Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
BALAS DENDAM


__ADS_3

Derrrr!


Derrrr!


Suara dentuman dari atas rumah disusul lantai bergetar kembali mengagetkan seisi rumah Mahmud.


“Astagfirullah!”


“Astagfirullah!”


“Astagfirullah!”


Pekikan istigfar saling bersahutan keluar dari mulut Ustad Arifin, Arin dan Dewi. Ustad Arifin langsung menoleh ke sosok bayangan yang berdiri dua langkah didepan Arin. Ustad Arifin mencurigai sosok bayangan itu yang telah membuat dentuman suara dan getaran, namun ia tidak melihat tanda-tanda bayangan itu melakukannya.


Tak lama kemudian seberkas cahaya berwarna merah meluncur masuk dari arah pintu depan. Tampak bola sebesar kelapa melayang-layang didalam ruang tengah empat langkah dibelakang ustad Arifin, Arin dan Dewi.


Perlahan-lahan sinar terang kemerahan itu perlahan-lahan buyar lalu membias memanjang. Sesaat berikutnya bola bercahaya merah itu berubah bentuknya dari memanjang membentuk sosok tubuh. Mula-mula samar terlihat namun semakin lama bias cahaya itu membentuk tubuh manusia dengan jelas.


“Astagfirullah!” pekik Ustad Arifin, Arin dan Dewi bersamaan.


Mata mereka membelalak lebar melihat perubahan bola cahaya menjadi sesosok manusia dihadapannya. Sosok itu berwujud seorang kakek tubuhnya dibalut dengan pakaian setelan berwarna hitam. Kepalanya diikat dengan kain batik cokelat yang sudah memudar warna dan coraknya. Sosok kakek itu berdiri dengan menggenggam sebuah cambuk di tangan kanannya.


"Apakah sampeyan yang bernama Abdul Basit?!" Suara kakek terdengar berat namun tajam.


“Ada urusan apa sampeyan tanya-tanya Abdul Basit?” Ustad Arifin balik tanya.


Diam-diam ustad Arifin membaca amalan pendukung untuk mengerahkan tenaga dalamnya. Secara tak kasat mata seluruh tubuh ustad Arifin langsung diselimuti kabut tipis yang mengambang 5 cm dari kulit tubuhnya. Dia dapat merasakan aura niat tidak baik orang yang mengira dirinya adalah Abdul Basit alias Abah Dul itu.


“Dewi, Arin bawa Dede capat pergi dari ruangan ini!” Bisik ustad Arifin.


Benar saja, tak lama kemudian kakek itu menjawab pertanyaan ustad Arifin dengan mendorongkan telapak tangan kirinya yang tidak menggenggam senjata. Sedangkan tangan kanan yang memegang cambuk pendek sepanjang 2 meter diacungkan keatas.


“Mampus sampeyan Abdul Basit!” seru kakek mendorong telapak tangannya.


Deru angin terdengar deras meluncur kearah ustad Arifin berdiri. Aura panas yang terpancar dari tenaga dorongan itu menandakan sebuah kekuatan yang tidak main-main.


“Allahu Akbar!” seru ustad Arifin sambil membuat perisai diri dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


Wuushhhhh...

__ADS_1


Jderrrrr!


Suara benturan dua kekuatan gaib bertabrakkan menimbulkan getaran hebat mengguncang isi rumah Mahmud hingga membuat jam dinding diatas tv jatuh dari pakunya hingga pecah berserakkan.


Praaang...!


Deru angin berisi kekuatan besar dengan hawa panas menghantam tubuh ustad Arifin. Tubuh ustad Arifin terdorong mundur hingga menabrak bufet tv.


“Uhukkk! Uhukkk!”


Ustad Arifin terbatuk-batuk sambil terbungkuk merasakan dadanya sesak seketika. Ustad Arifin kembali waspada, ia segera maju satu langkah memasang kuda-kuda dan bersiap balas menyerang.


Dihadapan ustad Arifin, sosok kakek itu nampak berubah dari posisinya berdiri, rupanya ia pun terdorong mundur namun hanya selangkah. Meski nampak masih tegak berdiri, kakek itu mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Kakek itu menatap tajam dengan mata memancarkan kebengisan yang mendalam. Aura dendam yang begitu pekat terlihat dari kedua matanya yang memerah. Dia kemudian menggerakkan tangan kirinya didepan dada, mulutnya komat-kamit dengan tangan kanan masih mengacungkan cambuk pendek tampak bergetar.


“Ustad gunakan mustika telur Naga Kencana ini!” tiba-tiba sosok bayangan yang sedari tadi menyaksikan bentrokkan kekuatan tenaga dalam itu berbicara.


Ustad Arifin terkesiap lalu menangkap dengan tangkas batu mustika yang dilemparkan bayangan itu.


......................


Didalam mobil Avanza merah yang sedang melaju kencang di jalan tol Palikanci, Abah Dul duduk gelisah disebelah Mahmud yang sedang menyetir.


“Lah, sama Bah...” timpal Mahmud.


“Sim, kira-kira ada firasat apa ya kok perasa...” ucapan Abah Dul terhenti saat menoleh kebelakang dimana Kosim duduk sudah tidak ada di tempatnya.


Kalimat Abah Dul tersekat dikerongkongannya melihat jok belakang tidak mendapati Kosim.


“Sim! Sim...!” Abah Dul berseru memanggil-manggil Kosim.


“Kosim kemana Bah?!” sergah Mahmud.


“Dia menghilang Mud, ente taruh dimana batu mustika itu?” tanya Abah Dul berubah cemas.


“Tadi diminta Kosim sewaktu masuk kedalam mobil Bah, kenapa?” ujar Mahmud.


“Wah bener Mud, di rumah ente ada yang nggak beres, sedang terjadi sesuatu.” Ucap Abah Dul kemudian mengangkat kedua kakinya memposisikan diri duduk bersila.


"Mud, cepet-cepet sampai rumah ya!" ucap Abah Dul lagi.

__ADS_1


Abah Dul yang sudah duduk bersila langsung memejamkan matanya. 10 detik kemudian sukmanya memisahkan diri keluar dari raganya lalu melesat keluar mobil dan lenyap. Mahmud menoleh learah Abah Dul namun Abah Dul sudah diam tak bergerak. Ia mengerti kalau Abah Dul sedang meloloskan sukmanya.


......................


Cambuk pendek ditangan kanan kakek itu diputar-putar diatas kepalanya. Mula-mula pelan semakin lama putarannya semakin kencang hingga batang dan mata cambuk tidak terlihat saking santernya putaran itu. Hanya kelebatan cahaya merah yang nampak berputar-putar diatas kepala kakek itu hingga terlihat seperti sebuah pusaran angin ****** beliung. Deru angin terdengar keras menderu-deru, suara sangat menggidikkan telinga.


Swing... swing... swing...


Disaat bersamaan, sukma Abah Dul melayang diatas sedikit kebelakanh dari kakek itu. Sukma Abah Dul melihat bahaya besar sedang mengancam ustad Arifin, ia pun segera melesat menabrakkan diri ke tubub Ustad Arifin.


Ustad Arifin tersentak sesaat, kemudian tangannya tiba-tiba mengacung keatas dan berteriak keras, “Pedang Abu Bakar!!!”


Seberkas cahaya seketika berkilau diujung tangan Ustad Arifin yang terkepal, lalu disusul sebuah pedang besar tergenggam di tangannya. Kesadara Ustad Arifin sudah hilang, kini ia dikendalikkan sepenuhnya oleh sukma Abah Dul yang merasuki raganya.


Beberapa saat kemudian kakek dihadapannya memecutkan cambuk itu kearah tubuh Ustad Arifin dengan gerakkan menyapu dari atas kebawah. Kilatan cahaya merah terberait membentuk garis lurus yang sangat mengerikan. Melihat serangan itu datang menghujam, Ustad Arifin segera bergerak cepat kesamping meliukkan tubuhnya berkelit dari sambaran mata cambuk. Mata cambuk itu melintas didepan dada ustad Arifin. Hawa panas langsung terasa oleh sulma Abah Dul yang bersemayam didalam tubuh ustad Arifin.


Booommm...!!!


Suara dentuman keras menggetarkan lantai rumah Mahmud hingga meninggalkan bekasnya. Lantai keramik itu bolong sedalam 10 cm dihantam mata cambuk. Ustad Arifin mengayunkan pedang Abu Bakkar membuat gerakkan menebas, disaat bersamaan tangan kiri yang menggenggam batu mustika naga kencana dilemparkan kearah kakek.


Si kakek terkesiap, wajahnya seketika tercengang melihat dua kiblatan dua cahaya berbeda yang menyala terang. Cahaya putih menebas bagian kepala, sedangkan cahaya kuning keemasan melesat mengarah dadanya. Secepat kilat, si kakek memundurkan kakinya satu langkah kebelakang. Tebasan cahaya putih dari pedang Abu Bakkar lolos dari batang lehernya, namun cahaya kuning keemasan tidak dapat di hindari. Si kakek hanya membuat gerakan pertahanan dengan menutupi dadanya menggunakan kedua lengannya.


Duarrrr!!!


Batu mustika naga kencana berbenturan dengan kedua lengan si kakek yang sebelumnya sudah dilapisi tenaga dalam penuh.


“Uhukk..!”


Terdengar si kakek batuk setelah mendapat benturan itu. Sesaat kakek itu terhuyung mundur hingga menabrak tembok dan memuntahkan darah dari mulutnya.


Batu mustika Naga Kencana melayang-layang diudara dihadapan si kakek yang membungkuk menahan sakit di dadanya. Ustad Arifin kembali mengibaskan pedang besarnya kearah kakek yang terbungkuk-bungkuk. Cahaya putih meluncur deras mengarah tubuh kakek.


Duaaarrrr!!!


Kepulan asap putih bergulung di tembok namun tubuh kakek sudah tidak ada di tempatnya. Kakek itu lebih dulu menghilang, dia berhasil kabur sebelum cahaya dari pedang besar itu menghantam tubuhnya.


Beberapa saat suasana hening hanya kepulan asap yang mulai menipis disudut ruang tengah. Sukma Abah Dul keluar dari tubuh ustad Arifin membuat tubuh ustad Arifin seketika ambruk ke lantai tak sadarkan diri.


......................

__ADS_1


__ADS_2