
Dalam satu dimensi sukma Abah Dul dapat melihat Kosim yang sudah menjadi mahluk golongan Kajiman, lalu mengajaknya untuk sama-sama mengejar sepasukkan monyet siluman yang telah membawa nyawa Dede.
Tanpa bertanya lagi karena Kosim sendiri sudah menyaksikkannya langsung bagaimana putranya itu di jemput oleh pasukan monyet siluman. Dengan tatapan dingin dan sorot mata menggidikkan, Kosim mengikuti sukma Abah Dul yang melesat ke arah selatan.
Dalam sekejap dua sinar putih melesat cepat melayang dan menyeruak diantara kehampaan alam yang temaram di penuhi kabut-kabut putih bertebaran di sekelilingnya.
Beberqpa saat setelah melesat, dalam jarak pandang dari sukma Abah Dul dan Kosim keduanya melihat di kejauhan sepasukkan sedang bergerak cepat menuju sebuah bangunan yang nampak berdiri megah diselimuti kabut kelabu disekitarnya.
Tiba-tiba sukma Abah Dul berhenti sambil menahan laju Kosim di belakangnya.
“Tunggu Sim!” seru sukma Abah Dul merentangkan tangannya dengan raut wajah terperangah.
“Kenapa Bah?!” sergah Kosim penuh amarah.
“Kita terlambat Sim! Lihat di depan sana,” ujar Sukma Abah Dul menunjuk lurus ke depan.
“Itu istana Raja Kalas Pati! Kita terlambat Sim! Pasukan monyet yang membawa nyawa Dede sudah masuk ke istana!” nada suara sukma Abah Dul tertekan gusar.
“Memang kenapa kalau itu istana Raja Kalas Pati?!” sahut Kosim dengan nada tinggi.
“Ingat Sim, kekuatan Kalas Pati itu sangat luar biasa besar! Ane dan Gus Harun pun tidak sanggup menghadapinya!” sentak sukma Abah Dul.
“Saya tidak takut!” sergah Kosim kemudian melesat melayang menuju Istana kerajaan siluman monyet di depannya.
“Sim! Tungg...” Cegah sukma Abah Dul namun terlambat Kosim sudah lebih dulu melesat menonggalkannya.
Sukma Abah Dul hanya menatap nanar menyaksikan selarik cahaya melesat menuju istana. Sukma Abah Dul terduduk berlutut dengan bertopang pada kedua lututnya menatap cahaya Kosim itu, ia bimbang antara meneruskan atau kembali untuk mencari bantuan lebih dulu. Ia berpikir sejenak, jika dirinya ikut menerobos istana sekarang, yang ada hanya akan menjadi bulan-bulanan Raja Kalas Pati. Abah Dul sudah merasakannya sendiri bagaimana senjata-senjata pusaka gaibnya beserta sahabat-sahabatnya tidak mampu menyentuh sedikit pun tubuh Raja Siluman Monyet itu.
Setelah lama terdiam dengan pergolakkan batinnya, akhirnya sukma Abah Dul memutuskan untuk tidak menyusul Kosim. Ia kembali untuk meminta bantuan sahabat-sahabatnya terlebih dahulu.
__ADS_1
.....................
Tubuh Abah Dul seketika terhentak begitu sukmanya kembali masuk ke dalam raga. Seketika itu juga Abah Dul merasakan pakaiannya telah basah oleh keringat yang mengucur deras di tubuhnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya, wajahnya terkesiap melihat sekeliling dalam kamar itu dalam keadaan kosong. Di dalam kamar nampak sepi tidak ada isak tangis Arin dan Dewi, tidak ada Mahmud yang sebelumnya terlihat berdiri terpaku di tengah pintu.
Lalu pandangan mata Abah Dul terpaku pada seorang pria paruh baya yang duduk di samping kanannya.
“Ustad Arifin ada disini?!” tanya Abah Dul terkejut.
“Iya Bah, saya diminta tolong oleh Mahmud, untuk menjaga raga Abah,” ujar ustad Arifin.
“Sekarang Mahmud dan yang lainnya pada kemana ustad?!” tanya Abah Dul celingukkan.
“Mahmud membawa Dede ke rumah sakit bah. Arin dan Dewi ikut kesana, gimana Bah apakah berhasil mengejar siluman-siluman itu?!” ustad Arifin balik tanya.
Sebelumnya Mahmud sudah menceritakan tentang keadaan di rumahnya saat datang meminta tolong. Ustad Arifin turut penasaran dan berharap dapat membantunya.
“Gagal ustad, mereka sudah lebih dulu memasuki istananya. Saya mau minta bantuan sahabat-sahabat saya dulu ustad. Ayo kita pindah ke ruang tengah saja,” ujar Abah Dul.
......................
Sementara itu di Alam Gaib,
Kosim melesat berusaha menyusul rombongan pasukan siluman monyet penjemput tumbal sebelum mereka memasuki istana. Tetapi sayangnya Kosim yang berada di belakang iring-iringan pasukan itu jaraknya terpaut 1 km sehingga ia tidak keburu untuk menghadangnya. Pasukan penjemput tumbal itu sudah lebih dulu memasuki gerbang emas istana Raja Siluman Monyet yang menjulang tinggi.
Kosim berhenti di depan gerbang tinggi berwarna emas. Pandangannya tak bisa melihat putranya yang sedang di bawa masuk ke dalam istana. Kosim berdiri tepaku di depan gerbang besar dan tinggi itu. Sorot matanya penuh kemarahan yang meledak-ledak. Lantas ia mencoba melayang keatas untuk melewati pagar emas itu, akan tetapi saat dirinya berada tepat diatas pagar emas tiba-tiba tubuhnya terpental jauh diiringi suara dentuman keras menggema diseantero alam gaib.
Duaaaarrrrr!
Tubuh kabut Kosim melayang terpental menjauh dari gerbang istana sejauh 500 meter. Kosim tersungkur sambil memegangi dadanya. Tidak ada setetes darah yang keluar, namun ia masih merasakan sakit mendapat hantaman tersebut. Dengan susah payah Kosim bangkit berdiri, dadanya terasa sesak dan tubuh kabutnya serasa telah hancur.
__ADS_1
Belum habis rasa terkejutnya dan belum hilang rasa sakit yang di deritanya, secara tiba-tiba muncul di hadapan Kosim sosok monyet bertubuh besar dengan ikat kepala warna merah melingkar di kepalanya. Tangan kanan monyet itu menggenggam sebilah pedang besar menatap tajam Kosim penuh kebengisan.
“Kajiman?!” seru monyet besar itu tersentak begitu menatap lekat-lekat sosok kabut berbentuk manusia di hadapannya.
“Hahahhaha... rupanya mahluk ini yang sedang di buru junjungan Raja Kalas Pati!” monyet besar itu terbahak-bahak setelah mengetahui dengan jelas sosok di hadapannya.
Kemudian monyet besar berikat kepala merah itu berteriak keras melengking hingga suaranya menggaung di seantero langit alam gaib.
“Huuuuukkkkk... huuuuukkkk... huuuuukkk...!”
“Hahahahaha... berarti tugasku mencarimu akan selesai. Sebentar lagi pasukanku akan datang, Hahahahaha....!”
Suara tertawa terbahak-bahak kembali menggema di langit. Kosim tersurut mundur tiga langkah kebelakang.
“Apakah sebaiknya saya lari atau melawan siluman minyet ini,” Kosim menimbang-nimbang apa yang harus di lakukannya.
Tiba-tiba Kosim melesat menerjang monyet besar di depannya tanpa senjata apapun. Kosim mengepalkan tangan kananya dengan tubuh kabutnya terlihat bergetar merangsak melakukan pukulan mengarah pada kepala monyet besar.
Gerakkan Kosim yang melesat secara tiba-tiba membuat monyet besar itu tidak sempat melakukan gerakan menghindar. Namun dengan reflek tangan yang memegang pedang besar di palangkan di depan wajahnya untuk melindungi kepalanya.
Duaarrrrr...!
Suara benturan dua kekuatan besar terdengar menggema di langit. Tubuh Kosim kembali terpental jauh melenting ke belakang, sedangkan monyet besar tubuhnya hanya terdorong mundur dua langkah.
Kosim terjerembab untuk kedua kalinya. Rasa sakitnya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya, ia memegangi dadanya dengan tangan kirinya sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang terasa kesemutan dengan sakit yang tiada tara.
Saat Kosim masih mencoba untuk bangkit, tiba-tiba deru angin datang menerpa tubuh kabutnya. Kosim mendongak untuk melihat apa yang ada di depannya.
Kosim terbelalak! Dalam jarak pandang 50 meter di depannya, ia melihat sepasukan monyet lengkap dengan pakaian perang dan beragam senjata teracung bermunculan di belakang monyet besar yang baru saja di lawannya.
__ADS_1
“Saya harus kabur!”
......................