Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
IKHLAS


__ADS_3

Hari ke-3 menjelang Purnama,


Semenjak subuh hari hujan deras sudah mengguyur kampung Sukadami. Awan pekat di langit tidak sedikit pun memberikan celah untuk cahaya matahari menyinari. Gumpalan-gumpalan mendung merata masih menutup langit hingga menjelang Duhur tiba.


Mahmud, Gus Harun dan Kosim sudah terlibat obrolan di ruang tamu seusai makan bersama pagi. Tiga gelas kopi dan sepiring gorengan pisang kini tinggal tersisa 4 buah tersaji diatas meja tamu. Abah Dul dan Mang Ali sudah pamit untuk pulang dulu setelah sholat Subuh berjamaah tadi dan belum menampakkan batang hidungnya.


Sementara Arin dan Dewi sedang santai di depan televisi sekaligus ruang tengah. Didepan keduanya Dede sedang asyik di dunianya sendiri dengan bermain mobil-mobilan kesayangannya.


Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, jadi Dewi libur kerja membuatnya lebih banyak waktu menemani adiknya dan keponakannya yang sudah dianggap anaknya sendiri.


"Rin kamu masih marah sama Kosim?" sela Dewi bertanya matanya tidak berpaling dari tayangan televisi.


"Ya masih Mbak. Lah wong semuanya khawatirin dia, eee... dianya seperti nggak ngargai upaya Mas Mahmud, Abah Dul juga Mang Ali. Saya kan yang nggak enak," jawab Arin ketus.


"Kalau Mbak sih udah nggak Rin. Mas Mahmud sudah menjelaskan semuanya kenapa Kosim tetap ingin berangkat ke Wonosobo dan juga Kosim sudah meminta maaf serta menjelaskannya pada Abah Dul juga, kalau dirinya tidak ada maksud sedikit pun melupakan pengorbanan semuanya. Kosim berangkat itu karena punya niat tulus untuk kamu dan Dede," jelas Dewi kalem.


Arin tertegun lalu menoleh pada kakaknya yang duduk disampingnya.


"Jadi Mas Mahmud, Abah Dul dan semuanya sudah nggak kesal dan marah lagi Mbak?" Tanya Arin.


"Ya nggak lah. Mereka itu orang-orang berilmu yang bijaksana sehingga bisa memahami posisi Kosim. Ada satu kisah yang pernah dirasakan Kosim sehingga menguatkan tekadnya ngotot menerima kerjaan itu Rin. Mungkin kamu sendiri nggak pernah tau karena Kosim baru menceritakannya pada Mas Mahmud dan Abah Dul," ujar Dewi.


"Kisah apa Mbak?!" Arin sedikit terkejut.


Dewi pun menceritakan peristiwa pada saat ibunya Kosim datang ke rumah bermaksud meminjam uang untuk membeli beras. Arin tidak tahu karena pada saat itu Arin sedang mengantar Dede sekolah di PAUD.


Arin tertegun, sontak matanya berkaca-kaca setelah kakaknya selesai menceritakan semuanya. Perasaan bersalah seketika menyelimuti hatinya. Arin terlihat begitu menyesalinya, diakuinya memang saat-saat itu Kosim selalu menjadi bulan-bulanan pelampiasan marahnya. Kosim memang tidak pernah diberinya uang, semua uang hasil jualan ciloknya diserahkan kepada dirinya.


"Ya Allah, selama itu saya jahat sekali sudah menzolimi suami sendiri. Tuhan, ampuni saya atas perlakuan-perlakuan kasar saya selama itu." ucap Arin membatin.

__ADS_1


Arin menutup majahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya terlihat berguncang-guncang dibarengi suara sesenggukan dalam tangisnya.


Dewi langsung merengkuh bahu Arin dengan penuh kasih sayang. Dia memahami perasaan adiknya yang pasti sedang menyesali perlakuannya dulu terhadap Kosim.


Tangis Arin pun pecah dalam dekapan kakaknya. Tubuhnya terus terguncang-guncang sembari menangis tersedu-sedu.


"Mbak, saya tidak tahu sama sekali tentang kisah itu. Mas Kosim memang tidak pernah mengungkapkannya, mungkin karena dia nggak mau saya marah. Mbak, saya sebegitu jahatnya kepada suami. Bahkan karena saya juga hingga Mas Kosim berbuat nekad mencoba menjalani pesugihan..." suara tangis Arin membuncah kian kencang namun tertahan pada dada kakaknya sehingga tidak begitu kedengaran dari ruang tamu.


Sekian lamanya Kakak beradik itu larut dalam keharuan. Dewi membiarkannya adiknya menumpahkan segala ganjalan rasa bersalahnya. Setidaknya tumpahan tangis penyesalannya dapat mengurangi beban di hatinya dan berharap adiknya bisa semakin bersikap dewasa.


"Sudah, sudah Rin. Mbak memahami perasaanmu. Semoga kamu bisa semakin bersikap dewas dan pesan Mbak kamu harus menghargai suamimu dan yang lebih penting lagi, kamu harus tanamkan kuat-kuat di hatimu yakni kamu harus menghormati suamimu bagaimanapun kondisinya dan dalam keadaan apapun," ucap Dewi berbisik di telanga Arin sambil mengusap-usap rambutnya.


"Iya Mbak, makasih ya Mbak selalu mengingatkan Arin. Mbak sama persis dengan ibu," ucap Arin disisa-sisa isakkannya.


"Lah, ya aku anaknya toh Rin..." seloroh Dewi membuat Arin tertawa diantara sisa isakannya.


"Sudah, ah... Hapus air matamu itu Rin nanti kalau pada ngelihat jadi heboh lagi. Malu, udah punya anak masih nangis aja," canda Dewi.


"Eh, enaknya makan siang nanti kita masak apa ya Rin. Ya sekalian syukuran abis panen cabai," kata Dewi.


"Kalau begitu sekalian saja bikin syukuran mengundang tetangga sekitar Mbak. Ya itung-itung makan bersama gitu Mbak, mumpung ada Gus Harun minta di doain," ujar Arin.


"Wah, betul juga ya Rin. Ya udah kita ke pasar belanja yuk, hujannya juga kebetulan sudah reda tuh," kata Dewi.


"Hayu Mbak!" Seru Arin kegirangan.


"Nanti Mbak ijin ke Mas Mahmud sekalian menyampaikan niat syukuran ini," ujar Dewi.


......................

__ADS_1


Selapas waktu Ashar, sisa-sisa hujan meninggalkan becek dimana-mana. Meski di langit masih menampakkan mendungnya namun hujan sudah berhenti sejak pukul 14.25 wib siang tadi.


Di rumah Mahmud sudah mulai ramai. Masyarakat sekitar rumah Mahmud antusias datang memenuhi undangan syukuran meski harus becek-becekan di jalannya.


Sebelumnya Mahmud sendiri memang sudah punya niat namun belum sempat menentukan waktunya. Bahkan dirinya sengaja berniat membagikan cabai untuk dibagikan kepada tetangga sekitarnya. Kebetulan dengan acara ini sekalian saja membagikannya yang dikemas dalam bingkisan selain besek tentunya.


Masyarakat yang datang sangat banyak hingga menggelar tikar di halaman. Setelah dirasa sudah tidak ada lagi yang ditunggu, Mahmud pun langsung memberikan sambutannya.


"Assalamualaikum warohmatulli wabarokatuh," ucap Mahmud membuka sambutannya.


"Matur suwun bapak-bapak semua samoun hadir di rumah saya. Maksud dan tujuannya mengundang bapak-bapak semua hanya untuk sekedar mengajak makan bersama, syukuran panen cabai. Mohon keikhlasan hati untuk berdoa dan mendoakan kita semua agar selalu mendapat perlindungan Gusti Allah, diberikan sehat juga rezeki yang melimpah, amiin!"


"Amiiin.." sahut undangan serempak.


"Kebetulan saya kedatangan sahabat Abah Dul dari Banten yakni Gus Harun. Beliau adalah putra Kiyai Banten yang sekaligus akan mempin doa acara syukuran ini. Mari kita mulai saja, kepada Gus Harun monggo kami persilahkan, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh," Mahmud menutup sambutannya.


Beberapa saat lamanya acara syukuran di rumah Mahmud pun selesai. Masing-masing orang yang datang diberikan bingkisan. Wajah-wajah sumringah terpancar dari semua para undangan yang pulang membawa besek ditangannya.


Berkat dorongan Dewi yang spontan akhirnya acara syukuran itupun dapat dilaksanakan.


Dimata para tetangga dan masyarakat kampung Sukadami, Mahmud sudah dikenal sangat baik dan suka membantu tetangganya yang sedang kesusahan dan karena itu pula keluarga Mahmud sangat di hormati dan disegani.


Termasuk, entah sudah berapa banyak tetangganya yang meminjam uang yang tidak membayar. Sampai-sampai Mahmud sendiri sebagian besar sudah lupa atau lebih tepatnya melupakannya saja.


Mahmud tidak pernah menagihnya, seingat-ingatnya saja dan seniat-niatnya saja para tetangganya mengembalikan pinjamannya. Niatnya hanya satu iklhas untuk membantu. Urusan bayar atau tidak biar Allah Subhanahu Wata'ala yang mengaturnya.


......................


🔴 NEXT

__ADS_1


Hari ke-3 atau malam ke-2 menjelang Purnama....



__ADS_2