Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
CAHAYA MERAH


__ADS_3

Semburat cahaya merah tiba-tiba memancar dari tangan kanan Abah Dul, cahaya merah itu bersinar sangat terang hingga memerahkan dinding-dinding ruang tamu serta wajah Mahmud, ustad Arifin dan Abah Dul.


Seketika Mahmud dan ustad Arifin terbelalak matanya lebar-lebar karena mata batinnya menyaksikan tubuh ular hitam yang melilit tubuh Abah Dul itu seketika itu juga meledak bersamaan dengan muncratnya cahaya merah tersebut.


“Subhanallah!” pekik ustad Arifin takjub disusul suara Mahmud.


Ustad Arifin dan Mahmud melihat ular hitam tersebut meledak hancur menjadi berkeping-keping membentuk pendaran cahaya berwarna kelabu pekat yang memercik kesegala arah seperti kembang api yang meledak di udara.


Ustad Arifin dan Mahmud mengerjap-ngerjapkan matanya lalu mengalihkan pandangannya memperhatikan raut wajah Abah Dul. Wajah Abah Dul yang semula pucat pasi kini sudah nampak rona merahnya dan tampak lebih segar dari sebelumnya ditambah karena bias merah dari benda yang mengambang di tangan kanan Abah Dul.


Ekspresinya menunjukkan ketenangan luar biasa, bukan lagi ekspersi kesakitan seperti beberapa saat yang lalu.


Abah Dul masih duduk bersila dengan tangan kiri terkepal diujung lututnya, sedang tangan kanannya terbuka keatas menopang benda merah sebesar telur angsa. Matanya masih terpejam rapat, dan samar-samar dari mulutnya tedengar untaian zikir yang tak putus-putus;


“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallahu allahu akbar... Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallahu allahu akbar... Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallahu allahu akbar... Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallahu allahu akbar... Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallahu allahu akbar...”


Mahmud dan Ustad Arifin merasa lega dan lebih tenang merasakan keadaannya sudah lebih baik dan nampaknya masa kritisnya sudah terlewati. Kemudian keduanya kompak berucap; “Alhamdulillah...”


......................

__ADS_1


Di dalam pondok kayu di lereng Gunung Ng,


Sebuah kekuatan besar tak kasat mata menghantam tubuh ringkih Ki Suta tiba-tiba hingga terpental ke belekang. Tubuh ringkihnya menghantam dinding kayu dengan keras hingga menggetarkan ponddokkan tersebut. Di tengah kesenyapan dini hari itu sayup-sayup terdengar suara erangan kesakitan dari mulut Ki Suta yang telah melelehkan cairan merah kental.


“Aaaarrggghhh... Kurang ajar!!!” keluh Ki Suta sambil memegangi dadanya.


“Benda apa yang berwarna merah di tangannya itu?!” sambungnya.


Beberapa saat merutuki kondisi dirinya, tiba-tiba Ki Suta meraung keras teringat dengan ular hitam kirimannya yanng telah hancur dan musnah.


“Maafkan aku Dewiiiii...!!!” teriak Ki Suta melengking.


Ki Suta terus meraung-raung penuh penyesalan tanpa mempedulikan sakit pada luka dalam yang parah memikirkan nasib Dewi Ambar Sari. Dewi Ambar Sari adalah ular hitam yang dikirim Ki Suta untuk membunuh Abah Dul dan ular hitam tersebut salah satu senjata kebanggaan Ki Suta yang menjadi andalannya setiap kali mendapat pesanan untuk menyantet orang. prosesnya tak berbeda jauh dengan yang di alami Abah Dul beberapa saat lalu.


Alasannya hanya ingin membuatnya merasakan kesakitan seperti yang telah diperbuatnya pada orang tersebut. Dengan begitu orang yang menyuruhnya itu memiliki dua keuntungan dan kepuasan tersendiri, sebab korbannya tidak sadar akan melakukan upaya pengobatan kemana-mana sehingga lama kelamaan korbannya akan menghabiskan harta bendanya untuk upaya mengobati sakitnya.


Bagi Ki Suta sendiri memiliki keuntungan ganda melakukan pekerjaan tersebut selain mendapatkan bayaran yang tidak sedikit dari orang yang menyuruhnya, jika beruntung secara kebetulan Ki Suta mendapatkan pasien orang yang sakit akibat santet yang ternyata santet itu sendiri tenyata berasal dari santet miliknya.


Saat itulah Ki Suta akan melancarkan aktingnya dengan mengatakan kalau sakitnya tersebut disebabkan oleh santet yang ganas dan mematikan. Saat itulah kerabat yang menjadi korban santet akan memohon-mohon pertolongan pada Ki Suta dengan mengatakan ‘Berapa pun bayaranya!’

__ADS_1


Kalau sudah begitu berarti akting Ki Suta telah berhasil dan Ki Suta pun akan menyebutkan nominal rupiah yang nilainya puluhan juta hingga ratusan juta. Saat keluarga korban santet menyetujuinya, sehari kemudian Ki Suta bersandiwara mengobati korban santet tersebut. Dia akan membuat situasinya terlihat mengerikan seolah-olah bertarung melawan santet yang sangat berat. Padahal santet tersebut milik Ki Suta sendiri, dia tinggal menariknya kembali saja sudah beres, namun jika sesimpel dan segampang itu dalam prosesnya pastinya akan mempengaruhi imej kesaktiannya sekaligus mengurangi harga upahnya.


Sangat keji dan tak berperikemanusiaan memang pekerjaan seperti yang Ki Suta lakukan. Selain menindas, dia juga membohongi orang yang sedang kesusahan yang sedang membutuhkan pertolongan.


Di jaman sekarang memang sangat sulit menemukan dukun atau pun paranormal yang benar-benar ikhlas tanpa pamrih membantu orang yang membutuhkan bantuannya jika bukan karena iming-iming bayaran. Bahkan bukan sulit lagi menemukannya, namun juga tidak ada yang cukup ikhlas menerima upahnya dengan ucapan terima kasih saja atau di beri makan dan rokok saja.


Ki Suta bersandar lemah pada dinding kayu ruangan pondokkan. Nafasnya nampak berat tersengal- sengal sambil menahan sakit di dadanya yang membuat nafasnya sesak. Ki Suta benar-benar tidak menduga akan berakhir seperti itu dan juga harus kehilangan Dewi Ambar Sari. Selama ini Ki Suta tidak pernah gagal setiap kali melancarkan ilmu santetnya, akan tetapi kali ini dia benar-benar dibuat sangat terpukul dan harus kehilangan senjata utamanya.


Ki Suta merasa beruntung hantaman yang menewaskan ular hitam raksasa tersebut tidak teralalu berefek berat padanya. Ia menyeringai penuh kesombongan dengan tatapan licik menengadah melihat langit-langit kayu yang remang-remang di gelapnya suasana dini hari.


Ki Suta berniat berdiri melangkah keluar dari pondokkan untuk membasuh mukanya yang dipenuhi bercak-bercak noda darah. Namun baru saja dia setengah berdiri, tiba-tiba selarik cahaya kilatan putih muncul dari arah depannya. Cahaya itu meluncur deras mengarah dada Ki Suta nampak posisinya seperti sebilah pedang yang bergerak menusuk.


Mata Ki Suta membelalak lebar-lebar, naluri seorang yang menguasai ilmu silat langsung bereaksi secara reflek. Ki Suta secepatnya menjatuhkan kembali tubuhnya di lantai kayu, kilatan cahaya menyerupai pedang itu melintas diatas kepala Ki Suta hanya beberapa centi meter saja.


Wuuusssshhh...!!!


Hawa panas seketika keluar dari kilatan cahaya itu dan menyebar memenuhi ruangan pondokkan. Ki Suta terkesiap, wajahnya menegang setelah melihat dan merasakan kilatan cahaya itu lewat di matanya hingga membuat matanya silau dan merasakan gelap seketika.


Cahaya yang menyerupai pedang itu lenyap sekonyong-konyong tembus keluar pondokkan. Sejenak Ki Suta menghembuskan nafas berat setelah merasa berhasil menghindari bahaya. Wajah Ki Suta di basahi oleh keringat dingin yang bercucuran dari kepalanya. Dadanya berdegup semakin kencang sehingga menambah kian sakit dan sesak dadanya. Ki Suta terbatuk-batuk menahan sesak di dadanya sambil berusaha menstabilkan posisi duduknya dengan tetap waspada melihat sekelilingnya.

__ADS_1


Belum juga merasa tenang dan nyaman, Ki Suta kembali di buat terbelalak. Kini di hadapannya berdiri sosok setinggi dua meteran sedang menggenggam pedang besar sambil menatap tajam dirinya.


......................


__ADS_2