Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MURKA ABAH DUL


__ADS_3

Didalam goa udara terasa sangat dingin hingga mencucuk sampai tulang sum sum. Goa yang berada dilereng gunung Ciremai itu hanya terlihat ada satu tititk cahaya yang berasal dari lilin, itupun cahayanya tertutup sebagian oleh tubuh Komar. Cahaya itu remang-remang menyinari dinding-dinding goa yang tak terlalu besar, selebihnya hanyalah gelap gulita dan sunyi senyap. Hanya suara berisik dari binatang khas pegunungan saling bersahutan dari luar mulut goa.


Komar sedang kusyuk metapalkan mantra pengikatnya. Matanya terpejam dengan mulut tak henti-henti membaca mantra. Tiba-tiba selarik kilatan cahaya putih meluncur deras datang dari mulut goa menghantam punggung Komar hingga menimbulkan suara dentumanbya menggema didalam goa.


Duaaarrrr...!


“Uhukk!”


Komar terbatuk memuncratkan darah dari mulutnya, lalu tubuhnya terdorong keras hingga jatuh tersungkur menghantam batu berbentuk meja didepannya menimpa kembang sesaji hingga bercerai berai. Lilin yang semula menyala pun terpental padam seketika.


Dugkkk!


“Ahk..” suara pekikan Komar menggema memenuhi ruang goa yang gelap gulita.


Setelah pekikan kesakitan itu tak terdengar lagi suasana hening seketika. Tak ada tanda-tanda aktifitas Komar. Tubuhnya tergeletak menggelosoh kesamping dan jatuh dibawah batu pipih berbentuk meja tersebut.


Dalam kegelapan ruang goa seberkas cahaya putih tiba-tiba muncul membentuk sebuah siluet. Mula-mula tipis lalu semakin lama semakin menebal hingga membentuk sosok tubuh manusia berpakaian hitam berambut panjang sebahu yang diikat dengan kain. Sesaat kemudian kegelapan didalam goa berubah terang dari bias cahaya yang membentuk tubuh manusia itu.


“Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan ini?!” teriak sosok yang datang itu.


......................


Kediaman Mahmud,


Desa Sukadami,


Abah Dul memercikkan air putih ditangannya kesekujur tubuh Arin yang terbaring diatas matras dari mulai ujung kaki hingga kepala. Ketika percikkan air mengenai kepala Arin, tiba-tiba dari kepala Arin mengepul asap putih seperti terbakar.


“Astagfirullahal azim!” teriak Dewi dan Mahmud bersamaan.


Kepala Arin terdongak katas sesaat lalu kembali tak bergerak diposisi semula. Kemudian Abah Dul mengusap kepala Arin beberapa kali untuk memastikan panas yang ada di kepala Arin hilang.


“Beri minum Wi,” ucap Abah Dul kemudian menggeser duduknya sedikit menjauh dari sisi Arin yang terbaring.


Abah Dul segera bersila, kedua tangannya diletakan diatas kedua ujung lututnya, lalu melakukan pernafasan tiga kali sambil memejamkan matanya. Tak lama kemudian tubuhnya tak bergerak sama sekali. Sukma Abah Dul telah melesat dari raganya menuju sumber kekuatan mantra yang mengikat kepala Arin.

__ADS_1


Sesaat kemudian sukma Abah Dul muncul didalam goa. Dihadapannya terlihat ada dua sosok manusia, yang satu terkapar dibawah batu meja dan yang satunya sosok seorang kakek berwujud sukma sama seperti dirinya. Sukma kakek itu kontan terkejut melihat kehadiran sukma Abah Dul yang tiba-tiba muncul berjarak 5 langkah didepannya.


“Kurang ajar! Sampeyan siapa?!” gertak sukma kakek itu.


“Sampeyan siapa?! Kenapa mengganggu keluarga saya?!” sukma Abah Dul baik bertanya dengan geram.


“Oh, ada yang merasa sakti rupanya. Wanita itu yang membuat pemuda ini meminta bantuanku!” seru sukma kakek menunjuk tubuh pemuda yang terkapar.


“Bukan karena wanita saudara saya tetapi karena otak pemuda itu yang bejad!” sergah Abah Dul geram sambil mengepalkan tangannya.


“Jangan ikut campur?!” hardik sukma kakek.


"Enak saja bilang begitu. Sadarlah ente sudah sepuh, perbuatan ente itu menyalahi kodrat Gusti Allah!" sergah sukma Abah Dul.


"Bukan urusanmu bocah! Menyingkir dari sini!" gertak sukma kakek.


“Saya akan memusnahkan kalian!” jawab Abah Dul bernada mengancam.


“Kurang ajar! Kamu yang akan saya binasakan disini!” seru sukma kakek kemudian melesat melayang menerjang sukma Abah Dul.


“Heyyaaa...!” teriak sukma kakek menerjang.


“Bahaya! Pukulannya mengandung tenaga dalam tinggi,” ucap sukma Abah Dul dalam hati.


Setelah pukulan itu lewat didepan matanya, secepat kilat sukma Abah Dul mendorong tangannya diiringi teriakkan keras menggema didalam goa.


“Allahu Akbar!”


Selarik cahaya putih berkilat melesat dari telapak tangan Abah Dul. Sukma kakek terkesiap, dirinya tak mengira sama sekali akan mendapatkan serangan balasan tiba-tiba. Sukma kakek secepatnya memiringkan tubuhnya.


Wuuuusssshhhh...


Hawa panas melintas satu jengkal didepan dadanya. Pukulan sukma Abah Dul berhasil dihindarinya. Secara tiba-tiba ditangan sukma kakek muncul sebatang tongkat berwarna hitam legam. Sukma kakek memposisikan tubuhnya tegak berdiri dengan menaruh telapak tangan kiri didada sedang tangan kanannya memegang erat tongkat hitam. Mulutnya terlihat komat kamit merapalkan mantra kesaktiannya.


Sukma Abah Dul yang menyadari pukulan jarak jauhnya dapat dihindari lawan segera membuat gerakkan kedua. Kini gantian tangan kirinya ia dorongkan dengan menyalurkan tenaga dalam setengahnya dengan diperkuat bacaan ajian.

__ADS_1


"Allahu Akbar!!! teriak sukma Abah Dul.


Selarik cahaya Pukulan jarak jauh sukma Abah Dul yang kedua itu meluncur deras mengarah pada dada sukma kakek. Sukma kakek kembali terkesiap mendapati datangnya serangan susulan. Dirinya belum sempat mengirim serangan balasan sebelumnya dan tertahan disetengah gerakkan.


Duarrrr..!!!


“Uhukk!”


Cahaya putih menghantam telak dada sukma kakek hingga terbatuk. Tubuhnya langsung terdorong keras kebelakang hingga punggungnya menghantam diding bebatuan goa.


“Uhukk! uhukk!"


Untuk kedua kalinya sukma kakek terbatuk, namun batuknya kali ini akibat hantaman keras pada punggungnya.


“Aku musnahkan kalian!” teriak sukma Abah Dul geram.


Sukma Abah Dul mengangkat tangannya keatas, sejurus berikutnya muncul secercah cahaya berkilau diujung tangan sukma Abah Dul. Kini pedang besar tergenggam ditangan sukma Abah Dul mengeluarkan cahaya putih menyilaukan.


“Allahu Akbar!”


Sukma Abah Dul mengayunkan pedangnya menebas kearah sukma kakek yang terduduk bertumpu pada kedua lututnya. Cahaya putih membentuk pedang besar berkiblat cepat menghujam leher sukma kakek. Kedua mata sukma kakek membelalak lebar, belum sempat melakukan gerakan menghindar, pedang besar itu memampras lehernya. Kepalanya terpenggal terlepas jatuh lalu menggelinding di lantai goa tanpa sempat berteriak. Lalu sukma kakek yang terpenggal itu perlahan menghilang tanpa bekas.


Sesat kemudian pedang besar ditangan Sukma Abah Dul langsung lenyap. Dia berjalan melayang menghampiri tubuh pemuda yang tergeletak tak bergerak dibawah meja batu. Sukma Abah Dul berjongkok memeriksanya.


"Innalillahi wainna ilaihi rojiun..." ucap sukma Abah Dul kemudian segera melesat keluar dan menghilang dibalik mulut goa yang gelap gulita.


......................


Rumah Mahmud,


Arin yang sedari tadi terbaring tak sadarkan diri, perlahan-lahan membuka matanya. Sejenak ia melirik melihat sekelilingnya lalu cepat-cepat hendak bangun ketika menyadari mendapati kondisi dirinya yang sedang terbaring dikelilingi Mahmud dan Dewi. Tatapan matanya penuh tanda tanya mengharap sebuah jawaban pada kakaknya.


"Alhamdulillah, kamu sudah siuman Rin..." ucap Dewi kemudian memeluk Arin.


"Lah, memangnya saya kenapa Mbak?" tanya Arin heran.

__ADS_1


Sementara Abah Dul terlihat mulai membuka matanya lalu mengusap wajahnya sambil berucap, "Alhamdulillah..."


......................


__ADS_2