
20 menit telah berlalu,
Mahmud masih duduk termangu di kursi tunggu depan rungn ICU. Meski ada binar-binar harapan di sorot matanya, akan tetapi ia bingung bagaimana memberikan cincin ini pada Abah Dul? Jika pulang dulu memakan waktu setengah jam untuk sampai di rumahnya dan itu pun kalau di jalanan tidak ada hambatan sedangkan waktu untuk menolong Dede kini tinggal 25 menitan lagi.
Raut wajah Mahmud sangat gundah, kini ia benar-benar disudutkan pada posisi tersulit dalam hidupnya. Sama seperti sebuah judul film WARKOP, “Maju Kena Mundur Kena”. Jika memaksa pulang, belum tentu waktunya cukup, begitu pun sebaliknya kalau tidak pulang mengantarkan batu mustika, nyawa Dede tidak terselamatkan lagi. Dan pilihan yang kedua itu merupakan tindakkan yang menurutnya bodoh karena tidak ada upaya apapun jika berdiam diri hanya duduk-duduk saja menunggu nasib.
“Saya harus pulang memberikan mustika ini pada Abah Dul!” batin Mahmud.
Mahmud lantas masuk ke dalam ruang ICU, ia melihat Dewi sedang memeluk Arin yang sedang menangis tersedu-sedu diatas bahu kanannya.
“Wi, saya pulang dulu sebentar mau mengantarkan ini pada Abah Dul,” bisik Mahmud di telinga Dewi sambil menunjukkan cincin merah di jari manisnya.
Arin langsung terdongak mendengar suara Mahmud di belakang Dewi dan langsung menyergahnya; “Mas tolongin Dede, gimana Dede...” ucap Arin lirih disela-sela isak tangisnya.
“Iya Rin, ini Mas mau pulang dulu menemui Abah Dul yang sedang berusaha,” timpal Mahmud kemudian menepuk-nepuk pundak adik iparnya itu.
Mahmud pun segera berlalu keluar ruang ICU, kemudian setengah berlari menuju parkiran mobil.
Berselang tiga menitan setelah Mahmud meninggalkan ruang ICU, Kosim muncul di tempat Mahmud sebelumnya duduk. Sosok berbentuk kabut itu terlihat kecewa tidak mendapati Mahmud berada di kursi itu lalu tak menunggu lama Kosim melayang menembus dinding masuk ke dalam ruang melihat ke dalam. Dan di dalam ruangan ICU Mahmud pun tidak di temukannya juga. Wajah Kosim seketika muram, mau menanyakannya pada Arin atau Dewi percuma saja keduanya tidak bisa mendengar dan melihat kehadirannya. Kosim tertegun sesaat sambil menatap putranya yang tergolek diatas ranjang putih dengan suara deteksi jantung yang terus berbunyi terdengar jelas memenuhi ruangan.
Kosim bergegas meninggalkan ruangan itu memutuskan untuk pergi ke rumah Mahmud menemui Abah Dul yang mungkin juga Mahmud sedang berada di sana, begitu perkiraannya.
Sesaat kemudian Kosim lenyap dari ruangan ICU melesat menuju rumah Mahmud. Salah satu kekurangan mahluk Kajiman, dia tidak bisa mendeteksi keberadaan seseorang sehingga sangat kesulitan jika ingin menemuinya. Dia hanya bisa memperkirakan tempat-temoat yang biasa di kunjungi oleh orang tersebut dan dia akan mencarinya di tempat-tempat itu.
......................
10 menit lagi telah berlalu,
Mahmud baru keluar dari pintu parkiran rumah sakit. Mahmud melirik lagi jam digital di dashboard mobilnya, kegelisahannya kian mendera mengingat waktunya sudah berkurang 10 menit. Begitu mobilnya berada di jalan raya, tanpa pikir panjang lagi Mahmud menginjak pedal gas dalam-dalam. Dia seperti kesetanan melajukan kendaraan di jalanan yang tampak sepi. Secepat mungkin ia harus bisa sampai di rumah, otaknya tak henti-henti menghitung mundur waktu yang tersisa.
Meski pun rasanya tidak mungkin akan tiba di rumah dalam waktu kurang dari 15 menit, tetapi Mahmud tetap nekad sebisa-bisanya melajukan mobilnya untuk secepatnya sampai.
Tiiiinnnn....! Tiiiiiinnnn...! Tiiiiiinnnn....!
Suara kalakson dari mobil yang di kendarai Mahmud tak henti-hentinya menyalak saat di depannya ada mobil yang melaju pelan. Bukan pelan, lebih tepatnya mobil Mahmud yang di pacu sangat kencang.
__ADS_1
Mahmud terus menginjak pedal gas dalam-dalam memacu mobilnya dengan kencang. Ia kembali melirik jam digital di atas dashboard.
"15 menit lagi?!" pekik Mahmud.
Keputus asaannya kian memuncak di tengah-tengah memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
......................
Sementara itu di ruang tengah rumah Mahmud, terlihat tubuh Abah Dul baru saja tersentak setelah beberapa menit tubuhnya tak bergerak. Sukma Abah Dul sudah masuk kembali ke dalam raganya, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Gimana Dul?!” Tanya ustad Arifin yang sedikit lega melihat Abah Dul kembali bergerak.
“Saya bersama sukma Gus Harun ustad, apa ustad bisa lihat sukmanya?” ungkap Abah Dul lalu balik tanya.
Ustad Arifin lalu memejamkan matanya, mulutnya bergerak-gerak membaca-baca sesuatu. Sesaat kemudian ustad Arifin berucap; “Assalamualaikum Gus,”
Ustad Arifin dapat melihat keberadaan sukma Gus Harun yang duduk di hadapannya di sebelah Abah Dul dengan mata batinnya. Lalu sukma Gus Harun pun membalas ucapan salam ustad Arifin.
Berbeda dengan Abah Dul dan ketiga sahabatnya, Gus Harun, ustad Basyari dan ustad Baharudin yang dapat melihat langsung keberadaan sukma, karena keempat murid Kiyai Sapu Jagat itu satu koneksifitas ilmu kebatinannya. Sedangkan ustad Arifin untuk dapat melihat kehadiran sukma, ia harus mengerahkan mata batinnya terlebih dahulu terkecuali melihat wujud Kosim. Ustad Arifin dapat melihatnya tanpa harus mengerahkan mata batinnya, hal itu karena Kosim sendiri yang menghendaki orang-orang yang diinginkan yang dapat melihatnya.
Seandainya Arin dapat melihat kehadirannya, belum tentu mental Arin kuat ketika melihatnya. Kosim khawatir jika tidak kuat maka kejiwaan Arin akan terganggu bahkan bisa menjadi gila.
“Assalamualaikum,”
Tiba-tiba terdengar ucapan salam dari sosok mahluk yang datang.
“Wa’alaikum salam,” sahut Abah Dul dan ustad Arifin.
“Gimana Sim?!” sambung Abah Dul begitu Kosim muncul mengucap salam.
“Mas Mahmud nggak ada di rumah sakit bah. Saya kira mas Mahmud ada di sini,” ucap Kosim datar.
“Waduh!” sungut Abah Dul kemudian melihat jam dinding yang tergantung di atas televisi.
Seketika raut wajah Abah Dul berubah sangat panik melihat jarum panjang berada di angka 9.
__ADS_1
“15 menit lagi Sim! Waktunya tinggal sedikit lagi!” seru Abah Dul cemas.
Seketika wajah Kosim pun berubah muram. Kegelisahan semkin nampak di wajah kabutnya. Bayangan buruk yang akan menimpa putranya langsung terpampang di depannya. Dede akan menjadi tumbal pengganti dirinya. Terbayang penderitaan-penderitaan Dede yang akan di alami di dalam alam siluman monyet sana.
"Ah! Sebentar Sim!" pekik Abah Dul teringat sesuatu tiba-tiba kemudian merogoh saku celananya.
Di tangan Abah Dul sudah tergenggam hape lalu cepat-cepat menghubungi nomor kontak Mahmud. Ekspresi wajah kabut Kosim sedikit berubah tak semuram sebelumnya, matanya menatap Abah Dul yang sedang menghubungi Mahmud dengan penuh harapan.
Sesaat kemudian terdengar nada sambung di hape Abah Dul. Raut tak sabar menunggu hape di angkat Mahmud jelas tergambar di Wajah Abah Dul.
......................
10 menit lagi,
Wajah Mahmud kian putus asa di dalam memacu kendaraannya. Meskipun laju mobilnya nyaris tak pernah menginjak rem, namun jarak yang terlalu jauh yang membuatnya tetap memakan waktu lama.
Mahmud menghela nafas berat melihat di depan akan melewati persimpangan karena dia harus mengangkat kakinya dari pedal gas untuk memelankan laju mobilnya. Tinggal dua persimpangan lampu merah lagi akan sampai rumahny dan saat ini di depannya adalah persimpangan pertama belok kanan.
Namun belum sempat kakinya mengangkat pedal gas untuk memelankan laju mobil, tiba-tiba terdengar suara dering hape di saku celana Mahmud.
Dengan reflek Mahmud melepas tangan kanannya dari setir untuk mengambil hape di saku celana sambil menunduk sekilas. Dia lupa sekitar 50 meter lagi dia akan memasuki persimpangan di depannya dan secara kebetulan traffic light baru saja menyala merah.
Meski hanya menuduk sebentar sambil merogoh hapenya, namun akibat laju mobilnya yang terlalu kencang seketika membuat laju mobil itu oleng. Beruntung di depannya tidak ada kendaraan lain yang berhenti di lampu merah sehingga mobil Mahmud terus melaju kencang hinhga ke tengah-tengah persimpangan.
Saat Mahmud kembali melihat jalan di depannya, ia terkejut bukan main menyadari mobilnya baru saja menerobos lampu merah dan harus belok ke kanan. Beruntung, tidak ada kendaraan lain yang melintas di persimpangan sehingga tidak menimbulkan kecelakaan.
Mahmud langsung membelokkan setirnya menuju ke jalur kanan, akan tetapi akibat kecepatannya belum menurun sepenuhnya membuat roda depannya slip sehingga mobilnya terbalik di tikungan tersebut.
Grubrakkkk...!!!
Braaakkkk...!!!
Suara mobil Mahmud terbalik dan menyusur jalan hinga beberapa meter lalu terhenti menghantam trotoar. Suara benturan bodi mobil dengan aspal terdengar sangat keras memecah keheningan dini hari.
Bersambung....
__ADS_1
......................