Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MISI YANG MUSTAHIL


__ADS_3

Pak tua membawa Abah Dul dan Kosim memasuki sebuah perkampungan yang berada di pinggiran kota. Selama perjalanan beberapa saat itu yang tidak disadari oleh Abah Dul adalah cuaca di langit yang tidak berubah sama sekali semenjak dari petama kali ia berada di alam itu. Tak ada cahaya matahari namun cukup terang meski seterang kala mendung hari di alam manusia.


Orang-orang yang berlalu lalang meskipun berpapasan tak satupun mereka bertegur sapa. Mereka berjalan menatap lurus jalan di depannya dan sibuk dengan tujuannya masing-masing.


Hamparan padang rumput dan beberapa sekumpukan hewan nampak sedang memakan rumput. Sekilas pandang hewan-hewan itu menyerupai kambing namun perbedaannya pada tanduknya. Kambing-kambing itu memiliki satu tanduk terletak diatas kepalanya.


Tidak beberapa lama nampak sebuah rumah terbuta dari kayu tanpa cat warna sehingga terkesan seperti rumpah pohon.


Di rumah sederhana berarsitektur kuno itu pak tua menghentikan langkahnya sejenak di depan pagar yang juga terbuat dari kayu, lalu menoleh kebelakang kearah Abah Dul dan Kosim.


“Ini tempat tinggalku, ayo masuk,” kata pak tua kemudian kembali melangkah memasuki halaman rumah sederhana itu.


Abah Dul dan Kosim hanya mengangguk lalu melangkah mengekor dibelakangnya. Meskpun seperti pedesaan akan tetapi suasananya terlalu sunyi tidak ada kedengaran kicauan-kicauan burung, kokok ayam maupun suara-suara hewan khas yang menjadi simfoni suasana perkampungan.


“Duduklah...” kata pak tua menunjuk benda yang ada di sudut ruangan saat memasuki rumah.


Benda yang di tunjuk pak tua adalah batu-batu hitam sebesar drum berbentuk bulat namun pipih diatas. Abah Dul dan Kosim pun duduk di masing-masing batu itu.


Suasana di dalam rumah begitu sepi, tidak ada penghuni lainnya selain pak tua itu. Abah Dul memperhatikan seisi ruangan rumah yang tidak besar itu, ia hanya mendapati satu-satunya benda bercahaya sebagai alat penerang ruangan.


Sementara Kosim nampaknya tidak terlalu antusias ingin mengetahui apapun di rumah itu. Dia hanya memandang lurus dan datar.


Tak berapa lama orang tua itu muncul dengan membawa dua gelas berwarna hitam kecoklatan sekilas nampak bukan terbuat dari besi atau tembaga melainkan terbuat dari tanah.


Saat Abah Dul menerima gelas itu, ia merasakan ada suatu keanehan yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuhnya. Abah Dul merasakan ada hawa dingin menelusup melalui jari-jarinya dan cepat menjalar kesekujur tubuhnya membuat tubuhnya serasa sejuk dan segar.


Abah Dul menatap dalam-dalam air di dalam gelas itu. Ia melihat ada cairan berwarna kebiruan.

__ADS_1


Lain halnya dengan Kosim, ia tidak dapat merasakan seperti yang ditasakan Abah Dul. Dia biasa-biasa saja saat menerima gelas itu begitupun saat melihat isi air di dalam gelas itu.


“Minumlah, itu adalah mata air telaga biru.” Kata pak tua melihat keraguan pada Abah Dul.


Meski didalam hati masih di liputi keraguan namun Abah Dul tetap meminumnya. Ia percaya tidak mungkin air minum yang di berikan orang tua itu adalah racun.


Begitu cairan biru itu mengalir di lidahnya, Abah Dul mencoba mencari rasa dari air itu dengan lidahnya akan tetapi ia tidak merasakan apapun. Namun yang ia rasakan hanyalah rasa sejuk yang semakin berasa merasuki seluruh tubuhnya. Beberapa saat setelah merasakan itu, keragu-raguan Abah Dul pun hilang seketika, ia langsung meneguk cairan biru di dalam gelas itu hingga tandas.


Sementara itu Kosim langsung terkesima ketika dia meneguk air biru itu. Dia merasakan ada sesuatu perubahan pada tubuhnya ketika air biru itu masuk kedalam tubuh kabutnya. Matanya terbelalak tak percaya sambil mengangkat kedua tangannya. Dia perhatikan kedua tangannya bergantian, lalu menoleh pada Abah Dul.


“Bah, tubuh saya...” ucap Kosim tertahan sambil kembali memperhatikan tangannya.


Abah Dul pun menoleh memperhatikan Kosim yang sedang keheranan. Sedetik berikutnya wajah Abah Dul pun langsung terkesiap melihat perubahan pada tubuh Kosim.


“Sim, ente sekarang memiliki tubuh sama dengan saya!” seru Abah Dul dengan mata membelalak.


Pak tua yang di tatap seperti itu hanya tersenyum kecil. Kemudian dia mengambil selembar daun dari kotak kayu di hadapannya dan menambahkan beberapa benda lainnya diatas daun itu lalu melipat-lipatnya. Sesaat kemudian daun yang sudah di lipat-lipat hingga sebesar jempol kaki itu di masukkan ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan digigitnya daun itu cairan berwarna merah langsung mengotori mulutnya.


Abah Dul tahu kalau yang di kunyah pak tua itu adalah kinang. Tetapi untuk Kosim yang dilakukan pak tua itu seperti sebuah keanehan. Kosim tahu tentang kinang tetapi baru kali ini dia melihat proses menginang.


“Namaku Projo Denta, kalian cukup memanggil Denta saja. Kenapa kalian bisa sampai di negeri jin ini?” tanya pak tua sekaligus mengenalkan namanya.


Abah Dul terkejut bukan main mendengar kalau dirinya sekarang berada di alam jin. Kini ia mengerti kenapa ada binatang aneh, kenapa orang-orang berpakaian aneh dan juga melihat suasana alam yang aneh pula.


Abah Dul langsung menoleh pada Kosim, sebab ia merasa dirinya di bawa Kosim ke tempat ini sehingga meminta Kosim untuk menjawabnya.


“Begini Tuan Denta, nama saya Kosim dan sodara saya ini namanya Abdul Basit. Kami terpaksa menembus alam jin ini untuk menemui Azazil dan meminta atau dipinjamkan batu mustika Raja Jin.” Ungkap Kosim.

__ADS_1


“Menemui Raja Azazil?! meminjam mustika raja jin?!” pekik pak tua yang dipanggil tuan Denta memelototkan


“Betul tuan,” tegas Kosim.


“Untuk apa?!” sergah tuan Denta.


Kosim terdiam, ada keraguan untuk mengatakannya. Namun karena tidak ada lagi alasan lain dan sepertinya tidak bisa berkata bohong, akhirnya Kosim pun berterus terang.


“Kami ingin menghancurkan mahluk siluman monyet,” ungkap Kosim.


“Ada dendam apa sehingga kalian ingin melakukan itu,” kata tuan Denta.


“Putra saya di ambil paksa oleh mereka,” jawab Kosim.


Tuan Denta diam membatu, nampaknya dari ekspresi raut wajahnya tergurat kebimbangan. Rasanya hal yang sangatbtidak mungkin bisa menemui Raja Azazil, apalagi sampai memberikan satu-satu lambang kekuatan yang sangat di takuti oleh seluruh bangsa mahluk segolongannya. Apa jadinya seandainya mahluk-mahluk bangsa lain mengetahui kalau satu-satunya yang menjadi lambang kekuatan itu tidak berada dalam penguasaan Raja Azazil lagi? Negeri ini pasti akan menjadi ajang pertempuran besar untuk mengambil alih wilayah atau memperbesar kekuasaan mereka.


"Mustahil!" tegas Tuan Denta.


"Kami harus mendapatkannya tuan, bagaimana pun caranya!" sergah Kosim.


Sementara Abah Dul yang sedari tadi diam hanya menyimak obrolan Kosim dan Tuan Denta itu langsung teringat dengan maksud dari ucapan Kosim yang meminta bantuannya saat berada di rumah Mahmud. Akhirnya sekarang dirinya mengerti maksud ucapan Kosim itu hingga membawanya masuk di alam jin.


Kini Abah Dul hanya bisa pasrah dengan situasi dan kondisinya saat ini yang sedang tersesat di alam jin. Mau tidak mau dirinya harus menghadapi situasi yang sulit di bayangkan kedepannya. Jika harus bertarung melawan Azazil yang merupakan Raja Jin untuk mendapatkan benda yang di maksud oleh Kosim, rasa-rasanya sangat mustahil untuk dapat memenangkannya. Dan benar kata tuan Denta, "MUSTAHIL!"


"Ya sudah untuk sementara kalian bisa sembunyi di kediamanku. Kalian pasti sedang di buru karena telah menolongku dan telah mengalahkan para utusan keerajaan itu." kata tuan Denta.


"Baik tuan, terima kasih atas kebaikan tuan Denta," ucap Kosim.

__ADS_1


......................


__ADS_2