dan Aksa serta Ayanda juga Aska hanya bisa menunggu di luar.


"Bang, baju lu ada darahnya," ucap Aska.


Aksa melihat ke arah kemeja yang dia gunakan. Hatinya sakit sekali melihat bercak darah yang ada di kemeja depannya. Dia hanya bisa terdiam dan menunduk dalam.


Ayanda menghampiri putranya dan mengusap lembut pundak Aksa. Dia tahu putranya ini tengah menyimpan sedih yang sudah tak tertahan.


"Keluarkan saja, Bang. Mommy tahu kamu tidak baik-baik saja." Seketika Aksa menunduk dalam dengan air mata yang menetes. Dadanya bergetar menandakan dia tengah menangis.


Aska yang melihat abangnya seperti itu, membalikkan tubuhnya menghadap dinding. Dia tidak sanggup, kesedihan Aksa bisa dia rasakan juga. Aska mencoba mendongakkan kepalanya ke atas untuk menahan laju air matanya.


"Ini ... salah Abang," sesalnya.


Air mata Aska menetes begitu saja mendengar penuturan Aksa. Ucapan yang keluar dari mulut Aksa seperti pukulan benda berat yang mengenai hatinya, sangat sakit.


Ayanda tidak bisa berbicara apapun. Dia hanya bisa mengusap lembut pundak sang putra. Dalam posisi tertunduk, Aksa merasakan ada tangan kecil yang menyeka ujung matanya.


"Jangan bersedih, Daddy. Ikhlaskan aku, aku memang diharuskan untuk pergi."


Sebuah kalimat yang membuat Aksa menatap ke arah anak kecil perempuan yang pernah datang ke mimpinya.

__ADS_1


"Daddy harus kuat, biar Mommy gak sedih lagi. Terima kasih telah pulang dan kembali bersama Mommy. Sudah waktunya aku pergi." Kecupan hangat anak itu berikan di pipi kanan Aksa.


Suara seorang wanita membangunkan Aksa dari kesedihannya. Mata Aksa sudah memerah dan wajahnya terlihat sudah frustasi. Echa segera memeluk tubuh Aksa.


"Jangan berpikir negatif dulu. Semoga semuanya baik-baik saja." Aksa hanya mengangguk mendengar ucapan sang kakak.


Ketiga anak Echa yang ikut pun memeluk tubuh Aksa. Kemudian, Aleesa memilih untuk sedikit menjauh. Dia duduk di kursi paling pojok dengan raut wajah penuh kesedihan.


Tak berselang lama, dokter IGD keluar dan menanyakan keluarga dari Riana. Aksalah yang menghampiri dokter itu.


"Saya suaminya, Dok," kata Aksa.


"Ikut saya ke dalam."


Jantung semua orang yang berada di depan IGD berdegup sangat cepat. Radit, Rion serta Gio belum tiba di rumah sakit. Hanya ada Ayanda, Aska, Echa serta si triplets.


Di dalam ruangan, wajah istrinya sudah sembab. Raut kesedihan terlihat jelas. Aksa menggenggam erat tangan sang istri.


"Istri Anda mengalami Vanishing twin syndrome," kata dokter.


"Vanishing twin syndrome adalah kondisi ketika salah satu janin kembar menghilang dalam kandungan," jelasnya.


"Ma-maksudnya?" tanya Aksa tidak mengerti.


"Salah satu calon anak Anda gugur karena kembarannya lebih mendominasi. Jadi, sekarang yang ada di dalam perut istri Anda hanya ada satu janin," tutur dokter.


Seperti disambar petir tubuh Aksa sekarang ini. Dia menatap ke arah istrinya yang sudah menitikan air matanya lagi dan lagi. Aksa menyeka lembut air mata Riana dan mengecup keningnya.


Dokter beranjak dari kursi kebesarannya. Dia mengulang USG-nya kembali agar Aksa dapat melihat dengan jelas.


"Dari keterangan yang saya terima dari istri Anda, beliau sering merasa kram di perutnya. Terakhir ada pendarahan di vaginaanya. Hasil dari USG pun hanya menunjukkan satu titik yang ada di dalam sana. Sekarang, coba Anda lihat," titah Dokter yang tengah menatap ke arah monitor.


"Hanya ada satu titik di sana," imbuhnya lagi.

__ADS_1


Apa yang dilihatnya sama dengan apa yang dikatakan oleh dokter. "Apa yang menyebabkannya, dok? Apa karena terlalu stres?" tanya Aksa penasaran. Jika, jawaban itu benar dialah yang harus disalahkan akan kehilangan salah satu calon anaknya.


"Tidak, Pak," jawab dokter.


"Pada umumnya kondisi ini terjadi karena adanya kelainan kromosom dari salah satu kembar yang hilang, penempelan tali pusar yang tidak tepat pada janin. Di mana ketika embrio tertanam dalam rahim ibu hamil dan mulai berkembang, sebenarnya abnormalitas yang menyebabkan kembar menghilang sejak awal perkembangan bukan dari kejadian yang secara tiba-tiba. Namun, janin yang masih hidup akan menunjukkan kondisi sehat dan tumbuh kembang dengan baik," paparnya.


"Apa ada risiko untuk ibu hamil serta kembarannya?" tanya Aksa lagi.


"Bapak jangan khawatir. Jika, vanishing twin syndrome terdeteksi di trimester pertama kehamilan, biasanya tanpa adanya pengaruh buruk dan tidak ada perawatan khusus yang dibutuhkan sang Mama maupun bayi yang selamat. Mungkin saja ada efek samping seperti gelisah, cemas dan sedih karena kehilangan salah satu dari dua calon anaknya. Makanya, saya menyarankan untuk selalu membuat istri Anda bahagia."


Aksa mengangguk mengerti. Dia menatap ke arah Riana yang pastinya syok dengan apa yang telah terjadi pada kandungannya.


"Sayang, kita hanya diijinkan memiliki satu anak di kehamilan ini. Ikhlaskan anak kita yang sudah tiada. Masih ada kembarannya yang sedang bertumbuh di dalam sini." Aksa mengusap lembut perut Riana.


"Dia membutuhkan kita, dia membutuhkan Mommy-nya. Sudah pasti dia tidak ingin melihat Mommy-nya bersedih. Kita ikhlaskan anak kita yang telah tiada, ya. Kita jaga kembarannya sama-sama dan Abang janji, Abang tidak akan meninggalkan kamu lagi." Aksa memeluk tubuh Riana dengan begitu erat. Tidak dipungkiri ini adalah hal berat untuk Riana. Bukan hanya untuk Riana, untuk Aksa juga. Air mata Aksa menetes di ujung matanya.


"Maafkan Daddy, Nak," sesalnya dalam hati.


Aksa keluar dari ruang IGD dengan membawa Riana di kursi roda. Semua orang mendekat ke arahnya. Sudah ada Radit, Gio, Rion serta Arya di sana.


"Bagaimana?" sergah Gio dan juga Rion.


"Riana mengalami vanishing twin syndrome. Jadi ... salah satu anak yang ada di kandungan Riana ... menghilang."


Echa dan Rion segera memeluk tubuh Riana. Begitu juga dengan Ayanda yang memeluk tubuh Aksa. Mereka menangis dalam pelukan orang tua mereka, sedangkan Aleesa sudah menunduk sangat dalam.


Kenapa aku harus bisa melihat hal seperti ini? Kenapa penglihatanku selalu benar?


"Jaga Mommy ya, Kak. Jika, aku lahir ... aku akan menyusahkan Mommy dan Daddy. Lebih baik aku pergi, membiarkan adikku tumbuh di sana sendiri. Aku yakin, adikku nanti akan menjadi kebahagiaan untuk Mommy dan Daddy. Bye, Kakak!"


Aleesa menatap nanar ke arah anak dari aunty dan uncle-nya itu. Dia sudah pergi bersama orang berjubah putih. Di sana ada anak laki-laki juga yang melambaikan tangan ke arah Aleesa.


"Bye, Kakak Sa!"

__ADS_1


...****************...


Komen dong komen


__ADS_2