Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KOSIM MURKA


__ADS_3

Abah Dul terkesiap mendengar pemberitahuan dari sukma Gus Harun. Ia kebingungan apa yang harus di lakukannya, sedangkan untuk membuat perisai baru lagi membutuhkan waktu puluhan menit.


“Ane bingung Gus, apa yang harus ane lakukan?!” Ucap Abah Dul pada sukma Gus Harun.


“Untuk membuat petisai lagi sudah tidak mungkin Dul, ente bersiap-siap karena diatas sana ada ratusan siluman monyet akan turun!” Ucap sukma Gus Harun.


Sementara Mahmud terbengong-bengong melihat Abah Dul berbicara sendiri tanpa dia tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Namun melihat dari raut wajah Abah Dul, Mahmud merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara tangisan histeris anak kecil begitu keras dari dalam rumah. Belum habis keterkejutannya Arin muncul di pintu.


“Mas, Dede mas! Tolongin Dede mas!” seru Arin panik.


“Dede?!”


“Dede!”


Abah Dul dan Mahmud terkesiap dan berseru hampir bersamaan.


“Mud Dede Mud!” Seru Abah Dul kemudian bergegas masuk ke dalam rumah mengikuti Mahmud yang sudah lebih dulu beranjak.


“Aaaaaaakkkhh... aaaaaakkkhhh... aaaaaakkkh....”


Mahmud langsung masuk ke kamar Arin. Matanya terbelalak melihat anak kecil berusia 3 tahunan itu sedang sekarat. Nafasnya menggap-menggap, matanya membelalak keatas lebar-lebar, kedua tangan mengepal erat seperti sedang menahan kesakutan dan kakinya mengejat-ngejat kaku. Abah Dul muncul di belakang Mahmud yang berdiri terpaku di tengah pintu kamar.


“Astagfirullah!” pekik Abah Dul.


Abah Dul pun tak kalah terhenyeknya melihat kondisi Dede, lalu Abah Dul mendorong sedikit badan Mahmud yang berdiri di tengah pintu menghalangi jalan.


Abah Dul langsung berdiri di bibir tempat tidur dimana Dede tergolek kaku dengan nafas tersengal-sengal. Lalu Abah Dul terlihat komat-kamit membaca sesuatu, tak sampai 1 menit kemudian Abah Dul tiba-tiba hentakkan dua tangannya dengan posisi telapak tangan terbuka diarahkan pada tubuh Dede.


Bersamaan hantaman energi kekuatan dari telapak tangan Abah Dul, tiba-tiba kepulan asap kelabu muncul dari sisi kanan dan kiri Dede. Gumpalan-gumpalan asap itu sempat menebal lalu perlahan menipis melayang keatas dan lenyap.


Dibalik pandangan kasat mata yang tak dapat di lihat oleh Abah Dul, Mahmud maupun Arin, dua ekor monyet bertubuh besar musnah. Tubuhnya hancur dan lenyap meninggalkan asap setelah di hantam kekuatan Abah Dul. Sedangkan 10 ekor monyet bertubuh besar-besar lainnya langsung melesat keatas sesaat sebelum hantaman itu mengenai mereka dengan mencengkeram seorang anak kecil yang meronta-ronta. Monyet-monyet itu kemudian lenyap dari kamar.


“Dede!” Teriak Arin histeris.


Arin langsung masuk kamar menabrak badan Mahmud yang masih berdiri terpaku di tengah pintu hingga Mahmud terdorong keras.


“Dede!” pekik Mahmud baru tersadar dari terkejutnya.


Anak kecil itu nampak diam tak bergerak. Nafasnya sudah tak terlihat tersengal-sengal lagi, kedua tangan dan kakinya pun terkulai dan kedua matanya setengah terbuka yang memperlihatkan bagian putih matanya saja.

__ADS_1


......................


Di alam Kajiman,


Kosim yang sedang meluruskan badan diatas peraduannya tiba-tiba terlonjak kaget. Sorot matanya menatap lurus menembus kekejauhan, ada getaran kuat yang menarik-nariknya ke suatu tempat.


Dalam sekejap tubuh kabutnya langsung melayang berdiri tegak diatas peraduan. Lalu sesaat kemudian Kosim melesat keluar dari tempatnya tinggal menembus bangunan yang menaungi peristirahatannya.


Hanya dalam hitungan detik, tubuh kabut Kosim muncul di dalam kamar tempat putranya tergolek. Kosim melihat istrinya menangis tersedu-sedu, di ujung tempat tidur Mahmud sedang tertegun menatap anaknya dan Abah Dul terdiam dengan wajah dingin membatu juga menatap diatas kasur itu. Kemudian Kosim melihat kakak iparnya muncul dengan wajah panik langsung menubruk tubuh Dede yang tergolek tak bergerak.


“De... Dede bangun...” ucap Dewi lirih mengguncang-guncangkan tubuh Dede.


“Ayo De, banguuuun...” susul Arin di sela-sela isaknya.


Lalu tangis Dewi dan Arin membuncah mendapati tubuh Dede masih diam tak bergerak. Mahmud dan Abah Dul hanya tertegun menatap pemandangan diatas kasur dengan perasaan terenyuh.


"Bawa Dede ke rumah sakit, saya ambil mobilnya pak Kuwu dulu!" ujar Mahmud.


Sementara itu di sisi lain, wajah kosim dengan tubuh kabutnya terlihat geram. Sorot matanya berkilat penuh amarah yang meledak-ledak. Tangannya mengepal kuat-kuat lalu keluar teriakkan dari mulutnya.


“HAAAAAAAAAKKKKHHHHH...!!!”


Semua yang ada di dalam kamar seketika terkejut karena tiba-tiba kamar bergetar dibarengi dengan hembusan angin yang datang dari atas.


"Kosim!" seru sukma Abah Dul sangat terkejut.


"Abah tolong anak saya, dia di bawa paksa monyet-monyet siluman itu!" ucap Kosim geram.


"Kemana larinya mereka Sim?!" tanya Abah Dul.


"Kesana!" jawab Kosim menunjuk arah selatan.


"Ayo Sim, kamu ikut ane!" seru sukma Abah Dul.


Sukma Abah Dul dan tubuh kabut Kosim langsung melesat kearah yang di tunjuk Kosim itu.


"Mas, mas!" seru Dewi membuat langkah Mahmud terhenti di depan pintu.


"Ada apa Wi?!" tanya Mahmud membalikkan badan.

__ADS_1


"Ini gimana?" Dewi menunjuk-nunjuk dengan jempolnya kearah Abah Dul yang diam tak bergeming diatas lantai kamar.


"Astagfirullah, hampir lupa. Ya udah nanti saya sekalian ke rumah ustad Arifin untuk datang ke sini, ya sudah saya pergi dulu." ujar Mahmud berlalu.


Tubuh Dede terubujur kaku diatas tempat tidur dengan mata masih setengah terbuka yang hanya menampakkan putihnya saja. Dewi kemudian mengusap wajah anak kecil itu agar matanya menutup, namun mata Dede kembali terbuka. Beberapa kali Dewi terus berulang-ulang melakukannya tetapi tetap saja mata Dede kembali terbuka dengan terbalik. Dewi terus berupaya memejamkan mata Dede yang terlihat menyeramkan itu, hingga terlintas di bènaknya untuk membaca surat Al Fatikhah.


Dengan penuh keyakinan Dewi mulai membacanya, terdengar samar-samar suara lirih Dewi membaca surat Al Fatikhah dengan kidmat.


“Bismillāhirraḥmānirraḥīm,


Alḥamdu lillāhi rabbil'ālamīn,


Arraḥmānirraḥīm,


Māliki yaumiddīn,


Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn...


Ketika pada bacaan ayat ke-5 itu Dewi mengulang-ulang bacaannya sebanyak 7 kali, lalu di dalam hatinya Dewi mengucapkan doa.


"Ya Allah, pejamkan mata Dede..."


Kemudian Dewi melanjutkan bacaan surat Al Fatihahnya.


Ihdinaṣṣirāṭal mustaqīm,


Sirāṭalladżīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍz-ḍzāllīn...”


Setelah selesai membaca surat Al Fatihah, perlahan-lahan Dewi mengusapkan telapak tangannya kembali di wajah Dede dari kening hingga ke dagu.


"Alhamdulillah..." ucap Dewi lirih.


Kedua mata Dede kini sudah menutup terpejam seperti sedang tertidur. Beberapa saat kemudian Mahmud muncul di pintu dengan nafas terengah-engah.


"Ayo kita bawa Dede ke rumah sakit!" seru Mahmud.


"Mana ustad Arifinnya mas?" sergah Dewi sedikit kaget tiba-tiba Mahmud muncul.


Usai Dewi bertanya begitu terdengar suara ucapan salam dari luar rumah.

__ADS_1


"Itu ustad Arifin," timpal Mahmud kemudian bergegas menuju pintu.


......................


__ADS_2