Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Jawaban Mimpi


__ADS_3


"Mimpi apa Sim?" Tanya Mahmud.


Mahmud menghentikan aktifitasnya memandikan Love Bird lalu duduk disebelah Kosim dan menyulut sebatang rokok siap mendengarkan cerita mimpi Kosim.


Kosim pun menceritakan mimpinya secara detil sama persis seperti kejadian dimimpinya tanpa dikurangi dan ditambahi.


"Purnama?!" Mahmud pun ikut terkejut mendengar ending mimpi Kosim.


"Iya Mas, apa maksudnya ya?" Tanya Kosim.


"Sebelum itu malamnya mengalami kejadian aneh nggak di rumah Sim?" Tanya Mahmud lagi.


Kosim diam sejenak mengingat-ingat dan menimbang-nimbang apa saja yang akan diceritakan dan yang tidak diceritakannya.


"Nggak ada sih Mas, hanya saja saat pertama kali masuk rumah banyak sekali kotoran hewan hingga bangkai kucing didalam kamar," terang Kosim.


Mahmud manggut-manggut mendengarkan penuturan Kosim.


"Ya wajar lah sudah lama nggak ditempati," ujar Mahmud.


"Tapi Mak Ijah tiap hari selalu bersihin katanya nggak sekotor itu, Mas. Ya cuma hari itu saja sih katanya memang belum sempat bersih-bersih," kata Kosim.


"Saya kepikiran mimpi kamu dengan kata Purnama Sim, apa maksudnya ya?" Gumam Mahmud.


"Iya Mas, saya juga nggak ngerti. Makanya saya kesini tuh maksudnya mau menanyakan itu," ujar Kosim.


"Telpon Abah Dul deh suruh kesini barangkali dia bisa mengartikannya." Kata Mahmud.


Mahmud mengemasi perkakas perawatan burung, pakan dan semprotan air buat memandikan burung dimasukkan kedalam satu plastik lalu menenteng sangkar dan digantungkan dibawah atap samping rumah. Kemudian masuk rumah melalui pintu samping melalui dapur untuk mengambil hape.


Baru saja hendak menelpon Abah Dul, dari luar terdengar suara kasak-kusuk Kosim sedanh berbicara dengan seseoranh. Mahmud melongokkan kepalanya melihat ke teras dari balik kaca.


"Itu Abah Dul," gumam Mahmud.


Mahmud mengurungkan niatnya menelpon Abah Dul lalu bergegas keluar kembali ke teras depan, "Barusan mau telpon Bah," ujar Mahmud.


"Ada apa Mud?" Tanya Abah Dul.


"Sim udah cerita belum?" Mahnud malah nanya Kosim.

__ADS_1


"Ya ini lagi mau cerita Mas," jawab Kosim.


Kosim pun kembali menceritakan mimpinya kepada Abah Dul sama seperti menceritakannya pada Mahmud.


Ekspresi Abah Dul pun sama dengan Mahmud, terfokus pada seruan "PURNAMA".


"Purnama.... purnama... purnama..." Abah Dul mengulang-ulang kata itu sambil berpikir keras.


Semuanya terdiam menanti kelanjutan ucapan Abah Dul. 10 detik berlalu Abah Dul masih termangu, 20 detik Abah Dul nampak masih berpikir menerka-nerka arti kata itu.


"Apa artinya ya Bah?" Kosim tidak sabar menunggu penjepasan Abah Dul.


"Sekarang tanggal berapa Mud?" Tanya Abah Dul sekaligus menjawab pertanyaan Kosim.


"Mmm... Tanggal 5 Bah," jawab Mahmud melihat tanggalan di hapenya.


"Kenapa Bah?!" Kosim makin penasaran.


"Kalau misalkan kata Purnama itu, bulan purnama berarti sekitar sepukuh atau sembilan harian lagi munculnya purnama," ucap Abah Dul.


"Terus apa hubungannya Bah?!" sela Mahmud.


"Sangat besar dan tinggi Bah, sampai-sampai wajahnya nggak kelihatan. Saya terduduk itu sebatas mata kakinya," terang Kosim.


Abah Dul mengeruykan dahinya. Raut wajahnya langsung menyiratkan kecemasan.


"Raja Kalas Pati" ucap Abah Dul pelan.


"Siapa Raja Kalas Pati Bah?" Kosim dibuat penasaran.


"Raja Kalas Pati iti raja siluman monyeg Sim," jawab Abah Dul datar.


Abah Dul terdiam dengan seribu macam kekhawatiran dan kecemasan. Dia mengetahui persis seperti apa wujud Raja Kalas Pati bahkan bukan hanya wujudnya kekuatannya pun sudah pernah merasakannya. (*baca episode istana terguncang)


Ingatannya memunculkan kembali peristiwa pertarungan melawan Raja Kalas Pati bersama tiga sahabatnya Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin. Dalam pertarungan itu dirinya dan tiga sahabatnya nyaris meregang nyawa terkena sambaran energinya.


Melihat Abah Dul terdiam dengan wajah penuh kecemasan, Kosim dan Mahmud tidak berani lagi untuk bertanya. Keduanya hanya menunggu Abah Dul berkata.


"Sim, sebaiknya kamu kembali saja disini untuk sementara sampai keadaan benar-benar sudah normal kembali," kata Abah Dul memecah keheningan.


Kosim terdiam tidak langsung memberikan jawaban. Entah mengapa dirinya merasa enggan untuk kembali mengungsi di rumah Mahmud, ada perasaan berat untuk kembali di rumah ini.

__ADS_1


"Ya nanti lihat kondisi disana aja Bah," jawab Kosim.


Mendengar jawaban Kosim mengejutkan Abah Dul dan Mahmud. Wajah keduanya kecewa sepertinya Kosim mengabaikan peringatan dari Abah Dul.


"Sim, ini menyangkut nyawa ente atau istri dan anak ente. Raja Kalas Pati itu memiliki kekuatan yang sangat besar Sim. Kamu ingat malam itu saya dan Gus Harun pernah hampir mati terluka parah itu karena pertarungan melawan Raja Kalas Pati," kata Abah Dul mencoba mengingatkan Kosim.


"Iya Sim, saya khawatir. Setidaknya tunggu sampai tidak ada lagi tuntutan atau teror-teror dari siluman itu," ujar Mahmud.


Kosim terdiam pikirannya bimbang, disatu sisi dia merasa keadaanya baik-baik saja namun disisi lain dirinya merasa khawatir juga dengan nyawa anak dan istrinya.


Kosim belum juga memberikan jawaban pasti apakah dirinya menuruti anjuran Abah Dul dan Mahmud ataukah akan tetap tinggal di rumahnya jauh dari pantauan Abah Dul.


"Maaaas, diajak Kosim dan Abah Dulnya masuk untuk sarapan," seru Dewì dari dalam ruang tengah.


Obrolan pun terputus namun Kosim belum sempat mengiyakan atau menolak mau kembali mengungsi, keputusannya masih menggantung.


Mahmud pun meneruskan seruan istrinya mengajak masuk Kosim dan Abah Dul untuk menyantap sarapan diruang tengah bersama.


Selama menyantap makanan pikiran Kosim terus-menerus dirundung kebimbangan memikirkan pindah atau tidak. Ucapan Abah Dul dan Mahmud diakui sepenuhnya benar semata-mata untuk menjaga dan melindungi dirinya, Arin dan Dede dari tuntutan perjanjian gaib.


......................


Menjelang Magrib Kosim sampai di rumahnya setelah seharian berada di rumah Mahmud. Arin menggendong Dede masuk kedalam rumah sementara Kosim memarkirkan dan mengunci stang sepeda motornya disamping rumah sebelum menyusul masuk.


Dilangit mendung tebal mengiringi waktu pergantian dari siang ke malam hingga mempercepat gelapnya hari. Malam ini nampaknya akan turun hujan lebat jika melihat dari cuacanya.


Selesai melaksanakan sholat Magrib, Kosim melangkah ke ruang tamu sambil menenteng segelas kopi hitam meninggalkan Arin yang masih mengajari Dede mengaji ditempat sholat.


Kosim masih memikirkan keputusannya untuk tidak mengungsi di rumah Mahmud. Ada alasan tersendiri yang membuatnya tidak menuruti anjuran Abah Dul dan kakak iparnya itu. Kosim menganggap kalau mimpinya hanyalah bunga tidur yang tidak perlu dicemaskan.


Namun ada perasaan yang tidak dimengerti dan disadari Kosim jika dirinya seperti berat hati untuk kembali tinggal di rumah Mahmud. Padahal secara sadar dirinya mengakui situasi dan kondisinya masih berada dalam ancaman siluman monyet.


Peringatan untuk pindah mengungsi ke rumah Mahmud tidak diindahkan oleh Kosim. Dia menganggap mimpi tersebut hanyalah sebagai bunga tidur dan itu membuat tertawa senang mahluk gaib yang terus mengintainya.


....................


......................


Selamat akhir pekan, Jangan lupa bahagia sayang...😘😘😘


Aku bahagia bila dirimu meninggalkan jejak😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2