Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
JANDA MUDA


__ADS_3

Sore hari menjelang magrib, seorang pemuda berusia 30 tahunan duduk termenung diatas tanggul sungai. Tatapan matanya menerawang jauh ketepi diseberang sungai yang hanya terlihat rerumputan ilalang. Sesekali tangannya melemparkan kerikil sejauh-jauhnya ketengah sungai menimbulkan riak-riak kecil diatas permukaan airnya.


Bibirnya kadang sesekali tersungging senyuman atau lebih mirip seringaian manakala teringat akan perkataan dan perlakuan Arin yang sangat menyakitkan hatinya terhadap dirinya. Dari sorot matanya tersirat dendam yang sangat mendalam mengingat kejadian diluar perkiraannya itu.


“Lepaskan Komar!” seru Arin berusaha melepaskan cengkeraman pada tangannya yang membawa kantong kresek belanjaan sayuran.


“Ayolah Rin, sebentar saja...” ucap Komar merajuk.


“Apaan sih! Lepaskan nggak atau saya teriak?!” sentak Arin marah mengibaskan tangannya keras-keras.


“Sebentar saja main ke rumahku, ayolah...” Komar terus merayu Arin sambil terus menahan upaya Arin yang berontak berusaha melepaskan pegangan pada tangannya.


“Najis! Tidak sudi! Cuih...” Arin tak dapat menahan kekesalannya hingga pada puncak amarahnya dia meludahi Komar.


Pemuda itu terperangah tidak menyangka Arin akan meludahinya. Komar spontan meraba mukanya yang diludahi Arin barulah cegkeramannya pada lengan Arin lepas. Wajahnya merah padam membesi harga dirinya berontak, tatapan matanya kian nyalang memandang Arin yang cepat-cepat melangkah pergi meninggalkannya.


"Awas kamu Rin! Aku akan buat kamu merengek-rengek minta di kamin, hahahaha..." teriak Komar keras-keras. Suaranya menggema disekitar tanggul sungai yang sepi.


Status janda muda yang disandang Arin sangat menggoda Komar, pemuda satu desa sekaligus teman sekolah SD nya. Komar secara intens berusaha mendekati Arin setelah mengetahui statusnya janda setelah ditinggal mati Kosim. Penampilan Arin yang masih terlihat muda dan cantik mulai banyak dilirik para kaum lelaki disekitar desanya maupun di desa kakanya, Sukadami.


Salah satunya Komar yang tak mau kalah bersaing dengan pemuda-pemuda lainnya tetapi sayangnya cara pendekatan yang dilakukan Komar tidak membuat simpatik Arin. Rasa sukanya terhadap Arin hanya terdorong oleh kalimat “JANDA” sehingga upaya yang dilakukannya bukan dari hati melainkan hanyalah ekapresi nafsu birahinya saja. Akibatnya boro-boro membuat Arin menaruh hati, justru si janda muda beranak satu itu malah merasa ketakutan.


......................


Malam ini bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, udaranya terasa lembab dan gerah. Didalam ruang tamu rumah Mahmud, Abah Dul terlihat sangat gelisah. Ia sesekali mengipas-ngipaskan koran ke badannya.


"Panas banget malam ini Mud," ucap Abah Dul sambil mengibaskan koran di tangannya.


"Iya ya Bah, padahal sudah jam 12 malam. Nggak biasanya," timpal Mahmud.


"Ya udah deh saya pulang aja Mud, lagian matabya sudah berat. Ngantuk banget," ujar Abah Dul.


"Iya deh, Bah..." ucap Mahmud.


Selepas jam 12 malam lewat sedikit Abah Dul pun pamitan pulang pada Mahmud karena tak kuat menahan kantuknya dan merasakan tidak nyaman karena kegerahan. Setelah mengantarkan Abah Dul hingga di teras, Mahmud pun langsung masuk kembali dan mengunci pintunya. Kemudian Mahmud melangkah menuju kamarnya, namun saat melintas didepan kamar Arin tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Raut wajah Mahmud keheranan, dirinya mendengar sayup-sayup suara seperti suara Arin sedang berbicara.


Mahmud mendekatkan telinganya pada pintu kamar Arin, ia pertajam pendengarannya. Wajahnya kian menggurat heran diliputi tanda tanya didalam hatinya.


"Arin berbicara dengan siapa? Atau apakah dia hanya mengigau?" gumam Mahmud dalam hati.

__ADS_1


Mahmud kian penasaran, kemudian dia mencari celah untuk mengintip kedalam kamar untuk mencari tahu apa yang ada didalam kamar. Sejenak ia memeriksa jendela kamar namun tak ada celah, kemudian ia mendongak keatas melihat celah angin-angin diatas jendela. Mahmud pun bergegas mengambil kursi plastik yang ada di ruang tamu hendak melihat kedalam kamar dari celah itu. Pelan-pelan Mahmud naik keatas kursi plastik, dia mulai melihat kedalam kamar namun sosok Arin tidak dapat terlihat karena sudut pandangnya terbatas.


"Mas Komaaaar.... saya sangat rinduuuu.... saya ingin bertemu maaaas..." suara Arin ,lirih kembali terdengar dari dalam kamar.


Mahmud kian penasaran, lalu ia turun dari kursi dan kembali mencari celah untuk dapat melihat apa yang terjadi di dalam kamar Arin. Mahmud terdiam didepan pintu, ia ragu-ragu apakah dibuka saja pintu kamar itu atau mengintipnya dulu. Saat itulah matanya tak sengaja melihat lubang kunci pada pintu itu.


“Mas Komar... aku ingin bersamamu... Mas Komaaar...” suara lirih dari dalam kamar membuat Mahmud bergegas untuk mengintipnya dari lobang kunci.


Mahmud membukukkan sedikit badannya, dengan sebelah matanya Mahmud mulai dapat melihat suasana didalam kamar. Didalam kamar, Arin nampak sedang duduk di bibir dipan dengan wajah sedikit mendongak. Tatapannya menerawang kosong, tangannya bergerak melambai-lambai dibarengi dengan suaranya yang terus meracau seolah-olah sedang memanggil seseorang. Mendadak raut wajah Mahmud terhenyak seketika melihat tingkah laku adik iparnya yang tak wajar itu. Mahmud menyudahi mengintipnya, ia tertegun sejenak berdiri didepan pintu kamar. Mahmud bingung apa yang harus dilakukannya.


“Apa bangunin Dewi aja ya. Kalau kasih tau Abah Dul, nggak enak mungkin dia sudah tidur,” gumam Mahmud dalam hati.


Mahmud pun mengambil keputusan untuk membangunkan istrinya saja untuk membuka pintu kamar Arin. Kalau dirinya yang membuka langsung khawatir akan menimbulkan fitnah jika didalam terjadi keributan. Saat Mahmud hendak menyentuh hendel pintu kamar, tiba-tiba sebuah suara terdengar jelas didekat telinganya.


“Mas Mahmud, Arin dalam bahaya...”


Mahmud spontan menoleh kekanan dimana suara itu terdengar seperti sangat dekat. Namun pandangan matanya tidak menemukan siapa-siapa. Mahmud menoleh kesamping kirinya namun juga sama saja tak menemukan siapa pun. Seketika Mahmud tertegun dia seperti baru tersadar, dirinya teringat kalau suara itu seperti tidak asing lagi di telinganya.


“Suara itu seperti suara Kosim...” gumamnya.


Mahmud semakin yakin kalau suara itu datang dari Kosim, mengingat beberapa malam sebelumnya Kosim juga muncul saat dirinya sedang duduk sendirian di teras depan. Meskipun saat itu Kosim hanya diam saja.


“Cepat sadarkan Arin Mas...” ucap suara tanpa rupa itu lagi.


“Wi, wi... bangun,” ucap Mahmud pelan sambil mengguncang-guncangkan tubuh istrinya.


“Mmmmhhh... Mas,” sahut Dewi sesaat lalu merubah posisinya miring membelakangi Mahmud yang berdiri dipinggir dipan.


“Wi... bangun...” ucap Mahmud lebih keras sambil terus menggugah tubuh Dewi dengan perasaan gemas karena Dewi kembali tertidur.


“Mmhhh... ada apa mas?” sahut Dewi malas-malasan dengan mata masih terpejam.


“Arin Wi, Arin...” bisik Mahmud menekankan nada suaranya.


Dewi langsung terlonjak duduk begitu Mahmud mengatakan soal Arin.


“Arin? Kenapa dengan Arin Mas?” ujar Dewi sembari membenahi rambutnya lalu menguncirnya.


“Ayo!” seru Mahmud memegang lengan Dewi mengajaknya keluar.

__ADS_1


Dewi menurut saja ketika Mahmud menarik tangannya menuju kamar Arin yang bersebelahan dengan kamarnya.


“Coba kamu intip dari lubang kunci ini Wi,” kata Mahmud begitu sampai didepan pintu kamar Arin.


Dengan wajah penuh tanda tanya tak mengerti maksud suaminya Dewi menuruti saja. Dewi membungkukkan badannya lalu dengan sebelah mata dia mulai melihatnya kedalam kamar melalui lubang kunci.


“Astagfirullah al’azim!” pekik Dewi setelah melihat pemandangan yang sama dengan apa yang dilihat Mahmud.


Seketika dewi langsung meraih hendel pintu kamar Arin dan membukanya.


Kreoootttt...


Dewi terperangah mendapati adiknya sedang meracau dan menggapai-gapai dengan menyebut-nyebut nama seseorang membelakangi Dede yang tertidur pulas. Dewi langsung memeluk Arin namun Arin berontak berusaha mendorong tubuh Dewi.


“Bacakan surat Al Falaq Mas lalu tiupkan di ubun-ubun Arin, cepat!” suara tanpa rupa kembali terdengar didekat dengan telinga Mahmud.


Tanpa berpikir dua kali Mahmud langsung melakukan seperti yang disarankan suara tanpa rupa itu. Mahmud perlahan membaca surat Al Falaq, setelah selesai membaca ayat pendek itu Mahmud mendekat ke belakang Arin naik keatas kasur lalu meniupkannya di ubun-ubun Arin yang sedang meronta-ronta didekapan Dewi. Tak lama kemudian setelah Mahmud meniupkan ayat-ayat Al Quran di ubun-ubun itu tubuh Arin langdung menggelosoh lunglai dalam dekapan Dewi.


Kedua mata Dewi berkaca-kaca mendekap tubuh adiknya erat-erat. Beragam tanda tanya memenuhi isi kepalanya.


“Kenapa dengan Arin mas?” tanya Dewi dengan suara lirih.


“Saya tidak tau Wi,” ucap Mahmud duduk mematung diatas kasur.


Dewi kemudian merebahkan tubuh Arin yang tampak tidak sadarkan diri dengan mata terpejam. Dewi menatap nanar wajah adiknya, air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya.


“Percikkan air disekujur tubunya yang dibacakan dengan surat Alfatihah, mas...”


Mahmud terkesiap seketika suara itu kembali terdengar sangat dekat di telinganya. Dia bergegas keluar dari kamar untuk mengambil air. Tak lama kemudian Mahmud sudah kembali kedalam kamar dengan membawa segelas besar air putih. Kemudian Mahmud melantunkan surat Alfatihah dengan hidmat, setelah selesai ia meniupkannya pada air didalam gelas itu. Lalu Mahmud menuangkan air putih itu ke telapak tangannya sedikit demi sedikit dan menyiprat-nyipratkannya ke tubuh Arin mulai dari kepala hingga ujung kaki.


“Matur suwun Mas...” ucap suara tanpa rupa kembali terdengar di telinga Mahmud.


Mahmud kembali celingukkan menoleh kekanan dan kekiri mencari sumber suara namun tidak ditrmukannya.


“Ada apa Mas?” tanya Dewi heran melihat Mahmud seperti sedang mencari sesuatu.


“Saya mendengar suara Wi, kamu denger nggak?” ucap Mahmud.


“Suara? Saya nggak dengar apa-apa Mas,” timpal Dewi.

__ADS_1


“Suaranya mirip dengan suara Kosim,” ucap Mahmud.


......................


__ADS_2