Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
TERSESAT DI ALAM LAIN


__ADS_3

Abah Dul dan Kosim berdiri tertegun melihat pemandangan di depannya. Banyak orang berlalu lalang yang terlihat sibuk dengan kesibukan dan keperluannya masing-masing. Namun yang membuat Abah Dul terpaku berdiri di tempatnya karena di depannya terpampang pemandangan perkotaan namun sangat asing, rasanya kota ini baru kali ini ia melihatnya. Gedung-gedungnya nampak modern, bangunan-bangunannya bertingkat menjulang tinggi serta ramai oleh ragam mobilitas penduduknya.


“Sim apakah kita berada di negara India?” Bisik Abah Dul yang berdiri di samping Kosim.


Abah Dul melihat semua orang-orangnya memakai pakaian layaknya khas pakaian bangsa India, tidak seperti pakaian yang dikenakannya. Kosim hanya tersenyum mendengar pertanyaan Abah Dul.


“Ayo Bah, kita tanya kediaman Azazil sama orang-orang itu,” sahut Kosim sambil menunjuk sekerumunan orang di pinggir jalan.


“Azazil?! Siapa Azazil?!” Abah Dul balik tanya penasaran.


“Udah, ikut saja nanti juga tahu!” sergah Kosim.


Nampak sekelompok orang berjumlah 10 orang sedang mengerumuni satu orang yang duduk menggelosoh di tengah-tengahnya. Badannya nampak kekar rata-rata memiliki postur tubuh besar dan tinggi dan dari wajah-wajah orang yang mengerumuni itu nampak sangar dan bengis.


Langkah Abah Dul dan Kosim semakin mendekat, kini jaraknya tinggal 5 langkah lagi dengan kerumunan orang-orang yang semuanya berkulit hitam itu. Dari jaraknya melangkah, Abah Dul dan Kosim samar-samar mendengar percakapan diantara mereka.


“Ampuuun... ampuuun...” terdengar suara rintihan seseorang diantara kerumunan.


“Bayar upetimu, cepat!” hardik salah satu orang yang mengerumuni.


“Ampuuun... sekarang tidak ada tuan dagangan sedang sepi...” ucap suara berat seseorang dengan lirih memelas.


“Halllah! Alasan!” sentak seorang lainnya kemudian menendang orang yang duduk bersimpuh.


Buk!!!


"Aaaakhhgg..!!!" pekik orang itu.


Melihat adegan tak adil di hadapannya, Abah Dul langsung bereaksi menghardiknya, “Hey! Apa-apaan kalian!” hardik Abah Dul.


Kosim melihat reaksi Abah Dul terlihat tenang-tenang saja. Raut wajahnya datar tanpa menunjukkan rasa takut ataupun khawatir sama sekali.


Mendengar ada suara bentakkan, sekelompok orang berbadan kekar dan tinggi besar itu seketika serempak membalikkan badannya. Mereka semua menatap tajam Abah Dul dan Kosim dengan kening mengerut dalam-dalam dan mata melotot penuh kebencian.


“Heh! Kalian mahluk tersesat darimana, kenapa mencapuri urusan ini, hah!!!” hardik salah satu orang itu.


“Kalian jangan bertindak sesuka hati menindas sesama!” balas Abah Dul.


“Sesuka hati?! Hahahahaha...” celetuk salah satu dari mereka terbahak-bahak diikuti oleh teman-teman lainnya.


“Kalian berdua memang mahluk aneh! Ayo hajar!” perintah seorang yang berdiri paling depan.


“Huuuaaaaa...!!!”

__ADS_1


“Huuuaaaaa...!!!”


“Huuuaaaaa...!!!”


Seruan itu saling bersahutan lalu serempak maju menerjang Abah Dul dan Kosim dengan beringas. Kepalan-kepalan tangan yang besar teracung mengarah pada Abah Dul dan Kosim siap di hantamkan.


“Siap Sim!” seru Abah Dul mengingatkan.


Abah Dul dan Kosim mundur satu langkah. Kaki kanannya di tari kebelakang membuat gerakan kuda-kuda menyambut terjangan itu. Mulit Abah Dul komat-kamit membaca amalan yang mengandung tenaga dalam, sedangkan Kosim hanya terdiam menanti tangan-tangan terkepal itu mendekat.


Tiga bogem meluncur deras mengarah muka Abah Dul dan 3 bogem lagi menyasar wajah Kosim. Saat jarak pukulan itu tinggal 20 cm lagi, Abah Dul mendorongkan kedua telapak tangannya menyambut hujaman pukulan itu.


Wuuusss...!!!


Suara deru angin mengandung kekuatan besar terpancar dari kedua telapak tangan Abah Dul menyongsong datanganya tubuh-tubuh tinggi besar itu.


Bukkk!


Bukkk!


Bukkk!


Tiga orang seketika langsung terpental kebelakang serasa di hantam oleh batang besi yang kekuatannya dua kali lipat dari tenaga kesepuluh orang itu.


Melihat itu Abah Dul membelalakan matanya lebar-lebar seraya berteriak keras; “Awas Sim!”


Wuuuuussas....


Tiga orang yang menerjang Kosim dengan menghujamkan pukulan-pukulannya dibuat terkesiap. Pukulan mereka hanya mengenai udara kosong bahkan tubuh ketiganya terdorong menembus wujud Kosim dan nyaris jatuh tersungkur sendiri.


Setelah tubuhnya tertembus di lewati ketiga orang itu dengan cepat Kosim melemparkan benda bulat sebesar telor angsa berwarna emas kearah ketiga orang itu.


Duaaarrrr...!!!


“Aaaaakkhhh...!!!”


“Aaaaakkhhh...!!!”


“Aaaaakkhhh...!!!”


Suara-suara jeritan terdengar melengking saling bersahutan diantara suara gelagar akibat beradunya batu emas mengenai tubuh mereka. Batu emas yang tak lain adalah batu Mustika Telur Naga itu menghantam seorang yang berada di posisi tengah. Meskipun hanya satu orang yang terkena lemparan batu emas itu akan tetapi kekuatan ledaknya tak kalah hebatnya menghantam dua orang di samping kiri dan kanannya. Tubuh ketiga orang itu langsung berpelantingan kebelakang dan ke kanan dan kiri lalu jatuh tersungkur.


Sementara satu orang lagi yang memerintah dan tidak turut menyerang terlihat sangat terkejut. Orang itu merupakan pemimpin dari kelompok dibuat tak percaya dengan yang di lihatnya sehingga nyalinya menjadi ciut seketika.

__ADS_1


“Ayo, lari! Lari! Laporkan pada Maharaja!” teriak pemimpin kelompok itu.


Mendengar seruan dari pimpinannya, seketika kesembilan orang itu berlarian pontang-panting menyusul pimpinan mereka yang sudah kabur lebih dulu.


Sepeninggal kelompok yang menganiaya orang itu Abah Dul dan Kosim kemudian melangkah mendekati orang yang di keroyok tadi. Nampak meja dagangannya sudah terbalik dan barang-barang dagangannya berserakkan kemana-mana.


Tubuh ringkih orang yang di aniaya itu tertatih-tatih mencoba bangkit berdiri dengan susah payah. Dari sudut bibirnya ada cairan yang meleleh keluar hingga melelh ke dagunya.


“Pak tua tidak apa-apa?!” Abah Dul langsung membatu orang tua itu berdiri.


“Kalian siapa?! Kalian kenapa membantuku?!” Tanya orang tua itu heran.


Wajah orang tua itu justru menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran yang besar dengan perbuatan Abah Dul dan Kosim yang telah membantunya.


Abah Dul dan Kosim saling memandang keheranan. Kenapa dirinya di salahkan dan nampaknya orang tua itu lebih mengkhawatirkan akibat pertolongannya? Begitu batin Abah Dul.


“Kalian pasti akan di kejar dan di buru! Kalian tidak tahu siapa orang-orang itu, mereka itu sangat kejam dan mereka itu para petugas dari kerajaan.” Kata pak tua itu dengab dahi mengerut dalam-dalam.


“Kerajaan?!” Seru Abah Dul kaget.


Wajah orang tua itu semakin keheranan melihat ekspresi Abah Dul. Lalu orang tua itu mengajaknya pergi dari tempat tersebut.


“Kalian bukan penduduk sini?!” Tanya pak tua lagi.


“Maksudnya?!” Abah Dul kian bingung dengan maksud ucapan pak tua.


“Ayo, ayo sekarang lekas-lekas pergi dari tempat inì. Ikut ke rumahku saja!” sergah pak tua kemudian celingukkan melihat sekelilingnya nampak jelas sangat ketakutan.


Abah Dul dan Kosim hanya menuruti saja apa yang di sarankan oleh orang tua itu dan keduanya pun berjalan di belakangnya penuh tanda tanya besar.


"Kerajaan?!"


"Diburu?!"


"Sebenarnya ada dimana ini?!"


Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi isi kepala Abah Dul yang terus mengikuti langkah pak tua yang berjalan di depannya sambil memikul barang dagangan.


......................


Selanjutnya:


Pertolongannya terhadap pak Tua menjadi sumber masalah. Abah Dul dan Kosim di cari-cari oleh orang-orang kerajaan. Abah Dul akhirnya mengerti setelah mendapat banyak penjelasan dari pak tua yang di tolongnya.

__ADS_1


__ADS_2