
“Astagfirullah!” pekik sukma Gus Harun terkesiap kaget luar biasa saat pandangannya jatuh ke ujung kaki remaja tersebut.
Sukma Gus harun melihat pada ujung kaki anak remaja itu ada sesosok perempuan sedang mencakar- cakar kaki bagian betisnya. Betis itu tampak sudah tercabik- cabik di beberapa bagiannya. Kuku- kuku berwarna hitam pada kesepuluh jari- jari sosok perempuan itu dibanjiri lelehan darah yang menetes- netes ke seprey dan lantai kamar.
Sukma Gus Harun bergidik ngeri melihat pemandangan di hadapannya, sedetik berikutnya sukma Gus Harun melesat pergi dan lenyap dari dalam kamar rumah tersebut untuk kembali ke raganya.
Sebelumnya di rumah Mahmud, Basyari yang berdiri disamping Gus Harun mengerti dengan kondisi sahabatnya itu yang secara tiba- tiba tubuhnya mematung dengan mata tertutup. Basyari memberi isyarat pada Baharudin untuk segera merapatkan badannya dari kedua sisi kanan dan kiri agar badan Gus Harun tidak limbung ataupun jatuh.
Hanya beberapa saat kurang dari satu menit kejadian Gus Harun melepaskan sukmanya itu berlangsung, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat proses tersebut.
“Alhamdulillah… astagfirullahal azim,” gumam Gus Harun.
Gumaman Gus Harun didengar oleh Basyari dan Baharudin, membuat keduanya menoleh secara bersamaan kearah Gus Harun, seraya bertanya penasaran; “Kenapa Gus?!” memelankan suaranya.
“Apa yang diucapkan anak itu benar Har, Bas…” bisik Gus Harun.
“Benar apanya?!” tanya Basyari bingung.
“Anaknya si bapak itu memang benar sakitnya bukan sakit biasa,” balas Gus Harun.
“Hah???” Basyari dan Baharudin terkejut dengan mulut menganga.
Lalu pandangan Gus Harun, Basyari dan Baharudin kembali diarahkan pada ruang tamu dimana pak Harjo dan istrinya terus- menerus memohon kepada bocah kecil itu untuk mengobati putranya.
“Tolonglah nak, tolong putra kami…” ucap istri pak Harjo memelas.
“Pokoknya ibu dan bapak tenang aja, saat pulang dan sampai di rumah si kakak sudah tidak lagi meronta- ronta
kesakitan,” ucap Dede masih dengan gaya bicara anak- anak yang polos dan cuek sambil memainkan jari- jarinya di lengan Mahmud.
Mendengar ucapan Dede meskipun terdengar asal- asalan, namun bagi pak Harjo dan istrinya ucapan itu merupakan petuah yang sangat dinantikannya. Suami istri itu begitu sangat mempercayai ucapan- ucapan dari bocah tersebut.
“Nak, kalau ibu bagaimana?” sela ibu Diman yang sedari tadi menyimak saja.
“Hikhik… hikhik.. hikkhikk…” Dede hanya cekikikan acuh tak acuh sambil terus bermain- main sendiri dipangkuan
__ADS_1
Mahmud.
Pak Diman dan istrinya hanya bisa menarik nafas dalam- dalam, keduanya tahu menghadapi anak kecil tidak boleh
dengan cara memaksa. Pak Diman dan istrinya dengan sabar menunggu- nunggu ucapan dari Dede, sebab keduanya sangat yakin anak itu akan memberikan petuahnya.
“Sini bu botol airnya itu?” Dede tiba- tiba meminta botol air mineral yang dibawa ibu Diman.
Saat itu juga wajah ibu Diman langsung sumringah berseri- seri penuh harapan. Ia segera memberikan botol
berisi air mineral tersebut kepada mahmud untuk menerimanya karena Dede terlihat cuek dan asyik bermain sendiri.
“Bukain ayah Mamud, Dede haus,” ucap Dede merajuk pada Mahmud.
Mahmud cepat- cepat membuka plastik segel pada tutup botol air mineral tersebut lalu disodorkannya pada Dede.
“Ini De?” ucap Mahmud menyorongkan ujung botol yang terbuka ke mulut Dede.
Dede mendekatkan mulutnya kemudian meneguknya hanya satu tegukkan lalu mendorong kembali botol air mineral tersebut sebagai isyarat ia tak mau minum lagi.
Mahmud menutup kembali botol air mineral tersebut lalu diserahkan kembali pada ibu Diman tanpa berkata apapun. Sebab ia sendiri tidak mengerti maksud Dede dan hanya menuruti ucapan keponakannya itu saja.
“Udah ah, Dede ngantuk ayah Mamud. Dede mau tidur ingin ketemu ayah,” ujar Dede lalu beranjak turun dari pangkuan Mahmud.
Mahmud membiarkannya saja apa yang ingin dilakukan oleh Dede. Anak itu berlari kearah ibunya yang langsung
disambut Arin kedalam dekapannya sambil membukukan badan.
Empat orang tamu itu tertegun melihat tingkah Dede, mereka menjadi kikuk sendiri karena tak tahu harus bagaimana lagi. Pandangan mata tamu- tamu itu hanya bisa mengikuti anak itu berlari kearah ibunya.
“Udah malam, bapak, ibu pulang aja. Besok juga sembuh,” celetuk Dede sambil berlalu menarik lengan ibunya masuk ke dalam.
Seketika keempat tamu itu saling berpandangan satu sama lain. Perasaannya bergejolak bercampur aduk antara tak percaya dan bahagia. Bagaimana mau percaya itu hanya ucapan- ucapan anak kecil dan tidak terlihat anak itu memberikan jampi- jampi atau semacamnya layaknya mbah dukun saat mengobati pasiennya.
Akan tetapi disisi lain ada rasa bahagia serta ada harapan yang besar seketika tumbuh didalam hati keempat orang
__ADS_1
itu. Mereka sangat yakin kalau ucapan anak itu bukan ucapan omong kosong belaka. Dan ingin segera dibuktikannya.
“Kalau begitu kami pamit kang Mahmud. Terima kasih banyak sudah menerima kami dengan sangat ramah. Benar kata penduduk sini, kang Mahmud itu orangnya baik sekali, hehehe…” ucap pak harjo.
“Iya kang Mahmud kami mengucapkan terima kasih sebesar- besarnya. Semoga anak itu merupakan perantara atas kesembuhan istri saya maupun anak pak Harjo,” timpal pak Diman yang langsung di amini pak Harjo dan istrinya.
“Njih, njik pak. Semoga silaturahmi ini menjadi berkah ya pak,” balas Mahmud.
Ke empat tamu itu berdiri lalu menyalami Mahmud dimulai dari pak Harjo. Saat tangan pak Harjo dan Mahmud bersalaman, seketika Mahmud melepaskannya kembali saat telapak tangannya merasakan sesuatu benda.
“Apa ini pak?!” tanya Mahmud terkesiap.
“kang Mahmud, kami mohon berikan ini pada anak itu kami mohon terimalah. Mungkin ini tak seberapa nilainya jika dibandingkan dengan kesembuhan putra saya kang,” sergah pak Harjo sembari terus menyodorkan lipatan kertas ditangannya.
“Mohon maaf sekali pak Harjo dan ibu, saya tidak bisa menerima ini. Segala sakit dan kesembuhannya itu semua karena Gusti allah, bukan karena anak kecil itu pak,” ucap Mahmud dengan santun menolak lipatan amplop yang diberikan oleh pak Harjo.
“Njih kang Mahmud, saya mengerti. Tapi terimalah ini, saya sungguh- sungguh ingin membagikan rasa syukur ini sekedar untuk jajan anak itu kang,” sergah pak Harjo terus menyodorkan genggaman tangannya yang berisi lipatan amplop.
Mahmud benar- benar bersikukuh ingin menolaknya, akan tetapi pak Harjo terus mendesak dan memaksa Mahmud untuk menerimanya. Seketika Mahmud menoleh pada Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin untuk minta dibantu menolak pemberian tersebut.
Sesaat setelah Gus Harun dan yang lainnya saling berpandangan lalu mengangguk kecil yang mengisyaratkan meminta Mahmud untuk menerimanya. Pertimbangannya, selain orang itu memaksa sudah niat ingin memberikan amplop tersebut juga pertimbangan lainnya karena orang tersebut merupakan orang yang berkecukupan harta. Karena Gus Harun sudah mengetahui keadaannya meski hanya dari kondisi rumahnya.
Mahmud dengan terpaksa menerima uluran amplop dari pak Harjo biarpun didalam hatinya sangat menolak pemberian tersebut. Setelah pak Harjo dan istrinya selesai bersalaman dengan Mahmud, kini giliran pak Diman dan istrinya.
Hal yang sama seperti pak Harjo dilakukan pula oleh pak Diman saat bersalaman. Kali ini Mahmud tak berusaha untuk menolaknya karena sebelumnya sudah menerima pemberian dari pak Harjo. Jika dirinya menolak pemberian dari pak Diman, secara tata krama akan menyinggung perasaannya.
Pak Harjo dan istrinya kemudian menyalami Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin lalu disusul pak Diman dan istrinya.
“Assalamualaikum…” ucap pak Harjo mewakili semuanya.
“Wa alaikum salam..” sahut Abah Dul dan yang lainnya bersamaan.
“Hati –hati dijalannya pak…” sambung Mahmud.
“Njih kang Mahmud, matur suwun sanget.” Sahut pak Harjo dan pak Diman.** BERSAMBUNG.
__ADS_1