Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MENYUSUN KEKUATAN


__ADS_3

Beberapa saat lalu di Istana Kajiman,


Di sebuah ruangan khusus, Raja Gandewa duduk berhadapan dengan Kosim. Raja Gandewa sudah bercerita banyak tentang peristiwa penyerbuan yang dilakukan oleh golongan bangsa siluman monyet beberapa saat yang lalu sebelum Kosim kembali ke alam itu.


Kosim juga menceritakan latar belakang penyebab perseteruannya dengan bangsa siluman monyet. Ia juga menceritakan tentang rencana penyerangan untuk membebaskan arwah putranya yang di tawan di istana siluman monyet tersebut bersama sahabat- sahabatnya dari golongan manusia dan jin.


Raja Gandewa terkesiap ketika mendengar Kosim menyebutkan salah satu nama yang akan turut serta membantunya dalam misi pembebasan arwah anaknya.


“Tuan Denta?!” Sergah Raja Gandewa.


“Iya tuan, Tuan Denta dari golongan bangsa jin,” ujar Kosim.


“Tidak salah lagi! Dia adalah Jenderal paling di takuti oleh mahluk kegelapan,” ucap Raja Gandewa dengan suara bergetar.


“Tuan Raja mengenalnya?!” tanya Kosim terkejut.


“Ya, kami adalah sahabat baik. Ada kisah panjang sebelum kami menjalin persahabatan itu. Tapi kok bisa Tuan Kosim kenal dengan Jenderal tersohor itu?!” tanya Raja Gandewa.


Kosim pun menceritakan saat pertama kali pertemuannya dengan Tuan Denta di alam Jin. Ia juga mengungkapkan alasannya sampai masuk ke alam jin dan menceritakan pula peristiwa yang membuat tuan Denta memutuskan keluar dari alam jin atau lebih tepatnya melarikan diri dari alam jin.


Seketika raut wajah Raja Gandewa nampak terperangah mendengar kisah tentang tuan Denta yang begitu rumit dan mengenaskan.


Pada saat Kosim hendak menuntaskan ceritanya, tiba- tiba dikejutkan oleh suara gedoran pintu dari luar yang disusul seruan salam.


Dog...! dog...! dog...!


“Salam tuan Raja!” suara seruan dan gedoran pintu secara tiba- tiba itu sangat mengejutkan Raja Gandewa dan Kosim.


“Masuk!” sahut Raja Gandewa.


Sesaat kemudian pintu besar itu terkuak, seorang penjaga gerbang alam Kajiman muncul membungkuk hormat.


“Ada apa?!” tanya Raja Gandewa.


“Ada sesosok mahluk yang ingin bertemu dengan tuan Raja. Dia mengaku bernama Denta,” lapor penjaga gerbang.


“Hah? Tuan Denta?!” pekik raja Gandewa dan Kosim bersamaan dengan wajah terkejut bercampur sumringah.


“Bbbe, bbetul tuan!” sahut penjaga gerbang sedikit gemetar.


Penjaga gerbang itu seketika ketakutan, sebab dia bersama rekannya merasa telah memperlakukan tuan Denta dengan tidak hormat.


“Kenapa kalian tidak mengantarkannya langsung?!” bentak raja Gandewa.

__ADS_1


Penjaga itu kian gemetaran karena takut melihat perubahan wajah marah pada raja Gandewa. Dia menundukkan kepalanya dalam- dalam merasa sangat bersalah mencurigai sosok mahluk yang datang itu dengan bersikap arogan.


“Bba, baik tuan,” sahut penjaga itu gemetaran kemudian lekas- lekas berlalu dari ruangan itu.


......................


Salah satu penjaga gerbang alam Kajiman yang melaporkan kepada Rajanya tentang kedatangan tuan Denta tak lama kemudian sudah kembali. Sikap semula yang ditujukan penjaga itu begitu arogan, kini menganggukkan kepala penuh hormat.


Penjaga lainnya merasa heran dengan perubahan sikap rekannya itu, dia pun menoleh penuh tanda tanya pada penjaga yang baru tiba itu.


"Dia tuan Denta Jendral kerajaan Jin, sahabat baik Raja Gandewa!" bisik penjaga yang melaporkan.


Seketika wajah penjaga yang menunjukkan sikap arogan dan garang itu pun terperangah. Buru- buru dia mengangguk hormat pada tuan Denta.


"Maafkan atas sikap kami tuan," kata salah satu penjaga dengan suara bergetar.


"Tidak apa- apa," jawab tuan Denta dengan tenang.


“Mari aku antar tuan ke istana, Raja kami sedang menunggu tuan.” Kata penjaga yang sebelumnya melapor sambil menangkupkan kedua telapak tangan.


“Baik, terima kasih.” Ucap tuan Denta.


Tuan Denta dan seorang penjaga gerbang alam Kajiman pun langsung melesat menghilang dari tempat itu.


Dalam sekejapan mata penjaga gerbang alam Kajiman dan tuan Denta sudah berada di depan pintu ruangan dimana raja Gandewa sedang berbicara dengan Kosim.


Penjaga gerbang itu terkejut dan mengurungkan niatnya hendak mengetuk pintu disaat bersamaan terdengar suara raja Gandewa memerintahkannya untuk masuk. Sementara tuan Denta tersenyum saja melihat keterkejutan penjaga itu, ia sendiri tidak merasa heran dengan pengetahuan spiritual sahabatanya itu.


“Silahkan tuan,” kata penjaga gerbang dengan hormat mempersipahkan tuan Denta masuk.


“Terima kasih,” ucap tuan Denta mengangguk.


Penjaga gerbang itu tidak ikut masuk hanya membukakan pintu saja lalu kembali menutupnya dan berlalu dari tempat itu menuju kembali ke tempat tugasnya.


......................


Di rumah Mahmud,


Abah Dul, Mahmud dan sukma Gus Harun masih menunggu tuan Denta yang sedang menemui Kosim di alam Kajiman.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat dan sudah berlalu 30 menitan menunggu tuan Denta kembali untuk membawa serta Kosim.


Mereka telah memutuskan untuk menyusun rencana lagi melakukan misi penyelamatan Dede malam ini karena terbatasnya waktu sebelum lewat 40 hari sejak Dede meninggal dunia.

__ADS_1


Sementara keterlibatan Mahmud dalam misi yang mempertaruhkan nyawa itu menambah kekuatan baru dalam penyerangan nanti. Abah Dul mengetahui persis sebesar apa ilmu kebatinan Mahmud, ia dapat mengukur kemampuan spiritual yang di miliki sahabatnya itu.


“Dul, gimana dengan Basyari dan Baharudin, apakah sahabat- sahabat kita itu sudah di hubungi?” kata sukma Gus Harun memecah keheningan di ruang tamu.


“Belum Gus, karena rencana sebelumnya batal jadi saya belum memberi kabar lagi. Kalau mereka sih siap kapan saja Gus,” jawab Abah Dul.


Wuuuuussssshhhh....


Tiba- tiba desiran angin muncul di ruang tamu membuat Mahmud dan Abah Dul sedikit terkejut. Sementara sukma Gus Harun tersenyum sumringah melihat dua sosok muncul diantara mereka.


“Assalamualaikum...” ucap dua sosok yang datang itu serempak.


“Wa’ alaikum salam...” sahut sukma Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud bersamaan.


“Kosim!” pekik Mahmud tiba- tiba.


Wajah Mahmud berubah sumringah melihat kemunculan tuan Denta yang datang bersama dengan Kosim. Ia memperhatikan sosok Kosim dari ujung rambut hingga kaki, dilihatnya tak ada yang berubah pada sosok adik iparnya itu.


“Apa kabar Sim?” tanya Mahmud spontan.


“Alhamdulillah baik Mas,” sahut Kosim datar.


Setelah tuan Denta dan Kosim duduk menempati kursi tamu yang kosong, pembicaraan pun segera di lanjutkan untuk membahas rencana menyelesaikan misi penyelamatan anak Kosim.


Mula- mula sukma Gus Harun membicarakan tentang kekuatan yang ada di pihaknya. Dia menghitung dan mempertimbangkan dengam menyebut nama- nama yang akan turut serta dalam penyerangan nanti.


"Selain kita yang ada di sini, ada Basyari, Baharudin. Berarti jumlah pasukan kita hanya tujuh, bagaimana menurut anda tuan Denta?" tanya sukma Gus Harun.


"Sepertinya bukan hanya tujuh Gus," Kosim tiba- tiba menyela.


"Ya, kita masih punya yang lain bahkan sangat banyak Gus," timpal tuan Denta.


"Sangat banyak?!" tanya sukma Gus Harun tercengang.


"Banyak darimana tuan?!" Abah Dul langsung menimpali.


Tuan Denta menoleh pada Kosim sejenak sebelum kembali berbicara, Kosim pun menganggukkan kepalanya memberikan tanda mempersilahkan tuan Denta berbicara.


Kemudian Tuan Denta menceritakan semuanya saat ketika menemui Kosim di alam Kajiman hingga bertemu dengan rajanya. Di dalam pertemuan yang singkat itu Kosim menyampaikan rencana penyerangan terhadap kerajaan siluman monyet yang di perkuat dengan dukungan tuan Denta.


Setelah panjang lebar menyampaikan kisah latar belakang hingga alasan melakukan penyerangan itu tanpa di duga- duga raja Gandewa menyatakan diri ikut serta dalam misi tersebut. Bahkan tak segan- segan raja Gandewa akan menyiapkan pasukannya untuk bergabung.


Ada dendam kesumat yang tersemat di dalam ucapan raja Gandewa. Dia mengutarakan alasannya turut serta menyerang siluman monyet setelah bangsa siluman itu menyerangnya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Abah Dul dan Mahmud bergidik mendengar cerita tuan Denta tersebut. Bahkan Mahmud membayangkan dirinya akan berada diantara mahluk- mahluk yang sangat asing baginya. Bayangan pertempuran besar mengembang di pelupuk mata Mahmud. Ada perasaan takjub dan ngeri bergumul di dalam pikirannya yang sulit untuk di gambarkan.


......................


__ADS_2