Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Menyerah


__ADS_3

Jauh diatas sana di negeri tak kasat mata istana siluman monyet bergetar hebat. Tiga Petinggi kerajaan yakni monyet berikat kepala merah, biru dan hijau yang sebelumnya diutus Raja Kalas Pati untuk menjemput Kosim dan anaknya melaporkan situasinya dan juga melaporkan apa yang dikatakan Kosim dan Abah Dul.


"Kurang ajar! Baru kali ini ada manusia yang berani minta pengampunan!" teriak Raja Kalas Pati.


Seluruh prajurit monyet siluman terdiam. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, tidak ada yang berani menatap rajanya yang sedang murka.


"Tidak ada alasan pengecualian apapun bagi manusia yang sudah memberikan cap darahnya. Mereka harus mengikuti perjanjiannya!" sambung Kalas Pati.


Wajahnya merah padam, sorot matanya berkilat menyapu tiga Pertinggi yang setengah berdiri bertumpu pada lutut kanan. Pandangannya kemudian diarahkan seluruh prajurit yang tertunduk tak bergeming.


"Ampun junjungan Kami! Manusia bernama Kosim nampaknya akan tetap melakukan perlawanan. Itu terlihat dari tubuhnya memiliki energi berkekuatan besar." kata Monyet besar berikat kepala merah.


"Benar-benar membangkang! Berani sekali Kosim melakukannya. Kita sangat direndahkan oleh manusia itu. Aku yang akan turun langsung!!!" seru Raja Kalas Pati.


"Huhhh! Huuhhh! Huuhh! Huuuhhh!


Suara riuh langsung menggema memenuhi ruang istana Siluman Monyet. Para prajurit seketika mengcung-acungkan senjatanya saling menyerukan dukungan untuk sang Raja.


"Kapan Paduka Raja bikin perhitungan?!" tanya monyet besar berikat kepala merah.


"Tunggu puncak malam purnama mendatang!!!" Seru Raja Kalas Pati.


Suasana kembali riuh oleh teriakan-teriakan para prajuri siluman monyet sambil mengacung-acungkan senjatanya keatas. Sangat menggidikkan pemandangan didalam istana ditambah dengan suara gelegar petir bersahutan diatas luar istana.


......................


Rumah Mahmud,


Kosim tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia langsung bangkit terduduk dan menengok melihat kesekelilingnya. Sesaat dikucek-kuceknya matanya lalu menengok ke jam dinding yang ada diatas tembok belakang televisi.


"Jam 3.30 sebentar lagi subuh." ucap Kosim dalam hati.

__ADS_1


Kosim menengok kesebelah kirinya mendengar suara dengkuran, dilihatnya Mang Ali tertidur pulas. Kemudian pandangannya beralih ke Mahmud, kakak iparnya yang juga masih lelap tertidur dengan posisi tengkurap.


Mata Kosim mencari-cari Abah Dul diruangan tengah itu tapi tidak ditemukannya. Lantas Kosim bangkit bermaksud melihat di ruang tamu barangkali Abah Dul tidur di kursi.


"Abah lagi zikir," gumam Kosim.


Benar saja dilihatnya Abah Dul masih duduk di ruang tamu. Kosim berjalan mendekat lalu duduk di kursi bersebelahan dengan Abah Dul yang nampak masih khusuk berzikir.


Cukup lama Kosim menunggu respon Abah Dul. Ia tak ingin menggangugunya, ia memilih diam menunggu hingga Abah Dul menyelesaikan zikirnya. Pikiran Kosim kembali melayang mengingat-ingat mimpinya tadi hingga membuatnya terjaga dari tidurnya.


"Aneh, langit diatas rumah Mas Mahmud dilingkupi kabut tebal berwarna kelabu kehitaman. Sekedar mimpi bunga tidur atau mimpi ini sebagai bertanda," ucap Kosim dalam hati.


Tapi Kosim merasa mimpi itu seperti benar-benar nyata terjadi. Kosim melihatnya dengan jelas, kabut pekat itu turun dari atas langit perlahan penutupi sekeliling rumah Mahmud hingga rumah itu tak terlihat.


"Ehemm," terdengar suara Abah Dul berdehem.


Kosim kontan menoleh melihat ke Abah Dul. Nampaknya Abah Dul sudah selesai dengan zikirnya atau mungkin sengaja menghentikan zikirnya karena kehadiran dirinya.


"Maaf mengganggu Bah," ucap Kosim pelan.


"Tadi saya terbangun setelah saya mimpi Bah. Aneh sekali, dimimpi itu saya melihat rumah ini diselimuti kabut tebal yang sangat pekat," terang Kosim.


Abah Dul terdiam setelah mendengar penuturan Kosim dengan kening berkerut. Sesaat kemudian Abah Dul terlihat seperti sedang mencoba mereka-reka arti mimpi tersebut.


"Saya belum bisa menafsirkannya Sim. Bisa jadi ini sebagai peringatan bahwa rumah ini berada dalam bahaya atau ancaman," terang Abah Dul.


Kosim pun terdiam, nampaknya ia membenarkan ucapan Abah Dul. Perkiraan Abah Dul sama dengan perkiraan dirinya.


"Menurut ente gimana Sim?" tanya Abah Dul.


"Perkiraan saya sama dengan Abah. Tapi karena mimpi itu datangnya ke saya, bisa jadi saya yang sedang dalam ancaman Bah," ucap Kosim dengan nada cemas.

__ADS_1


"Benar juga Sim. Atau apakah mimpi itu bertanda kalau negosiasi semalam ditolak oleh raja mereka ya?" ujar Abah Dul.


"Jangan-jangan benar begitu Bah," raut Kosim sontak cemas.


"Kalau negosiasi ditolak berarti nggak ada cara lain Bah. Saya..." Kosim terdiam, ia terlihat ragu melanjutkan ucapannya.


Beberapa detik Abah Dul menunggu lanjutan ucapan Kosim namun tak kunjung terdengar. Ia menoleh menatap wajah Kosim penuh tanda tanya.


"Saya apa?!" sergah Abah Dul penasaran.


"Saya menyerahkan diri Bah," ucap Kosim pelan dengan menundulkan kepala.


"Astagfirullah al'adziiim..!" sergah Abah Dul.


"Saya nggak mau orang lain yang akan menjadi korbannya Bah. Ini kesalahan saya, ini akibat perbuatan saya masa harus orang lain yang menjadi korbannya," ucap Kosim dengan nada emosional menyesali perbuatannya.


"Ente jangan begitu Sim. Hargai kakak iparmu, hargai Mang Ali, hargai saya dan sahabat-sahabat saya yang sukarela membantu ente. Ente ingat, ini sudah hari ke-14 atau sudah dua minggu ente masih bisa bertahan," kata Abah Dul mengingatkan.


"Kalau ente menyerah sekarang, berarti pembelaan kita semua tidak ada artinya, Sim. Ente ingat nggak? Baru semalam ustad Baharudin kasih nasihat agar kuat, iya kan?" sambung Abah Dul.


Mendengar ucapan Abah Dul, mata Kosim berkaca-kaca menahan keharuan yang tiba-tiba menyesaki dadanya. Sepenuhnya Kosim membenarkan ucapan Abah Dul, mereka sudah mati-matian mempertaruhkan nyawanya demi hanya untuk memperjuangkan nyawa dirinya dan keluarganya.


Kosim menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tangisnya tumpah, Kosim tersedu-sedu dengan wajah tertutupi oleh kedua telapak tangannya hingga badannya terguncang-guncang.


"Sudah, sudah... Saya mengerti perasaan dan pemikiran ente Sim, tapi sebaiknya dari dalam diri ente sendiri harus yakin bisa menghadapi semua ini. Buang jauh-jauh pikiran soal korban orang lain atau apalah, yang terpenting dari tekadnya kamu harus kuat. Ayo kita berjuang bareng-bareng." ucap Abah Dul hati-hati menyemangati Kosim.


Kosim kian tersedu-sedu dalam tangkupan kedua telapak tangannya mendengar nasihat Abah Dul. Semua ucapan Abah Dul selaksa ribuan jarum menusuk tubuhnya membuatnya tersentak sadar dan kembali membuka hatinya untuk berpikir jernih lagi.


"Sungguh mereka orang-orang baik. Mas Mahmud, Mbak Dewi, Mang Ali, Abah Dul, Gus Harun serta dua sahabat Abah Dul yang belum pernah melihatnya. Ya Allah ampuni hamba.." ucap Kosim dalam batinnya.


Abah Dul membiarkan Kosim terlarut dalam tangisannya. Ia berharap nasihat-nasihatnya dapat membuat hati Kosim menjadi teguh dan bangkit kembali. Semangat hidup adalah bekal utama yang dapat mensugesti segala persoalan.

__ADS_1


Abah Dul memahami betapa hebatnya tekanan batin yang ditanggung Kosim. Bukan soal nyawa anaknya saja yang dipikirkannya melainkan soal kelangsungan rumah tangganya nanti seperti apa ketika Arin sudah mengetahui semuanya.


......................


__ADS_2