Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
BAHAYA MENGANCAM


__ADS_3

Melihat itu, Kosim yang sudah kadung melesat ikut memburunya langsung menghantamkan pukulan jarak jauh mengarah pada kepala prajurit yang sudah jatuh tersungkur.


Duuaaaarrrr…!!!


Suara ledakkan terdengar keras akibat kekuatan yang dilancarkan Kosim dari jarak jauh tepat mengenai kepala pemimpin prajurit dan membuatnya hancur tak bersisa.


Kosim menyeringai puas melihat pemimpin prajurit itu hancur dan musnah sembari menepuk- nepukkan kedua telapak tangannya seakan- akan membersihkan debu yang menempel di telapak tangan.


“Ayo tuan, kita kembali dan bergabung disana,” ajak tuan Gosin pada Kosim sambil menunjuk ke tempat tuan Denta, Kiyai Sapu Jagat, tuan


Samanta serta Mahmud berkumpul melihat aksi Kosim dan tuan Gosin.


“Mari tuan Gosin,” balas Kosim lalu bergerak melesat.


Dalam satu kali hentakkan kaki tubuh Kosim dan tuan Gosin melayang menuju tuan Denta dan yang lainnya. Mahmud dan tuan Denta terlihat sumringah melihat kedatangan sosok- sosok yang tak asing di matanya.


Tanpa ada yang mengetahui, dari tempat tersembunyi di balik sebuah bangunan tempat tinggal pemukiman diseberang jalan ada sepasang mata merah terus memperhatikan gerak –gerik Kosim, tuan Gosin serta tuan Denta dan yang lainnya. Setelah Kosim dan tuan Gosin berkumpul bersama tuan Denta, Kiyai Sapu


Jagat dan tuan Samanta, sosok yang bersembunyi di balik bangunan itu perlahan-


lahan mundur lalu membalikkan badan dan melesat cepat lalu menghilang.


Suasana di perkamungan kediaman tuan Denta langsung senyap tak ada satupun mahluk yang terlihat beraktifitas di luaran semenjak terjadi


pertarungan pertama. Semua penghuni perkampungan bersembunyi di kediamannya


masing- masing karena sangat ketakutan. Meski begitu para penghuni perkampungan


tidaak ada yang mengetahui mengapa para prajurit- prajurit itu berjaga- jaga di perkampungan mereka dan selalu mengawasi kediaman tuan Denta.


Sosok tuan Denta sendiri sengaja menyamarkan diri sebagai penduduk perkampungan biasa. Bahkan oleh warga perkampungan tersebut tuan Denta dikenal hanyalah sosok petani yang suka membantu warga perkampungan dan tidak


ada yang mengetahui asal- usul tuan Denta yang sebenarnya.


“Terima kasih Kiyai, kang Kosim, Panglima Samanta dan tuan Gosin, atas pertolongan kalian. Andai kalian tidak muncul tepat waktu, mungkin Aku dan tuan Mahmud sudah ditangkap dan di bawa ke kerajaan jin,” ucap tuan Denta menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.


“Alhamdulillah, semua ini berkat petunjuk Gusti allah tuan. Apakah kondisi tuan Denta dan nak Mahmud tidak kenapa- napa?” balas Kiyai Denta

__ADS_1


sekaligus bertanya penasaran.


“Alhamdulillah aku dan Mahmud dalam keadaan baik- baik saja Kiyai. Dan aku dipertemukan tuan Mahmud disini, jika saja tidak bertemu dengan tuan Mahmud mungkin aku sudah musnah Kiyai,” ucap tuan Denta.


“Nak Mahmud bagaimana bisa sampai berada di alam jin?!” tanya Kiyai Sapu Jagat heran menoleh kearah Mahmud yang berdiri di sampingnya.


“Saya juga tidak begitu paham Kiyai, tiba- tiba saja saya berada di sini dan bertemu tuan Denta,” jawab Mahmud singkat.


“Syukur alhamdulillah, semua ini berkat kuasa Gusti Allah sang pemilik alam semesta. Kalau begitu marilah kita kembali. Nak Mahmud sudah


terlalu lama meninggalkan raga, saya khawatir terjadi sesuatu pada nak Mahmud,” ucap Kiyai Sapu Jagat.


Dimensi alam jin dan alam manusia memiliki perputaran waktu yang jauh berbeda. Jika di alam jin 1 menit, maka di alam manusia sudah


berjalan 1 jam. Bahkan 1 hari di alam jin bisa jadi di alam manusia sudah berlangsung 10 hari.


“Njih Yai,” sahut Mahmud.


Di Rumah Mahmud,


ketiganya terus memperhatikan tubuh Mahmud yang sesekali terhentak namun dengan


kondisi kedua matanya masih terpejam rapat.


“Apa yang sedang terjadi dengan kang Mahmud Gus?!” tanya Baharudin cemas.


“Sepertinya kang Mahmud sedang bertarung Har,” jawab Gus Harun menerka- nerka.


“Bertarung?! Jangan- jangan memang benar kalau kang Mahmud sedang berada di alam jin bersama tuan Denta. Dan  yang dikatakan Dul tentang kondisi alam jin yang kacau dan tuan Denta menjadi buronan kerajaan jin, bisa jadi keberadaan mereka telah diketahui,” ujar Basyari menduga- duga.


‘Sepertinya dugaan ente benar Bas, tapi mudah- mudahan mereka semua selamat,” balas Gus Harun.


Beberapa saat kemudian Gus Harun, Basyari dan Baharudin mengherutkan keningnya dalam- dalam memperhatikan tubuh Mahmud yang kembali diam tak ada pergerakkan apapun. Seketika timbul beragam dugaan- dugaan di dalam pikiran Gus Harun, Basyari dan Baharudin melihat tubuh Mahmud tak bergerak lagi.


“Gus, apakah kang Mahmud….” Ucap Baharudin menggantungkan pertanyaannya.


“Husss! Jangan su’uzon Har. Memang ini ada dua kemungkinan, kang Mahmud selamat atau kang Mahmud tertangkap,” ungkap Gus Harun.

__ADS_1


Alam Jin,


Dari kelima sosok itu hanya Kosim yang sosok wujudnya lebih samar dan mulai memudar tak ubahnya seperti siluet yang kadang nampak kadang tidak.


“Tuan Denta, saya tidak bisa berlama- lama lagi berada disini. Waktu saya hampir habis dan sebelum saya benar- benar kembali ke alam


saya, saya ingin melihat putraku untuk terakhir kalinya,” ucap Kosim, wajahnya terlihat murung dan sedih.


Mendengar ucapan Kosim, semuanya dibuat terkejut. Hanya Kiyai Sapu Jagat yang tampak tenang karena memang sudah mengetahui sebelumnya dari Kosim.


“Kira- kira berapa lama lagi waktu yang ada tuan Kosim?” tanya tuan Denta.


“Mungkin sampai terbenamnya matahari besok tuan,” sahut Kosim lirih.


“Kalau begitu mari kita cepat masuk kedalam tempat tinggalku, Sebab pintu menuju alam manusia berada di dalam sana,” kata tuan Denta lalu bergegas bergerak menuju kedalam kediamannya.


Tuan Denta berjalan didepan menuntun Kiyai Sapu Jagat dan yang lainnya memasuki kediaman tuan Denta yang nampak mengalami kerusakan disana- sini. Setelah semuanya masuk didalam kediaman tuan Denta, tiba- tiba Mahmud teringat kembali dengan sebuah kalung yang tergantung pada dinding sebelah kanan di ruangan tersebut.


“Sebentar tuan Denta, kalung apakah itu tuan?” tanya Mahmud sambil menunjuk ke tempat kalung tergantung. Semua pandangan mata langsung menoleh tempat yang ditunjuk Mahmud.


“Ohh, aku hampir lupa. Aku kembali ke tempat ini selain mengambil benda- benda pusaka yang aku simpan juga berniat membawa kalung itu. Kalung itu adalah benda penuh sejarah tuan Mahmud dimana aku masih menjadi jenderal


dahulu. Kalung itu adalah lencana kerajaan jin terdahulu dan siapapun mahluk jin yang mengenali kalung itu mereka dipastikan golongan jin yang berada di pihakku,” ungkap tuan Denta matanya  menerawang jauh membayangkan peristiwa masa lampau.


“Apakah saya boleh memilikinya tuan?” tanya Mahmud tanpa sungkan.


Entah mengapa Mahmud begitu tertariknya dengan kalung tersebut sehingga membuatnya memberanikan diri untuk memintanya. Mendengar permintaan Mahmud, seketika tuan Denta tersenyum simpul.


“Kenapa tuan Mahmud ingin memilikinya?” tanya tuan Denta heran, dan pertanyaan tuan Denta tersebut diangguki oleh Kiyai Sapu Jagat dan yang lainnya.


“Entahlah tuan Denta, sejak pertama kali saya melihatnya hati saya begitu tertarik dan ingin memiliki begitu saja. Apakah kalung itu memiliki


kekuatan tersendiri tuan?” jawab Mahmud sekaligus kembali bertanya.


“Hehehehe… tuan Mahmud ternyata peka juga terhadap benda- benda disini. Iya benar tuan Mahmud, kalung itu memiliki sejarah panjang yang diberikan langsung oleh raja jin pertama. Dan aku sendiri belum mnegetahui sepenuhnya dengan kekuatan yang tersembunyi didalamnya. Tetapi pesan dari Raja bahwa kalung itu merupakan simbol penguasa yang hakiki, tanpa kalung tersebut sebuah kerajaan tidak akan sempurna,” terang tuan Denta.


“Apakah mungkin raja jin yang sekarang memburu tuan itu karena mencari kalung tersebut?!” tanya tuan Samanta tiba- tiba.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2