Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PERTANYAAN KOSIM


__ADS_3

Meski masih diliputi tanda tanya, namun Arin dan Dewi mengikutinya. Arin tak jadi duduk di tempat yang biasa Kosim tempati menghadap selatan, ia sedikit menggeser duduknya lebih menyerong.


Kosim yang berdiri sedikit tersenyum dengan pandangan nanar menatap Arin. Ia pun kemudian bergerak melayang melewati punggung Abah Dul lalu duduk di sebelah kiri diantara Arin dan Abah Dul.


Setelah Kosim duduk, Arin tiba- tiba bergidik. Tangan kirinya mengusap- usap punggung tangan kanannya sembari beringsut hingga memepet Dewi.


“Kenapa sih Rin?!” tanya Dewi heran.


Pandangan mata Mahmud, Abah Dul dan Gus Harun spontan menatap Arin secara bersamaan.


“A, a, anu mbak. Tiba- tiba merinding,” jawab Arin sedikit merasa seram.


Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud hanya senyum- senyum sembari kembali fokus ke piringnya masing- masing.


Kosim yang melihat kebingungan Arin merasa terenyuh, hatinya sangat bersedih. Yang dirasakannya hanya ada penyesalan yang paling dalam.


Rautnya tergurat ekpresi menyesal yang teramat sangat. Seandainya dulu menuruti larangan Mahmud dan Arin, mungkin saat ini dapat merasakan kebersamaan orang- orang yang ada di hadapannya untuk menikmati suasana makan malam bersama seperti yang biasa dilakukan.

__ADS_1


Tetapi kembali pada takdir, kalau pun pada saat itu Kosim tidak jadi menerima proyek dan tidak berangkat ke Wonosobo, berarti bisa jadi usia hidupnya memang masih panjang.


Pada akhirnya semua tentang hidup, kematian, rezeki, celaka dan apapun yang terjadi dan dialami setiap manusia memiliki garis ketentuan jalan hidupnya masing- masing.


Sebagai manusia dengan segala takdirnya sudah seharusnya menerima dengan ikhlas menjalani kehidupannya. Akan tetapi sayangnya tidak semua manusia dapat menyadari perannya di dalam kehidupannya.


......................


Udara malam terasa dingin mengalir dari celah- celah angin- angin ruang tamu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12. 11 dini hari.


Di ruang tamu ada empat mahluk, tiga orang berwujud manusia dan satu mahluk tak kasat mata. Mereka duduk berhadapan yang dipisahkan oleh meja tamu dan sesosok mahluk tak kasat mata turut duduk diantara 3 manusia itu.


Mereka tampak serius bermusyawarah membicarakan rencana penyerangan ke Istana Kerajaan Siluman monyet.


“Gimana kang Mahmud, apakah sudah siap turut serta dalam rencana malam lusa nanti?” tanya Gus Harun.


“Insya allah Gus, saya siap!” sahut Mahmud mantap.

__ADS_1


“Alhamdulillah, syukurlah...” ucap Gus Harun.


“Mm, punten Gus,” tiba- tiba Kosim menyela.


Mahmud, Gus Harun dan Abah Dul spontan menoleh kearah Kosim yang duduk di sebelah Mahmud dengan dahi sedikit mengernyit.


“Ya, monggo. Kenapa mas Kosim, ada apa” sahut Gus Harun.


“Mmm, begini Gus. Ada yang mengganggu diingatan saya, seandainya dalam penyerangan ini kita berhasil mengambil kembali nyawa anak saya, lalu apakah anak saya akan bisa kembali hidup?” tanya Kosim dengan suara sedikit bergetar.


Mahmud, Gus Harun serta Abah Dul dibuat terkejut dengan pertanyaan Kosim itu. Selama ini tidak ada yang berpikir kearah sana, dan pertanyaan Kosim barusan tak ubahnya seperti sebuah cambuk yang menyadarkan mereka.


Gus Harun kontan tertunduk, sementara Mahmud dan Abah Dul saling berpandangan satu sama lain dan seketika menoleh kearah Gus Harun seolah meminta jawabannya.


Pertanyaan Kosim memang sangat rasional sekaligus menyiratkan harapan kalau putranya bisa kembali hidup. Walau pun kecil kemungkinannya karena jasad putranya sudah terkubur lebih dari 7 hari.


“Hmmm, pertanyaan ente sangat mengejutkan mas Kosim. Dan apa yang ente tanyakan memang sangat masuk diakal,” kata Gus Harun lalu melanjutkan.

__ADS_1


“Kemungkinannya hanga dua, bisa iya bisa tidak. Apabila Gusti allah memberikan takdir umur panjang, tidak ada hal yang mustahil kalau Dede bisa kembali hidup meskipun sudah berada didalam liang kubur. Tapi sebaliknya, ente harus bisa merelakannya jika ternyata putra ente berada dalam takdir kematiannya,” terang Gus Harun.


......................


__ADS_2