Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Hari ke-20


__ADS_3

Mentari pagi diakhir pekan cukup cerah. Cahayanya menyeruak masuk rumah Mahmud dari celah angin-angin maupun dari jendela. Udaranya berhembus sejuk seakan menyapa dua keluarga keluarga kecil yang sudah berkumpul diteras depan rumah.


Kicauan burung-burung liar menjadi irama pengiring wajah-wajah sumringah. Mahmud, Dewi serta Kosim, Arin dan Dede sudah berdandan rapih berbalut pakaian santai.


Di punggung Mahmud dan Kosim tergendong masing-masing tas ransel. Ditangan Dewi memegang tikar yang diberdirikan terikat tergulung dan dilantai teras disisi kaki Arin tergeletak tas merah perlengkapan Dede, sedangkan di dadanya terselempang kain gendong buat Dede. Sementara Dede terlihat duduk di lantai sambil memainkan mobil-mobilannya.


"Halo, assalamualaikum Bah. Sudah siap nih," kata Mahmud berbicara melalui selulernya.


"Oh... oke, oke. Dari Abah dulu uangnya ya, hehehe..." sambung Mahmud lalu menutup telponnya.


"Abah Dul sudah jalan belum Mas," tanya Dewi.


"Udah lagi isi bensin dulu di POM katanya," jawab Mahmud.


Akhir pekan ini Mahmud berniat mengajak Kosim, Arin dan Dede berkunjung ke kampung halamannya di Tegal-Jawa Tengah menjenguk ibunya yang sedang sakit.


Sehari sebelumnya Zakiyah, adik bungsunya mengabarkan kalau ibunya sedang sakit. Tadinya mau langsung berangkat malamnya tetapi setelah menimbang-nimbang, Mahmud pun memutuskan berangkat hari sabtu pagi saja sekalian berwisata. Kebetulan dari rumah orang tuanya Mahmud berdekatan dengan tempat wisata yang cukup terkenal yakni 'Pemandian Air Panas Gunung Guci.'


Pertimbangan lainnya sudah sepekan ini situasi dan kondisi di rumah Mahmud tidak pernah lagi ada teror-teror dari siluman monyet. Sehingga membuat Mahmud dan Kosim seakan-akan mulai terlupakan dengan ancaman, ketegangan, kecemasan serta kekhawatiran.


Begitu pula dengan Abah Dul yang antusias ikut serta mengunjungi rumah orang tua Mahmud di Tegal. Tapi sayangnya Mang Ali tidak bisa ikut karena bertepatan dengan waktunya menebar pupuk sawahnya. Jika ditinggal khawatir padi yang sudah berbiji itu akan kedahuluan terserang hama dan rusak.


"Tiinn.. Tiiin..!" Sebuah mobil Avanza berwarna merah berhenti dipinggir jalan desa terlihat dari rumah Mahmud.


"Itu mobilnya datang. Yuk, berangkat, di cek lagi barangkali ada yang tertinggal." kata Mahmud mengingatkan.


"Eh, sebentar Mas. Kunci rumah sudah dikasihkan ke Mak Sumi belum?" tanya Dewi.


"Udah saya kasih Wi, sekalian titip rumah." jawab Mahmud.


"Oh yowis, yuk." kata Dewi.


Arin bergegas menggendong Dede sambil menenteng tas kecil untuk kebutuhan Dede berjalan disamping Kosim. Dewi pun bergegas menenteng tikar melangkah beriringan dengan suaminya menuju mobil.


"Punten Pak Komar..." ucap Mahmud saat melewati depan rumah tetangganya.

__ADS_1


"Mau pada kemana Kang Mahmud?" tanya Pak Komar.


"Mau pulang kampung dulu Pak, orang tua disana lagi sakit. Monggo Pak Komar." sahut Mahmud.


"Njih, njih. Monggo, hati-hati dijalan Kang Mahmud, Mbak Dewi semuanya." ucap Pak Komar.


"Njih, matur nuwun..." sahut semuanya bersamaan sambil melanjutkan langkahnya menuju mobil.


"Siap refshing Bah?" ucap Mahmud begitu sampai sambil membuka pintu depan mobil.


"Siap seribu persen lah, hehehe..." seloroh Abah Dul.


Kosim duduk di kursi paling belakang sendirian sedangkan Dewi, Arin dan Dede duduk di kursi tengah. Tak lama kemudian mobil Avanza merah mulai jalan meninggalkan desa Suka Ratu.


"Lewat mana nih Bah, jalan umum atau lewat tol?" tanya Mahmud.


"Halllah, gayamu itu Mud kayak punya kartu e-tol bae," timpal Abah Dul.


"Mesti pake kartu gitu? Pake duit kan bisa?" ujar Mahmud.


"Nggak tau lupa Bah, hahahaha..." seloroh Mahmud.


Kosim yang duduk dibelakang mendengar obrolan itu langsung berseru, "Jangan lewat jalan tol, Bah!"


"Iya siapa yang mau lewat tol, Sim. Lah wong Kita nggak ada yang punya kartu e-tol, hahaha..." Abah Dul dan Mahmud tergelak.


Mobil melaju di jalur pantura menuju arah cirebon melewati brebes. Dari persimpangan Brebes mobil Avanza merah berbelok ke kanan mengambil jalur tengah menuju Tegal.


Bukan kali ini saja Abah Dul mengantarkan Mahmud mudik ke kampung halamannya. Setiap menjelang lebaran Mahmud sering meminta Abah Dul mengantarkannya. Alhasil, Mahmud pun bisa memejamkan matanya selama perjalanan, ia tak perlu lagi ngasih petunjuk jalan menuju rumah orang tuanya.


......................


Pukul 11.30 wib, setelah perjalanan 3 jam setengah akhirnya mobil Avanza merah berhenti disebuah halaman yang cukup luas dengan hamparan rumput hijau. Udara sejuk pegunungan sudah terasa sejak perjalanan memasuki kaki Gunung Guci.


Abah Dul mematikan mesin mobilnya lalu membuka kaca jendela pintu. Segarnya udara pegunungan langsung menerpa tubuh besarnya. Ia menengok penumpangnya yang nampak masih pada tertidur tapi sengaja tidak membangunkannya. Abah Dul membiarkannya saja malah ditinggal duduk pada sebuah batu besar yang ada didepan mobil.

__ADS_1


Ia mengeluarkan bungkus rokok kretek dari sakunya lalu diambilnya sebatang kemudian disulutnya. Sesaat kemudian dihisapnya dalam-dalam asap rokoknya lalu dihembuskan perlahan seolah sangat menikmati sekelilingnya.


"Rumahnya tak ada yang berubah. Masih tetap mempertahankan bentuk arsitektur kunonya. Cuma pada kanopinya ada tambahan atap baja ringan saja," gumam Abah Dul sambil memandangi rumah orang tua Mahmud.


Memorinya membuka kenangan saat-saat masih mondok di Madura. Sejak kecil dirinya dan Mahmud sama-sama hidup di pesantren namun di pesantren yang berbeda. Abah Dul mondok di Madura sedangkan Mahmud mondok di Lirboyo-Boyolali.


Pertemuannya dengan Mahmud tak disengaja. Ketika itu saat dirinya pulang naik bus dari Surabaya naik bus jurusan Jakarta. Saat bus melintas didaerah Boyolali, ada remaja seusianya naik lalu duduk bersebelahan dengan dirinya. Remaja itu adalah Mahmud yang sampai kini menjadi sahabatan.


Hingga rasanya bukan lagi sebagai teman tapi sudah saudaraan. Beberapa kali dirinya nginap di rumah bercat hijau itu setiap kali agenda pesantren memasuki liburan menjelang lebaran. Keluarga Mahmud pun sudah menganggap Abah Dul sebagai anaknya.


Mahmud selalu memintanya pulang bareng dan diajak ke rumahnya dan menginap sebelum dirinya pulang ke desanya di Suka Resmi. Saat itu orang tua Mahmud masih utuh, bapaknya sangat baik dan sangat bijaksana. Bapaknya Mahmud juga bukan orang sembarangan, beliau sangat disegani dilingkungan sekitar sini. Sudah dikenal masyarakat sebagai orang pintar.


Begitu pula dengan ibunya, seorang wanita yang juga bukan orang yang biasa-biasa saja. Beliau masih ada keturunan darah biru, keturanan ningrat dari Kerajaan Kasepuhan Cirebon. Kakek buyutnya adalah Mbah Kuwu Sangkan atau nama lainnya Pangeran Cakra Buana.


Setelah suami tercintanya meninggal 10 tahun yang lalu, Nyi Mas Ayu Ning Tiyas begitulah nama yang disandang ibundanya Mahmud itu lebih memilih bertirakat hampir setiap hari berpuasa.


Cukup lama Abah Dul termenung memandangi rumah Mahmud sampai sebatang rokok yang tadi disulutnya hampir habis.


"Tiiiinnn...!!!"


Kontan saja Abah Dul terlonjak kaget mendengar bunyi klakson mobil didepannya yang hanya berjarak dua langkah.


Didalam mobil, Mahmud terkekeh-kekeh melihat reaksi kagetnya Abah Dul yang diisusul ketawa Dewi, Arin dan Mahmud.


"Hahahaha... Syukurin! Maen tinggal-tinggal aja, hahahaha..." seru Mahmud sambil membuka pintu mobilnya.


Abah Dul pun ikut tertawa, karena ia merasa yang lebih dulu memulai isengin mereka. Mahmud langsung mengajak Abah Dul masuk rumah, sementara Dewi, Arin dan Dede keluar lalu disusul Kosim.


"Mud rumahnya sepi, Zakiyah kemana ya? Dari tadi saya duduk disini nggak ada nongol-nongolnya." kata Abah Dul.


"Lah berarti ente sudah lama nyampe disini Bah?!" tanya Mahmud.


"Nih, habis sebatang, hahahaha..." seloroh Abah Dul.


"Dasarrrrr...!" Mahmud pun lempar sandalnya ke arah Abah Dul tapi Abah Dul keburu lari ke depan pintu rumah.

__ADS_1


......................


__ADS_2