
Suasana makan pagi nampak sangat meriah dan bagi Mahmud sendiri berasa anggota keluarganya sama komplitnya saat sebelum Kosim meningal. Seolah- olah bereuni kembali dimana masa- masa bulan lalu makan bersama seperti ini terulang kembali. Namun kali ini ada tambahan dua tamu lainnya yakni Basyari dan Baharudin.
“Mbak Arin, sediakan saja yang biasa disuka sama kang Kosim makan,” kata Gus Harun
“Tapi Gus, kang Kosim sudah nggak makan nasi lagi,” sahut Arin sambil menoleh kearah Kosim disampingnya meminta pembenaran. Tetapi Kosim hanya tersenyum simpul tidak meng- iyakan dan juga tidak menolaknya.
“Iya kang Kosim memang tidak makan makanan seperti ini selayaknya kita semua, tapi dia akan tetap memakan sari- sari dari makanannya mbak,” terang Gus Harun.
“Ohhh…” gumam Arin sedikit terkejut mendengar penjelasan Gus Harun, lalu ia menoleh kembali pada Kosim meminta persetujuannya.
Kosim lalu mengangguk kecil membenarkan ucapan Gus Harun, kemudian segera Arin mengambilkan sepiring nasi, satu ikan goreng, sambal dan sayur asem sama seperti yang lainnya.
“Sebelum makan jangan lupa kita berdoa ya,” ucap Gus Harun mengingatkan.
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar." ( "Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.") Samar- samar suara gumaman doa sebelum makan pun terdengar, lalu mereka pun makan sama- sama dengan perasaan sumringah.
Gus Harun, Basyari serta Baharudin nampak begitu menikmati makanan hasil masakan Dewi. Kalau Abah Dul tak usah dipertanyakan lagi sebab rumah Mahmud adalah rumah keduanya dan merasakan masakan Dewi di rumah Mahmud sudah hampir setiap hari.
Namun tak ada yang tahu dengan yang dilakukan Kosim saat melahap makanan yang ada di hadapannya. Bahkan Arin yang duduk disebelahnya pun melihat Kosim hanya duduk diam tidak melakukan gerakkan makan seperti mereka.
Dibalik diamnya Kosim, dia sebenarnya sedang menikmati menyantap makanan tersebut. Tanpa dapat dilihat oleh pandangan kasat mata, sari- sari dari makanan tersebut satu persatu masuk kedalam tubuhnya melalui mulutnya
layaknya orang makan.
“Gus, kang Bas, kang Bahar, ayo nambah jangan sungkan- sungkan. Jangan kalah sama Abah Dul,” kata Mahmud saat Abah Dul mengambil nasi lagi.
“Kalau Dul sih, sudah nggak aneh kang Mahmud,” ujar Baharudin.
“Iya kang Mahmud, makanan di piring kiyai juga dia embat,” timpal Basyari.
“Hahahaha…”
“hahaha…”
“hahaha…”
Seketika gelak tawa membuncah ditengah- tengah menyantap makan pagi itu. Abah Dul yang mendapat sindiran telak langsung bereaksi batuk- batuk kecil berlagak keselek.
“Uhukk.. uhukk.. uhukk..”
“Kuwalat ente bah,” celetuk Mahmud membuat durasi gelak tawa bertambah panjang.
Sekitar 25 menit kemudian , satu persatu menyudahi makannya dengan meneguk air teh hangat melengkapi kenikmatan makan mereka.
__ADS_1
“Alhamdulillah…” ucap Gus Harun, lalu disusul Baharudin, Mahmud, Basyari, Dewi.
Sedangkan Arin terlihat masih menyuapi Dede dan beberapa saat kemudian disusul Abah Dul yang terakhir menyudahi makannya.
“Ayah Mamud, ayah Mamud, teman- teman ayah Mamud mau pulang ya?” tiba- tiba Dede bertanya saat Gus Harun, Basyari dan Baharudin memetik buah pisang.
Mendengar pertanya Dede, semuanya seketika terkejut terutama bagi Gus Harun, Basyari dan Baharudin.
“Kok Dede tahu?” tanya Mahmud heran menatap Dede yang berada di pangkuan Arin.
“Ayah Mamud sama Pakde Dul juga ikut pergi kan?” Dede kembali bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan
Mahmud.
“Loh, kok Dede tahu juga?!” Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin semakin dibuat heran.
Mereka mengingat- ingat lagi pembicaraan tadi pagi saat di ruang tamu padahal saat itu tak ada seorang pun yang tahu. Bahkan Dewi yang sedang berada di dapur pun tidak mengetahui rencana kepulangan tamunya itu.
“Beneran Mas?” tanya Dewi penasaran.
“Iya Wi, kang Basyari dan kang Baharudin rencananya mau pulang jam sepuluhan ini. Karena ada acara penting di pesantrennya, dan saya, Abah Dul sama Gus Harun ikut mengantarkannya. Sekalian mau ngurus- ngurus masalah
di kantor polisi Wi,” terang Mahmud.
“Di kantor Polisi? Ada masalah apa Mas?!” tanya Dewi mendadak cemas.
“Ohhh…” gumam Dewi manggut- manggut mengerti, lalu menoleh kearah Dede.
“Dede kok tahu Ayah Mamud mau pergi sama teman- temannya sih?” tanya Dewi sedikit merajuk agar Dede mau menjawabnya.
“Ada yang ngasih tahu bunda Dewi, hik… hikk, hikkk…” sahut Dede cekikan selayaknya tingkah anak kecil.
Mendengar jawaban dari Dede, semuanya mengerutkan keningnya dalam- dalam. Ada yang ngasih tahu? Siapa? Pertanyaan- pertanyaan itulah yang menggantung didalam pikiran mereka semua.
Kosim pun tampak ikut terkejut melihat tingkah anaknya tersebut, dia melihat banyak perubahan pada anaknya itu semenjak hidup kedua kalinya. Tapi Kosim juga tak mengerti dengan perubahan yang dimiliki oleh
anaknya tersebut.
Gus Harun hanya menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah Dede. Perkiraannya sudah menunjukkan tanda- tanda kebenaran pada diri anak itu. Begitu pun dengan Abah Dul, dirinya masih ingat betul ketika Gus
Harun menitipkan Dede padanya untuk menjaga dan mendidiknya jangan sampai salah jalan.
Anak itu akan menjadi orang yang paling baik, paling jujur, suka menolong, akan tetapi jika lengah dalam mendidiknya, yang akan terjadi adalah sebaliknya. Dede akan menjadi orang yang paling jahat dan paling tega
__ADS_1
diantara orang- orang yang menjahatinya.
Tak ada lagi pertanyaan ataupun obrolan- obrolan mengenai Dede, walau pun rasa penasaran yang besar masih mengganjal di hati masing- masing. Dewi dan Arin segera memberesi bekas makan- makan di ruang tamu,
sedangkan Dede ikut bersama dalam gendongan Kosim ke ruang tamu menyusul Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin.
“Kang Kosim, kapan batas waktu ente disini kang?” tanya Gus Harun.
“Sampai matahari terbenam hari ini Gus,” jawab Kosim seketika sedih mengingat batas waktu dirinya berada
di tengah- tengah keluarganya.
“Lalu setelah itu kemana Sim?” tanya Mahmud.
“Sa, saya kembali ke dunia Kajiman kang Mahmud,” jawab Kosim parau memendam kesedihannya.
“Apakah selamanya kang Kosim akan berada disana?” tanya Basyari penasaran.
“Saya pernah bertanya seperti itu ustad pada raja Kajiman, dan menurut raja Kajiman, akan ada masanya dimana arwah- arwah Kajiman akan kembali ke alam kubur dimana alam yang semestinya berada,” terang Kosim.
“Alhamdulillah…” gumam Basyari.
“Kapan itu kang Kosim?!” tanya Gus Harun.
“Masa itu akan datang ketika pada kematian saya di hari ke seribu dan orang- orang mendoakan saya. Terutama peran ibu saya yang sudah lebih dulu di alam kubur turut serta menjemput saya dari alam kajiman nanti,”
terang Kosim.
“Insya allah! Insya allah kami semua akan turut mendoakan kang kang Kosim,” kata Gus Harun.
“Insya allah…!” ucap Basyari.
“Insya allah…!” ucap Baharudin.
“Insya allah…!” ucap Abah Dul dan Mahmud bersamaan.
“Iya Sim, saya berjanji akan mengadakan doa dengan mengundang tetangga- tetangga, kerabat bahkan keluarga kamu,” ucap Mahmud.
“Matur suwun kang Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, ustad Basyari dan ustad Baharudin. Kalian semua adalah orang- orang baik, saya semakin merasa menyesal begitu cepat meninggalkan alam fana ini sebelum belajar agama lebih dalam pada kalian semua,” ucap Kosim lirih.
“Takdir kang Kosim, ini semua sudah kehendak Gusti allah. Mungkin peristiwa- peristiwa dan perbuatan yang dulu ente lakukan merupakan teguran dari Gusti allah untuk mengingatkan kita semua yang masih hidup. Hikmah yang
sesungguhnya adalah kita harus bersyukur dalam kondisi apapun,” terang Gus Harun.
__ADS_1
“Njih Gus,” sahut Kosim menganggukkan kepala pelan.
* BERSAMBUNG