
Gio tak mengerti dengan apa yang ditulis oleh sang istri. Maklum saja, pekerjaannya hari ini sangatlah banyak. Jadi, pikirannya masih terbagi-bagi.
"Mon, ini maksudnya apa, ya?" tanya Gio.
Gio menunjukkan isi pesan dari istrinya. Remon membaca secara seksama.
"Istri bos hamil kali," jawabnya.
Mata Giondra melebar tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh asistennya itu. Dia berpikir cukup keras hingga sebuah jawaban muncul di kepalanya.
"Menantu gua," ucapnya. Remon melihat wajah Gio sangat bahagia.
"Jangan senang dulu, bos. Takutnya gak sesuai dengan keinginan nantinya akan kecewa sendiri," tukas Remon.
Apa yang dikatakan Remon memang benar. Ini hanya dugaan sementara, sedangkan Riana tidak mau diajak memeriksakan kondisinya ke dokter kandungan. Riana ingin menunggu suaminya.
Di Melbourne, Aksa sedang menjalankan rapat yang kedua. Hanya tinggal satu meeting lagi dia akan bersiap terbang ke Indonesia. Peter hanya tersenyum tipis ketika melihat Aksa yang nampak sumringah.
"Apa begitu rasanya menikah? Aksa yang dulu aku kenal kini telah banyak berubah. Apalagi jika berbicara dengan istrinya. Sangat lembut dan penuh dengan cinta," gumamnya dalam hati.
Aksa sudah tak sabar ingin cepat kembali ke Indonesia. Dia sudah menanti hari ini. Namun, waktunya harus mundur satu jam karena jam makan siang. Setelah meeting selesai, dia harus makan siang terlebih dahulu. Setelah itu ada satu klien lagi yang harus dia temui.
Dia sengaja tidak tidak memberi tahu Riana. Dia ingin memberikan kejutan kepada sang istri tercinta. Aksa terlalu manis dan romantis. Untungnya Riana tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
Rona bahagia sangat terlihat jelas di wajah Aksa. Dia sudah memperkirakan akan terbang dari Melbourne paling lambat jam lima sore dia sudah bertolak dari Melbourne. Perjalanan menuju Jakarta berkisar sepuluh jam-an. Paling telat dia akan sampai Jakarta pada pukul tiga pagi atau tengah malam waktu Jakarta. Aksa sudah memperhitungkan itu semua karena dia akan menggunakan pesawat pribadi milik sang kakek. Dia tidak akan membuang-buang waktu dalam hal ini.
Rencana yang dia atur sudah sangat matang. Dia sudah menanti kebahagiaan ini bagai ribuan tahun.
Peter harus mengikuti kemauan sang bos. Makan siang dia pun tak nikmat karena Aksa terus menyuruhnya untuk bergegas. Padahal kliennya pun masih di jalan.
Jam setengah dua siang waktu setempat Aksa sudah mulai rapat dengan kliennya. Peter sangat salut jika Aksa sudah fokus pada pekerjaannya. Dia akan melupakan semuanya. Peter pun melihat sekretaris dari kliennya tersebut terus memandang Aksa. Dia juga yakin, Aksa tahu akan hal itu. Aksa adalah makhluk yang sangat sensitif.
Dua setengah jam berlalu, akhirnya pertemuan itu selesai. Aksa berbincang sebentar untuk menghargai kliennya tersebut.
"Tuan Aksa, apa Anda sudah menikah?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut kliennya.
"Sudah. Hari ini saya akan menemui istri tercinta saya."
__ADS_1
Peter mengulum senyumnya ketika melihat mimik wajah sekretaris dari klien Aksa. Murung dan suram seperti tidak ada gairah untuk hidup. Ketika Aksa hendak mengakhiri pertemuannya, sang kakek menghubunginya dan meminta Aksa untuk datang ke rumahnya.
"Tapi, Kek ...."
"Tidak ada penolakan Aksara. Hanya sebentar! Setelah itu kamu bisa bertolak ke Jakarta."
Perintah sang kakek tidak bisa ditawar. Dia harus ke rumah sang kakek terlebih dahulu sebelum dia bertolak ke Jakarta.
"Kenapa harus selalu ada gangguan?" erang Aksa.
"Sabar, Pak. Hidup ini banyak ujian." Tatapan maut Aksa berikan kepada Peter yang kini menundukkan kepalanya.
Di lain Negara, Gio menghentikan mobilnya di sebuah apotek lengkap. Dia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam apotek.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya sopan sang penjaga apotek.
"Saya mau test pack," jawab Gio.
"Yang merk apa?"
"Semua merk, dari yang mahal hingga yang termurah tolong bungkus," tukasnya.
Penjaga toko itu menyebutkan nominal uang harus Gio bayar. Setelah selesai bertransaksi, dia segera pulang.
"Yang jadi sugar baby-nya enak banget ya." Begitulah pikiran mereka kepada Gio. Padahal, dua membelinya untuk sang menantu.
Siang tadi, Ayanda sudah meminta Aska untuk membelikan test pack ke apotek. Aska dengan sangat tegas menolak.
"Nanti Adek disangkanya ngehamilin anak orang," tolaknya.
Aska adalah pria yang cukup terkenal di kalangan anak muda. Dari barat ke timur tahu siapa Askara. Playboy tengik yang banyak diburu wanita. Apalagi, penjaga apotek itu pernah mengutarakan perasaannya kepada Aska. Bisa-bisa kabar miring tentangnya tersebar saat itu juga. Reputasinya sebagai playboy akan hancur begitu saja.
Gio tiba di rumah ketika jam delapan malam. Tidak ada satupun orang di lantai bawah. Dia segera menuju kamarnya. Sang istri sudah berganti pakaian dengan daster mewah yang Gio berikan. Pria yang sudah tidak lagi muda tersenyum melihat kecantikan sang istri yang tidak pernah pudar. Dia memeluk Ayanda dari belakang. Istrinya hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi sang suami yang masih mulus.
"Daddy beli 'kan?" tanya Ayanda.
"Iya. Ini buat Mommy coba 'kan?" Ayanda memukul lengan Gio yang melingkar di pinggangnya. Gio malah tertawa.
__ADS_1
"Kalau Mommy hamil, malu lah sama Aksa. Masa iya dia punya adik buka anak," omel Ayanda.
Gio tertawa lepas mendengar ucapan Ayanda. Dia membalikkan tubuh sang istri dan menciumnya sangat hangat.
"Semoga dugaan Mommy benar, ya," ucapnya.
"Amin."
Ayanda menuju kamar sang menantu. Ketika dia membuka pintu kamarnya sudah banyak makanan di atas meja. Ada martabak, bakso, sosis bakar,nasi goreng sapi, cimol. Belum lagi aneka minuman yang ada di meja tersebut.
"Itu siapa yang mau ngabisinnya, Ri?" tanya Ayanda.
Mendengar suara sang mommy, Riana yang tengah menonton drama Korea dengan seksama menoleh ke arah Ayanda.
"Nanti juga habis, Mom. Kakak gak mau diganggu katanya. Di kulkas juga masih ada bakso Aci dan seblak instan, mpek-mpek mentah pun ada. Mommy kalau mau ambil aja," ujarnya.
Ayanda tersenyum dan duduk di samping Riana yang tengah mengunyah cimol di mulutnya.
"Ini."
Ayanda memberikan plastik putih kepada Riana. Tangan Riana meraihnya, tetapi dia menatap bingung ke arah ibu mertuanya.
"Apa ini, Mom?" tanya Riana.
"Buka saja," jawab Ayanda.
Mata Riana melebar ketika melihat lebih dari sepuluh testpack yang ada di dalam kantong plastik itu.
"Sudah lebih dari seminggu ini Mommy curiga. Semoga kecurigaan Mommy benar. Jika, tidak pun jangan berkecil hati. Mungkin belum rejeki kamu dan Aksa."
Ternyata bukan hanya Riana yang merasakan hal itu. Ibu mertuanya pun merasakan hal yang sama.
"Bangun tidur kamu pipis dan tampung airnya di dalam wadah kecil. Kemudian, kamu masukin test pack itu sesuai petunjuk. Mommy tunggu hasilnya ya, Sayang."
...****************...
Kalau masih ada yang komen kok gak nyambung ceritanya sama cerita sebelumnya, berarti kamu belum baca 3 bab yang aku revisi.
__ADS_1
jangan lupa komen ya ...