
Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Mahmud, Kosim, tuan Denta dan Raja kajiman mulai mengambil posisi
dan mencari pegangan pada kedua daun pintu raksasa yang terbuat dari emas tersebut. Mereka terbagi dalam dua kelompok untuk membuka daun pintunya, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Mahmud dan Kosim bersiap pada posisi daun pintu sebelah kanan. Sedangkan Gus harun, tuan Denta dan Raja kajiman di posisi memegang daun pintu sebelah kanan.
“Gus, untuk membuka pintu ini didorong apa ditarik?” tanya Abah Dul bisik- bisik.
“Iya ya Dul, di dorong apa di tarik ya?” gumam Gus harun.
Mahmud beserta yang lainnya yang sudah bersiap hendak mendorong pintu raksasa tersebut mengurungkan niatnya. Mereka membenarkan pertanyaan Abah Dul, di dorong apa di tarik untuk membukanya?
“Coba kita tarik, mari!” bisik Gus Harun.
“Satu… dua … tiga …” sambung Gus Harun.
Gus Harun dan yang lainnya segera mengerahkan tenaganya untuk menarik pintu istana tersebut. Dengan perlahan- lahan mula- mula mereka menarik pintu raksasa itu dengan mengerahkan tenaga sebesar 10 % saja.
“Uuuuggghhh!” pekik mereka bersamaan dengan suara tertahan.
Daun pintu istana tersebut tak bergeming sedikit pun dan Gus Harun pun kembali memberikan aba- aba untuk
mencoba kedua kalinya membuka kembali dengan menariknya.
“Satu… dua … tiga …!” seru Gus Harun dengan suara ditekan.
“Uuuuggghhh!” kembali suara pekikan mereka secara bersamaan terdengar.
Daun pintu emas tersebut tetap saja tak bergeming sedikit pun, jangankan dapat bergeser bergoyang saja tidak
sama sekali.
“Nggak bisa Gus!” pekik Abah Dul.
“Ganti dorong kedalam,” ucap Gus Harun.
“Ayo!” timpal yang lain serempak.
“Satu… dua … tiga …!” seru Gus Harun dengan suara ditekan.
Dengan mengerahkan tenaga secukupnya, Gus Harun dan ke 8 sahabatnya mulai mendorong daun pintu raksasa tersebut.
__ADS_1
Krrreeetttteeeekkkk…
“Berhasil!” bisik Gus Harun.
Pintu perlahan- lahan mulai terdorong kedalam dan terbuka sedikit- demi sedikit. Dari celah daun pintu istana yang terbuka tersebut seketika langsung disambut dengan suara hentakan musik gendang bertalu- talu yang berpadu berirama dengan suara terompet yang sangat memekakan telinga bercampur dengan suara- suara gelak tawa dari prajurit- prajurit siluman monyet yang sedang menikmati pesta pora.
“Tahan!” perintah Gus Harun seraya mengangkat tangan kanannya.
Sesaat Gus Harun berupaya mengintip dari celah daun pintu yang terbuka sedikit untuk memeriksa yang ada di dalam istana kerajaan siluman monyet. Seketika itu pula Gus Harun mengernyitkan dahinya dalam- dalam tatkala melihat situasi yang ada di dalam istana. Gus Harun menyapu pandangannya kesegala sudut dan luas di dalam istana yang dipenuhi oleh prajurit- prajurit kerajaan siluman monyet.
Gus Harun juga memperhatikan semua situasi dan kondisi didalamnya. Cahaya di dalam istana nampak remang-
remang dan hingar bingar dipenuhi lalu lalang prajurit- prajurit yang menari- nari dalam kondisi mabuk berat.
Nyaris seluruh prajurit di dalam istana memgang satu buah kendi di tangannya yang di perkirakan itu adalah minuman keras yang memabukkan berlalu lalang kesana kemari. Gelak tawa para prajurit nyaris tak pernah hilang terdengar membaur dengan tetabuhan yang memekakkan telinga.
Seketika Gus harun membalikkan badannya menghadap ke 8 rekan- rekannya dengan nafas ngos- ngosan dan dahi bercucuran peluh.
“Kenapa Gus?!” tanya Abah Dul.
“Apa yang antum lihat?!” timpal Basyari sedikit ada kekhawatiran.
Gubrakkk..!
Gubrakkk..!
Gubrakkk..!
Tiba- tiba daun pintu dibelakang Gus Harun seperti di tabrak sesuatu dari balik pintu. Bahkan suara yang
menabrak daun pintu itu terdengar hingga beberapa kali membuat tubuh Gus Harun yang sedikit menyender pada daun pintu turut terdorong.
Segera Gus Harun memberi isyarat kepada 8 rekannya untuk cepat- cepat menyingkir dari depan pintu raksasa
tersebut. Dengan cepat ke 8 rekan Gus Harun saling berlompatan ke sisi kanan dan sisi kiri dari pintu istana. Gus Harun bersama tuan Denta, Raja Kajiman dan Kosim melompat ke sisi kiri, sedangkan Abah Dul, Mahmud, Basyari serta Baharudin berlompatan ke sisi kanan.
Mereka terbagi dua secara tidak sengaja dan di luar dari skema rencana. Gus Harun segera memberi isyarat kepada rekan- rekannya untuk merunduk menyembunyikan diri dengan memepet pada dinding
istana.
__ADS_1
Tak lama kemudian pintu istana itu terbuka, disusul keluar beberapa prajurit siluman monyet berjalan sempoyongan sambil menenteng kendi di tangannya masing- masing. Ada sekitar 20 –an prajurit yang keluar dari dalam istana tersebut dalam kondisi mabuk berat.
“Musnahkan mereka. Ikuti aba- aba dari saya!” Gus Harun membisikkan rekan- rekannya dengan menggunakan telepati.
“Baik Gus!” balas rekan- rekan Gus Harun.
“Satu .. dua .. tiga … !” ucap Gus Harun memberikan aba- aba.
Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud dengan cepat melesat menyongsong para prajurit siluman monyet yang berjalan paling belakang. Mereka langsung menargetkan masing- masing musuh dan menikamnya
dengan pedang sesuai jangkauan yang mereka bisa tanpa menimbulkan suara.
Lima prajurit siluman monyet yang berjalan paling belakang hanya terkesiap sesaat melihat adanya serangan yang datang secara tiba- tiba dari sisi kanan. Bahkan para prajurit tersebut tidak sempat menghunus pedangnya untuk melakukan perlawanan.
Dalam sekali gerakkan Abah Dul dan ke 3 rekannya berhasul memusnahkan prajurit- prajurit tersebut tanpa ada
perlawanan.
Kejadian penyerangan tersebut sama sekali tidak di hiraukan oleh para prajurit siluman monyet yang berjalan
di depan teman- temannya yang musnah karena kondisi prajurit- prajurit tersebut sedang mabuk berat.
Disaat yang bersamaan, Gus Harun, tuan Denta, Kosim serta Raja Kajiman juga menerjang sekelompok prajurit siluman monyet yang berjalan di barisan paling depan hingga separuhnya. Dalam sekali tebasan, kepala- kepala prajurit tersebut terpenggal jatuh lalu musnah menyusul prajurit- prajurit lainnya.
“Sekarang bagaimana Gus?” bisik Abah Dul yang diangguki Basyari, Baharudin dan Mahmud.
“Tetap berjalan sesuai rencana. Kita menyamar menjadi prajurit siluman monyet dan masuk ke dalam istana. Ketika kita sudah berada di dalam istana, pasukan kita kembali buat kegaduhan untuk memancing prajurit- prajurit itu keluar istana. Disaat prajurit siluman monyet itu bertempur melawan pasukan kita, secepatnya kita menyelinap mencari putra Kosim. Apa ente- ente semua paham?” terang Gus Harun.
“Paham Gus!” jawab mereka serempak.
“Para pasukan kita sudah diberitahu sebelumnya?” tanya Gus Harun pada tuan Denta dan Kosim.
“Sudah Gus!” jawab Kosim.
‘Sudah Gus!” timpal tuan Denta.
“Mari kita berubah wujud menjadi prajurit- prajurit monyet,” ucap Gus Harun.
Seketika itu juga dimulai dari Gus Harun, Abah Dul lalu yang lainnya mereka sudah berganti wujud menjadi sosok prajurit- prajurit monyet. Untuk membedakan mereka dengan siluman monyet, Gus Harun sudah menyiapkan segaris kain putih lalu membagikannya pada 8 rekannya yang lain untuk diikatkan pada pergelangan tangan masing- masing.
__ADS_1
“Mari kita bergerak!” perintah Gus Harun.** BERSAMBUNG