
Langit diatas desa Sukadami perlahan- lahan redup tertutupi oleh gulungan mega- mega yang berwarna hitam kelabu. Suasana senja tak lagi tampak indah dengan rona jingga di ufuk barat seperti hari- hari biasanya saat ketika menjelang magrib tiba. Cuaca yang tampak normal perpindahan dari siang ke malam, namun petang ini gumpalan mega mendung bergerombol diatas langit desa Sukadami membuat perpindahan siang ke malam terasa lebih cepat.
Di dalam rumah Mahmud hanya ada Dewi, Arin dan putranya saja karena Mahmud belum kembali dari Surabaya. Rumah ini yang biasanya selalu ramai dengan keberadaan Abah Dul, Gus Harun serta sahabat- sahabatnya dalam beberapa hari terakhir ini kini sangat terasa sekali lenggangnya. Sepi, sunyi tak ada suara tawa dan obrolan di ruang tamu serta suka rianya makan bersama di ruang tengah.
“Mbak sepertinya diluar mendung, apa sudah masuk musim hujan ya?” tanya Arin berjalan masuk
melalui pintu dapur setelah selesai menyapu halaman.
“Cuaca sekarang nggak menentu Rin, kadang tiba- tiba saja datang mendung meski sedang musim kemarau,” sahut Dewi sembari mencuci piring.
“Iya juga sih mbak. Saya lihat di langit mendungnya tebal banget,” ujar Arin kemudian menyambar handuk menuju kamar mandi.
“Eh, Rin Dede dimana? Kamu ditinggal sendirian?!” tanya Dewi setengah berteriak karena Arin sudah berada di dalam kamar mandi.
“Dede di ruang tengah mbak lagi main mobil- mobilan remot dari mas Hasan!” seru Arin dari dalam kamar mandi.
Dewi pun tak membalasnya lagi, ia melanjutkan mencuci piringnya sambil mesem- mesem saat mendengar Arin menyebut nama mas Hasan. Entah mengapa dirinya begitu bahagia melihat adiknya terlihat begitu bersemangat dan kembali bergairah setelah mengenal Hasan. Aura wajahnya pun selalu memancar keceriaan, tak lagi murung dan dirundung duka yang dipendamnya. Sekian lamanya adiknya itu dirundung kesedihan setelah mengalami peristiwa- peristiwa yang sangat mengguncang jiwanya. Teror siluman monyet, kematian Kosim disusul seminggu kemudian putranya pun meninggal meskipun saat ini putranya sudah kembali ke pangkuannya. Bagaimana hancurnya hatinya selama menjalani masa- masa sulit yang sangat menguras banyak air matanya itu.
Wajar jika Arin pernah ingin mengakhiri hidupnya ketika rasa duka nestapanya sudah memuncak berada di ujung jurang yang buntu seakan- akan tak ada lagi yang diharapkan untuk menjalani hidupnya.
Duaaarrrr…!!! Duaaarrr…!!!
“Subhanallah!” pekik Dewi berjingkrak kaget.
“Mbaaaaakkk…!” teriak Arin dari ruang tengah.
Suara petir disertai guntur terdengar tiba- tiba hingga menggetarkan perabotan didalam rumah. Dewi bergegas beranjak dari dapur dan meninggalkan cucian piringnya yang belum selesai menuju dimana Arin berada.
“Kamu nggak apa- apa Rin?” tanya Dewi melihat Arin sedang mendekap erat Dede.
__ADS_1
“Nggak apa-apa mbak, hanya saja tadi Dede terlihat ketakutan sekali,” sahut Arin sambil mengusap- usap kepala Dede.
Dewi terlihat mematung memandang adiknya yang sedang mendekap putranya, hatinya tiba- tiba diselimuti rasa cemas. Dadanya berdebar- debar tak karuan, akan tetapi Dewi tidak tahu apa yang membuatnya demikian.
‘Kenapa tiba- tiba deg- degan ya? Ada apa ini?’ gumam Dewi dalam hati.
Belum juga kebingungannya terjawab, tiba- tiba seberkas cahaya merah muncu diatas Arin yang sedang berjongkok mendekap Dede. Perlahan- lahan seberkas cahaya merah yang memercikkan cahaya kesegala penjuru ruang tengah meredup lalu membentuk sebuah bulatan seperti bola sebesar bulatan drum minyak. Bola merah itu melayang- layang berjarak satu meter diatas kepala Arin dan Dede. Tampak sekali bola merah itu seperti hidup, bulatannya bergerak kembang kempis selayaknya jantung manusia.
Kedua mata Dewi kontan terbelalak menyaksikan bola merah yang mendadak muncul menerangi ruang tengah terlebih lagi bola merah itu berada diatas kepala Arin dan Dede. Sontak saja nalurinya mengatakan ada bahaya yang sedang mengancam adiknya serta keponakannya. Dewi langsung menarik lengan Arin yang sedang mendekap Dede untuk menjauh dari bola merah tersebut dengan sekuat tenaga, akan tetapi tarikannya seperti menarik batu yang kokoh. Arin tak bergeser sedikitpun saat Dewi menariknya!
“Arin! Cepat pergi dari sini!” teriak Dewi sembari terus menarik- narik lengan Arin.
Arin bergeming memeluk Dede, kepalanya masih menunduk rapat dengan kepala Dede. Arin tidak menyadari kemunculan bola merah sebab dia memang sudah tak sadarkan diri dan tubuhnya seketika kaku disaat bersamaan dengan kemunculan bola merah. Namun Dewi tidak mengetahuinya sama sekali dengan kondisi Arin yang terlihat masih memeluk erat putranya.
“Arin! Cepat pergi dari sini!” teriak Dewi kembali sembari terus menarik- narik lengan Arin sekuat tenaga.
“Arin! Cepat pergi dari sini!” teriak Dewi lebih keras sambil menarik- narik tubuh Arin, akan tetapi tubuh Arin tak bergeser sedikit pun.
“Ayo Rin, pergiii…!!!” teriak Dewi mulai histeris dihinggapi rasa takut yang luar biasa.
Beberapa saat lamanya Dewi berusaha menyeret Arin agar menjauh dari bola merah tersebut namun usahanya sia- sia. Tubuh Arin tak bergeser sedikit pun dari tempatnya, lama- kelamaan tenaga Dewi pun mulai melemah terkuras habis terus -menerus berupaya menarik tubuh Arin sekuat tenaga.
Tarikan Dewi mulai tampak melemah lalu perlahan- lahan tubuhnya lunglai dan terduduk pasrah. Keringat dingin bercucuran membasahi kening dan wajahnya. Kini Dewi terlihat pasrah, kedua matanya melotot memandangi bola merah darah yang terlihat seperti hidup. Wajahnya yang putih bersih kini terlihat kian putih karena pucat pasi, seakan- akan sudah tak ada darah yang mengalir di dalam tubuhnya.
“HAHAHAHAHA… HAHAHAHA… HAHAHAHAHA…”
“HAHAHAHAHA… HAHAHAHA… HAHAHAHAHA…”
“HAHAHAHAHA… HAHAHAHA… HAHAHAHAHA…”
__ADS_1
Tiba- tiba terdengar suara sember menggelegar memenuhi ruang tengah. Spontan Dewi beringsut mundur dari duduknya merasa ngeri mendengar suara tanpa rupa tersebut. Dewi celingukkan mencari- cari sumber suara, matanya liar menengok kesana kemari namun tidak ditemukan adanya sosok lain selain Arin dan Dede. Wajah Dewi terlihat kian ketakutan lalu dengan reflek pandangannya tertuju pada bola merah darah yang melayang diatas kepala Arin.
“Pasti bola merah itu! Ya pasti bola merah itu yang tertawa!” pekik Dewi dalam hati.
“MANUSIA- MANUSIA LEMAH ..! BERANI- BERANINYA MENCAMPURI URUSANKU! SERAHKAN BOCAH ITU PADAKU!” Bentak suara dari bola merah.
Dewi terbelalak mendengar bentakkan itu, dia tak bisa berkata- kata lidahnya terasa kelu dengan mulut menganga. Tubuh Dewi gemetar hingga bergetar keras. Kedua matanya terus memelototi bola merah penuh kepasrahan. Mau beranjak mundur pun sudah tak bisa lagi karena sudah memepet pada tembok ruang tengah, sehingga Dewi hanya mampu menekuk kakinya merapatkan lutut di dadanya.
Sementara Arin masih tampak memeluk Dede tanpa bergerak sedikit pun seakan- akan Arin tidak terganggu dengan suara bentakkan bola merah yang begitu keras dan mengerikan.
“KALIAN RASAKAN INI..!!!”
Srreeeeetttt… Sreeetttt…!
Tiba- tiba Dua larik sinar merah darah melesat dari ari bola merah menuju tubuh Dewi dan kepala Arin secepat kilat.
Buuummm…! Buuummm…!
Tubuh Dewi langsung terpental ke kiri setelah terhepas menghantam tembok dibelakangnya lalu tergeletak tak berkutik lagi. Tubuh Dewi meringkuk tak bergerak melintang ditengah- tengah pintu dapur yang berhubungan langsung dengan ruang tengah. Nasib Arin tak berbeda jauh dengan Dewi, tubuhnya kontan terpental kebelakang hingga menabrak bufet yang diatasnya terdapat televisi hingga televisi 32 ins itu jatuh menimpanya dan pecah. Tubuh Arin pun tampak tak bergerak, cairan merah perlahan- lahan mengucur dari kepalanya meleleh turun membasahi kedua pipinya.
Sebelumnya di saat bersamaan ketika tubuh Arin terpental dihantam sinar merah, tubuh mungil Dede melesat keatas dan hilang ditelan sinar merah. Tubuh Dede masuk dan lenyap seketika ke dalam bola merah.
“HAHAHAHAHA… HAHAHAHA… HAHAHAHAHA…”
“HAHAHAHAHA… HAHAHAHA… HAHAHAHAHA…”
“HAHAHAHAHA… HAHAHAHA… HAHAHAHAHA…”
Wuuusssshhh….! Gelak tawa bola merah membahana di dalam ruangan lalu melesat keatas dan menghilang dibalik atap rumah. **
__ADS_1