Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ARWAH FINA 2


__ADS_3

Arwah Fina terlihat mengangguk pelan, lalu tersungging senyuman dari bibirnya yang putih pucat pasi. Setelah itu kiyai Ahmad berlalu dari hadapan arwah Fina kembali kedalam raganya yang sedang diperhatikan orang-


orang disekitarnya. Arwah Fina masih memandangi kearah teras dimana Hariri duduk dengan raut wajah menegang.


“Bagaimana kiyai?” tanya pak Harjo setelah melihat kiyai Ahmad bergerak mengusap wajahnya.


“Benar yang ditunjukkan anak itu pak Harjo, arwah itu merasa marah dengan Hariri,” kata kiyai Ahmad lalu menoleh kearah Hariri dan melanjutkan perkataannya.


“Har, kamu punya janji apa dengan arwah yang bernama Fina itu?” tanya kiyai Ahmad.


Hariri tidak langsung menjawab pertanyaan itu, namun wajahnya tampak kaget dengan pertanyaan kiyai Ahmad. Beberapa saat Hariri nampak sedang mengingat- ingat tentang janji yang pernah diucapkannya pada arwah


Fina.


“Astagfirullahal azim! Njih pak kiyai, kemarin arwah fina menemui saya dan meminta untuk mendoakannya agar arwahnya tidak gentayangan dan bisa masuk ke alam Barzah.” Ungkap Hariri.


“Selain itu apalagi?” tanya kiyai Ahmad sengaja untuk mengetes kejujuran Hariri, padahal dirinya sudah mengetahui dari arwah Fina.


Hariri kembali berpikir mengingat- ingat janji apalagi yang dia ucapkan pada arwah Fina. Tak lama kemudian Hariri pun teringat dengan permintaan arwah Fina untuk menyiramkan air doa diatas tanah kuburannya. Dan Hariri


pun bersedia melakukannya.


“Oh iya pak kiyai satu lagi, dia minta air doa yang akan saya siramkan diatas kuburannya. Saya lupa membawanya kedepan sini, padahal sudah saya siapkan disimpan di kamar,” jawab Hariri penuh penyesalan telah lalai.


Kiyai Ahmad tersenyum senang mendengar pangakuan Hariri, ia


pun segera meminta Hariri untuk mengambil air kembang yang sudah disiapkan sebelumnya. Hariri langsung bangkit dari duduknya beranjak masuk kedalam rumah. Arwah Fina tersenyum manis melihat Hariri sudah mengingat permintaannya dan pergi mengambil air kembang.


Pak Harjo, bu Harjo, Hasan, pak Diman, pak Purnama, Arin serta Dewi hanya melihat dan mendengarkan saja percakapan antara Hariri dan kiyai Ahmad. Awalnya mereka tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi pada Hariri, namun akhirnya mereka dapat memahami kondisinya saat kiyai Ahmad berbicara dengan Hariri dan mereka pun sangat memaklumi.


Tak lama kemudian Hariri sudah muncul kembali sambil membawa


air kembang didalam toples kaca lalu menyerahkannya pada kiyai Ahmad. Setelah toples air kembang tersebut diletakkan didepan kiyai Ahmad. Kiya Ahmad pun langsung memimpin doa yang dikhususkan untuk arwah Fina.


“Bapak, ibu mari kita doaakan almarhumah Fina teman dari Hariri,” kata kiyai Ahmad sebelum memulai doa.


Kiayi Ahmad dengan khusyu membacakan doa untuk arwah Fina


yang diaminkan pak Harjo dan yang lainnya. Sementara arwah Fina masih tampak tersenyum memandang orang- orang yang sedang mengaminkan doa yang dibacakan kiyai Ahmad. Beberapa saat lamanya setelah doa itu akan selesai dibacakan, arwah Fina pun perlahan- lahan penampakkannya memudar. Senyumannnya masih

__ADS_1


tersungging di bibirnya seiring wujudnya mulai samar dan membias lalu beberapa detik kemudian arwah Fina pun sudah tak tampak lagi. Arwah Fina pergi dengan membawa senyum kebahagian, dirinya sudah mengikhlaskan semua yang telah terjadi di akhir hidupnya.


“Daaaaahhhh…” tiba- tiba anak kecil dipangkuan bu Harjo berseru sambil melambaikan tangan ke posisi arwah Fina sebelumnya.


Sontak saja semua mata memandang kearah Dede yang tampak cuek dengan tingkah lucu anak- anak saat melambaikan tangan ke arwah Fina. Setelah kiyai Ahmad menyelesaikan doa, dengan spontan kiyai Ahmad menoleh ke arah dimana arwah Fina berada. Namun kini arwah gentayangan tersebut sudah tidak tampak lagi meskipun dengan mengerahkan mata batinnya.


“Alhamdulillah…” ucap kiyai Ahmad.


"Jangan lupa Har, permintaannya yang terakhir," sambung kiyai Ahmad, lalu memberikan toples berisi air kembang tersebut pada Hariri mengingatkannya.


"Njih pak Kiyai," Hariri mengangguk menerima toples air kembang.


"Jangan lupa lagi kakak!" seru Dede mendelik kearah Hariri.


"Iya Dek," balas Hariri tersenyum kecut.


Waktu terus berjalan dan tak terasa sudah mendekati waktu Duhur. Suara- suara hiruk pikuk kembali riuh saat warga masyarakat mulai beranjak dari tempat duduknya dan satu demi satu meninggalkan mkediaman Pak Harjo. Di tangan mereka masing- masing menenteng besek, mereka pergi meninggalkan kediaman pak Harjo dengan riang gembira beriring jalan saling canda ria.


Suasana yang riuh ramai di kediaman pak Harjo beberapa menit lalu kini tiba- tiba terasa menjadi senyap setelah para warga pulang ke rumah masing- masing. Hanya puluhan panitia yang mulai bersih- bersih dan membereskan gelaran terpal dan tikar yang tadi digunakan sebagai alas duduk.


“Kalau begitu saya pamit pak Harjo, terima kasih banyak undangannya,” ucap kiyai Ahmad lalu bangkit berdiri disusul pak Purnama.


“Terima kasih atas kehadirannya kiyai, pak Purnama. Mohon maaf jika banyak kekurangan dalam penyambutan kami,” balas pak Harjo.


Pak Harjo dan yang lainnya pun ikut berdiri menyambut uluran jabat tangan kiyai Ahmad dan pak Purnama. Satu persatu kiyai Ahmad dan pak Purnama menyalami pak Harjo dan yang lainnya.


“Assalamualaikum…” ucap kiyai Ahmad disusul pak purnama, kemudian keduanya berlalu meninggalkan kediaman pak Harjo.


“Wa alaikum salam warohmatullahi wabarokatuuh…” sahut pak Harjo dan yang lainnya.


Setelah kiyai Ahmad dan pak Purnama sudah tak terlihat lagi, pak Harjo serta yang lainnya pun kembali duduk tak bergeser dari tempatnya semula.


“Pak, saya ijin pamit mau ke kuburannya Fina dulu,” kata Hariri.


“Apa tidak nanti saja Har, disini masih banyak tamu masa kamu tinggal,” ujar pak Harjo.


Seketika Hariri tak jadi beranjak dari duduknya, Hariri terlihat bingung. Ucapan bapaknya ada benarnya juga, rasanya tidak sopan disaat di rumahnya sedang ada tamu tetapi dirinya malah ditinggal pergi.


“Sudah tidak apa- apa kak, cepetan kakak sudah ditunggu mbak tuh,” celetuk Dede kali ini dengan tatapan mata mendelik kearah Hariri.

__ADS_1


Dada Hariri seketika berdebar- debar keras mendengar ucapan Dede disertai dengan tatapan tajam dari seorang anak kecil itu. Dirinya merasakan ketakutan yang luar biasa yang datang secara tiba- tiba saja menyergap perasaannya.


“Iy, iya Dek,” sahut Hariri tergagap.


“Pak secepatnya Hariri akan kembali, Hariri pergi sekarang ya,” kata Hariri kembali meminta ijin pada bapaknya.


Kini mereka semua sudah mulai memahami dengan apapun yang di ucapkan Dede itu merupakan suatu hal yang secara tidak langsung harus dituruti. Sebab perkataan- perkataan Dede selalu saja menyimpan misteri didalamnya yang akan menjadi kenyataan.


“Ya sudah, kamu hati- hati dilajan ya,” balas pak Harjo.


“Biar saya antar nak Hariri ya pak?” sergah pak Diman.


“O iya Har, kuburan Fina kan lumayan jauh ada di desa sebelah. Biar diantarkan saja sama pak Diman, lagi pula kondisi kamu kan baru saja habis dari sakit bapak khawatir kamu kenapa- napa di jalan,” kata pak Harjo.


“Njih pak, mari pak Diman,” ucap Hariri kemudian beranjak pergi dengan membawa toples berisi air kembang.


“Sebentar nak Hariri,” cegah pak Diman.


“Kenapa pak Diman?” tanya pak Harjo heran.


“Mm, begini pak saya mau menyampaikan bahwa mobil pak Harjo ada sedikit kerusakan pak,” ungkap pak Diman.


“Kerusakan? Maksud pak Diman, mobilnya mogok?” tanya pak Harjo penasaran.


“Bu, bukan pak. Kaca jendela disebelah kanan depan pecah pak Harjo, tadi ketika sampai di jalan hutan lindung  kami sempat di hadang perampok,” terang pak Diman.


“Hah???!” pekik pak Harjo dan istrinya kaget, lalu keduanya menoleh kearah Arin dan Dewi serta Dede.


“Kalian tidak apa- apa? Kalian ada yang terluka?” tanya pak Harjo, sementara bu Harjo langsung memeriksa kepala dan badan Dede yang duduk dipangkuannya.


Hariri dan Hasan juga terlihat mencemaskan keadaan Dewi, Arin dan Dede dengan memperhatikan ketiganya satu persatu. Tapi pandangannya terhenti pada Arin, entah kenapa Hasan ingin sekali memastikan kalau kondisi Arin tidak kenapa- napa dan dalam keadaan baik- baik saja. Bahkan Hasan mengabaikan pak Diman yang sedang menceritakan kronoligisnya dengan lengkap, dimulai dari ucapan peringatan dari Dede hingga terjadi penembakkan.


“Perampok itu mengatakan tidak ada orang didalam mobil?” tanya pak Harjo mengerutkan dahinya merasa bingung bercampur heran.


“Iya pak, saya juga tidak mengerti. Padahal kami bertiga, empat sama nak Dede meringkuk ketakutan didalam mobil,” terang pak Diman.


“Aneh sekali… ya sudah nanti saja ceritanya pak Diman sekarang antarkan Hariri secepatnya ya pak,” kata pak Harjo seketika merasa ngeri teringat ucapan Dede yang menyarankan Hariri untuk pergi sekarang. Terlintas dalam pikirannya apa yang akan terjadi seandainya tidak menuruti perkataan anak kecil itu.


“Saya permisi pak, bu, mbak Arin, mbak Dewi,” ucap pak Diman, lalu mengajak Hariri untuk segera beranjak pergi.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2