Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
HARI PENENTUAN 7


__ADS_3

Di dalam dasar liang lahat, Mahmud berusaha duduk bersila ditengah lubang bekas jasad Dede dikubur. Mahmud membaringkan jasad Dede di pangkuannya, lalu mencoba menghubungi Gus Harun dan Abah Dul yang masih berada di alam siluman monyet melalui batin.


DI ALAM SILUMAN MONYET,


Di saat yang sama suara gemuruh halilintar dan kilatan- kilatan petir menjalar di atas istana emas Raja Kalas Pati. Awan gelap bergulung- gulung pekat menyelimuti peperangan antara pasukan jin bersama pasukan Kajiman melawan prajuit- prajurit siluman monyet. Suara menderu- deru dari pergerakkan kedua belah pihak berbaur riuh dengan suara- suara dentingan saling beradunya beragam senjata- senjata tajam.


Prajurit- prajurit siluman monyet seakan tak pernah ada habisnya, meskipun sudah banyak dari mereka musnah ditangan pasukan jin dan pasukan Kajiman. Dari dalam istana para prajurit siluman monyet terus merangsak menerjang kearah pasukan jin dan Kajiman dari berbagai arah dan sisi. Ada yang terbang menyerang dari atas, dari sisi kanan, sisi kiri maupun depan.


Pasukkan jin dan pasukan Kajiman sempat terdesak akibat kalah jumlah dari prajurit siluman monyet yang berkali- kali lipat lebih


banyak. Melihat siatuasi yang mulai tak berimbang, masing- masing komandan


pasukan dari pasukan jin dan pasukan Kajiman segera memberitahukan pimpinan mereka masing- masing. Pasukan jin menyampaikan situasinya kepada tuan Denta sedangkan pasukan Kajiman menyampaikan kondisinya kepada Raja Kajiman.


Sementara itu di dalam istana di sebuah lorong dimana Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, tuan Denta, Kosim serta Raja Kajiman yang sedang dalam perjalanan keluar dari lorong ruang tahanan istana dengan membawa arwah putra Kosim berjalan dengan sangat hati- hati.


Mereka berupaya menghindari bentrokkan sebab tujuan utamanya bukan untuk memusnahkan siluman monyet, akan tetapi tujuan yang sebenarnya hanyalah menyelamatkan arwah putra Kosim dan membawanya pulang. Saat ini tujuan


utamanya sudah tercapai, tinggal satu tahap lagi rencananya akan berhasil yakni membawa keluar dan pulang membawa arwah anaknya Kosim.


“Tuan Denta, pasukan kita saaat ini sedang dalam keadaan terdesak, jumlah musuh terlalu banyak. Apa yang harus dilakukan oleh pasukan kita?” tiba- tiba tuan Denta menghentikan langkahnya saat mendengar suara dari wakil pasukkan mealalui telepati.


“Tuan Raja, pasukan kita saaat ini sedang terdesak, jumlah musuh terlalu banyak. Apa yang harus dilakukan oleh pasukan kita?” nyaris bersamaan Raja kajiman pun mendapatkan pesan telepati dari wakil pasukan Kajiman.


Sebelum raja Kajiman menyampaikan kabar buruk tersebut kepada Gus Harun dan yang lainnya, tuan Denta sudah lebih dulu melesat kearah depan mendahului Baharudin, Basyari, abah Dul dan berhenti tepat didepan Gus Harun.  Raja Kajiman pun mengurungkan niatnya


menyampaikan berita tersebut.


“Tuan, maaf. Keadaan di luar istana saat ini dalam keadaan kacau diluar dari perkiraan dan tidak sesuai dengan strategi yang tuan rencanakan!” kata tuan Denta sekaligus menghentikan pergerakkan Gus Harun dan yang lainnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan tuan Denta, Gus Harun beserta yang lainnya terlihat sedikit kebingungan. Situasi tersebut sama sekali tidak ada dalam strateginya dan tidak terpikirkan oleh Gus Harun maupun yang lainnya. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya terlintas di dalam pikiran Gus Harun  tentang “plan B” rencana kedua yang tidak sempat diutarakannya.


“Perintahkan seluruh pasukan kita yang tersisa untuk mendur sekaligus menarik para prajurit siluman monyet menjauh dari istana!” tegas Gus


Harun.


“baik tuan!” balas tuan Denta. Segera tuan Denta meneruskan perintah dari Gus Harun tersebut kepada wakil pimpinan pasukkan lslu bergerak


kembali ke posisinya semula.


“Mari kita teruskan, hati- hati!” kata Gus Harun


memperingatkan sembari menoleh kebelakang.


Mereka semua kembali bergerak penuh kewaspadaan sambil memperhatikan di sekeliling. Sepanjang lorong yang telah ditinggalkan setengahnya itu nampak lenggang, gelap dan senyap. Namun Gus harun dan sahabat- sahabatnya dapat mendengar dengan jelas suara- suara dentingan senjata pertarungan masal dari arah luar istana.


“Yang terpenting kita jangan sampai bentrok dengan Raja Kalaspati, waktu kita tidak banyak harus segera membawa arwah putra kang Kosim


Baru beberapa jengkal Gus Harun dan sahabat- sahabatnya melanjutkan langkah, tiba- tiba terdengar suara berat dan berwibawa menggema di dalam lorong. Gus Harun dan semua sahabatnya skeetika menghentikan


pergerakkannya.


“Mama Yai Sapu Jagat!” pekik Gus Harun, Abah Dul, basyari dan Baharudin bersamaan.


“Cucu- cucuku, cepatlah kalian keluar dari tempat ini. Sahabat kalian yang bernama Mahmud, sudah selesai dengan tugasnya. Sekarang tinggal menunggu kalian,” ucap suara tanpa rupa yang tak lain adalah Kiyai Sapu jagat


guru dari Gus Harun, Abah Dul, basyari dan Baharudin.


“Baik mama yai, kami secepatnya keluar dari tempat ini,” balas Gus harun mewakili sahabat- sahabatnya.

__ADS_1


“Cucu- cucuku, di bagian sisi bangunan istana ada lingkaran cahaya putih. Lingkaran Cahaya putih itu merupakan ruang dimensi yang berasal


dari liang lahat tempat arwah anak itu di kubur. Saat ini sahabat kalian yang bernama Mahmud sedang menunggu roh anak itu kembali ke dalam raganya,” ucap Kiyai Sapu Jagat.


“Njih mama Yai, matur suwun sanget atas pertolongan dari mama Yai,” ucap Gus Harun.


Beberapa saat Gus Harun dan yang lainnya menanti suara Kiayai Sapu Jagat itu kembali memberikan wejangannya, namun suara berat penuh wibawa tersebut tak kunjung terdenga lagi.


“Ayo kita lebih cepat lagi bergerak keluar dari istana ini!” kata Gus harun dengan semangat berlipat.


Kepercayaan diri serta keberanian dari Gus Harun, Abah Dul, basyari dan Baharudin seolah bertambah berlipat- lipat setelah mengetahui guru mereka ikut mamantau dan membantunya. Begitu pula yang dirasakan oleh Kosim,


tuan Denta dan Raja Kajiman, meski mereka tidak mengenalnya secara langsung namun mereka dapat merasakan bahwa pemilik suara tanpa rupa itu adalah manusia berilmu tinggi.


Sesaat lagi Gus harun dan sahabat- sahabatnya akan mencapai mulut lorong yang langsung terhubung dengan ruang utama istana siluman monyet yang sangat luas tersebut. Gus Harun hanya melihat lurus kearah depannya yang


tampak mulai lenggang. Nampaknya hampir seluruh prajurit siluman monyet yang


sebelumnya berkumpul dan berpesta pora di ruangan tersebut semuanya keluar istana untuk menghalau pasukan jin dan pasukan Kajiman.


Gus Harun mengira kalau ruang utama istana itu sudah kosong, tanpa melihat sisi- sisi lainnya segera dia memberi aba- aba untuk secepatnya


keluar menuju pintu utama istana. Baru saja 5 jengkal keluar dari mulut lorong penjara, tiba- tiba sebuah sinar cahaya merah melesat cepat dan menghantam lantai istana dengan dahsyat.


Duarrrrr…!


Suara ledakkan menggema didalam ruang istana


sekaligus menggetarkan dinding- dindingnya. Beruntung lesatan cahaya merah itu meleset dan hanya menghantam lantai berjarak dua jengkal di depan Gus Harun.

__ADS_1


“Masya Allah!” pekik Gus harun tersurut mundur selangkah. Andai cahaya itu tepat mengenai dirinya sudah dipastikan tubuh Gus harun akan hancur tak berbentuk lagi.* BERSAMBUNG


__ADS_2