
Setelah beberapa saat lamanya menunggu, pesanan pun akhirnya datang juga. Nasi goreng 3 piring, dua teh manis hangat dan 1 teh tawar hangat di tata rapih diatas meja sesuai dengan pesanannya masing- masing oleh seorang pelayan.
"Sudah sampe ya bun?" tanya Dede terbangun dari tidurnya sesaat celingukkan melihat sekelilingnya lalu duduk dipangkuan ibunya menatap makanan di atas meja.
"Belum De, sekarang lagi mau sarapan dulu. Dede makan ya," ucap Arin.
“Eh, Dede bangun?” Dewi menyapa
Dede.
“Ayo nak Dede makan dulu biar tidak
mabok pejalanan,” ujar pak Diman.
Anak kecil itu tak menjawab tetapi
mengangguk- anggukkan kepala. Arin segera menyendok nasi goreng yang masih
terlihat mengepulkan asap, ia lalu meniup- niup sebentar sebelum menyuapkannya pada Dede.
Sementara itu di salah satu meja
yang berada di sudut, terlihat ada 6 orang laki- laki mengenakan jaket kulit
duduk memutari meja makan. Keenam lelaki tersebut berbadan tegap- tegap dan nampak kekar berotot, sekilas perawakannya seperti umumnya seorang prajurit. Hal itu pun didukung oleh tampilan rambutnya yang cepak dicukur rapih.
Sesekali mereka bergantian melirik
kearah meja tempat Dewi, Arin, Dede dan pak Diman makan. Sorot mata keenam lelaki itu begitu tajam memperhatikan mereka, lalu saling berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti keenam lelaki kekar berusia rata- rata 35 tahunan itu nampaknya sedang mendiskusikan sesuatu.
Setelah salah satu dari mereka terakhir
kalinya memperhatikan meja tempat Dewi, Arin, Dede dan pak Diman makan, kemudian memberikan isyarat dengan menganggukkan kepala pada 5 teman- temannya. Kelima temannya saling menganggukan kepala, lalu 5lelaki muda tersebut satu persatu beranjak
dari tempat duduknya meninggalkan meja makan mereka keluar dari rumah makan. Namun salah satu lelaki yang terakhir melirik tadi berjalan menuju kasir untuk membayar makanan mereka.
Setelah selesai urusannya dengan
kasir, laki- laki muda itu bergegas menyusul 5 temannya yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil yang terparkir disisi kiri yang secara kebetulan berjarak hanya selisih dua mobil dari mobil pak Diman yang membawa Dewi, Arin serta Dede.
“Udah buna, Dede kenyang,” kata Dede
geleng- geleng kepala saat Arin hendak menyuapinya lagi.
Arin kemudian mengambilkan air minum dan meminumkannya pada Dede dan Arin pun meneruskan makannya yang hanya tinggal 5 sendok lagi. Sementara Dewi dan pak Diman tinggal satu suapan lagi menghabiskan nasi goreng dipiringnya.
Setelah suapan terakhirnya dan meneguk segelas teh hangat, Pak Diman bergegas berdiri lalu meninggalkan Dewi dan Arin menuju kasir untuk membayar semua makan yang dipesan tadi.
Tak lama kemudian saat pak Diman kembali ke tempat makan tadi, Dewi dan Arin tampak sudah selesai dengan makannya yang diakhiri dengan meneguk air minum the manis hangat. Nampaknya mereka semua puas
dengan sarapannya, pak Diman pun langsung mengajaknya untuk kembali melanjutkan perjalanan.
“Sebentar pak, saya ke kasir dulu
mau bayar,” kata Dewi buru- buru berniat berjalan ke meja kasir.
“Mbak Dewi, sudah saya bayar semua,”
cegah pak Diman.
Dewi pun seketika menghentikan
langkah dan menoleh ke pak Diman, “Loh sudah dibayar pak Diman?”
“Iya mbak, sudah tidak apa- apa. Mbak
Dewi dan mbak Arin kan tamu saya dan tamunya pak Harjo jadi semua sudah
tanggung jawab kami, hehehe..” balas pak Diman tersenyum simpul.
“Kalau begitu terima kasih banyak
loh pak,” ucap Dewi.
“Iya terima kasih pak Diman, sudah
merepotkan,” timpal Arin.
"Sudah, sudah... Tidak apa- apa mbak Arin, mbak Dewi, mari kita lanjutkan perjalan lagi," balas pak Diman.
"Mari pak..." sahut Dewi dan Arin, lalu mereka pun berjalan keluar dari rumah makan menuju mobil.
Di dalam sebuah mobil Avanza berwarna hitam, 6 pasang mata yang sedari tadi memperhatikan pintu masuk dan keluar rumah makan seketika pandangan mata mereka berbinar- binar.
"Itu dia! Binggo!" seru salah satu pemuda yang duduk di jok depan disamping kemudi.
Matanya terus mengamati pergerakkan pak Diman, Dewi serta Arin yang sedang berjalan menuju ke mobil mereka tanpa berkedip sedikit pun.
__ADS_1
"Ingat baik- baik dengan rencana yang sudah kita bicarakan tadi. Tapi ingat! no bloods!" tegas lelaki muda di jok depan lagi.
"Siap bos!" sahut kelima lelaki muda lainnya.
Tak lama kemudian mobil Terios warna silver yang di amati ke- 6 pemuda itupun mulai bergerak meninggalkan halaman parkir Rumah Makan Sekar Wangi dan melaju di jalur pantura menuju kearah barat.
"Cepat sedikit Jo, nanti hilang jejak!" seru pemuda di jok depan, tampaknya sebagai pimpinannya.
"Oke Bos!" sahut pemuda yang di panggil Jo langsung melajukan mobil yang dikemudikannya keluar dari parkiran rumah makan tersebut lalu melaju di jalan raya mengikuti arah mobil pak Diman.
"Jangan terlalu jauh Jo! Bisa hilang jejak!" tegas pimpinan.
"Siap Bos!" sahut Jo lalu dengan sigap menambah kecepatannya dan menyalip satu mobil truk di depannya.
Sementara mobil Terios warna silver yang dikuntit mereka tinggal berjarak sekitar 5 mobil di depan.
"Salip dua lagi jo, jaga jarak di belakang mobil merah itu sebelum memasuki kawasan hutan lindung!" kata pimpinan.
"Oke bos!" sahut Jo.
"Kalian siap- siap bergerak!" perintah pimpinan.
"Siap bos!" sahut 5 lelaki dibelakangnya.
Mobil Avanza hitam kini melaju diposisi ketiga dari mobil Terios Silver dibelakang mobil sedan warna merah dengan laju stabil tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.
"Tiga kilo lagi Jo, masuk hutan lindung! Bersiap kita langsung beraksi tepat saat sampai di titik yang sudah kita tentukan.
Lalu lintas mulai terlihat lenggang saat sudah melewati persimpangan, karena banyak kendaraan yang mengambil jalur arah ke kota. Begitu pula dengan mobil merah yang semuka ada di depan Avanza hitam dan dibelakang Terios Silver, kini sudah tidak ada lagi.
Sekarang mobil Avanza hitam berada tepat dibelakang Terios Silver yang dikemudikan pak Diman.
"Perasaanku kok nggak enak ya mbak," kata Arin.
"Mungkin karena melihat jalanan sepi ya mbak," ujar pak Diman terus melajukan mobil dengan kecepatan 70 km/ jam.
"Nggak tahu juga pak Diman, tapi dadaku berdebar- debar terus dari tadi," kata Arin celingukkan melihat ke sisi kiri dan kanan yang tampak hanya batang- batang pohon karet yang menjulang tinggi serta semak belukar disepanjang tepi jalannya.
"Iya pak Diman, kalau saya merasakan perasaannya nggak enak itu sejak keluar dari rumah makan tadi. Tapi saya pendam saja tak mau menimbulkan prasangka buruk," ujar Dewi.
"Tenang saja mba Dewi, mba Arin di daerah ini meskipun kelihatannya sepi dijamin aman kok. Dulu memang sering sekali terjadi perampokkan di area sepanjang hutan lindung ini, tapi setelah komplotan rampok itu di tangkap polisi sekarang jadi aman," ungkap pak Diman.
Diantara mereka tidak ada satu pun yang ingat dengan ucapan bocah kecil saat berangkat tadi. Mereka semua menganggap ucapan Dede itu hanyalah ungkapan spontan yang tak bermakna.
Dede yang sedari tadi mendengarkan ucapan- ucapan tersebut tiba- tiba menutup mukanya dengan kedua telapak tangan mungilnya. Arin yang melihat tingkah Dede seketika merasa heran.
"Dede kenapa? Dede takut ya?" tanya Arin melihat wajah putranya ditutupi tangan.
Tiba- tiba pak Diman menginjak rem dengan mendadak membuat tubuh Arin terdorong membentur jok di depannya. Begitu pula dengan Dewi tubuhnya pun terdorong kedepan dan nyaris saja kepalanya membentur dashboard.
"Astagfirullah!" pekik Arin dan Dewi bersamaan.
Sedangkan pak Diman seketika itu juga tubuhnya terhentak kedepan membuat dadanya membentur setir mobil. Akibat dadanya menekan bagian klakson seketika itu juga suara klakson menyalak keras.
Tiiiiiiiiiiiinnn...!
Suasana bertambah panik mendengar bunyi klakson yang keras dan lama tak berhenti menyalak. Beberapa detik kemudian pak Diman tersadar tubuhnya menekan tombol klakson yang ada pada setir, segera mengangkat tubuhnya menjauhi setir.
Wajahnya terlihat panik saat melihat sebuah mobil Avanza hitam secara tiba- tiba menyalip memotong jalan dan mengerem mendadak didepannya.
"Ada apa pak?!" tanya Dewi panik bercampur cemas bsrsamaan melihat dari mobil Avanza hitam keluar 5 orang lelaki berperawakan tegap dan kekar dengan kepala dibungkus ponco.
Salah satu dari kelima orang itu tampak mengacungkan pistol kearah posisi pak Diman sambil berjalan mendekatinya. Lelaki yang menggenggam pistol langsung menggedor- gedor kaca jendela sisi kanan pak Diman.
Dukkk...! duuukkk! duuukkk..!
"Keluara!" bentak lelaki berpistol sambil menodongkan pistol kearah posisi pak Diman.
Dewi, Arin serta pak Diman tubuhnya sudah gemetaran melihat aksi 5 lelaki muda dengan senjata ditangan masing- masing teracung mengepung dari kedua sisi dan depan mobil.
Satu lelaki memegang pistol sedangkan 4 lelaki lainnya memegang senjata tajam golok dan celurit besar.
"Buka pintunya cepat!" teriak pimpinan komplotan rampok.
Pak Diman semakin gemetaran setiap kali terdengar bentakkan dan gedoran pada daun pintu dan jendela mobilnya. Karena sudah dalam keadaan panik yang teramat sangat dan sudah memuncak sehingga bentakan dan gedoran dari para perampok itu membuat pak Diman tak berani bergerak sedikit pun walau hanya untuk membuka pintu mobil.
Dooorrrr!!! Dooorrr!!!
Suara letusan senjata api ditangan pemimpin perampok meletus menembus kaca jendela disamping pak Diman. Suara pecahan kaca jendela mobil pun seketika terdengar nyaring menggidikkan telinga pak Diman, Dewi dan Arin.
Kaca jendela mobil seketika bolong sebesar kepalan tangan orang dewasa akibat ditembus dua peluru. Pemimpin perampok langsung memasukkan tangannya ke lubang jendela bekas peluru tersebut lalu merogoh kunci dan handel pintu mobil untuk membukanya.
Pak Diman, Dewi serta Arin hanya menatap gemetar melihat apa yang dilakukan oleh aksi para perampok. Sesaat kemudian pintu mobil pun berhasil dibuka dari luar.
Pemimpin perampok segera melongkokkan kepalanya kedalam mobil. Pak Diman langsung beringsut menggeser tubuhnya ketengah, sementara Arin di jok belakang meringkuk menyembunyikan kepalanya dibalik sandaran jok sambil mendekap Dede erat- erat.
Dede tak bergeming, dia masih menutupi wajahnya dengan kedua tabgan mungilnya tanpa bereaksi apapun.
__ADS_1
Dewi juga sudah mengangkat kedua kakinya diatas jok merapatkan tubuhnya menyembunyikan kepalanya pada paha sambil mendekap erat- erat kedua kakinya.
Pemimpin perampok yang melongokkan kepalanya kedalam mobil, nampak kebingungan dan terheran- heran.
Kedua matanya terlihat membeliak menoleh kesana kemari memeriksa isi didalam mobil penuh dengan keheranan. Mulutnya ternganga lebar, melihat didalam mobil tidak ada satu orang pun.
"Ada apa bos?!" tanya perampok lainnya yang berada disisi kiri mobil nampak sudah tidak sabaran.
Tak ada jawaban dari pimpinan perampok. Pimpinan perampok masih tertegun keheranan dengan mata terbelalak mengulang berkali -kali memlihat isi didalam mobil yang tampak kosong.
"Bos ada apa bos?!!!" teriak perampom lainnya yang langsung keheranan melihat pimpinan mereka tak merespon.
"Se... ssss.. eeee... Ssseeeetttaaan! Mobil setan!" tiba- tiba pimpinan perampok berteriak histeris sambil menarik tubuhnya dari dalam mobil pak Diman.
"Hah????! Apa bos???!!!" tanya perampok lainnya penasaran.
"Cabut! Cabut! Ini mobil setan!" teriak pimpinan perampok.
Ke empat perampok lainnya yang mendengar teriakkan pimpinannya, dibuat sangat heran sekaligus penasaran. Keempat perampok itu segera menempelkan dahinya pada jendela kaca mobil untuk melihat kedalam mobil.
"Hah????! Tidak ada orang???!!!" seru empat perampok bersamaan lalu secepatnya meninggalkan mobil pak Diman kembali masuk kedalam mobil Avanza hitam.
Tak lama kemudian mobil Avanza hitam yang hanya meninggalkan seorang supir itupun langsung tancap gas meninggalkan suara decitan roda mobil mereka.
Seorang perampok yang bertugas dibalik kemudi yang sudah standby dibuat terheran- heran melihat pemimpin dan rekan- rekannya terlihat ketakutan. Wajah mereka pucat pasi dan nampak shok.
"Ada apa bos???! Kenapa??!!" tanya Jo, yang bertugas sebagai driver.
"Sudah! Cepat tancap gas aja!" bentak pimpinan.
Jo pun langsung menginjak pedal gasnya dalam- dalam dan mobil Avanza hitam itu melaju kencang, hingga dalam sekejap meninggalkan mobil rombongan pak Diman yang tampak tak bergerak.
Sementara itu didalam mobil Terios, pak Diman yang ketakutan setengah mati hingga bersembunyi di kolong dibawah setir sambil memejamkan mata, perlahan- lahan memberanikan diri membuka matanya setelah tak lagi mendengar suara- suara dari para perampok.
Pak Diman melongokkan kepalanya kearah jendela mobil yang tersapat dua lubang di tengah- tengahnya. Lalu pandangannya diarahkan keluar mobil melihat sekeliling melalui kaca- kaca mobil.
"Kemana mereka?!" gumam pak Diman keheranan.
Pak Diman pun pelan- pelan bergerak kembali ketempat joknya, sekali lagi melihat sekelilingnya diluar mobil lalu tatapannya melihat ke tempat mobil Avanza hitam yang sebelumnya berhenti didepan mobil yang dikendarainya.
Suasana tampak sepi tak ada lagi mobil Avanza hitam yang tadi menikungnya. Pak Diman mengerutkan dahinya dalam- dalam, mengingat- ingat lagi kejadian sebelumnya barangkali ada yang dilewatkannya.
"Aneh kenapa para perampok itu tiba- tiba saja pergi???" gumam pak Diman lalu menoleh ke tempat Arin dan Dewi.
Dewi dan Arin masih meringkuk merapatkan tubuhnya dikedua kakinya. Pak Diman pun mencoba menyentuh lengan Dewi yang ada di jok sampingnya brmaksud memberitahukan situasinya.
"Jangan! Jangan sentuh! Pergiiiiii...!" teriak Dewi histeris menarik tangannya saat tangannya di sentuh pak Diman.
"Mbak, mbak Dewi! Sadar mbak ini saya pak Diman!" seru pak Diman.
"Pak Diman...?" gumam Dewi dengan suara bergetar namun masih takut untuk mengangkat wajahnya.
"Iya mbak pak Diman, perampok itu sudah pergi mbak. Sekarang sudah aman," kata pak Diman.
"Hah??? Sudah aman??? perampk itu sudah pergi???" tanya Dewi masih tak percaya.
"Mereka sudah tidak ada mbak, coba lihat kedepan. Mobilnya pun sudah tidak ada," terang pak Diman.
Dewi pun mulai percaya dengan ucapan pak Diman, perlahan- lahan mulai mengangkat kepalanya. Mula- mula Dewi melirik kearah depan dimana mobil perampok sebwlumnya berhenti menghadang mobil yang dinaikinya.
"Tidak ada? Kemana mereka?" gumam Dewi lalu lebih berani lagi untuk melihat kesekelilingnya.
Kesadaran Dewi perlahan- lahan kembali pulih, ia pun langsung menengok kearah jok belakang tempat Arin dan Dede duduk.
Dilihatnya Arin masih meringkuk dibalik jok yang diduduki pak Diman merapatkan tubuhnya memeluk Dede.
"Rin... Arin," panggil Dewi.
Samar- samar Arin mendengar suara memanggil- manggilnya. Ia menajamkan lagi pendengarannya untuk memastikan suara itu benar memanggil namanya.
"Rin, Arin... bangunlah sudah aman," kata Dewi.
"Aman?" gumam Arin lalu pelan- pelan membuka matanya.
Mula- mula Arin melihat atap mobil, lalu mengedarkan pandangannya kesekitar menembus keluar kaca jendela melihat situasi diluar mobil.
Setelah yakin dengan penglihatannya yang tidak melihat lagi perampok- perampok di luar mobil, Arin pun perlahan- lahan bangkit kembali ke duduk ke jok mobil.
"Sudah pergi orang- orang jahatnya ya bun?" tanya Dede tiba- tiba bersuara.
"Iya De, mereka sudah tidak ada," jawab Arin.
"Kakek sih tidak percaya kata Dede, hikhikhik..." ucap Dede dengan tingkah lucu sambil memainkan jemarinya.
Deg!
Saat itu juga Pak Diman, Dewi serta Arin baru teringat dengan ucapan Dede saat berangkat tadi. Mereka baru menyadari kalau ucapan Dede itu benar- benar terbukti nyata.
__ADS_1
"Lalu kenapa perampok- perampok itu tiba- tiba saja pergi?" ucap Pak Diman dalam hatinya.
Pak Diman pun seketika mengingat- ingat lagi saat- saat terakhir dimana dirinya tidak lagi mendengar bentakkan salah satu perampok. Dan yang didengarnya saat itu perampok itu mengatakan 'tidak ada siapapun di dalam mobil'. * BERSAMBUNG