Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PERSIAPAN 2


__ADS_3

Tiba- tiba sebuah suara yang tidak asing di telinga Mahmud, Abah Dul dan Gus harun terdengar di ruangan tersebut. Suaranya terdengar begitu dekat seolah- olah orang yang mengucapkannya itu berada di samping mereka.


“Wa alaikum salam…” jawab Gus Harun dan yang lain secara bersamaan.


Satu sosok berupa siluet muncul samar- samar membentuk sosok manusia berdiri dibelakang Abah Dul. Lama kelamaan sosok siluet tersebut terlihat dengan jelas dan memadat membentuk sosok manusia yang sudah tak asing lagi.


“Kosim,” seru Mahmud menoleh kebelakang Abah Dul.


“Kosim,” gumam Abah Dul lalu membalikkan badan.


“Kang Kosim?” Gus Harun ikut membalikkan badannya.


Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud langsung menggeser duduknya membuat lingkaran lebih besar untuk memberikan tempat bagi Kosim dan tuan Denta.


“Monggo, monggo duduk kang Kosim, tuan Denta,” kata Gus Harun mempersilahkan keduanya.


Tuan Denta dan Kosim langsung mengambil tempat duduk ditengah diantara Abah Dul dan Gus harun, sementara tuan Denta duduk ditengah antara Mahmud dan Gus Harun. Kedua mahluk tak kasat tersebut kini sudah membentuk wujud manusia secara utuh dan dapat dilihat dengan mata biasa.


“Punten, apakah dua orang dihadapan saya ini yang bernama ustad Basyari dan ustad Baharudin?” tanya Kosim


santun sembari menunjuk kearah Basyari dan Baharudi dengan ibu jarinya.


“Oh njih kang Kosim, saya Basyari,” balas Basyari sambil menangkupkan kedua telapak tangan didepan


dadanya.


“Betul kang, saya Baharudin,” susul Baharudin juga menangkupkan kedua telapak tangan didepan dadanya.


“Saya atas nama pribadi dan keluarga memohon maaf telah melibatkan sampean- sampean, sekaligus mengucapkan banyak- banyak terima kasih ustad,” ucap Kosim menangkupkan kedua telapak tangan didepan dadanya.


“Iya kang Kosim, ketika sahabat- sahabat kami membutuhkan bantuan insya allah kami akan selalu siap membantunya dengan segenap jiwa raga. Bagaimana pun juga kang Kosim salah satu orang yang patut di tolong semampu kami kang,” balas Basyari.


“Benar kang Kosim, apalagi Gus Harun dan Dul yang meminta bantuan kami langsung. Tentunya dua sahabat kami sedang menghadapi masalah besar dan kami dengan sebisa mungkin pasti akan membantunya,” susul Baharudin.

__ADS_1


“Sekali lagi terima kasih banyak ustad Basyari dan ustad Baharudin. Saya merasa menyesal dengan apa yang pernah saya lakukan semasa masih hidup sehingga keadaannya menjadi seperti ini. Selain itu saya tidak menyadari kalau saya masih dikelilingi orang- orang baik dan soleh yang berada disekeliling saya. Dulu saya merasa hidup sendirian, sehingga harus menanggung semua persoalan dan menanggung beban pikiran sendirian,” ucap Kosim tertunduk.


“Sudah, sudah kang Kosim. Ini semua sudah menjadi ketentuan Gusti Allah, takdir Gusti Allah tidak ada yang bisa mengubah atau pun mengetahui sebelum semuanya terjadi,” balas Basyari.


“Njih ustad, saya pun sudah menerima takdir saya seperti ini. Menjadi roh gentayangan yang tidak diterima


oleh bumi,” ucap Kosim lirih.


“Bukan tidak diterima bumi kang Kosim, akan tetapi akibat dari rasa yang belum tersampaikan ketika meninggal membuat arwah kang Kosim menjadi penasaran. Ingat Gusti Allah itu bersifat magfiroh, maha pengampun. Insya allah setelah ini kami akan membantu kang Kosim menyempurnakan arwah kang Kosim agar berada di tempat yang semestinya yakni di alam kubur,” ucap Baharudin.


Kosim terdiam beberapa saat mencerna ucapan Baharudin. Dirinya membenarkan ucapan tersebut sepenuhnya kalau dirinya memang masih memiliki keinginan yang belum sempat terwujudkan. Dan  saat kematian itu datang arwahnya seolah- olah berontak sehingga tak dapat masuk ke alam kubur yang membuat arwahnya


gentayangan.


“Jam berapa sekarang?!” tiba- tiba Kosim bertanya seakan baru tersadar.


“Jam dua belas kurang lima belas menit, Sim” sahut Abah Dul menoleh kearah Kosim disebelahnya.


Abah Dul melihat raut wajah Kosim telah berubah yang semula terlihat tenang dan biasa- biasa saja, kini nampak


“Bagaimana Gus, apakah ada perubahan rencana strategi penyerangannya?” tanya Kosim serius.


“Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya kang Kosim, rencana strategi penjemputan arwah putra


sampean tidak ada yang berubah. Bagaimana dengan sahabat- sahabat dari golongan Kaziman kang, apakah sudah siap?” kata Gus harun balik tanya.


“Insya allah, kami sudah siap Gus, mereka semua sudah bergabung dengan pasukkan yang dibawa tuan Denta,”


jawab Kosim sambil menunjuk tuan Denta dengan ibu jarinya.


Untuk kedua kalinya Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta Mahmud seketika mendongak keatas. Mereka melihat banyak sekali mahluk- mahluk tak kasat mata berbaris rapi, jumlahnya sekarang bertambah menjadi dua kali lipat. Pasukan Kaziman yang dibawa Kosim dan pasukan yang dibawa tuan Denta nampak seperti hamparan rumput gajah yang membentuk barisan dengan rapih.


Mahmud dibuat merinding melihat banyaknya mahluk dari alam lain yang berkumpul membentuk spasukkan yang siap berperang. Sementara Gus Harun, Abah Dul, Basyari serta Baharudin dibuat takjub dengan pasukkan

__ADS_1


tersebut.


“Apakah seluruh pasukan tuan Denta dan Kang Kosim sudah diberitahu tugas- tugasnya?” tanya Gus Harun.


“Inysa allah sudah tuan,” sahut tuan Denta.


“Iya pasukkan Kaziman juga sudah Gus,” timpal Kosim.


“Baiklah, mari kita menyiapkan diri masing- masing,” ucap Gus harun.


“kalau begitu saya menunggu bersama pasukkan diatas tuan,” sergah tuan Denta.


“Saya juga Gus, bergabung duluan bersama yang lain diatas sana,” timpal Kosim.


“Njih, monggo… silahkan,” balas Gus Harun.


Seketika tuan Denta melesat cepat keatas menembus plafon rumah Mahmud dan  menghilang, lalu


disusul Kosim juga melesat keatas membentuk siluet dan menghilang dibalik plafon rumah Mahmud.


“Mari kita mempersiapkan semua alat- alat pertempuran kita masing- masing,” ucap Gus Harun.


“Njih Gus,” sahut mereka bersamaan.


Gus Harun, Abah Dul, Baharudin, Basyari dan Mahmud perlahan- lahan mulai berkonsentrasi memejamkan kedua mata. Mulutnya nampak komat- kamit membaca amalan masing- masing.


Beberapa saat kemudian cahaya kuning keemasan muncul ditangan Gus Harun yang teracung keatas. Perlahan- lahan cahaya keemasan itu membentuk seutas tali panjang yang melingkar bergulung- gulung di lengan Gus


Harun. Pancaran cahaya keemasan itu keluar dari pamor sebuah senjata pusaka bernama cambuk amal rosuli.


Kilauan cahayanya dapat dirasakan oleh Abah Dul,  Baharudin, Basyari dan Mahmud meski pun dalam


posisi mata terpejam. Begitupun dengan aura enerji kekuatan dari pusaka Cambuk Amal Rosuli begitu dirasakan tekanannya oleh keempat rekan Gus Harun.

__ADS_1


Tak lama kemudian kilauan cahaya putih juga muncul di dalam ruangan tengah tersebut. Cahaya itu berasal dari ujung tangan Abah Dul yang membuat ruangan menjadi semakin terang benderang oleh kilauan perpaduan dua cahaya berwarna keemasan dan warna putih. Cahaya putih di tangan Abah Dul perlahan memanjang membentuk sebuah senjata trisula. Aura energi kekuatannya tak beda jauh dengan pusaka Cambuk Amal Rosuli yang berada ditangan Gus Harun.** BERSAMBUNG


__ADS_2