
Malam kian merambah meniti di jam 10 malam. Malam ini adalah malam bulan purnama, sinar terang yang terpancar dari penampakkan bulatan penuh bulan yang menggantung diufuk timur memberikan penerangan seperti cahaya lampu bohlam 5 watt menyinari desa Palu Wesi.
Udara desa Palu Wesi terasa sejuk dan dingin membuat warga masyarakatnya enggan untuk keluar rumah, begitu pula dengan suasana di depan rumah pak Harjo yang tampak sepi dan lenggang tidak ada warga yang lewat.
“Desa Palu Wesi kalau malam sepi sekali ya mas?” tanya Arin memandang sekeliling jalanan desa di depannya dari kursi teras.
“Biasanya sih nggak sesepi ini mbak,” jawab Arin.
“Eh, mas jangan panggil saya mbak dong mas. Mas Hasan kan lebih tua dari Arin,” ujar Arin mengerutkan keningnya pura- pura kesal.
“Loh, apa kelihatannya saya sudah tua toh mbak?” Hasan balik tanya juga mengerutkan keningnya.
“Ih, dibilangin jangan panggil mbak lagi!” sungut Arin memalingkan
wajahnya manja.
“Iy, iya deh mbak eh Rin, neng Arin…” sahut Hasan sedikit menggoda.
“Nah, begitu kan lebih manusiawi didengarnya mas, hehehe…” ujar Arin.
“Waduh, memangnya kenapa tak mau dipanggil mbak?” tanya Hasan melirik Arin yang pura- pura memandangi suasana halaman rumah. Padahal sesekali melirik mencuri- curi pandang kearah Hasan dengan diam- diam.
“Ya berasa saya sudah kayak ibu- ibu saja mas, hehehe…” sahut Arin menatap lurus masih memandangi halaman rumah.
“Apa sudah lupa punya Dede?” sindir Hasan menggoda.
“Ya maksudnya usia saya kan masih muda gitu mas. Tapi, apa masih ada yang mau sama saya ya mas? Ah, saya jadi takut kalau mikirin masalah itu,”
kata Arin menunduk dengan wajah menyesal.
Hasan terdiam tak langsung menanggapi ucapan Arin. Di kepalanya
justru sedang bergejolak saling menanggapi, apakah ucapan Arin tersebut merupakan tanda lampu hijau untuk dirinya ataukah ungkapan itu merupakan kiasan untuk menutup dirinya dari masa lalu mendiang suaminya?
Hasan terlihat ragu dan gamang, membuat sikapnya seketika gelisah. Hasan langsung meraih cangkir gelas diatas meja untuk menutupi
kegelisahannya. Akan tetapi jari- jarinya tak sempurna meraih gagang cangkir sehingga membuat gelas itu tumpah menimbulkan bunyi cukup berisik memecah keheningan.
Gloprakkk!
__ADS_1
“Mas…!” seru Arin spontan menoleh pada Hasan.
“Ma, maaf tidak sengaja,” sahut Hasan buru- buru membetulkan gelas yang sempat oleng dan menumpahkan sedikit air tehnya.
Arin buru- buru beranjak dari duduknya untuk membantu membetulkan gelas yang sedang di pegang Hasan. Tangan Arin tak sengaja memegang punggung telapak tangan Hasan yang sedang merapihkan gelas dan tatakannya. Seketika
Hasan merasakan desiran gairah yang tiba- tiba menjalar hangat mengalir dari telapak tangan Arin. Hasan kontan mendongakkan wajahnya menatap wajah Arin, begitu pun dengan Arin disaat bersamaan ia pun mendongak menatap wajah Hasan.
Baru kali ini Arin seperti merasakan kembali rasa yang sekian lama tidak pernah muncul lagi. Rasa yang sama dimana dirinya bertemu dengan Kosim saat pertama kalinya. Tiba- tiba Arin langsung menarik tangannya kembali dengan wajah merona merah, saat dirinya menyadari bukan lagi Arin yang
masih gadis saat dirinya kembali merasakan rasa yang hilang itu.
Tanpa diketahui oleh Hasan dan Arin, disaat kejadian Arin memegang punggung telapak tangan Hasan tersebut ada seseorang yang lewat di jalan depan rumah. Orang yang melihat kejadian tersebut langsung menghentikan langkahnya dan langsung bersembunyi dibalik batang pohon mangga yang ada di dekatnya.
“Bukankah perempuan itu yang tadi siang datang bersama pak Diman?” gumam orang itu dalam hati.
“Kata pak Diman masih kerabatnya pak Harjo, tapi kalau dilihat- lihat sepertinya bukan.” Lanjut orang itu dalam hati, lalu secara diam- diam orang tersebut mengendap- endap mundur tak jadi meneruskan
langkahnya melintas di depan rumah pak Harjo kemudian berlalu pergi dari tempat tersebut.
“Ma, maaf..” ucap Arin bruru- buru kembali ke tempat duduknya dengan gerogi dan merasa serba salah.
menetralkan suasana kikuk.
Keduanya sempat terdiam dengan pikirannya masing- masing. Arin
menyesali ucapannya barusan, dirinya merasa ucapan itu telah membuat Hasan memiliki penilaian lain terhadapnya. Sedangkan Hasan, dirinya sangat ingin mengatakan memberikan jawab ucapan Arin tersebut bahwa dirinya siap menerimanya. Akan tetapi Hasan terlalu takut untuk mengatakannya, apalagi ia baru sekali ini duduk berduaan dengan seorang wanita.
“Saya…” ucap Hasan dan Arin bersamaan memecah keheningan. Keduanya terkesiap dan spontan saling menatap merasa sama- sama tersipu malu, kok bisa- bisanya keduanya berucap bersamaan.
“Sok Mas Hasan duluan yang ngomong,” sergah Arin kikuk.
“Mbak, eh Arin saja yang duluan,” timpal Hasan.
Lalu keduanya sama- sama terdiam tidak ada yang mau memulai berbicara, namun bibir Hasan dan Arin nampak samar- samar menyunggingkan
senyuman.
“Ya sudah kita masuk istrirahat mas, takut dilihat orang nanti jadi gunjingan dan gosip warga sini lagi,” kata Arin setelah beberapa saat saling diam.
__ADS_1
“Iya Rin, yuk..” sahut Hasan, lalu keduanya masuk kedalam rumah.
......................
Pada keesokkan hari, di warung langganan yang biasa bu Harjo
berbelanja, ibu- ibu sudah menegrumuni dagangan sayur mayur bi Jum. Mereka seperti biasanya berbelanja untuk kebutuhan masak memasak, dan seperti biasa pula
obrolan- obrolan ringan pun terdengar satu sama lain. Entah itu sekedar keluhan terhadap anak- anaknya, ataupun suaminya, bahkan cerita sinetron di televisi pun terkadang menjadi bahan topik pembicaraan mereka.
Ditengah obrolan- obrolan seru para ibu- ibu yang sedang memilih belanjaan tersebut, salah seorang ibu- ibu tiba- tiba mengalihkan topik
pembicaraan mereka.
“Eh, tahu nggak ibu- ibu. Semalam suami saya melihat Hasan sedang duduk berduaan dengan seorang wanita muda di teras rumahnya loh,” sela ibu- ibu memakai daster kuning berbadan sedikit gemuk.
“Hah?! Wanita yang mana?” tanya salah satu ibu- ibu.
“Siapa wanita itu bu Rokman?” tanya yang lain penasaran.
“Itu loh, yang waktu kemarin itu datang diacara syukurannya pak Harjo. Kata suami saya sih masih kerabatnya,” sahut wanita sedikit gemuk yang
dipanggil bu Rokman.
“Oooohh, ya biar saja toh bu kan masih kerabatnya kok curiga begitu,” ujar ibu- ibu yang lain menimpali.
“Eeeehhh, bukan soal kerabat atau bukan. Tadi malam itu suami saya melihat Hasan dan perempuan itu saling berpegangan tangan loh, kayak
bukan hubungan keluarga gitu,” kata bu Rokman bernada provokatif.
“Hah? Masa sih?!” celetuk ibu- ibu lain nyaris bersamaan.
“Lah wong suami saya lihat sendiri tadi malam saat suami saya mau membeli obat nyamuk ke warungnya pak Sodik. Sewaktu mau lewat didepan rumah pak Harjo itu, dia melihat Hasan dan wanita itu sedang berpegangan tangan. Katanya, si wanita itu berjongkok di depan Hasan,” terang bu Rokman.
“Waduh! Ini tidak bisa dibiarkan bu. Desa kita bisa- bisa kena azab kalau sampai mereka berzina!” ujar salah seorang ibu- ibu.
“Iya, mereka kan serumah tuh!” timpal yang lainnya.
“Ini harus cepat- cepat dilaporkan ke kepala desa bu!” hasut ibu- ibu lainnya.
__ADS_1
· BERSAMBUNG