Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MENGINTAI


__ADS_3

Kini tinggal dua malam lagi menjelang Purnama muncul. Cuaca diluar, rintik hujan kembali turun namun dinginnya udara yang berhembus terkikis oleh hangatnya suasana yang ramai di ruang tengah rumah Mahmud yang baru saja selesai makan malam.


Ditengah obrolan, Kosim terlihat gelisah dalam duduknya padahal sedang berada dikeramaian, ada diantara Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Mang Ali, Arin dan Dede serta Dewi.


Kosim menghisap rokoknya tak begitu tenang, dia merasakan dadanya berdebar-debar terus tanpa diketahui sebabnya.


"Bah, ada apa ya? Saya berdebar-debar terus sejak selesai makan tadi," sela Kosim membuat semuanya tertegun.


Sensitifitas rasa yang dimiliki Kosim rupanya kembali menajam. Hatinya mengatakan kalau diluar ada sesuatu yang ganjil. Akan tetapi tidak ia ungkapkan.


"Berdebar-debar gimana Sim?" Sahut Abah Dul.


"Ya kaya ada sesuatu gitu Bah, tapi nggak tau apa." Ujar Kosim dengan wajah cemas.


Semuanya terdiam sambil memperhatikan Kosim yang terlihat gelisah. Kemudian perhatian semuanya beralih ke Abah Dul dengan raut wajah penuh harap menunggu-nunggu yang akan dikatakannya. Namun Abah Dul terdiam matanya langsung dipejamkan. Mata batinnya langsung dikerahkan untuk memeriksa sekeliling rumah.


Beberapa saat lamanya suasana di ruang tengah hening menanti penjelasan Abah Dul yang nampak sedang konsentrasi. Tidak beberapa lama kemudian Abah Dul berseru.


"Astagfirullah!" Abah Dul berseru kaget.


Kontan saja seruan Abah Dul membuat Gus Harun, Mahmud, Mang Ali, Arin dan Dewi tersentak kaget. Mata mereka masih memperhatikan Abah Dul. Tidak lama kemudian Abah Dul kembali membuka matanya.


"Ada apa Bah?!" Kosim langsung bertanya penasaran.


"Iya kenapa Bah?! timpal Mahmud.


"Kenapa Bah?!" sela Mang Ali.


Abah Dul langsung diberondong pertanyaan-pertanyaan penasaran. Terutama Arin dan Dewi meskipun takut-takut dengan hal-hal mistis namun keduanya ikut penasaran ingin tahu.


"Di luar depan rumah ada yang aneh Gus!" Seru Abah Dul sambil menoleh ke Gus Harun yang duduk disebelah kirinya.


"Ayo kita lihat!" Ujar Gus Harun.


Semuanya beranjak dari duduknya tetapi Mahmud langsung mencegah Arin dan Dewi ketika melihatnya ikut berdiri.


"Dewi sama Arin disini saja ya!" Sergah Mahmud.


"Takut Mas! Nggak apa-apa ya Gus kita ikut kedepan?" Kata Dewi memelas.


Gus Harun nampak bingung menjawabnya. Tapi todak berlangsung lama, Gus Harun menganggukkan kepalanya, "Iya nggak apa-apa."


Mahmud pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarangnya lagi karena Gus Harun mengijikannya. Merekapun melangkah berurutan menuju pintu depan yang didahului Gus Harun lalu Abah Dul, Mang Ali, Kosim, Arin, Dewi serta Mahmud yang sengaja mengambil posisi berjalan paling belakang.


"Kreeeoootttt..."


Suara deritan pintu seolah menjadi irama horor akan kemunculan mahluk mengerikan bagi perasaan Arin dan Dewi yang menggendong Dede.


Gus Harun berdiri mematung ditengah-tengah pintu. Sementara yang dibelakangnya saling melongokkan kepala ke samping kanan dan kiri karena terhalang oleh tubuh yang berada didepannya berusaha untuk melihat keluar.


Rintik-rintik gerimis masih terlihat jelas terbias cahaya lampu dari teras. Gus Harun menatap tajam memperhatikan halaman depan teras. Lalu kepalanya perlahan menengok kesamping kiri kemudian beralih kesebelah kanan.


Dibelakang Gus Harun, rasa penasaran Dewi dan Arin membuatnya tanpa sadar mendorong tubuh Kosim. Kontan saja tubuh Kosim pun terdorong menabrak Mang Ali. Akibatnya tubuh Mang Ali pun terdesak kedepan membentur tubuh Abah Dul.


"Astagfirullah!" Seru Abah Dul.

__ADS_1


Kedua tangan Abah Dul reflek meraih kusen-kusen pintu menahan tubuhnya agar tidak menabrak Gus Harun didepannya.


Melihat itu Arin dan Dewi cekikan sambil menutup mulutnya.


"Ssssstttt...!"


Mahmud yang berada paling belakang memperingatinya untuk tidak berisik meskipun dalam hatinya terkekeh melihat saling dorong didepannya.


"Masya Allah!"


Suara Gus Harun memekik sembari tersurut mundur satu langkah. Untung saja jarak dengan Abah Dul masih ada jeda sejengkal jika tidak pasti akan gantian, tubuhnya akan terdorong kebelakang dan akan saling tabrak seperti tadi.


Dihalaman depan telah melingkar tubuh ular yang sangat besar terlihat jelas diantara tetesan gerimis. Kepalanya berdiri tegak dengan lidah menjukur-julur keluar masuk diantara taringnya. Kedua mata berkilat merah menatap tajam Gus Harun dalam wujud nyata.


Diatas kepala ular besar itu nampak terlampir mahkota berbentuk gunung berwarna emas dengan dua batu sebagai manik-maniknya berwarna hijau.


Abah Dul yang juga melihat ular itu terbelalak. Beringsut keluar dari pintu berdiri berjajar dengan Gus Harun yang masih tertegun. Setelah Abah Dul bergeser, kini Mang Ali pun dapat melihatnya dengan jelas. Matanya kontan membelalak lebar, bagaimana tidak ular sebesar pohon kelapa terpampang nyata didepannya.


"Ya Allah!" Pekik Mang Ali reflek mundur hingga menabrak Kosim.


Kosim yang terdorong tubuh gempal Mang Ali pun dibuat penasaran. Kepalanya dilongokkan diatas bahu Mang Ali.


"Masya Allah!" Kosim pun terbelalak ngeri hingga tubuhnya berbalik menghadap Arin dengan muka ngeri.


"Ada apa Mas?!" Seru Arin.


Dewi yang ada dibelakang Arin dibuat makin penasaran. Kepalanya melongok-longok melihat kearah pintu mencari-cari namun terhalang oleh tubuh Kosim dan Mang Ali.


"Rin, Rin.. Udah jangan lihat, jangan lihat!" Seru Kosim sembari berusaha menutup mata Arin.


"Ada apa Sim?!" Seru Dewi kian penasaran.


Sementara Mahmud tak sabar langsung berjalan menuju pintu melewati Dewi, Arin dan Kosim. Baru saja berdiri didepan pintu, Mahmud kembali tersurut mundur.


"Masya Allah!" pekik Mahmud.


Arin dan Dewi semakin dibuat penasaran. Dewi hendak beranjak ke tempat Mahmud namun urung dilakukan karena ada Dede dalam gendongannya.


Arin berusaha melepaskan tangan Kosim langsung menyerobot melangkah ketempat Mahmud berdiri dengan satu tangannya masih dicekal Kosim. Kontan saja matanya terbeliak lebar-lebar dengan mulut ternganga.


"Ya Allah!" pekik Arin lalu tubuhnya limbung melemas ambruk.


Beruntung Kosim cepat menangkapnya sebelum kepala Arin membentur lantai ubin. Dewi hanya menatap penuh panik dengan beribu-ribu tanda tanya, "Ada apa sih didepan?!" pikirnya.


"Sim bilang ada apa?!" seru Dewi panik melihat adiknya pinsan.


"Ada ular gueeeeddde banget Mbak. Sudah Mbak jangan liat lagi! Sergah Kosim sambil merengkuh tubub Arin.


Dewi langsung bergidik. Ular kecil saja takut apalagi ular besar. Mendengar penjelasan Kosim, Dewi langsung melangkah balik kembali ke ruang tengah. Disusul Kosim membopong tubuh Arin yang pinsan dibantu Mahmud.


Sementara itu Gus Harun, Abah Dul dan Mang Ali yang berada diluar hanya bisa menatap ular raksasa itu dengan tertegun. Desisannya menggidikkan bulu kuduk, sangat mengerikan.


"Hai manusia, kembalikan batu merahku!"


Suara halus tersamar dengan suara rintik hujan yang menetes dari genteng rumah namun sangat jelas terdengar.

__ADS_1


Suara itu dipastikan milik mahluk perempuan. Gus Harun yang merasa menariknya kemarin malam pun terkejut. Sesaat kemudian perlahan Gus Harun dapat menguasai dirinya.


"Saya tidak mengambilnya!" Seru Gus Harun.


"Iya, memang tidak mengambil tetapi kamu berusaha menariknya sehingga batu itu lenyap dari tempatnya. Saya berupaya mengejar dan ternyata ada disini!" Seru Ular raksasa.


"Maaf sebelumnya, saya tidak ada niat mengambilnya dari kamu. Saya hanya menarik benda-benda yang ada disini dan saya juga tidak tau kalau batu merah itu milikmu," balas Gus Harun.


"Kembalikan batu merah itu!" Suara ular raksasa itu bergetar.


"Bolehkah saya memintanya?" Seru Gus Harun.


Ular raksasa itu terdiam namun matanya tetap menatap tajam Gus Harun dengan berkilat merah.


"Tidak!" Batu merah itu sebagai tanda penguasa bangsa kami alam siluman!" Seru ular raksasa.


"Kalau tetap saya meminta bagaimana?" Seru Gus Harun.


Gus Harun menoleh pada Abah Dul, "Dul, keluarkan pusaka!" seru Gua Harun.


Sorot mata merah ular raksasa itu kian tajam melihat dua buah kilatan cahaya putih menyilaukan dari tangan Gus Harun dan Abah dul yang diacungkan lurus keatas.


Kepala ular bermahkota itu langsung beringsut mundur, nampak seperti terkesiap melihat munculnya dua benda di masing-masing tangan Gus Harun dan Abah Dul.


"Pecut Amal Rosuli?! Tombak Mata Kembar?!"


Ular raksasa itu menyebut dua senjata yang kini berada digenggaman Abah Dul dan Gus Harun. Sepertinya ular raksasa jelmaan siluman itu sangat kenal dengan senjata-senjata itu.


"Kalian muridnya Kiyai Sapu Jagat?!" Ular siluman itu bertanya segan.


Gus Harun dan Abah Dul terkejut bukan main mendengar pertanyaan ular siluman itu.


"Betul!" Seru Gus Harun dan Abah Dul bersamaan.


"Saya sahabat baik Kiyai kalian, mohon maafkan atas kelancangan saya..." suara ular siluman itu melemah.


Abah Dul dan Gus Harun penuh keheranan sekaligus takjub perlahan menurunkan senjata ditanganya.


"Maafkan kami juga kalau sekuranya kami salah!" seru Gus Harun.


"Saya ikhlas kalau batu merah itu kalian yang miliki. Tapi ingat! Batu merah itu merupakan tanda raja dari segala raja bangsa siluman. Saya pamit undur diri..." Ucap Ular siluman itu.


Kemudian dalam sekejapan mata tubuh besar yang melingkar itu lenyap dari pandangan kasat mata.


Gus Harun, Abah Dul dan Mang Ali masih memandang tertegun ketempat yang sudah kosong dimana ular raksasa tadi berada. Antara takut, takjub dan seolah tidak percaya dengan barusan yang dilihatnya.


"Siapa dia ya Dul?" Tanya Gus Harun beberapa saat berlalu.


"Mesti tanya sama Romo Yai Gus, moso tanya saya toh," timpal Abah Dul.


......................


NEXT


🔴 1 MALAM MENUJU PURNAMA

__ADS_1


__ADS_2