Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
RAJA JIN


__ADS_3

Buuuuummmm...!!!


Suara dentuman keras itu berasal dari bagian tengah Bangunan kediaman tuan Denta hingga menjadi hancur berantakan. Ledakkan itu membuat Mahmud, tuan Denta, Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Gosin dan tuan Samanta saling berpentalan menabrak dinding- dinding kayu dan terlempar keluar.


Tubuh mereka berjatuhan terjerembab di halaman kediaman tuan Denta. Belum hilang rasa terkejut Kiyai Sapu Jagat, tuan Denta serta yang lainnya, tiba- tiba suara tawa terdengar menggelegar.


"Hahahaha... Hahahaha... Hahahaha... Denta, Denta, Denta… Serahkan benda itu!" bentak sosok tinggi besar memiliki tanduk di dahinya.


Sosok tinggi besar telah berdiri di jalan pemukiman sambil bertolak pinggang dengan angkuhnya. Pada kening sosok tersebut terdapat tanduk yang mencuat runcing berwarna merah, begitu pula dengan raut wajahnya.


Sepasang matanya hitam legam tak ada pupil dan juga tak ada putih mata layaknya manusia. Dari sudut mulutnya mencuat taring- taring runcing semakin terlihat menyeramkan. Tubuhnya dibaluti zirah berwarna hitam legam. Baju zirah tersebut memiliki ukiran yang membentuk sebuah gambar seperti gambar matahari.


Sosok tersebut tak lain adalah Raja Jin yang bernama Gondewa. Raja Jin Gondewa merupakan golongan dari bangsa jin Ifrit yang saat ini memiliki tingkatan lasta paling tertinggi diantara golongan jin- jin lainnya.


Raja Gondewa inilah yang melakukan


pemberontakkan dan merebut kerajaan jin sebelumnya yang dipimpin oleh Raja Al Marid. Raja Jin Al Marid sendiri merupakan golongan jin dengan tingkatan kastanya berada dibawah kasta golongan jin Ifrit. Sementara itu di belakang Raja Gondewa berderet memanjang barisan pasukan prajurit- prajurit jin lengkap


dengan peralatan perang.


Tuan Denta sangat terkejut melihat


kemunculan Raja Gondewa, ia mengedarkan pandangannya melihat kesekeliling mencari- cari Kiyai Sapu Jagat, Mahmud, Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin. Tak begitu jauh dari pisisinya tersungkur, tuan Denta melihat Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin nampak sedang berusaha bangkit berdiri.


Merasa ada yang kurang pada jumlah sahabat- sahabatnya, tuan Denta kembali menoleh kesana kemari mencari- carinya. Namun tidak dapat di temukan selain Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin.

__ADS_1


“Dimana tuan Mahmud?!” seru tuan Denta sembari bangkirt berdiri.


Mendengar seruan tuan Denta, dengan spontan


Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Samanta serta tuan Gosin saling melihat satu sama lainnya lalu mengedarkan pandangannya mencari- cari Mahmud. Raut wajah mereka kontan terkesiap mendapati Mahmud tidak ada bersama mereka. Dengan serempak mereka semua menggelengkan kepala.


“Mungkin Mahmud masih ada di dalam rumah!” balas Kosim yang dilanda cemas seketika.


Kosim hanya menduga- duga untuk menghibur hatinya yang mulai gundah. Dia sangat mengkhawatirkan kakak iparnya tersebut. Padahal jauh di dasar lubuk hatinya tersirat kekhawatiran yang mendalam menimpa Mahmud, pikiran- pikiran negatif terngiang- ngiang di kepala Kosim. Pasalnya ledakkan yang menghancurkan bangunan kediaman tuan Denta


tersebut terasa memiliki kekuatan yang maha dahsyat.


Kosim berusaha menutupi kecemasan yang terus menghantui perasaannya dan berusaha menolak keras- keras ragam dugaan negatif yang berseliweran di dalam pikirannya yang mengatakan bahwa Mahmud tak mungkin selamat. Pikiran negatif itu Kosim tekan kuat- kuat berusaha disingkirkan dari kepalanya. Dirinya tak akan bisa termaafkan selama dunia


belum kiamat jika Mahmud harus mati di alam jin ini.


Tanpa pikir panjang Kosim langsung melesat


memasuki rumah tuan Denta melalui lobang dinding yang hancur akibat tertabrak tubuh- tubuh mereka saat terpental keluar. Kosim langsung menuju tempat dimana Mahmud berada sebelumnya. Namun ditempatnya berdiri, Kosim tidak menemukan apapun disana, tidak ada Mahmud  dan juga tidak ada lagi pusaran kabut pintu gerbang.


Kosim semakin cemas, pikirannya kalut dipenuhi dengan prasangka- prasangka buruk tentang Mahmud. Kosim terduduk lemas dengan bertumpu pada kedua lututnya menghadap kearah sudut dimana sebelumnya pusaran


pintu gerbang menuju dimensi alam lain muncul. Di tutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bahunya tampak berguncang- guncang. Kosim tak dapat membendung tangisnya lagi.


“Maafkan saya mas Mahmud… Semua ini

__ADS_1


karena perbuatan saya, saya sangat, sangat menyesal…” ucap Kosim lirih sambil menundukkan kepala dalam- dalam.


“Aaaaaaaaakkkkhhh…!!!” tiba- tiba Kosim berteriak keras, matanya menatap tajam dan liar memndang luar rumah melalui dinding yang separuhnya sudah hancur dan bolong.


Amarah Kosim tiba- tiba saja meledak- ledak, sorot matanya nyalang seperti melihat mangsa di depannya. Perlahan- lahan Kosim bangkit lalu dengan cepat melesat kembali keluar rumah dan berdiri menghadap Raja Gondewa dengan kedua tangan terkepal erat.


“Kalian telah membunuh manusia paling baik! Kalian harus musnah!!!” teriak Kosim dengan amarah yang meledak- ledak.


Melihat Kosim yang sudah berdiri berhadapan dengan Raja Gondewa, membuat tuan Denta, Kiyai Sapu Jagat, tuan Samanta dan tuan Gosin terkesiap. Mereka sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kosim, terutama tuan Denta dan tuan Samanta. Keduanya sangat mengkhawatirkan Kosim yang bertindak gegabah karena Tuan Denta dan tuan Samanta sangat tahu persis seberapa besarnya kekuatan Gondewa. Kedua mahluk dari golongan jin itu


tak dapat berkata apa- apa melihat tingkah Kosim yang seolah –olah menantang Raja Jin tersebut. Mulut tuan Denta dan tuan Samanta nampak ternganga sambil menatap Kosim penuh dengan khawatir.


“Hahahahaha…. Hahahahaha…. Hahahahaha… Dasar  mahluk  rendahan! Hahahaha… Hahaha.. Hahahaha…” bentak raja Gondewa lalu tertawa.


Raja Gondewa kontan tertawa terbahak- bahak melihat apa yang dilakukan oleh Kosim. Setelah selesai menertawakan Kosim, dengan cepat raja Gondewa menjulurkan jarinya menunjuk kearah Kosim. Seketika selarik cahaya merah melesat keluar dari ujung telunjuk raja Gondewa, sinar merah darah itu melesat seperti sebatang jarum menyasar kepala Kosim.


Kosim terkesiap! Dia tidak menduga sama


sekali akan diserang seperti itu. Kosim termangu ditempat kedua sorot matanya memperhatikan lesatan sinar merah darah yang sejengkal lagi menghujam keningnya.  Dengan cepat Kosim meloncat keatas sambil berjumpalitan dua kali, lesatan cahaya merah darah melintas di tempat


Kosim berdiri sebelumnya dan hanya mengenai tempat kosong.


Kosim kembali menjejakkan kaki, lalu dengan cepat cahaya putih yang membungkus  telapak tangannya dia hentakkan kedepan mengarah pada raja Gondewa. Seketika cahaya putih menyerupai bola sepak melesat cepat kearah raja Gondewa.


Melihat serangannya tak mengenai sasaran ditambah lagi mendapatkan serangan balasan, membuat raja Gondewa semakin terpancing amarahnya. Melihat cahaya putih meluncur ke arahnya, Raja Gondewa segera melakukan gerakkan meniup. Seketika udara berhawa panas keluar dari mulut raja Gondewa menghadang laju lesakkan cahaya putih.

__ADS_1


Buuuummmm…!!!


Suara dentuman terdengar keras saat sinar putih dan segulung angin berhawa panas saling bertemu di udara. Kosim terdorong mundur lima langkah kebelakang oleh daya kekuatan dorongan dari ledakan tersebut. Lalu tiba- tiba Kosim bertekuk lutut sambil memegang dadanya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menopang tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur.** BERSAMBUNG


__ADS_2