
Sebelum berangkat ke restoran, banyak drama yang harus Jingga lalui karena rasa iri dengki uang dimiliki oleh karyawan lainnya.
"Gak bisa gitu dong, ini kafe bukan punya lu!" Kalimat pedas yang keluar dari mulut rekan kerja Jingga.
"Kafe ini punya peraturan yang jelas. Jangan mentang-mentang lu dekat sama istri direktur lu bisa enak-enakan. Lu di sini digaji bukan sama dia!"
Ucapan yang terlontar dari mulut rekan kerja Jingga mampu didengar oleh Riana karena Riana yang tidak sabar dan menghampiri Jingga ke belakang.
"Saya akan minta ijin kepada pemiliknya," tukas Riana. Para karyawan pun terkejut mendengar suara yang asing bagi mereka.
"Jingga, minta nomor Kak Ken atau Kak Juno." Perkataan Riana sangatlah penuh penekanan dengan tatapan yang tertuju pada para karyawan.
Riana sudah mengeluarkan ponselnya yang sangat mahal. Dia menyuruh Jingga untuk mengetikkan nomor ponsel Upin Ipin versi Indonesia itu. Sengaja Riana loudspeaker agar semua karyawan mendengar.
"Itu nomor Pak Ken, Mbak." Jingga berucap lagi.
"Halo. Siapa ini?"
"Ini Riana, Kak."
"Istri Sultan?"
Balasan Ken terdengar sangat terkejut.
"Ri, mau ajak Jingga keluar. Apa boleh?" tanya Riana sangat sopan.
"Boleh kok, ajak aja."
Para karyawan melebarkan matanya tak percaya. Mereka hanya bisa saling tatap. Bos mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalau kafe Kakak mengalami kerugian karena Ri mengajak Jingga keluar, chat aja ke nomor ini. Berapapun akan Ri ganti."
"Gak usah, istri Sultan. Palingan gajinya aja yang dipotong."
"Kalau begitu untuk bulan ini biarkan Ri yang menggaji Jingga karena Kak Ken sudah berbaik hati mengijinkan Jingga pergi bersama Ri."
Bukan Ken yang syok mendengarnya, melainkan para karyawan Jomblo's kafe. Sambungan telepon pun terputus. Kini Riana menatap tajam ke arah para karyawan.
"Kalian dengar! Saya sudah mendapat ijin dari atasan kalian," ucap Riana dengan penuh ketegasan.
__ADS_1
Riana kini menjelma menjadi istri Aksara sesungguhnya. Dia bisa berkata sedikit keras kepada orang lain. Aksa selalu menasihati Riana agar menegakkan kepala kepada semua orang agar semua orang tahu bahwa kamu itu adalah istri dari seorang Aksara.
Riana menarik tangan Jingga dan membawanya keluar dari kafe. Mereka yang ada di belakang tercengang dengan tindakan Riana. Tutur kata lembut Riana bisa berbalik seratus delapan puluh derajat. Riana dan Echa seperti memiliki dua kepribadian.
Jingga sedikit terkejut karena baru kali ini dia naik mobil mahal sang sangat mengkilap seperti baru. Namun, dahinya mengkerut ketika dia melihat di kursi penumpang depan ada pria berbaju hitam yang duduk di samping sopir.
"Dia pengawal," ucap Riana. Dia seperti sudah tahu isi kepala Jingga.
Sekarang, Riana dan Jingga sudah berada di sebuah restoran ternama. Restoran yang terbilang mahal karena terlihat dari desain restorannya saja sangat mewah.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Riana sambil menyerahkan buku menu.
Jingga yang melihat harga menu makan restoran tersebut sampai mengucapkan istighfar.
"Harga di sini memang segini. Kamu jangan kaget, tapi kualitas rasa di sini dijamin enak," terang Riana.
"Air putih aja, Mbak."
Riana pun terkekeh mendengar jawaban Jingga. Dia memesan menu yang sangat asing bagi Jingga.
"Mbak, tapi ...."
Jingga hanya menghela napas kasar. Sedari dulu Riana memang sangat baik kepadanya. Selalu mentraktirnya dan juga memberikan uang cuma-cuma untuknya. Kini, Riana sudah menggenggam tangan Jingga dengan sorot mata penuh tanya.
"Ada hubungan apa kamu dengan Kak Aska?" tanya Riana.
Wajah Jingga seketika berubah sendu. Bibirnya kelu, sulit untuk menjawab pertanyaan Riana.
"Kalau kamu tidak mau bercerita, aku tidak akan memaksa," lanjut Riana lagi. Dia tidak ingin melihat Jingga bersedih.
"Bang As adalah teman semasa sekolahku dulu. Dia orang yang selalu melindungi aku karena aku adalah murid yang selalu dikucilkan di sekolah," tutur Jingga dengan raut pilu.
"Beberapa hari lalu ... aku sudah membuat Bang As terluka parah." Jingga pun terisak mengatakan itu semua. Riana sedikit tersentak mendengar penjelasan Jingga. Sesungguhnya dia tidak tahu kronologi cerita sesungguhnya perihal Aska.
"Kok bisa?" sergah Riana yang belum sepenuhnya paham dengan ucapan Jingga.
"Mantan calon suamiku yang memukulinya hingga babak belur. Luka lebam ... darah di sudut bibir ... menghiasi wajah Bang As," papar Jingga dengan nada yang sangat lirih.
Ya Tuhan, separah itukah kondisi Kak Aska? Pantas saja Abang mati-matian menyembunyikan keadaan Kak Aska pada Mommy dan juga Daddy. Abang juga rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membungkam mulut para anak buah Daddy.
__ADS_1
"Aku takut, Mbak ... aku takut terjadi sesuatu yang fatal kepada Bang As," keluhnya.
Riana sangat merasakan ketulusan ucapan dari Jingga ini. Dia hanya bisa mengusap lembut punggung tangan Jingga.
"Aku sudah bertanya pada kedua bosku. Mereka tidak menjawab, malah mengancam ku karena terlalu banyak bertanya." Riana tidak akan terkejut perihal itu, sudah pasti suaminyalah yang menjadi dalang dari semuanya. Hanya Aksara yang mampu mengendalikan para sahabat Askara.
"Aku juga sudah bertanya kepada suami Mbak. Sepertinya ... suami Mbak pun sangat membenciku, ucapannya teramat tajam melebihi silet," ungkapnya.
Suamiku memang begitu Jingga. Dia hanya akan bersikap baik kepadaku saja. Kepada orang lain dia bagai harimau yang akan menerkam mangsanya secara bulat-bulat. Namun, jika di depanku dia akan menjelang menjadi anak kucing yang sangat manis dan lucu.
"Aku benar-benar merasa bersalah, Mbak. Sangat merasa bersalah." Jingga semakin terisak dan menunduk dalam. Riana hanya bisa mengusap lembut punggung sang teman.
"Jingga, Kak Aska baik-baik saja kok. Kamu jangan khawatir. Semakin hari kondisinya semakin membaik," jelas Riana.
Jingga mengusap lembut air mata yang membasahi wajahnya. Dia mulai kembali memandang wajah Riana.
"Mbak, aku butuh kejujuran. Aku tidak butuh perkataan yang hanya sekedar membuatku tenang. Lebih baik jujur yang menyakitkan dari pada harus membuat aku tenang pada akhirnya aku malah menangis keras," paparnya.
"Aku berkata jujur, Jingga. Apa sorot mataku penuh kebohongan?" sergah Riana.
Jingga menggeleng, tetapi dia seperti kembali ke delapan tahun lalu. Di mana sorot mata teduh seperti Riana berkata dusta kepadanya.
"Aku takut, Mbak. Sungguh aku takut ... ketika aku mencemaskan seseorang, ada orang baik seperti Mbak mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Aku pun percaya, tapi ... pada nyatanya orang itu ternyata telah menghadap pencipta. Sakit dan sedih hatiku, Mbak " lirihnya.
Riana terdiam mendengar ucapan Jingga. Dia merasakan bahwa ada kesedihan yang mendalam yang Jingga rasakan. Kata baik-baik saja seperti de javu untuk Jingga.
"Jingga ...."
"Aku tidak percaya dengan kata baik-baik saja, Mbak. Di balik kata-kata itu pasti ada yang kalian sembunyikan dari aku." Riana segera memeluk tubuh Jingga.
Hati Riana sangat teriris mendengar ucapan Jingga. Teman yang dia anggap sangat kuat, ternyata sebaliknya. Ini kali pertama Riana melihat Jingga yang selalu ceria, kini malah rapuh tak berdaya.
"Katakan yang sejujurnya kepada aku, Mbak. Setidaknya bawa aku ke rumah sakit tempat Bang As dirawat agar aku percaya dengan kata baik-baik saja yang Mbak ucapkan," pintanya dengan air mata yang sudah bercucuran.
Riana masih memeluk tubuh Jingga. Ada sebuah kejadian masa lalu yang masih melekat di pikiran Jingga sampai sekarang ini. Itu seperti menjadi trauma untuk Jingga sendiri. Riana bingung harus melakukan apa. Dia tidak mungkin membawa Jingga ke rumah sakit Aska dirawat tanpa seizin suaminya. Murkanya Aksa adalah petaka untuk Jingga.
...****************...
Komen atuh.
__ADS_1